The Sweetest Dream

The Sweetest Dream
UKS


__ADS_3

Keesokan harinya, saat di sekolah..


"Selena, kau sudah dengar belum?" tanya Mariana yang tiba-tiba mengajak bicara lagi kepada Selena setelah seminggu.


"Tentang apa?" tanya Selena.


"Kudengar, Jason dari kelas 2-5 sempat melakukan aksi bunuh diri di rumahnya pagi-pagi subuh tadi dan saat ini sedang dilarikan ke rumah sakit."


DEG


Mendengar itu hati Selena seperti tertemplak keras. Lalu, ia buru-buru bertanya balik; "Dimana? Dimana rumah sakitnya itu?"


"Di rumah sakit Hamada. Kau tahu kan?"


Selena mengangguk pelan. Perasaannya kacau dan sedikit bercampur aduk. Tanpa sadar ia menggaruk kepalanya karena gelisah.


"Kamu kenapa, Selena?" tanya Mariana.


"Aku.. aku rasa aku tidak dapat mengikuti pelajaran hari ini." tiba-tiba Selena merasa amat pusing karena begitu cemas. Ia pun mulai mual.


Selena berjalan melalui koridor kelas-kelas yang sedang melakukan pembelajaran. Lalu..


"Pak guru, bukankah itu Selena? Dia terlihat tidak sehat." kata seorang murid dari kelas 2-4, yang baru saja melihat gadis itu melewati ruang kelas tersebut.


"Benarkah? Nampaknya wali kelas 2-2 belum tiba. Kalian tunggu di sini sebentar. Bapak akan menemuinya." sang guru pun beranjak dari tempat duduknya dan hendak keluar dari ruangan kelas.


"Tunggu, pak guru. Biar saya saja yang keluar untuk melihat keadaannya." sanggah Bryan tiba-tiba.


"Kenapa kamu yang keluar? Duduklah, Bryan." kata bapak guru tersebut, lalu melanjutkan langkahnya. Namun..


"Saya adalah pacar Selena."


Tiba-tiba, seluruh kelas menjadi hening. Bapak guru pun tidak dapat berkata apapun lagi dan memperbolehkan Bryan keluar.


"Gilaa.. aku tidak dapat mempercayai hal ini! Oh tidak, Bryan!!" seru seorang siswi, kemudian diikuti dengan suara ribut para siswi yang lain.


Lalu, seorang siswa pun berkata; "Pak guru, enak sekali Bryan. Kok dia diperbolehkan pacaran pada saat pelajaran?"


Seluruh siswa kelas itu langsung bersama-sama memprotes. Pak guru yang bernama Bapak Ken itu sangat sabar, sehingga ia hanya dapat berkata; "Biarkan sajalah. Kalian juga boleh berbuat demikian."


"Benarkah, pak guru?" seru siswa tadi dengan girang sambil berdiri dari bangkunya.


"Jika nilaimu sebagus nilai Bryan." jawab pak guru Ken santai.


"..."


Siswa tersebut tidak dapat berbantah-bantah lagi dan langsung duduk kembali.

__ADS_1


---


Sementara itu..


"Selena!" panggil Bryan.


"Bry--an?" kata Selena sedikit lemah.


"Kau kenapa, Selena? Kau sakit?" tanya Bryan khawatir.


"Aku..tidak apa-apa, Bryan. Aku mau pulang saja. Kau harus segera masuk kembali ke kelasmu. Kita bertemu nanti lagi sa--"


Tiba-tiba Selena pingsan dan tubuhnya mulai terjatuh..


"Selena!!" .. GREPP


Untung saja, Bryan berhasil meraih tubuh Selena dengan cepat, sehingga gadis itu tidak tergeletak di atas lantai.


Dengan cekatan, Bryan langsung mengangkat tubuh Selena dan menggendongnya dalam kedua lengannya yang kuat. Lalu, ia membawa gadis itu ke UKS sekolah.


"Dia kenapa?" tanya bibi penjaga UKS kepada Bryan.


"Dia terjatuh pingsan dan nampaknya nadinya melemah." ucap Bryan sambil mengecek denyut jantung pada pergelangan tangan Selena.


"Namamu Bryan? Kau bisa menjaganya di sini sebentar? Bibi hendak keluar membeli persediaan obat." kata sang bibi UKS sambil memandang sekilas pada label nama yang menempel di atas dada sebelah kanan seragam SMA Bryan, seperti yang seharusnya ada pada seragam anak-anak lain dalam sekolah ini.


