
Esoknya, pagi-pagi di hari Selasa tanggal 10 Maret, Bryan dan Selena berangkat ke sekolah bersama-sama dengan diantar oleh supir Bryan. Hari ini, mereka diantar dengan mobil Ferrari hitam milik keluarga Bryan.
Seketika mereka berjalan memasuki sekolah, tatapan para murid tertuju kepada mereka. Bahkan, para guru pun ikut menyaksikan kedatangan mereka. Hal itu membuat keduanya bagaikan seorang Raja dan Ratu sekolah.
"Bryan.. apakah kita tidak terlalu mencolok?" tanya Selena pelan.
"Tentu saja mencolok. Kenapa? Kamu tidak suka, Selena?" jawab Bryan.
"Ah.. bukan begitu, tapi.."
"Tapi?"
"Aku hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan biasa dan tenang.. Sejujurnya, aku pernah mengalami berbagai hal yang kurang menyenangkan pada waktu SMP."
"Hal apa itu, Selena?"
"... Aku.. pernah dirundung."
"Apa? Siapa anak-anak yang pernah merundungmu, Selena?"
"Ah, itu.. kini sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir." kata Selena sambil berjalan sedikit mendahului Bryan menuju ruang kelasnya.
GREP
Tiba-tiba, Bryan menggenggam tangan Selena, sehingga gadis itu menoleh.
"Selena, ikut aku."
"Bryan..!"
Bryan menarik tangan Selena dan membawa gadis itu duduk di atas sebuah kursi kayu panjang di lorong atau koridor ruang-ruang kelas. Sebagian besar para murid telah berada di dalam ruang kelas mereka masing-masing, atau masih belum datang ke sekolah dan dalam perjalanan. Bryan dan Selena memiliki waktu kurang lebih 15 menit, sebelum pelajaran pertama di kelas mereka masing-masing dimulai.
"Ceritakanlah kepadaku, Selena. Siapa yang pernah merundungmu? Apakah kita masih satu sekolah dengan mereka?" desak Bryan.
"Mereka.. masih satu sekolah dengan kita."
Mata Bryan sekejap seperti mengatakan akhirnya kudapati juga , lalu ia berkata; "Selena, siapa nama mereka?"
"Mereka adalah para siswi yang dulu pernah iri hati kepadaku... Nama mereka adalah Sisca, Jenny, dan Hanna. Namun.. mengapa kau bertanya tentang nama mereka, Bryan?"
"Sisca, Jenny, dan Hanna.. Apa mereka selalu nampak bertiga di sekolah ini?" kata Bryan mengulangi perkataan Selena, lalu bertanya kepada gadis itu.
Selena mengangguk pelan. Lalu, ia berkata; "Mereka bertiga adalah para siswi yang terkenal suka menindas orang lain.. Bahkan, kudengar ada beberapa guru yang diperas oleh mereka... Namun, Bryan, kenapa kau sangat penasaran?"
__ADS_1
Bryan menatap Selena, lalu menyentuh puncak kepala gadis itu dengan lembut. Kemudian, ia membelainya dan berkata; "Selena, kau adalah pacarku. Tentu saja, aku penasaran dan ingin tahu segala sesuatu mengenai dirimu. Perlahan-lahan, aku ingin semakin dekat dan mengenalmu."
Wajah Selena merona dan matanya berbinar. Ia amat suka mendengar ucapan Bryan ini. Lalu, ia berkata; "Aku juga ingin mengenalmu lebih dalam lagi, Bryan. Terima kasih, karena telah bersedia untuk mendengarkan ceritaku. Sekarang, lebih baik kita masuk ke ruang kelas masing-masing."
Mereka pun beranjak dari kursi dan pergi ke ruang kelas masing-masing. Namun, sebelum hendak berpaling, Bryan memanggil Selena..
"Selena."
Lelaki itu membentukkan simbol hati dengan jemari telunjuk dan jempolnya, yang menyerupai huruf V.
Lalu, Selena tersenyum dan balas menjawabnya dengan cara yang sama.
Hari itu pun, hati mereka berbunga-bunga. Setiap hari sungguh bagaikan hari yang indah dan dinanti-nantikan oleh mereka. Siapa lagi yang akan membuat hati mereka seperti ini, jika bukan masing-masing dari pasangan remaja tersebut?
Bryan dan Selena sama-sama baru pertama kali jatuh cinta dan pertama kali berpacaran. Konon, cinta pertama, terutama pada masa remaja itu labil. Suasana hati mereka masih cepat dan mudah berubah-ubah. Meski penuh dengan debaran dan rasa penasaran, mereka berdua terus berusaha untuk menekan perasaan tersebut supaya jangan melampaui keinginan mereka dalam belajar.
