The Sweetest Dream

The Sweetest Dream
Kenangan


__ADS_3

Lima hari telah berlalu semenjak kunjungan Bryan ke rumah Selena yang sebenarnya sudah dua kali. Hari ini hari Sabtu, sekolah biasanya selesai lebih awal, yakni sekitar pukul 9 atau 10 pagi. Karena tidak ada bahan pembelajaran selain pendidikan moral, terkadang semua murid juga diliburkan pada hari Sabtu atau akhir pekan.


Seluruh murid dikumpulkan di dalam sebuah aula yang dapat memuat beratus-ratus orang untuk mendapatkan ceramah gratis dari seorang cendekiawan yang dipanggil dari luar sekolah.


Nama cendekiawan itu adalah Bapak Jonathan. Dia berusia sekitar 40 tahun, berpendidikan S3, pandai berbicara, dan amat memotivasi para murid.


Para murid dibuatnya bersemangat untuk mendengarkan, bertanya, maupun bertukar pendapat dengannya. Ia bahkan dapat bersenda gurau sambil membawakan materinya hari ini, yaitu "Manfaat Hidup Tekun dan Menolong Orang Lain."


"Bapak Jonathan, mengapa kita harus menolong orang lain, apalagi jika kita sendiri kekurangan? Bukankah itu sangat berat dan mustahil untuk dilakukan?" tanya seorang siswa, sambil berdiri dan menaikkan tangan.


"Pertanyaan bagus. Siapa namamu, Nak?" katanya.


"Nama saya Ian, Pak." jawab anak itu.


"Baik. Ian, kamu duduk dulu. Bapak akan menjawabmu."


Anak itu pun duduk, seketika ditarik oleh teman yang duduk di sampingnya.


"Alasan utama kita harus menolong orang lain adalah untuk berdamai dengan diri kita sendiri dan mampu mengevaluasi kualitas hidup kita." jawab Bapak Jonathan.


Semua murid terdiam sejenak, lalu mulai bertanya-tanya.


"Maksudnya bagaimana, Pak?" tanya Ian.


"Setiap orang memang memiliki kesusahannya sendiri. Namun, jika semua orang memutuskan untuk mendahulukan atau bahkan tidak mempedulikan kesulitan orang lain, maka dunia ini akan menjadi kacau dan tidak manusiawi. Coba bayangkan, bila terjadi sebuah bencana, katakanlah banjir atau gempa bumi. Bila semua orang tidak tergerak untuk membantu atau menyumbang kepada para korban, bagaimanakah nasib mereka? Tentunya keluarga atau pihak yang berwajib akan membantu mereka dengan semampunya, namun pernahkah kalian memikirkan kesusahan yang dialami mereka dengan lebih mendalam dan tergerak untuk menyumbang?"


Para murid terdiam sambil merenungkan perkataan Bapak Jonathan.


"Itu benar juga, Pak. Namun, jujur saja.. keluarga saya tidak begitu mampu. Ibu saya sakit-sakitan, jadi ayah saya harus bekerja keras untuk membiayai pengobatannya. Namun, ibu saya tidak pernah mengeluh atau menuntut agar sembuh. Padahal, ia dapat saja meninggal karena penyakitnya.. Oleh karena itu, kedua orang tua saya malah masih bersedia membantu orang lain.. saya tidak mengerti. Saya tidak dapat menerima hal ini. Saya hanya ingin keluarga saya selamat dan tidak kekurangan.." tutur Ian dengan wajah sendu.


"Oh, Bapak turut bersedih untukmu, Ian. Namun, bila kamu tidak mengizinkan Bapak untuk mengutarakan pendapat, Bapak tidak akan membahasnya dan mendengarkan curhatmu saja." kata Bapak Jonathan dengan sabar dan prihatin.


"Silahkan, Pak. Saya akan mendengarkan pendapat Bapak." jawab Ian, bertentangan dengan ekspektasi teman-temannya.


