
Hari ini hari Kamis, tanggal 12 Maret 2020. Entah mengapa setelah mata pelajaran ke-6 di sekolah hari ini, pelajaran yang berikutnya itu terasa amat panjang, tidak selesai-selesai, berbelit-belit, membosankan, serta amat menyiksa karena mau tidak mau harus didengarkan dengan seksama, bahkan dengan penuh persiapan harus dicatat sepenuhnya demi lolos dalam pekan ujian pertama yang akan datang.
Hal itu dikarenakan oleh seorang guru wanita yang cukup tua, bernama Imelda, yakni guru senior pelajaran kimia.
Sambil ia menerangkan mengenai sel ini dan itu, asam dan basa, nama-nama zat kimia, rumus-rumus penghitungan, dan lain sebagainya, para siswa hampir saja dibuatnya berpindah ke alam lain karena tidak kuat melek.
Walaupun ada beberapa murid seperti Selena yang mampu memahami segala kekurangan dan keterbatasan sang guru dalam menyampaikan mata pelajaran tersebut, seorang siswa bernama Tommy bahkan berani meminta kepada guru tersebut untuk segera menyudahi dan keluar dari ruang kelas mereka.
"Tommy, kamu tidak boleh kurang ajar kepada Ibu Imelda." ucap Monalisa, sang ketua siswi di kelas 2-2.
Tommy merasa tidak terima, lalu menjawab dengan emosi; "Untuk apa kamu sok naif? Padahal sudah jelas bahwa pelajaran Ibu Imelda itu paling membosankan sedunia. Tidak usah menegurku, kau sendiri sedari tadi tidak mendengarkan pelajaran ibu guru ini dan berbicara terus dengan Winston, pacarmu itu!"
Wajah Ibu Imelda memerah. Karena usianya yang sudah melampaui 60 tahun, ia cenderung lambat dalam berkata-kata dan sering mengulang perkataannya. Hal itu tidak dapat diubah atau dipungkiri olehnya karena faktor usia.
"Sudah cukup, Tommy."
Akhirnya, Selena pun turun tangan. Sebagai ketua OSIS, murid-murid di sekolah ini kebanyakan patuh kepada arahan yang diberikan oleh Selena.
Bagi para siswa, Selena itu tergolong paling cantik dan merupakan gadis yang paling ingin didekati oleh mereka. Sedangkan bagi para siswi, Selena merupakan panutan yang baik atau sebaliknya. Di sekolah terdapat 3 kubu para siswi terhadap Selena; yaitu fans, followers, dan haters.
Untungnya jumlah para siswi yang tidak menyukai Selena itu masih seimbang dengan jumlah para siswi yang ingin berteman dengannya.
Seketika itu juga, Tommy yang sejak awal sudah tertarik pada Selena pun terdiam dan mendadak menjadi tertib.
"Ibu Imelda, mohon maafkan kelakuan kami pada saat pembelajaran, serta mohon jangan mengambil hati perkataan Tommy barusan." tanpa berbelit-belit, Selena meminta maaf ganti seluruh kelas kepada Ibu Imelda.
Walaupun para murid sekelas tahu bahwa Selena tidak turut berkelakuan demikian dan malah sebaliknya, semua anak tidak ada yang berani menanggung tanggung jawab untuk meminta maaf kepada ibu guru tersebut.
Mendengar setiap tuturan kata halus Selena, biasanya Ibu Imelda masih bersemangat untuk terus mengajar. Namun, kini ia merasa lesu dan kurang percaya diri. Ibu Imelda yang baru saja 'dibantu' oleh Selena malah mulai menitikkan air mata dan berkata; "Anak-anak, untuk selanjutnya kalian akan digantikan oleh guru lain. Ibu undur diri."
Melihat reaksi Ibu Imelda yang sensitif tersebut, Selena merasa iba dan hendak membujuk Ibu Imelda. Ia pun segera mengejar Ibu Imelda yang telah melangkah keluar dari ruang kelas dengan terisak.
"Ibu Imelda. Ibu, mohon jangan diambil hati perkataan dan tingkah laku teman-teman barusan. Saya tahu bahwa ibu adalah guru yang baik dan memiliki cara tersendiri untuk mengajar. Ibu adalah guru yang paling sabar, yang Selena tahu selama ini." Selena berusaha membesarkan hati Ibu Imelda.
"Selena.. terima kasih ya. Ibu tahu maksud baikmu. Namun, ibu sendiri tahu bahwa ibu tidak pandai mengajar dan kurang dapat membina para murid agar merasa tertarik pada pelajaran kimia."
"Bu, itu tidak benar. Selena hanya berharap agar ibu tidak berkecil hati dan tidak patah semangat untuk menunjukkan kepada kami betapa menariknya pelajaran ibu itu."
Ibu Imelda terdiam. Lalu, dengan perlahan ia menyentuh pundak Selena dengan salah satu tangannya dan berkata; "Selena, terima kasih atas dukunganmu. Namun, ibu rasa sudah seharusnya ibu tidak mengajar lagi. Ibu sudah terlalu tua untuk mengajar. Hanya saja.. ibu suka sekali melihat anak-anak muda yang menunjukkan ketertarikan mereka terhadap pelajaran kimia. Meskipun bukan pelajaran yang paling seru atau diminati, ibu ingin sekali membagikan ilmu yang ibu miliki.."
Selena menganggukkan kepala, lalu berkata lagi; "Selena mengerti akan perasaan ibu. Selena selalu menghargai semua pengorbanan dan usaha ibu selama ini. Oleh karena itu, mohon jangan berkecil hati, Bu."
