
Hari itu, setelah pulang dari sekolah Bryan langsung dihadapkan kepada ayahnya. Joseph dengan tega mengadukan semuanya kepada sang ayah, sehingga membuat ayah mereka murka dan mulai memukuli Bryan dengan rotan.
Bryan hanya mendesah kesakitan. Ini bukan yang pertama kalinya bagi dirinya. Dia akan selalu diperlakukan seperti ini tanpa keadilan, bila keinginannya berlawanan dengan keinginan ayahnya.
Joseph nampak tenang dan dingin melihat adiknya disiksa oleh ayah mereka sendiri. Sebenarnya, sejak beberapa tahun lalu, saat mereka masih kecil pun Joseph telah selalu iri hati kepada Bryan.
Bryan tidak pernah belajar atau melakukan segala sesuatu segiat dan seminat Joseph, namun hasil mereka selalu berbeda. Bryan selalu lebih unggul daripada kakaknya, sehingga Joseph amat ketakutan bila Bryan mampu merebut perhatian dan kasih sayang sang ayah.
Joseph sangat ingin mendapat pengakuan dari sang ayah. Walaupun, sejak kecil baik ibu maupun ayahnya lebih banyak memuja dan membangga-banggakan Bryan daripada dirinya. Oleh karena itu, meskipun tidak dapat membenci Bryan, ia juga tidak dapat menyayangi adiknya sendiri dengan tulus.
Setelah puas memukuli anaknya yang secara diam-diam berpacaran dengan gadis biasa, sang ayah menyimpan rotannya dan kembali ke dalam kamar pribadinya. Ia terlihat begitu keji dan menyeramkan.
Hanya keluarga dan orang-orang merekalah yang mengetahui sosok keluarga Bryan. Dari luar, keluarga yang terdiri dari 3 orang laki-laki itu nampak sempurna dan terhormat.
Namun, benarkah demikian?
Bryan telah muak dengan keluarganya ini. Sampai kapan ia harus bertahan, sementara sang ayah terus menginjak-injak kebebasan dan perasaannya?
Ia dibantu berdiri oleh beberapa pelayan rumahnya yang merasa iba dan sedih melihat kejadian tersebut. Mereka pun berhasil membawa Bryan ke kamarnya, lalu meninggalkan lelaki itu seorang diri.
Bryan hanya berbaring telentang di atas ranjang dengan terus menatap langit-langit.
"Saat ini, apa yang sedang dilakukan oleh Selena ya..?" gumamnya pelan.
Air mata mengalir melalui pelipisnya dan membasahi bantalnya.
Biasanya ia tidak akan pernah menangis, apalagi dia adalah seorang lelaki. Dia harus tangguh menghadapi keluarganya.. menghadapi kenyataan yang sepertinya selalu diciptakan oleh ayahnya.
Dia begitu membenci dirinya yang gagal melindungi Selena, seperti janjinya kepada ibu Selena.
"Selena... maafkan aku. Maaf.." dia terus-menerus berkata demikian, sementara hatinya berada jauh dari tempat itu dan ia merasa merana.
Beberapa hari pun berlalu..
"Selena. Sayang, kamu harus makan, Nak." sang ibu terus berusaha membujuk Selena.
Gadis itu menolak makan selama beberapa hari. Ia hanya terdiam, terus belajar, atau menangis di kamarnya seorang diri.
Dia terlihat lebih kurus, wajahnya sedikit pucat, tidak bersemangat, dan hanya terus menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran sekolah.
Sang ibu merasa amat khawatir, sehingga ia menangis melihat Selena yang menderita setelah putus dengan Bryan.
Ben juga menjadi murung, karena kakaknya berubah drastis walau ia telah mencoba berbagai cara untuk membuatnya tersenyum lagi.
Keluarga itu nampaknya hanya menjalani rutinitas, tanpa gairah dan suka cita yang penuh.
Di sekolah pun, Selena kembali menjalani hari-hari dimana ia dijahili atau diganggu murid-murid yang tidak menyukainya.
