The Over Lord : The New Phoenix Empress

The Over Lord : The New Phoenix Empress
istana kerajaan


__ADS_3

Sania berjalan keluar dari penginapan, dia tidak berniat untuk tinggal terlalu lama di kota kerajaan Fluel, hanya satu hari, satu malam kemudian pergi menuju pegunungan Soulland yang menjadi lokasi berdirinya akademi pedang suci.


Seperti biasa, ketika Sania melangkahkan kaki di pinggiran jalan kota, semua mata hanya tertuju kepada dirinya. Ini memang tidak membuat Sania risih tapi tetap saja, dia harus waspada karena mereka adalah orang asing.


Hingga sampailah dia di depan pintu perbatasan kerajaan Fluel bagian barat.


Namun ketika hendak Sania akan keluar, beberapa prajurit lain berlari mendekat dan menghentikan langkah kakinya untuk pergi.


"Nona, tunggu, kami ingin bicara dengan anda." Ucap prajurit itu keras selagi berlari sekuat tenaga.


Sania tidak merasa telah membuat masalah di kota ini, sehingga dia pun berhenti dan menunggu apa yang ingin prajurit itu bicarakan kepadanya.


Tampak lelah, berkeringat dan hampir jatuh. Mereka mengejar Sania yang hendak pergi keluar dari kerajaan Fluel atas informasi para pengintai.


Dan memang benar seperti yang diceritakan oleh pangeran Wersno, bahwa sosok Sania memiliki kecantikan tiada tara, hingga membuat keindahan alam pun menjadi malu. Bahkan dibandingkan seluruh wanita yang ada di kerajaan Fluel itu tidak ada apa-apanya.


Sania berdiri di hadapan para prajurit itu dan bertanya...."Jadi ?, Apa yang kalian inginkan sehingga mengganggu waktu perjalanan ku."


"Kami di utus oleh sang raja untuk menyampaikan pesan bahwa beliau ingin bertemu dengan anda." Jawab satu orang dari mereka.


Sedikit Sania berpikir..."Memang ada urusan apa ?, Aku tidak ingat jika sudah membuat masalah di sini."


"Ini bukan tentang masalah apa pun nona, tapi sang raja hanya ingin bertemu dengan anda." Jawabnya kembali selagi mengatur nafas.


Sania mempertimbangkan baik dan buruknya jika dia menolak, tentu akan ada masalah ketika mengabaikan permintaan sang raja. Tapi mengingat soal sosok pangeran mahkota yang bernama Wersno, itu membuat Sania merasa bahwa panggilan sang raja ada kaitannya dengan pangeran tersebut.


"Baiklah, baik, aku akan ikut dengan kalian untuk bertemu Raja, tapi aku tidak ingin ada paksaan... Jika itu terjadi, maka jangan salahkan aku, kalau nanti ada hal tidak menyenangkan." Ungkap Sania memberi syarat.

__ADS_1


"Kami mengerti nona, kami akan akan memberitahu raja untuk tidak melakukan hal buruk kepada anda." Jawabnya setuju.


"Jadi tunjukan jalannya, jangan buang waktu ku lebih lama lagi, kita pergi."


Tidak perlu banyak hal untuk di bicarakan, Sania saat ini sudah memasuki gerbang masuk di istana kerajaan Fluel. Sedikit kekaguman karena istana yang didirikan oleh sebuah kerajaan kecil, bahkan lebih kecil dari kerajaan Losborn tempat tinggalnya, jauh lebih mewah, indah dan juga estetik.


Memiliki warna putih bersih dengan sepuluh menara yang tinggi memutari bagian luar istana, kibaran bendera simbol lima pedang warna warni berbaris rapi disertai selendang biru saling mengikat.


Banyak pula prajurit berlalu lalang di halaman istana, mereka dipersenjatai sebilah pedang atau tombak dan zirah besi yang tampak mewah.


Taman-taman bunga dan pohon buah terbentuk di sekitar kolam ikan, dirawat oleh para tukang kebun yang handal memotong rumput liar menggunakan pedang.


Semua itu cukup untuk membuat Sania kagum, dimana jelas bahwa kerajaan Fluel terbilang makmur dan sejahtera.