__ADS_1
Seketika, raut wajah Ibu Imelda kembali cerah dan ia membalas; "Terima kasih, Selena. Kau adalah anak yang baik. Sebenarnya, kau adalah murid favorit ibu selama ini. Namun, tak lama lagi ibu akan memutuskan untuk berhenti mengajar."
"Baik, saya mengerti, Bu. Apapun keputusan ibu, saya harus menghargainya dan tidak berhak untuk mengganggu gugat."
"Terima kasih, Selena. Masuklah ke dalam ruang kelasmu. Pelajaran selanjutnya akan segera dimulai."
"Baik, Bu. Terima kasih kembali."
Ibu Imelda pun pergi. Setidaknya, Selena sudah merasa tenang. Ia paling tidak suka segala sesuatu yang merusak suasana ataupun hal-hal yang membuat damai sejahtera orang lain terampas.
Akhirnya, kelas 2-2 kembali tertib dan mengikuti seluruh materi pembelajaran hingga akhir.
Sepulang sekolah..
"Selena!" panggil Bryan, yang seperti biasa akan berjalan bersama dengan Selena sebelum dan sesudah belajar di sekolah.
"Bryan." jawab Selena dengan senyuman manisnya.
"Hari ini kau terlihat cantik juga, pacarku." goda Bryan.
"Ah, Bryan. Apaan sih kamu?" kata Selena, sudah mulai terbiasa dengan buaian Bryan.
"Kau ini." kata Selena, namun ia sedikit tersipu juga.
"Selena."
"Hm? Apa?"
"Kamu tidak pernah membutuhkan seorang guru les, bukan?" tanya Bryan tiba-tiba.
"Hmm.. mungkin begitu. Kenapa?"
"Sebenarnya, ada seseorang yang meminta tolong kepadaku. Orang itu bahkan mengadakan sebuah grup pertemuan sepulang sekolah untuk membahas materi ujian pertama sekolah yang akan mendatang. Sebenarnya, aku tidak ingin membantu, karena itu berarti aku harus membiarkanmu pulang sekolah sendirian. Lagipula, mereka terang-terangan memintaku menjadi pengajar utama mereka. Memangnya aku guru? Seharusnya mereka bertanya saja kepada para guru. Mana ada guru yang akan menolak, ya kan Selena?"
Selena merenungkan perkataan Bryan selama beberapa saat, lalu berkata; "Hmm.. begitu ya. Kurasa kamu memang berhak untuk memutuskannya.. tapi.."
"Tapi?"
"Mungkin saja ada banyak anak yang akan merasa terbantu olehmu. Kau kan sangat cerdas, Bryan. Bahkan, tanpa membaca buku pelajaran pun kamu mengingat semuanya. Kemampuanmu memang jauh di atas rata-rata. Tapi, itu semua terserah kamu, sungguh. Aku tidak ingin mendadak memaksamu."
Bryan terdiam sejenak seperti berpikir. Lalu, ia berkata; "Ok. Sudah kuputuskan."
__ADS_1
Selena mengangguk, lalu bertanya kepada Bryan karena pacarnya itu tidak meneruskan perkataannya; "Apa keputusanmu?"
"Aku akan mengajari mereka. Namun, dengan beberapa syarat."
"Syarat? Haha. Apa saja yang sudah kamu rencanakan dalam pikiranmu? Padahal belum 1 menit kamu berpikir tadi." kata Selena, kagum dengan kecerdasan Bryan.
"Aku akan mengajari mereka. Namun, mereka tidak boleh mengajakku bicara mengenai hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran. Lalu.. hmm.. mungkin aku tidak perlu membahasnya satu per satu kepadamu. Yang penting, kau mengerti kan, Selena?"
"Iya, aku mengerti. Apapun keputusanmu, lakukanlah itu tanpa merasa terbeban. Aku juga tidak ingin menjadi bebanmu."
"Ah, pacarku yang manis. Mana mungkin kau adalah beban bagiku? Kau tidak tahu--"
"Iya, iya. Haha. Kau memang pandai merayu, Bryan." sela Selena.
Bryan tertawa, lalu dengan tiba-tiba ia memeluk Selena erat-erat.
"Ahh..! Bikin kaget saja." ucap Selena.
"Haha. Kau memang mudah kaget, sayang."
"Sayang? Kini, statusku sudah kau ubah?"
"Hahaha. Selena, memangnya kau tidak mau menjadi istriku?"
"...Bryan. Apa kita perlu membahas hal yang masih sangat jauh ini?"
"Hahaha. Walaupun begitu, siapa tahu?"
"Bryan. Kau benar-benar jenaka. Kau pasti akan membuat anak-anak lain tertawa. Dalam sekejap, kau pasti akan menjadi guru favorit mereka."
"Hmp. Asal mereka tidak menjadikanku idola atau semacamnya."
"Hahaha. Bukankah itu sudah jelas? Kau adalah idola sekolah kita." Selena balas menggoda Bryan.
"Selena, kau ini. Minta dicium ya?"
"Kyaaa!!"
Namun, sebelum mendapatkan kecupan dari Bryan, gadisnya itu malah berlari. Akhirnya, mereka pun berkejar-kejaran hingga kelelahan sendiri.
Namun, hal yang dikatakan oleh Bryan memang ada benarnya. Siapa tahu akan masa depan mereka? Jika kedua insan itu memang tak terpisahkan selama jangka waktu yang panjang, mungkin itulah yang disebut dan diyakini dunia ini sebagai 'jodoh.'
__ADS_1