Ia tidak melawan dan tidak banyak berbicara. Hal itu membuat orang-orang heran dan bergosip mengenai dirinya dan Bryan.
__ADS_1
"Kudengar mereka putus, lho." ucap Hanna.
"Oh, kalau begitu sekarang kita bisa merundungnya kembali! Sebenarnya beberapa pekan ini kita kan mundur karena takut pada Bryan, ya kan?" ucap Jenny, ketua dari 3 orang gadis tomboi dan berandalan tersebut.
"Benar. Aku benci sekali melihat Selena selalu dipuji-puji karena sok pintar dan sok suci itu!" ucap Sisca.
Ketika Selena hendak berjalan ke toilet perempuan, tiba-tiba ia dihadang oleh ketiga orang gadis bengis tersebut. Ia dibawa ke sebuah tempat yang mirip gudang gelap secara paksa oleh ketiga orang gadis tersebut.
"Aduh!" Selena merintih, ketika tubuhnya dilemparkan oleh Sisca di atas tanah dengan kasar.
"Lihat, wajahmu jadi jelek sekali! Tubuh kurusmu itu mana mungkin dapat menarik perhatian lelaki! Jangankan Bryan yang seksi, lelaki biasa saja akan muntah bila tidur denganmu! HAHAHAHAH! ujar Jenny kasar, sambil tertawa-tawa keras bersamaan dengan kedua temannya.
"Diam kalian! Aku tidak seperti kalian! Bryan pun tidak seperti lelaki lain yang selalu kalian bayangkan! Kalian sama sekali tidak pantas mengucapkan namanya dengan mulut kotor kalian itu!" bentak Selena, dengan sorot mata menyala karena amarah.
Tiba-tiba, mereka mengambil tali dan mulai mengikat tubuh Selena dengan paksa.
"Hentikan! Kalian mau apa?! Jangan sembarangan memperlakukan orang lain!" Selena meronta-ronta.
PLAK
Tiba-tiba sebuah tamparan keras dilayangkan oleh Jenny pada pipi lembut Selena. Pipinya yang putih itu memerah dan terasa nyeri.
"Sakit, kan? Kalau sakit, tutup mulutmu, supaya kami tidak terlalu keras memberimu pelajaran." ucap Jenny dengan keji.
Mereka tertawa-tawa seperti iblis, seolah merekalah yang benar dan Selena memang layak untuk dihajar supaya sadar.
"Sebenarnya apa salahku pada kalian? Mengapa kalian memperlakukanku seperti ini?!" Selena menjerit.
PLAK
Mereka semakin senang dan merasa menang, namun---
BRAKKK!
Sebuah suara keras mengejutkan mereka.
"Siapa kau?!" seru Sisca, sambil melihat sebuah sosok bayangan tinggi dan kemudian..
"Selena!"
Bryan berlari ke arah gadis yang lemah dan telah tak sadarkan diri karena syok tersebut.
"B--Bryan..!" ketiga orang gadis itu mulai ketakutan dan hendak kabur.
"STOP!" bentak Bryan tiba-tiba, sehingga membuat ketiga orang gadis itu berhenti.
Meski enggan untuk melawan seorang atau tiga orang gadis, Bryan mau tidak mau harus membalas perbuatan tercela yang telah mereka lakukan terhadap gadisnya.
PLAK PLAK PLAK---
__ADS_1
Deru suara tamparan dan jeritan nyaring ketiga orang gadis itu terdengar dalam ruangan yang sepi dan gelap tersebut.
Tempat itu jauh dari sekolah, berdebu, dan benar-benar ngeri untuk dijadikan tempat melakukan kejahatan bak binatang seperti yang direncanakan oleh ketiga orang gadis tersebut.
Bryan tidak dapat membayangkan betapa takut dan sakitnya hati Selena saat ini.. Ia begitu murka dan terus menyalahkan keadaan dan dirinya sendiri akan semua hal yang terjadi kepada Selena.
Seandainya ia masih berada di sisi gadis itu, ia pasti akan dapat selalu melindungi dan membuat gadis itu tersenyum.
