
(-- *Tren Muda-Mudi : Pada abad ke-21 ini, banyak sekali anak remaja yang menggandrungi para model, pahlawan, aktor dan aktris, atau tokoh apapun yang tak henti-hentinya bermunculan. Saking banyaknya minat terhadap dunia entertainment tersebut, gaya hidup mereka pun mulai dipengaruhi oleh tokoh-tokoh panutan mereka. Sebagai contoh : tren berbusana, tren sosial media, dan lain sebagainya.
Bahkan, kaum dewasa muda pun juga demikian. Hanya saja, bagi kaum dewasa muda, hal-hal yang berbau romantis atau percintaan biasanya lebih diminati.
Namun, sejajar dengan usia, seharusnya para dewasa muda juga memahami dan memperhatikan batasan dalam menonton atau menyaksikan kisah-kisah percintaan.
Karena beberapa karya yang ada di pasaran bukannya memberi inspirasi yang bermanfaat, malahan justru membuat para dewasa muda semakin penasaran akan suatu kenikmatan yang mengarahkan mereka kepada dunia kehancuran.
Meskipun banyak orang tua yang melarang, menasihati, atau mengingatkan anak-anak mereka, tetap saja jumlah anak-anak muda yang terjebak dalam dunia **** bebas, pornografi, kekerasan, dan lain sebagainya sungguh amat banyak. Selain merugikan diri sendiri, hal-hal tersebut juga dapat merugikan orang lain, terutama kaum hawa.
Jumlah wanita yang menjadi korban atau pelaku perbuatan seperti itu juga semakin banyak seiring waktu. Belum lagi, dengan adanya pengaruh homoseksual, lesbian, sodomi, pedofilia, dan lain sebagainya, moral anak-anak muda zaman sekarang benar-benar dibuat menjadi kacau.
Ada baiknya bagi kita untuk melihat kembali kepada titik mula-mula, yakni pedoman hidup di masa lalu. Pada saat orang-orang masih berpegang kepada moral yang baik dan benar, pada saat masyarakat di sebagian besar dunia masih menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesalehan, dan bukannya terpengaruh oleh apa yang diajarkan oleh dunia sebagai tren.
Oleh karena itu, sebagai ketua OSIS, saya mengantisipasi dan menghimbau para teman sekolah sekalian agar selalu mencari terlebih dahulu bimbingan orang dewasa yang dapat dipercaya dalam menuntun, membina, dan mendidik kita semua, sehingga kita dapat bertumbuh menjadi para dewasa muda yang bertanggung jawab dan berhasil dalam segala hal dan tidak kekurangan sesuatu apapun*. --)
***
Itulah laporan yang dituliskan oleh Selena dalam sebuah email kepada penerbit majalah sekolah tentang 'pendapat ketua OSIS mengenai pengaruh tren dunia pada abad ke-21 terhadap para kaum muda-mudi di sekolah maupun di masyarakat.'
Beberapa hari berlalu setelah dicetak, majalah yang berisikan pendapat Selena tersebut langsung banyak dibaca dan diminati oleh para siswa dan siswi sekolah SMA Hanaya.
__ADS_1
Banyak dari mereka yang setuju akan pendapat Selena. Bahkan, kebanyakan dari mereka hanya membaca bagian 'pendapat' tersebut, alih-alih membaca keseluruhan isi majalah.
Jason, si anak yang dikenal bandel dari kelas 2-5 pun tiba-tiba ikut membaca majalah tersebut.
"Hei, sudah jelas bahwa ini adalah tulisan seorang perempuan. Isinya cuma membela kaum perempuan, bukan? Si Selena bahkan menuliskan mengenai kelainan seksual seperti itu! Memangnya kalau homo, seseorang langsung tidak punya martabat dan nilai, begitu? Itu sama saja seperti pelanggaran hak asasi manusia!" ujar Jason tidak terima.
Para siswa dan siswi di kelasnya menjadi hening. Beberapa dari mereka masih setuju dengan pendapat Selena, beberapa masih berpikir, beberapa yang lain tidak peduli, dan beberapa langsung setuju dengan pendapat Jason.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengambil suara agar adil bagi semua siswa dan siswi. Lalu, demonstrasi siswa-siswi pun dimulai. Untuk membuatnya lebih mudah, aman, dan nyaman, para guru akhirnya mengizinkan mereka untuk mengadakan sesi tanya jawab yang juga dibantu oleh penerbit majalah.
"Bagaimana jika seseorang sejak lahir sudah tertarik pada sesama jenis? Apakah mereka tidak akan mendapatkan hak yang sama, atau bahkan tidak punya hak sama sekali di masyarakat?" tanya seorang siswa kepada Selena.
Tanpa dibantu oleh penerbit majalah atau ulasan guru, Selena dapat menjawab secara spontan mengenai pendapatnya di majalah sekolah tersebut. Setelah mendengar penjelasan Selena semua murid menjadi hening. Kemudian..
"Wah, hebat! Benar sekali! Kamu benar, Selena!"
Para murid mulai bersorak dan menyetujui pendapat Selena dengan sepenuhnya. Di antara rombongan para siswa, Jason merasa dikalahkan dan marah. Para murid sepertinya tidak memperhatikan apapun perkataan Jason lagi, namun Selena saat itu melihat ke arah Jason.
Pada jam makan siang di kantin sekolah..
"Jason, bolehkah aku duduk bersama denganmu?" tanya Selena ketika melihat bahwa anak-anak sekolah telah menjauhi anak itu, apalagi kabarnya hal itu dikarenakan oleh perkataan Selena tadi.
__ADS_1
"Terserah. Aku mau pergi dari sini." tiba-tiba Jason berdiri dan hendak pergi.
"Kau tidak lapar?" tanya Selena tiba-tiba.
"Tidak--" GRUKKK
Sayangnya, baru berkata demikian, perut Jason berbunyi. Akhirnya, para murid yang berada di sana pun menertawakannya. Jason pun merasa malu dan tersinggung.
"Pergi kau! Kau hanya mau menjebakku agar aku terlihat bodoh, bukan?!" amuk Jason kepada Selena.
Seketika, para murid berhenti tertawa dan mulai berbisik-bisik.
"Jason.. bisakah kita berbicara berdua saja di tempat lain?" kata Selena.
"Tidak! Tidak mau! Dasar perempuan ******!" bentak Jason kasar, kemudian ia berlari keluar dari kantin.
Alih-alih merasa tersinggung atau menyerah, Selena ingin berbicara dan mengenal Jason lebih baik. Siapa tahu ada suatu hal mengenai Jason yang disembunyikan olehnya atau tidak dapat dimengerti oleh orang lain? Selena ingin mengetahui dan membantu temannya itu.
Sebagai ketua OSIS, selain harus menjadi seorang teladan bagi teman-temannya, Selena merasa bahwa sudah merupakan tanggung jawab baginya untuk menghimbau dan menolong teman-temannya yang kesusahan atau membutuhkan sebuah kepercayaan agar dapat membuka diri dan memecahkan masalah secara bersama dan kekeluargaan.
Ia pun berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu saat nanti ia akan dapat membuat teman-teman seperti Jason mengerti akan maksudnya.
__ADS_1