The Sweetest Dream

The Sweetest Dream
Keinginan yang Terpendam


__ADS_3

Hari Jumat keesokan harinya, Bryan mulai mengajar teman-teman kelas 2 sepulang sekolah.


Tak disangka olehnya, segalanya berjalan dengan lancar dan jauh lebih mudah daripada yang telah dibayangkannya. Mungkin karena masih hari pertama, jadi semua anak merasa canggung dan patuh mendengarkan ajaran Bryan.


Tanpa diminta, anak-anak angkatan kelas 2 SMA Hanaya itu benar-benar menjadikan Bryan idola mereka dan guru favorit sepanjang tahun.


Bryan kurang menyukai hal ini. Namun, ia hanya dapat membiarkannya. Setelah mengajarkan beberapa mata pelajaran, menjawab banyak pertanyaan, mengoreksi kesalahan, dan lain sebagainya, mereka masih berencana untuk mendapatkan pengajaran lebih lama lagi dari Bryan.


Rencana mereka adalah 2 jam awal berkumpul di sekolah, kemudian 2 jam sisanya mereka akan berpindah di sebuah cafe yang cukup besar. Namun, karena tempat duduk di cafe masih sangat kurang, beberapa dari mereka terpaksa memutuskan untuk pulang ke rumah lebih dahulu.


Mereka mengagumi cara Bryan mengajar. Entah bagaimana Bryan dapat mengajar dengan sangat lihai, walau baru pertama kali mencoba. Mereka ingin menirukan Bryan dalam berkata-kata, bertindak, dan lain-lain. Namun, mereka pun tahu hal itu mustahil.


Lalu, seorang teman bernama Darren pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Bryan.


"Bryan, darimana kau belajar mengajar seperti ini? Kata-katamu seperti seorang motivator atau guru yang sangat berpengalaman. Dan lagi, kau bisa berhumor saat mengajar kami. Kau benar-benar unik dan hebat, deh." kata Darren memuji Bryan.


"Ah, tidak juga." jawab Bryan santai dan ramah.


"Apanya yang tidak? Aku juga mengakui kemampuanmu dalam berkata-kata dan menginspirasi orang lain. Ngomong-ngomong, apakah ada orang yang menjadi panutanmu, Bryan?" timpal Sammy.


"Hmm.. inspirasi? Kalau itu sih pastinya di dunia ini ada banyak sekali. Mungkin aku hanya memilah-milah yang terbaik dan paling masuk akal untukku. Akan tetapi, kita semua harus tahu bahwa siapapun dapat menginspirasi orang lain, tidak harus orang terkenal atau tokoh masyarakat yang bergengsi. Jika kita sulit menemukan inspirasi, lihatlah pada diri sendiri dahulu. Orang seperti apa yang ingin kita ciptakan melalui diri kita ini." jawab Bryan.


"Hmm.. semua orang tentunya ingin menjadi orang yang berhasil atau menjadi sosok yang sebaik mungkin." ujar Sammy.


"Itu memang benar, tapi sering kali orang-orang mengalami kegagalan bila hanya membayangkan atau bertindak gegabah. Tanpa motivasi yang benar dan pemahaman yang cukup, orang seperti apapun akan gagal. Baik itu gagal di awal, tengah, atau akhir. Oleh karena itu, kita belajar dari pengalaman. Dan, kalau pengalaman pun belum punya, kita harus mau merendahkan hati untuk belajar kepada orang lain. Sebaliknya, jika kita memilih untuk bersikap cuek dan angkuh, kita tidak akan berkembang melainkan semakin merosot."


"Oh, jadi begitu. Lalu, bagaimana caramu untuk dapat selalu memiliki kerendahan hati? Padahal kamu begitu sempurna dan serba bisa." kata Sammy jujur, masih terus bertanya kepada Bryan seolah dia adalah orang yang hendak memberi kerjaan atau penghargaan kepada si cerdas itu.


"Hmm.. kerendahan hati tidak dapat dipaksakan. Namun, aku bisa memberikan beberapa tips."

__ADS_1


"Maukah kamu membagikan tips itu, Bryan?"


Bryan menghela nafas. Sebenarnya, dia sendiri belum pernah ditanyai atau menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini.


Melihat Bryan yang menghela nafas, Sammy pun tidak berani bertanya lagi dan dengan cepat berkata; "Jika kamu merasa keberatan, kamu tidak perlu membagikan tips itu. Kamu nampaknya kelelahan Bryan, kita sudahi saja untuk hari ini."


Akhirnya, tepat pukul 6 sore mereka menyudahi pembelajaran dan sesi tanya jawab. Sebelum pulang ke rumah masing-masing, mereka berterima kasih dan berpamitan kepada Bryan.