Bryan mengiyakan dan meyakinkan bibi UKS dengan berkata bahwa ia adalah pacar Selena.


"Selena.. kau kenapa?" ucap Bryan dengan khawatir dan sedih.


Lalu, tiba-tiba..


DRTTT


Handphone dalam saku celana Bryan bergetar, seperti ada sebuah pesan masuk. Kemudian, ia mengeluarkan handphonenya dan melihat..


Kak, apa kau berada di ruang kelas? Nanti pada saat jam makan siang, temani aku ya!


Bryan mendapatkan sebuah pesan dari Carissa. Ia mendesah, lalu menggumam seorang diri; "Dasar gadis ini. Kali ini, aku harus lebih tegas saat menjawabnya."


Lalu, Bryan membalas pesan itu..


Tidak mau. Hari ini aku tidak bisa menemanimu. Temanku sakit, sampai jumpa lain kali.


Dari sisi lain, di dalam kelas Carissa girang mendengar suara pesan masuk. Ia berusaha untuk mendengarkan pelajaran yang diterangkan oleh ibu guru, sementara pikirannya sedikit terbagi dua.


Itu pasti dari kak Bryan. Dia memang selalu membalas pesanku dengan cepat. Hihi. batin Carissa.

__ADS_1


Lalu, pada saat jam makan siang..


"Ehh?! Apaan ini?" pekik Carissa.


Ia tidak dapat mempercayai isi pesan yang dikirimkan oleh Bryan tersebut.


Tanpa berbasa-basi melalui telepon atau pesan lagi, Carissa langsung berjalan lurus mencari ruangan UKS.


Namun, karena dia murid baru, ia pun mencoba bertanya kepada salah seorang dari para siswa dan siswi yang berlalu lalang.


"Kak, ruang UKS dimana ya?" tiba-tiba Carissa menyambar lengan seorang kakak kelas.


"Oh.. di ujung sana. Belok kanan." jawab kakak kelas 2 itu dengan sedikit kikuk.


"Baiklah. Terima kasih, kakak tampan." ucap Carissa sambil mengedipkan salah satu matanya dengan genit, lalu berlalu.


Kakak kelas laki-laki tersebut langsung bengong. Namanya Theo, singkatan dari Theodore.


"Theo, siapa gadis cantik tadi?" kata temannya yang bernama Steve, sambil merangkul leher Theo dengan bersahabat.


"Ah, itu.. dia hanya menanyakan arah menuju ruang UKS." jawab Theo.


"Oh. Anak baru?" ucap temannya yang satu lagi yang muncul secara tiba-tiba. Seorang anak bertubuh tambun yang bernama Ricardo.


"Iya, kelihatannya begitu. Yuk, cepat makan di kantin sebelum kita kehabisan makanan." kata Theo.


Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin.


Sementara, saat itu di depan ruang UKS..


"Kak Bryan?"


Carissa telah tiba di depan ruang UKS dan masuk ke dalam ruangan itu. Baru saja ia masuk dan menutup pintu, ia telah melihat Bryan sedang menjaga temannya yang ternyata.. seorang gadis.


"Carissa? Sedang apa kau kemari? Tidak selera makan lagi?" kata Bryan ketika melihat kedatangan Carissa.


"Kakak sendiri sedang apa?" tanya Carissa dengan nada tidak suka yang terang-terangan.


"Kau lihat sendiri, bukan? Aku sedang menjaga pacarku."


DEG


Seketika, hati Carissa seperti tebing es yang diterjang oleh air laut dan runtuh dengan suara nyaring. Lalu, ia berkata; "Pacar..? Kenapa kakak tidak pernah memberitahuku?"


"Memberitahumu apa?"


Carissa semakin kecewa dengan respon cuek Bryan. Kemudian, ia berkata; "Bukan. Bukan apa-apa. Aku akan pergi sekarang."

__ADS_1


Bryan bahkan tidak mengangguk atau menoleh ke arahnya hingga Carissa keluar dari ruangan itu.


Hati Carissa amat geram. Ia berkata dengan kedua tangan yang terkepal di kedua sisi pinggangnya; "Teganya kau, kak Bryan.. Padahal aku sudah jauh-jauh pindah ke sekolah ini demi bersekolah di sekolah yang sama denganmu! Bisa-bisanya sekarang kau bilang padaku bahwa kau sudah memiliki seorang pacar? Tidak.. aku tidak akan membiarkan semua ini. Akan kutunjukkan siapa yang layak untuk menjadi pacarmu, kak Bryan."


__ADS_2