
Sementara Bryan dan Selena menjalani hari-hari dengan baik, gadis bernama Carissa, teman Bryan itu, menjalani hari-harinya dengan amarah, iri hati, dan dengki.
Dia bahkan menjadikan Selena sebagai musuh dan target untuk dijatuhkannya.
"Hei, anak pemulung. Pungut itu, tisu bekasku."
"I--iya.."
Karena kesal dan cemburu bukan main, Carissa malah melampiaskan seluruh perasaan tidak puasnya kepada orang-orang di sekitarnya. Salah satunya adalah seorang gadis bernama Lenna. Ia adalah teman sekelas Carissa yang amat pendiam dan kutu buku.
Semenjak mengetahui bahwa pacar Bryan adalah seorang ketua OSIS, dalam pikiran Carissa gadis bernama Selena itu pasti kutu buku dan tidak menarik. Kemudian, ia secara langsung menyamakan Selena dengan Lenna, gadis yang nampaknya lemah dan mudah ditindas itu.
"Huh, nama kalian saja mirip! Pantas saja, kalian berdua sangat menjengkelkan dan membuatku benci!" amuknya tiba-tiba.
Gadis bernama Lenna itu sebenarnya bukanlah seorang yang amat lemah seperti dugaan Carissa. Ia diam-diam memendam pula kebencian dan ingin membalas dendam kepada Carissa suatu saat nanti.
Setelah dirundung habis-habisan oleh Carissa dan sekelompok siswi lain, Lenna menghambur masuk ke dalam kamar kecil pada jam makan siang..
"AHHHH!!! Aku benci! Aku benci pada gadis itu!! Lihat saja, aku pasti membalasmu, Carissa!" ia berteriak di dalam kamar kecil seorang diri, seolah tidak ada orang lain yang dapat mendengarnya.
Lenna mengira bahwa ia sedang berada di dalam kamar kecil seorang diri, namun ia salah.
Sedari tadi, Selena berada di dalam bilik di samping bilik kamar kecil yang digunakan oleh Lenna.
"AHHH!!!!" seru Lenna terus-menerus.
Kemudian, ia pun keluar dari kamar kecil dan berjalan dengan langkah yang berat menuju kantin sekolah.
Setelah itu, Selena yang mendengar seluruh perkataan Lenna barusan, terdiam dan merasa heran. Ia hanya menatap ke arah Lenna setelah gadis itu berjalan keluar dari kamar kecil mendahuluinya.
Selena pun keluar dari kamar kecil wanita yang berada di dekat kantin tersebut. Lalu, ia berjalan menuju meja kantin.
"Selena!"
Di situ, Bryan dan teman-teman lain telah menunggunya untuk makan siang di meja kantin yang sama. Namun, tidak termasuk Carissa.
Selena duduk di sebelah Bryan, kemudian mereka menjaga meja itu dan membiarkan anak-anak yang lain memesan makanan terlebih dahulu.
"Selena, kau kenapa?" tanya Bryan tiba-tiba, karena ia langsung dapat menyadari perubahan-perubahan yang ada pada diri Selena.
"Ah.. itu.. Bukan apa-apa, kok." jawab Selena pelan.
"Pasti ada sesuatu. Ceritakan padaku nanti, ok?" kata Bryan.
__ADS_1
Selena tidak dapat mengelak dan akhirnya menganggukkan kepalanya.
Kemudian, setelah anak-anak yang lain kembali, Bryan menyuruh Selena untuk menunggu di meja makan sementara ia membeli makanan untuk mereka berdua.
"Wuihh.. kalian benar-benar mesra, deh. Seperti seorang pangeran dan seorang putri. Di sekolah kita jadi ada dongeng remaja, nih." goda Samantha, teman Bryan.
"Ah.. tidak begitu juga, Sammy." jawab Selena.