"Ian, Bapak tidak menyalahkan pendapatmu itu. Menurut Bapak, hal itu merupakan kebebasan masing-masing orang. Baik itu ayah, ibu, maupun dirimu sendiri. Masing-masing orang dalam keluargamu dapat saling mengingatkan untuk kebaikan bersama, namun kamu tidak dapat menentukan apa yang telah menjadi pergumulan dan keputusan mereka. Bapak bukan berkata demikian karena kamu masih muda, melainkan karena jiwa kita masing-masing. Kita semua berbeda secara sifat, nalar, tingkat kedewasaan, dan kebiasaan kita. Hal itu salah satunya dikarenakan oleh pengalaman hidup."


Ian terdiam.


"Bagaimana Ian? Apakah penjelasan Bapak telah menjawab pertanyaanmu?" tanya Bapak Jonathan.


"Iya, Pak. Pikiran saya menjadi lebih terbuka sekarang. Terima kasih, Pak." kata Ian dengan sopan dan hormat.


"Sama-sama, Ian." kata Bapak Jonathan sambil tersenyum.


Saat itu, entah mengapa Bryan yang duduk di sebelah Selena terlihat amat muram.


"Bryan?" panggil Selena.


"Hm? Ada apa, Selena?" jawabnya, sambil menolehkan kepala ke arah gadis itu.


"Mmm.. tidak apa-apa. Aku hanya merasa kamu sedikit murung dari tadi. Ada masalah apa?" tanya Selena lembut.


"Ah, bukan apa-apa, kok. Kamu tidak perlu khawatir, Selena." Bryan tersenyum kepada Selena.


Namun, di mata Selena senyuman Bryan itu lagi-lagi nampak dipaksakan.


"Benarkah kamu tidak apa-apa, Bryan?" tanya Selena lagi, untuk memastikan.


Bryan mengangguk.


"Apa kamu memiliki sesuatu yang tidak dapat dikatakan, Bryan?" tanya Selena tiba-tiba, karena sudah tidak tahan melihat ekspresi Bryan yang sendu.


"Selena.."


"Katakanlah kepadaku, Bryan. Bila kamu tidak mau mengatakannya sekarang dan di tempat ini, aku akan menunggumu."

__ADS_1


Bryan terdiam.


"Aku peduli kepadamu, sangat peduli.. karena aku sayang padamu, Bryan." kata Selena dengan bersungguh-sungguh.


"Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu sepulang sekolah." kata Bryan akhirnya, karena tidak ingin pacarnya terus-menerus khawatir akan dirinya.


Mereka mendengarkan materi yang dibagikan kepada Bapak Jonathan selama kurang lebih 4 jam, kemudian bersama-sama berjalan keluar dari aula seusai ceramah.


Selena mengikuti Bryan menuju pintu keluar gedung sekolah, sambil bergandengan tangan dengan pacarnya itu.


"Selena.. kita bicara di tempat lain saja." kata Bryan, seolah tidak ingin didengar oleh orang lain di sekitar sekolah.


"Baiklah." jawab Selena.


Mereka pun menaiki mobil keluarga Bryan dan diantar oleh sang supir ke sebuah cafe.


Mereka turun dari mobil dan memasuki cafe. Seketika mereka duduk dan selesai memesan makanan dan minuman, Selena mulai berkata; "Bryan, kalau kupikir-pikir, masih banyak hal-hal yang tidak kuketahui mengenai dirimu."


"Benarkah?" Bryan tersenyum ramah, namun tidak terlalu bersemangat seperti biasanya.


"Oleh karena itu, mulai saat ini aku ingin mengenalmu lebih dalam, supaya aku dapat membantu dan menghiburmu ketika kamu memiliki sebuah beban atau pergumulan." kata Selena dengan sorot mata memohon.


"Selena, aku senang kamu sangat peduli kepadaku. Namun, kurasa saat ini belum saatnya aku memberitahukannya kepadamu. Aku janji, aku akan memberitahumu ketika waktunya tiba." jawab Bryan.


Perkataan Bryan itu membuat Selena tidak percaya dan tidak suka. Ia pun berkata; "Belum saatnya? Apakah kamu memiliki sebuah rahasia yang kau simpan dariku?"


"Selena."


"Padahal aku selalu menceritakan mengenai diriku kepadamu. Apakah kamu tidak mempercayaiku, Bryan?" kata Selena, dengan nada suara yang sedikit tinggi karena kecewa.