Setibanya di rumah..


"Ah..! Melelahkan sekali. Lebih melelahkan daripada pekerjaan kasar." kata Bryan seorang diri dengan menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang di ruang tamu.


"Bryan. Kau pulang larut sekali." kata Joseph, kakak Bryan. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dan menatap adiknya dengan pandangan 'kau harus mandi sebelum berbaring dimanapun.'


"Kak, gotong aku dong." kata Bryan sambil beranjak dari sofa dan hendak memeluk kakaknya.


Bryan terkekeh, lalu ia berkata; "Kakakku memang gila kebersihan."


"Ya, tidak seperti kamu yang hanya mandi setelah berolahraga."


"Dan aku olahraga hampir setiap hari." timpal Bryan.


"Ih.. jorok!"


"Hahaha. Aku juga bersih, kak. Aku mandi setiap hari, jadi kakak tidak perlu khawatir. Bila kakak terus memiliki kecenderungan OCD seperti ini, bagaimana kakak akan mempunyai seorang pacar?" gurau Bryan.


"...Itu bukan urusanmu. Cepat mandi sana." kata Joseph ketus.


"Ya, ya. Baiklah." Bryan pun menuruti kakaknya.

__ADS_1


Setelah mandi, mereka pun makan malam dengan khidmat dan tidak berbincang-bincang lagi. Hal itu dikarenakan oleh peraturan yang harus ditaati oleh kakak beradik tersebut selama tinggal bersama sang ayah yang sedari tadi hanya melahap makanannya dengan wajah serius.


"Papa." tiba-tiba Bryan iseng memanggil.


Ayahnya tidak menjawab ataupun menoleh ke arah putranya.


"Papa." panggil Bryan kedua kalinya.


"Stt. Diamlah, nanti kau dimarahi." bisik Joseph sambil menyikut lengan adiknya.


Sang ayah memang tidak selalu dapat diajak bicara oleh kedua putranya. Terkadang bila mood sang ayah sedang buruk, ia akan tiba-tiba marah dan menghukum kedua putranya. Sang ayah cenderung dominan sejak mereka masih kecil, saat ibu mereka masih hidup sekalipun. Bahkan, dulunya sang ibu dibuat sepenuhnya tunduk dan sering dimarahi-marahi jika melakukan kesalahan sekecil apapun oleh ayah mereka itu.


Sang ayah yang bernama Antonio atau Anton tersebut adalah seorang pria paruh baya yang masih gagah, perfeksionis, misterius, dan menarik bagi para wanita sepantaran ataupun wanita yang lebih muda darinya. Untungnya, sang ayah tidak menikah lagi atau menjalin hubungan terselubung dengan seorang wanita selain almarhum sang ibu. Kedua putranya tidak akan dapat menerima bila kenyataannya demikian.


Joseph, putra pertama, tumbuh dengan mewarisi sifat ayahnya yang perfeksionis, sedikit angkuh, dan bermimik wajah keras. Wajahnya pun amat mirip dengan ayahnya. Hanya saja, ia tidak sekeras ayahnya dan memiliki keunikan tersendiri dalam hal kebersihan.


Sedangkan Bryan, putra kedua dan bungsu, sama sekali berbeda dengan ayahnya. Bukan hanya wajah, namun sifatnya yang usil, jenaka, dan kurang penurut itu entah diwarisinya dari siapa.


Jika melihat keluarga yang dibentuk dan diatur oleh ayah mereka ini, seharusnya tidak ada seorang pun yang akan merasa sebebas atau secuek Bryan.


Mendiang ibu mereka pun sering menasihati kedua putranya untuk mematuhi ayahnya, bila mereka ingin sukses dan diberkati oleh Tuhan.


Meskipun Joseph dapat menerima semua hal tersebut, Bryan tidak demikian. Ia sebenarnya memendam suatu perasaan tidak suka dan kecewa atas perbuatan ayahnya yang selalu dielu-elukan orang lain tersebut.


Menurut Bryan, sang ayah tidak pernah menghargai ibunya dan tidak berperan dalam kebahagiaannya selama ini.


Namun, Bryan dapat menyembunyikan semua perasaan terhadap sang ayah tanpa mengeluh atau membahas mengenai ibu yang selalu amat dirindukannya.


Oleh karena semua hal yang telah menekan dan membatasinya, kini Bryan ingin mencari kebahagiaannya sendiri. Salah satunya melalui pacar tersayangnya, Selena, yang selama ini belum pernah dibahasnya dengan sang ayah maupun Joseph. Bagi Bryan, Selena adalah seorang gadis yang harus diperlakukannya secara berbeda, dihargai, dan dilindungi sampai kapanpun.

__ADS_1


__ADS_2