Kemudian, Samantha, atau akrab disebut juga Sammy ini berkata; "Apanya yang tidak begitu? Kalian sudah menjadi pasangan yang paling terkenal dan membuat cemburu banyak murid di sekolah ini!"
Mendengar itu, Selena sedikit terkejut dan tidak percaya. Kemudian, ia membalas perkataan Sammy; "Aku dan Bryan tidak seperti itu. Kami hanya berpacaran tanpa tujuan untuk menjadi terkenal atau membuat orang lain cemburu. Kami tidak memiliki tujuan apa-apa."
"Tentu saja kami memiliki tujuan."
Tiba-tiba, Bryan menyanggah pembicaraan kedua orang gadis itu.
"Bryan.. apa maksudmu?" tanya Selena kikuk.
"Kau ini bagaimana sih, Selena. Tentu saja kita memiliki tujuan dalam hubungan kita, yaitu agar kita dapat meneruskannya dan memperdalam hubungan kita, ya kan?" jawab Bryan blak-blakan, tak menghiraukan respon teman-temannya.
Rupanya, dibandingkan Selena, pacarnya itu telah memikirkan segala sesuatu yang lebih mendalam dan jauh dari benak gadis itu. Seketika, Selena pun tahu bahwa Bryan ternyata jauh lebih dewasa daripada dirinya.
Selama ini, Selena selalu merasa bahwa tidak akan ada anak seusianya yang sepandang dan sepikir dengannya. Kini, ia tidak menyangka bahwa ada seorang lelaki seusianya yang bahkan lebih dewasa dan terkadang jauh lebih memahami Selena daripada gadis itu sendiri.
"Bry.. Bryan.." Selena ingin menjawab, namun ia masih kikuk dan malu-malu di depan umum.
"Haha, kau benar. Josh, kau memang temanku yang terbaik!" kata Bryan sambil menjabat tangan Joshua dengan gaul dan bersahabat.
Lalu, tiba-tiba..
BRAKK
Mendengar suara keras di area kantin tersebut, mereka langsung menoleh.
Seketika itu, mereka terkejut dan perhatian mereka semua tertuju pada satu hal yang sama. Bahkan, semua murid di kantin tersebut memandang ke arah tersebut.
Setelah dilihat dengan seksama oleh Selena, matanya langsung membelalak dan ia langsung terperanjat.
Selena segera berdiri dan menghampiri seorang gadis yang terjatuh di atas lantai dengan baki makanan yang tertumpah dimana-mana, bahkan membasahi baju seragam yang dikenakan oleh gadis itu.
Selena membantunya berdiri, lalu menatap gadis itu dan berkata; "Kau tidak apa-apa? Siapa namamu?"
"Aku.. Namaku Lenna.."
__ADS_1
"Lenna, kamu kelas berapa? Kakak akan membawamu ke UKS dan memberitahu wali kelasmu."
"Aku dari kelas 1-1.. Terima kasih, kak."
Selena pun membawa gadis itu ke UKS dan menanyakan kepada bibi UKS apakah sekolah mereka menyediakan seragam cadangan.
Untungnya, bibi UKS berkata bahwa ia memang memiliki beberapa baju seragam cadangan, lalu ia meminjamkan salah satunya kepada Lenna.
"Terima kasih, kak." kata anak itu sekali lagi kepada Selena dengan kepala tertunduk.
"Ah, ini bukan apa-apa. Kau tak perlu sungkan. Bila terjadi sesuatu, kau seharusnya segera bangkit dan tidak usah menghiraukan sekelilingmu, Lenna. Di sekolah ini, ada banyak sekali murid-murid yang tidak mengenalmu, namun kau dapat menunjukkan kepada mereka perlahan-lahan, siapa dirimu sebenarnya."
"Siapa diriku yang sebenarnya?" ulang gadis itu dengan menatap ke arah Selena.
"Benar. Kurasa kau bukanlah anak yang lemah. Kau hanya perlu menyuarakan isi hatimu sendiri."