"Bukan begitu, Selena. Aku--"


"Kamu tidak ingin aku tahu mengenai kehidupanmu? Apakah karena aku tidak sebanding denganmu?" kata Selena, secara emosional.


"...." Bryan tidak menjawab.


GREP


"Selena." Bryan menggenggam tangan Selena dengan tangkas.


"Lepaskan." kata Selena dengan wajah muram.


Bryan mendesah pelan, kemudian menarik tangan Selena hingga gadis itu terjatuh ke atas pangkuannya.


"Ap--apa yang kau lakukan?!" kata Selena, dengan wajah merona dan nampak sedikit marah.


"Selena. Aku melakukan semua ini demi hubungan kita berdua." kata Bryan lembut, secara tiba-tiba.


Selena merasa bingung, ia berusaha untuk beranjak dari pangkuan Bryan karena sedikit gugup dilihat orang lain. Namun, Bryan menguatkan pelukan melingkar salah satu lengannya pada pinggang Selena, sehingga gadis itu tidak dapat bergerak sedikitpun.


"Hu--hubungan kita? Memangnya apa yang salah dengan itu?" kata Selena tergagap, karena Bryan terlihat lebih memaksa daripada biasanya.


"Aku tidak ingin putus denganmu, sayang."


DEG


"A--apa katamu? Te--tentu saja kita tidak akan putus.." kata Selena semakin gugup, karena Bryan mendekatkan wajahnya pada wajah merona gadis itu.


Bryan tertawa pelan, kemudian berkata; "Selena, kamu begitu manis. Oleh karena itu, aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku."


Wajah Selena semakin merona, jantungnya pun berdebar kencang. Apalagi, dengan posisi duduk yang seperti ini di tempat umum!


"Bryan.. lepaskan aku. Aku malu.. kumohon." ucapnya dengan wajah tertunduk dan amat merah.


"Hahaha. Baiklah." akhirnya Bryan pun melepaskan Selena dari pelukan menggodanya.

__ADS_1


"Kamu ini..!" Selena menggerutu.


Bryan tertawa lagi, kemudian berkata; "Karena kamu begitu bersikeras, maka akan kuceritakan kepadamu."


Wajah Selena langsung cerah dan matanya mendadak berbinar. Ia pun menunggu dan berkata; "Ceritakanlah. Aku sudah siap."


Bryan tersenyum melihat tingkah Selena yang berusaha menutupi rasa gugupnya.


Apakah hal ini adalah sesuatu yang selama ini telah membelenggu Bryan? batinnya, ia sudah tidak sabar untuk mendengarkan cerita lelaki itu.


"Dulu, waktu aku masih kecil.. Mamaku pernah berkata kepadaku.." Bryan berkata dengan wajah serius, namun suaranya amat tenang dan sedikit terkesan misterius.


Selena merespon dengan anggukan kepala.


"Bryan, kamu harus selalu menuruti nasihat kedua orang tuamu. Bila tidak, Mama akan meninggalkan Bryan." kata Bryan, menirukan ibunya.


Selena terkejut mendengar kalimat tersebut. Ia hanya memandang ke arah Bryan dengan ekspresi yang melembut dan berduka.


"Aku yang saat itu masih di bangku SD tentu saja tidak mengerti maksud perkataan itu. Aku pun hanya tersenyum, karena berpikir bahwa Mamaku hanya bercanda.. Namun, aku salah." ucap Bryan, wajahnya terlihat terluka.


Selena segera mendekati dan memeluk Bryan, kemudian berkata lembut; "Bryan.. maafkan aku. Seharusnya aku tidak memprovokasimu.."


"Tidak apa-apa, Selena. Setelah kupikirkan lagi, perkataanmu tadi memang benar. Kamu perlu mengetahui tentangku dan keluargaku." balas Bryan, ia menyentuh lembut tangan Selena yang merangkul bahu kekarnya.


"Bryan.. aku.."


"Tidak apa-apa, Selena. Sungguh." kata Bryan meyakinkan.


"Baiklah.." jawab Selena.


