The Sweetest Dream

The Sweetest Dream
Hantaman Keras


__ADS_3

"Bryan." panggil Joseph suatu ketika sepulang sekolah.


"Ya, kak?"


"Kamu mau kemana? Belakangan ini kamu keluyuran terus dan tidak pulang-pulang ke rumah. Apa saja yang kamu lakukan?" tanya Joseph, seperti sedang menginterogasi adiknya.


"Ah, itu.. aku bermain basket dengan Josh sepulang sekolah, lalu pergi ke rumahnya. Kenapa kak?" jawab Bryan, berbohong kepada Joseph.


"Hmm.. untuk apa kamu bermain di rumah seorang anak lelaki terus-menerus? Jangan-jangan kamu tertarik dengan laki-laki?" ejek Joseph.


"Ah, kakak bisa saja. Mana ada yang seperti itu di sekolah ini." kata Bryan mendesah.


"Ada tuh. Kamu tahu si Jason dari kelas 2-5? Kudengar dia baru-baru ini secara terbuka menyatakan bahwa dia gay. Makanya, kamu harus berhati-hati dan jangan bergaul dengan teman-teman lakimu sampai ke rumah mereka." jelas Joseph.


"Oh.. kalau begitu, rumah teman perempuan tidak apa-apa?" canda Bryan.


"Kau ini! Singkirkan pikiran mesum di kepalamu itu! Cepat pulanglah setelah bermain-main, kalau tidak aku akan memberitahu Papa."


"Ah, kak Joseph.. untuk apa mengancamku?"


"Aku tidak mengancam. Aku hanya mengingatkanmu tahu. Ada-ada saja." ucap Joseph sambil meninggalkan sekolah menuju tempat parkir.


Joseph selalu membawa mobil sendiri dan tidak pernah mau merepotkan orang lain.


Bryan hanya cemberut, namun kemudian tertawa kecil. Ia berkata dalam hati; Mungkin saja kak Joseph tidak mau menerima hubunganku dengan Selena. Maka dari itu, aku tidak akan membiarkan kak Joseph mengetahuinya.


Sementara itu di tempat parkir, sebelum memasuki mobil dan menjalankan mesin, Joseph bergumam; "Mau sampai kapan kamu berbohong dan bermain-main Bryan? Untungnya kamu tertangkap basah olehku dan bukannya Papa. Kenapa kau menjadi seperti ini gara-gara seorang gadis.."


Saat itu, Selena berjalan keluar dari ruangan kelasnya dan segera menghubungi Bryan melalui ponselnya.


"Halo, Bryan. Kamu dimana?" tanya Selena melalui handphone.


"Aku sudah di sini, di tempat biasanya, Selena." jawab Bryan riang.


"Ok." kata Selena sebelum memutus panggilan dan berjalan keluar dari gedung sekolah.


"Selena!" Bryan memanggil Selena dengan senyuman lebarnya, sambil melambaikan tangan.


Selena pun balas tersenyum manis dan berlari ke arah Bryan. Kemudian, mereka pun berpelukan sejenak dan pergi meninggalkan halaman parkir sekolah dengan diantar oleh supir pribadi keluarga Bryan dan Joseph.


Joseph melongo melihat tindakan adiknya. Biasanya Joseph akan cepat-cepat pulang ke rumah seusai sekolah, namun kali ini pikirannya mengatakan sebaliknya. Ia pun mengemudikan mobilnya mengikuti mobil yang dikendarai oleh Bryan dan Selena.


"Jadi kamu bermain-main sebagai pangeran manja dengan seorang gadis.. Bryan, kamu sudah keterlaluan kali ini." kata Joseph sambil mengemudi dengan gusar.


Mobilnya pun terus mengikuti mobil mereka. Kemudian..


"Tuan Bryan."

__ADS_1


"Ya? Ada apa, Pak Tris?" tanya Bryan kepada supirnya.


"Sepertinya ada mobil yang mengikuti kita sedari tadi." kata Pak Tris sambil sesekali mengintip ke cermin mobil.


Bryan pun secara spontan menolehkan kepalanya dan..


Celaka! Mata Bryan membelalak kaget. Ia segera menundukkan kepala, sehingga Selena merasa heran.


"Bryan, kamu sedang apa?" tanya gadis itu kepada Bryan.


"Selena.. menunduklah." kata Byan tiba-tiba.


"Apa?"


"Menunduklah, Selena!" seru Bryan tiba-tiba.


Namun...


CKKITTT


Tiba-tiba, mobil mereka berhenti.


"Pak Tris, anda sedang apa? Cepatlah mengemudi!" kata Bryan, sedikit terlihat panik.


"Tuan Bryan, sepertinya itu mobil kakak anda." ucap Pak Tris ragu-ragu.


Seketika, wajah Bryan memucat dan ia diam saja.


"Bryan?" panggil Selena, namun Bryan sama sekali tidak berniat untuk menjawab dan terus menatap ke arah kakaknya dengan wajah serius, yang kemudian turun dari mobil dan menghampiri mereka.


Pak Tris langsung membuka kaca mobil untuk menyapa Joseph, namun tatapan Joseph langsung tertuju pada Bryan dan Selena secara tajam dan bergantian.