Sedewasa apapun Bryan dan Selena dibandingkan dengan para murid lain, mereka tetap saja mengetahui dengan baik bahwa mereka hanyalah dua orang remaja.
Bryan tidak ingin hubungan mereka memberatkan Selena, karena gadisnya itu adalah seorang ketua OSIS. Sedangkan, Selena tidak ingin dirinya jadi mengabaikan Bryan karena kesibukannya sebagai ketua OSIS, maupun kegigihannya dalam belajar, serta kecenderungannya untuk menyendiri tersebut.
Meski Bryan adalah salah seorang siswa terpandai di sekolah seperti Selena, ia tidak memiliki kegigihan yang sama dengan Selena. Bryan cenderung santai dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk kegiatan di luar rumah; seperti bermain basket, judo, berlari, dan lain sebagainya.
Bryan bukan seorang body-builder atau seorang yang ketagihan pada olahraga. Ia hanya melakukan apa saja karena suka dan tidak merasa terbebani. Watak Bryan memang tidak suka dibebani ataupun membebani orang lain.
Menurut kedua orang tua Selena, putri mereka itu harus lebih mementingkan kesehatan dan makan lebih banyak. Itu karena mereka sering sekali menjumpai bahwa Selena hanya belajar dan terus belajar, terutama pada saat ada ujian penting di sekolah. Putri mereka yang gigih dan bercita-cita untuk menjadi dokter itu membuat hati mereka senang sekaligus cemas.
Oleh karena itu, kedua orang tua Selena yang juga mulai mengenal Bryan, meminta kepada lelaki itu untuk menjaga dan membantu Selena agar ia dapat membiasakan diri makan teratur dan lebih banyak.
Bryan dengan senang hati menerima permohonan kedua orang tua Selena. Ia juga ingin melihat Selena lebih sehat dan lebih ceria. Sebab, terkadang gadis itu terlihat murung karena teman-temannya tidak terlalu dekat dengannya.
Sepulang sekolah..
"Selena." Bryan memanggil pacarnya sambil berjalan mendekatinya.
"Bryan, kau sudah berbicara dengan mereka?" tanya Selena tiba-tiba setelah melihat Bryan.
"Berbicara? Dengan siapa?"
"Maksudku.. tiga orang gadis itu.." jawab Selena pelan.
"Oh. Apa kau masih memikirkan hal itu?" tanya Bryan sambil berjalan bersama dengan Selena.
"Aku.. hanya penasaran. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk."
__ADS_1
"Sesuatu yang buruk? Seperti apa?" Bryan penasaran.
"Itu.. seperti.. bila kamu menegur mereka, lalu mereka menangis, dan lain sebagainya."
"Hahaha."
Selena sedikit terkejut melihat reaksi Bryan, kemudian ia berkata; "Apakah hal ini lucu bagimu? Aku kan hanya mengkhawatirkanmu."
GYUTT
Dengan cepat, Bryan memeluk Selena.
"Selena."
DEG DEG DEG
"Apa.. Bryan?" jantung Selena selalu bersenandung ketika ia berada dalam pelukan Bryan.
"Selena. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Kau hanya perlu mengkhawatirkan dirimu sendiri. Tidak tahukah kau, bahwa kau sangat lemah dan terlalu baik pada siapapun?"
"Maksudmu..?"
"Kau terlalu memikirkan orang lain, sehingga lupa untuk memikirkan tentang dirimu sendiri. Lihat, betapa kurus tubuhmu dan hitamnya lingkaran di bawah matamu."
"Ahh, tidakk!" Selena langsung menjerit kecil, sambil menyentuh wajahnya sendiri.
"Hpft.. kau memang manis. Aku hanya bercanda. Kau tidak memiliki lingkaran hitam di bawah matamu, yang ada hanyalah sedikit kantung mata yang imut. Lalu, biar kurus ataupun gemuk, aku suka padamu, Selena."
DEG
"Bryan.." wajah Selena bersemu merah.
Bryan tidak berkata apapun, lalu hanya memaparkan senyuman tampannya di hadapan wajah Selena.
Ketika hendak berpisah dan menaiki kendaraan masing-masing, mendadak Selena berkata; "Bryan!"
Bryan langsung berbalik dan berjalan perlahan ke arah Selena.
"Ada apa, Selena?" tanyanya.
"Lain kali, ceritakanlah juga hal-hal mengenai dirimu kepadaku. Sampai jumpa." kata Selena sambil melambai.
Bryan tersenyum, lalu menjawab; "Baiklah. Sampai jumpa."
__ADS_1
Baik Bryan maupun Selena, keduanya amat senang karena diri mereka masing-masing semakin lama semakin dapat terbuka, menerima, dan memahami satu sama lain.