Berada di bagian dalam istana, Sania pun dihadirkan sebuah tempat seperti pagelaran seni, dari mulai patung-patung pahatan yang entah siapa mereka, lukisan-lukisan aneh bermacam warna yang entah pula maksudnya apa, atau pun ornamen-ornamen dari kepala binatang iblis hinggap di dinding dan entah lah kenapa mereka berpikir itu terlihat indah, padahal bagi Sania benda-benda serupa pajangan kepala binatang iblis tampak menjijikkan.


"Nona Sania, aku sangat senang anda mau datang ke istana untuk bertemu dengan ku."


"Jangan salah sangka, aku kemari hanya karena raja manggil ku, aku tidak ingin membuat masalah dan tidak ingin pula membuang waktu ku disini terlalu lama."


"Kenapa anda harus terburu-buru, masih ada banyak waktu yang bisa kita berdua lakukan.... Lihat, aku sangat senang berburu, aku memajang kepala hasil buruanku ini. Bukankah terlihat mengagumkan." Wersno masih berusaha membuat Sania terkesan.


Sania tersenyum mengejek..."Heh, hanya sekumpulan kepala binatang iblis kelas teri, kau pikir kepala kambing tiga tanduk itu mengesankan, tidak sama sekali."


Jika di ukur oleh kemampuan Sania yang sekarang bisa membunuh penguasa hutan, serupa ular putih di sekitar danau sekte teratai api. Kepala kambing bertanduk tiga, dua di kepala dan satu di dagu itu, sangat lucu dalam artian mengejeknya.


"Kalau begitu, nona Sania bisa menunjukkan kepadaku, binatang iblis seperti apa yang cocok untuk di jadikan pajangan." Tanya Wersno agar Sania tahu bahwa dirinya bisa melakukan apa pun.

__ADS_1


"Hmmm mungkin kepala naga, kau akan sangat terkenal jika bisa mendapatkannya dengan tanganmu sendiri." Jawab Sania tanpa ragu.


Rumit wajah Wersno, dia pun tahu perkataan Sania terlalu sulit bahkan tidak mungkin untuk dilakukan.


"Jangan bercanda nona Sania, dimana aku bisa menemukan seekor naga, mereka sudah lama hilang jadi itu mustahil." Wersno lemas.


"Kalau para naga ternyata ada, apa kau bisa mendapatkannya."


"Itu juga mustahil." Lemas Wersno harus mengakuinya.


Pintu ruang singgasana utama pun terbuka, sosok lelaki paruh baya yang kini tengah duduk di atas kursi kehormatan berlapis emas, menunjukkan wibawa dengan tatapan mata tajam dan wajah tanpa ekspresi.


"Jadi anda yang bernama Sania, Hmmm tidak terlalu mengesankan seperti cerita Wersno." Ucap raja Jonzar dengan suara dan ekspresi wajah begitu tenang.


"Maaf jika apa yang tuan raja lihat tidak sesuai harapan, tapi memang kenyataannya aku bukan siapa-siapa dan bukan pula orang yang hebat." Sania dengan sopan menjawab.


Meski begitu isi di dalam hati Jonzar berbeda dari apa yang dia katakan sebelumnya.


'Gila, gadis ini benar-benar cantik, suaranya pun merdu, aku pikir saat pertama kali melihat, dia malaikat yang akan menjemput ku ke surga... Tapi ternyata dia adalah Sania itu. Anakku ini tahu kualitas dari seorang wanita."


Memang benar raja Jonzar bukan seorang ahli beladiri yang hebat dan kuat, tapi bukan berarti dia kehilangan harga diri serta martabatnya sebagai seorang penguasa kerajaan.


Kemampuan dalam bernegosiasi, membaca situasi dan memanipulasi psikologi adalah bagian dari kecerdasan Raja Jonzar yang membuatnya begitu banyak di hormati oleh raja-raja lain.


Seperti halnya sekarang, dia sadar bahwa aura energi yang di tunjukan oleh Sania sangatlah kuat, dan itu di atas milik Jonzar, tapi dia tidak menunjukkan keragu-raguan, takut atau sikap merendah diri.


Tatapan mata tajam, ekspresi wajah yang tenang dan ketegasan dalam bicara, memperlihatkan dominasi bahwa di sini dialah yang berkuasa.

__ADS_1


__ADS_2