"Namun, kak..." kata Lenna pelan.
"Namun?"
"Aku.. selalu dianggap kurang dan bodoh oleh orang-orang di sekitarku.. Bagaimana mungkin mereka akan mendengarkanku?" ujar Lenna dengan mata berkaca-kaca.
"Lenna, kau tahu? Dulu kakak juga pernah dirundung sepertimu."
Mendengar perkataan Selena tersebut, Lenna terkejut dan segera bertanya; "Benarkah, kak?"
"Benar. Dulu waktu kakak masih SMP, ada tiga orang gadis yang tidak ada habisnya merundung kakak. Mereka melakukan hal itu setiap hari. Namun, suatu saat, kakak menyentak mereka dengan tujuan agar mereka mendengar dan mengetahui apa isi hati kakak."
Lenna mendengarkan perkataan Selena dengan seksama, lalu menunggu perkataan Selena selanjutnya.
"Kakak berkata kepada mereka dengan menatap lurus-lurus, bahwa perbuatan mereka itu hina dan keji. Bahwa tidak ada seorang pun manusia yang layak untuk diperlakukan demikian, baik di sekolah maupun di masyarakat. Kakak juga berkata bahwa kelak mereka akan tahu dan menyesali perbuatan mereka, namun hal itu akan sangat terlambat bila mereka tidak menghentikan semua perbuatan mereka saat itu. Kakak tidak pernah membenci mereka, melainkan mengasihani mereka. Namun, mereka masih saja mengatai kakak sebagai seorang unsociable freak. Akan tetapi, melihat kesungguhan pada tindakan yang kakak berikan, mereka pun akhirnya bosan dan berhenti mengganggu kakak."
Lenna yang mendengar cerita Selena tersebut merasa kagum. Di matanya seperti timbul cahaya pengharapan dan kehidupan. Lalu ia berkata kepada Selena; "Terima kasih, kak. Terima kasih. Sebagai seorang yang unsociable, bukan berarti aku akan membiarkan orang lain menindasku." air mata mengalir dan membasahi pipi gadis itu.
Selena tersenyum hangat dan berkata kepada Lenna; "Benar, jangan kau biarkan hal itu terjadi kepadamu lagi. Kau adalah pengatur hidupmu. Sebab, menjadi seorang yang unsociable itu bukanlah sebuah dosa, melainkan sebuah berkat. Bila kita tidak pernah mengalami semua hal ini, bagaimana kita akan belajar untuk bertumbuh dan menjadi lebih kuat, benar bukan?"
"Iya.." tangis Lenna dengan anggukkan kepalanya.
Lenna pun menceritakan panjang lebar kepada Selena mengenai kejadian-kejadian yang menimpanya. Ia bahkan memberitahu Selena bahwa Carissa adalah orang yang menindasnya.
Selena membiarkan Lenna mengutarakan kepadanya seluruh pergumulan dan kepahitan yang pernah dirasakan oleh gadis itu.
Sementara mereka berbicara di dalam ruang UKS, diam-diam dan tidak diketahui oleh mereka, Bryan berada di sana dan telah mendengarkan seluruh pembicaraan kedua orang gadis yang baru saja mengenal satu sama lain tersebut.
__ADS_1
Perasaan Bryan kepada Selena menjadi semakin dalam. Ia semakin yakin akan kepribadian gadis itu, dan saat ini ia pun tahu siapa yang berwatak kurang baik dan berani menindas orang lain. Ekspresi di wajah Bryan seketika misterius dan tidak mudah ditebak.
Namun, bukan hanya Bryan, gadis bernama Carissa itu ternyata mengikuti mereka dan kini tubuhnya bergetar. Wajah Carissa merah padam dan hatinya amat panas. Seketika, ia mati kutu ketika Bryan menoleh ke arahnya dengan pandangan dingin, lalu ia pun berlari meninggalkan tempat itu.