Bryan melanjutkan; "Mamaku selalu bersabar dan mengalah kepada Papaku. Begitu pula dengan aku, kakakku, dan hampir semua orang yang berada di dekatnya. Dia benar-benar diktator dan keras dalam kemauannya. Dengan posisi dan pendidikannya yang tinggi, ia merasa dirinya begitu hebat dan selalu benar. Ia selalu merendahkan Mamaku dengan perkataannya yang sinis dan kejam, sehingga Mamaku merasa tertekan. Namun, Mamaku benar-benar tidak pernah memperlihatkan perasaannya kepada kami. Hal itu membuat Papaku menjadi semena-mena dan membuatnya tunduk secara membabi-buta. Tidak jarang aku melihat Mamaku dimarah-marahinya dengan kasar, bahkan di depan orang banyak. Aku sangat benci melihatnya memaki dan mengatai Mamaku dengan tanpa perasaan, sehingga saat aku duduk di bangku SMP, aku mulai melawan Papaku.."


"Bryan.." Selena mengelus rambut Bryan dengan salah satu tangannya, dan tangannya yang lain masih memeluk lelaki itu dengan lembut.


"Pada tahun terakhirku di SMP, Mamaku mengalami sakit keras.. padahal saat itu adalah pekan ujian akhir sekolah. Aku ingin sekali merawat, atau setidaknya melawatnya di rumah sakit. Namun, Papaku marah besar dan memukuliku, karena dia ingin aku belajar.."


"Oh, tidak.. Bryan.." Selena memeluk Bryan dengan lebih erat, dan menempelkan pipinya pada rambut Bryan yang lembut dan berwarna gelap kecoklatan.


"Akhirnya.. aku tidak dapat menengok Mamaku.. aku hanya merasa marah dan putus asa. Sebagai seorang anak, aku tidak boleh melawan orang tuaku.. Semua orang akan menggunjingku bila aku tidak patuh kepada Papaku. Hingga.. Mamaku pun meninggal dunia tanpa melihatku dan Joseph untuk terakhir kalinya.. Joseph dapat melupakannya sekarang, namun tidak denganku... Aku tidak pernah melupakannya, sekalipun tidak.." Bryan amat bersedih.


"Bryan.. hiks*.. " Selena menangis.


"Selena.. kok kamu menangis?" kata Bryan lembut, ia pun turut berdiri dan menatap wajah Selena yang tertunduk.


"Bryan.. huhu.. hiks*.. kamu.. kasihan sekali kamu.. Maaf.. maafkan aku.." Selena menangis terisak-isak, membuat Bryan tak tahan untuk memeluknya.


"Selena sayang, kamu tidak bersalah. Aku hanya ingin terbuka kepadamu. Jangan menangis."


"Bryan.." Selena memeluk Bryan, setelah Bryan melepaskan pelukan dan mengecup keningnya.


"Selena." Bryan balas memeluknya lagi, dengan lebih erat.


Sementara itu..


"Ckckck. Dasar anak muda zaman sekarang. Mesra-mesraan di tempat umum sudah umum ya?" ucap seorang wanita paruh baya.


"Haha. Bukankah dahulu saat muda kita juga begitu?" balas seorang nenek dengan sabar.


"Tapi Ma, mereka itu pasti masih murid sekolah. Dilihat dari seragam mereka, mereka sepertinya bersekolah di sekitar sini." jawab wanita itu kepada ibunya.


"Sudah, biarkan saja. Tanpa kamu yang menjadi panas, beberapa orang lain di sini juga mengamati mereka sedari tadi. Mungkin kalian iri hati." gurau sang nenek.


"Ah, Mama!" kata sang wanita, sambil tersenyum.


"Begitulah kedua insan yang sedang jatuh cinta. Kuharap kau mengerti dan lebih menghormati suamimu." kata sang nenek, menegur anak perempuannya.

__ADS_1


"Baik, baik. Aku akan lebih mengalah. Seperti Mama yang baik hati dan sabar terhadap almarhum Papa."


Setelah menghabiskan hidangan mereka, Bryan mengajak Selena meninggalkan tempat itu untuk berkencan seharian. Mereka sangat berbahagia karena memiliki satu sama lain pada saat sesulit apapun.


__ADS_2