"Bryan, keluarlah." perintah kakaknya.


"Bryan?" Selena masih terus memandang ke arah wajah Bryan yang menegang dengan cemas, namun Bryan segera keluar dari mobil itu dan membiarkan Selena tetap di dalam mobil sambil menutupi gadis itu dengan tubuhnya yang berdiri di depan pintu.


"Bryan!" bentak kakaknya kasar.


Bryan tidak menjawab. Wajahnya kaku dan seperti dikuasai oleh emosi yang misterius.


Tiba-tiba, Joseph menarik tubuh Bryan dan dilawan keras oleh adiknya.


"Bryan!!" serunya semakin marah kepada adiknya.


"Aku tidak akan membiarkan kakak berbuat seenaknya! Tidak akan!" balas Bryan dengan suara keras.


"Kamu..! Kamu sudah bermain gila dengan seorang gadis dan sekarang masih tidak tahu malu! Apa kamu berniat untuk mencoreng nama baik Papa dan keluarga kita, hah?! Sekarang juga, suruh gadis murahan itu keluar dari mobil!" bentak Joseph kasar---

__ADS_1


DUAK


Mereka semua terkejut. Bryan baru saja meninju wajah kakaknya..!


"Kamu!!" Joseph pun mengamuk dan balas meninju Bryan. Akhirnya, mereka pun bertengkar hebat.


"Bryann!!!" Selena menjerit histeris sambil menangis.


"Selena! Keluar dari mobil, cepat!!" perintah Bryan.


Tubuh Selena gemetaran karena syok, kemudian ia perlahan membuka pintu mobil, lalu keluar dan..


"Pergilah, Selena. Aku ingin kau aman dari keluargaku. Dariku.. selamanya."


DEG


Seketika, kakak-beradik itu berhenti berkelahi dan keduanya menatap Selena dengan sorot pandangan yang sama sekali berbeda.


"Apa.. apa maksudmu.. Bryan?" Selena terkejut, hatinya serasa seperti dihujam oleh benda yang keras.


"Dia berkata, kamu adalah gadis murahan! Mulai sekarang, jangan dekat-dekat lagi dengan keluarga kami! Bila kamu sampai berani mendekati adikku lagi, bukan hanya kamu, melainkan keluargamu juga akan terkena akibatnya!" seru Joseph dengan kasar kepada Selena.


Gadis itu amat tersentak. Tubuhnya gemetaran, air matanya bergelinang, dan ia hanya dapat menatap Bryan dengan hati yang sakit dan pandangan yang kabur.


Bryan bahkan tidak membela ataupun berkata apapun untuk Selena. Ia hanya berdiri diam dan menolak untuk menatap Selena.


"Pergi kau, gadis murahan! Pergi!!!" tiba-tiba, Joseph menyentak Selena dengan garang, sambil melepaskan salah satu sepatunya dan berniat melemparkannya kepada gadis itu..


Selena segera berlari ketakutan. Air matanya tumpah. Hatinya begitu sakit dan pikirannya amat kacau. Ia berlari dan terus berlari.


Tak lama setelah Selena berlari, Bryan langsung roboh dan memukul-mukul tanah kesal. Ia menitikkan air mata dan menggumamkan nama gadis itu dengan pilu.


Ia tidak dapat membayangkan betapa terkejut dan terlukanya gadis kesayangannya itu. Ia hanya berharap agar gadis itu selalu berbahagia dan selamat..


Bryan merasa amat terpukul, tak berbeda dengan Selena saat ini. Namun, akankah gadis itu mengerti akan hatinya dan terus mempercayainya? Tidak.. mungkin kali ini sudah tidak mungkin. Ia telah kehilangan Selena. Ia telah kehilangan semangat hidupnya.


Selena pun tiba di depan rumah, ia terus menangis dan tidak sanggup membuka pintu pagar rumah. Tidak seperti biasanya, ia pun membunyikan bel pintu.


"Selena.. kamu kenapa, Nak?" Ibunya terkejut ketika melihat putrinya yang menangis, lalu segera membukakan pintu dan memeluknya.


"Mama... apakah Selena.. sungguh tidak layak... apakah Selena.. sungguh berbeda dengan.. Bryan?" Selena menangis tersedu-sedu di dalam pelukan ibunya.


"Selena.. kenapa kamu berkata demikian? Itu tidak benar, Nak. Tenanglah, Selena. Masuklah ke rumah dulu, lalu ceritakan semuanya kepada Mama." ucap sang ibu dengan sayang dan prihatin, sambil mengelus punggung gadis itu.


"Kakak.." Ben pun ikut keluar dari pintu rumah dan menangis melihat Selena.


"Ben..!" Selena berlari menghampiri adiknya, lalu keduanya menangis cukup keras.

__ADS_1


Selena tahu ia tidak boleh membuat adik kecilnya ikut menangis.. Namun, ia tak kuasa menahan kepedihan hatinya. Air matanya mau tidak mau terus mengalir. Ia hanya dapat memeluk adiknya karena hanya keluarganyalah yang kini dapat menghiburnya. Selena berharap ia akan dapat mengatasi hal ini.. Namun, dapatkah ia melupakan segalanya.. mengenai Bryan?


__ADS_2