Hati Bryan amat terluka. Ia memeluk Selena yang nampak begitu rapuh dan menyedihkan dengan tangisan yang menyesakkan dada.
Ia menggendong gadis itu kembali ke rumahnya dan hendak kembali ke sekolah..
"Bryan." ucap Ibu Selena.
Bryan perlahan menoleh ke arah Miranda.
"Tante.. saya.." Bryan menjelaskan kejadian yang menimpa Selena, dan meminta maaf kepada Miranda dengan tulus.
"Tidak apa-apa, Nak. Tante mengerti." Miranda tersenyum lembut kepada Bryan, sebelum lelaki itu memunggunginya dan melangkah pergi.
Miranda mendesah dengan sedih. Ia berkata sambil menangis melihat putrinya; "Selena.. sepertinya Bryan masih menyukaimu. Yang tabah ya, Nak. Mama rasa pasti ada alasan dia berbuat seperti itu padamu. Pasti ia hanya ingin melindungimu.. buktinya dia membawamu pulang ke rumah.."
Selena yang sudah setengah sadar, mendengar seluruh perkataan dan tangisan ibunya, ia hanya berbaring lemah di atas ranjang sambil meneteskan air mata.
Miranda meraih tangan putrinya dan terus mengelus punggung tangan, serta rambut anaknya. Ia juga menangis melihat pipi Selena yang merah karena dirundung oleh anak-anak nakal tersebut.
"Selena.. Mama mohon. Yang tabah dan sabar ya, Nak. Mama yakin, Bryan akan segera kembali kepadamu."
"Kalau tidak, Ma?" kata Selena tiba-tiba, ia bangkit dan duduk bersandar di atas ranjang.
"Selena.."
"Kalau dia tidak kembali? Kalau selamanya dia menjauhiku? Bagaimana aku dapat menjalani hidupku sekarang? Aku harus bagaimana, Ma?!" Selena berseru pilu, ia menangis lagi.
"Selena.." Ibunya memeluk erat gadis itu.
"Mulai sekarang.. aku harus melupakannya.. demi Mama, Papa, Ben, dan.. diriku sendiri. Mama ingat, bukan? Aku bercita-cita menjadi seorang dokter bedah umum di masa depan. Tidak mungkin aku boleh menyerah dan berputus harapan saat ini!" Selena menepuk dadanya yang pedih, dan memaksakan dirinya untuk bangkit dan pulih secepatnya.
"Selena.. kamu tidak perlu sampai melupakan Bryan.. kamu--" ucap sang ibu.
"Jangan sampai aku terpuruk dan gagal dalam impianku. Tidak, tidak akan, Ma! Selena bisa sendirian! Mimpi Selena menjadi seorang dokter harus tercapai, dan Selena akan mewujudkannya mulai dari sekarang. Tidak ada waktu bagi Selena untuk bermesra-mesraan atau menangisi diri sendiri lagi."
"Anakku.. jangan sampai sakit ya, Nak." ucap sang ibu menyentuh rambut Selena, dengan sayang dan tangisan.
"Iya, Ma. Maafkan Selena karena sudah membuat Mama khawatir. Mulai sekarang, Selena akan lebih berhati-hati dan waspada." kata Selena, ia berusaha memaparkan senyuman pertamanya setelah berhari-hari menyuram dan menyendiri.
"Selena.. walaupun kamu sedang menghadapi kekelaman dalam hidupmu, kamu harus bertahan. Yang terpenting adalah jangan sampai hal apapun menghancurkanmu, jangan sampai kamu patah semangat. Tumbang atau kalah dengan keadaan itu wajar, namun kamu tidak boleh pesimis dan teruslah berlari untuk menggapai masa depanmu yang penuh pengharapan ya, Nak."
"Ya, Mama." Selena memeluk ibunya.
__ADS_1
Mulai hari ini, mimpi Selena menjadi dokter adalah mimpi yang paling prioritas baginya. Karena kini tidak ada Bryan, mimpinya yang satu lagi, yakni kelak menjadi istri Bryan pun kandas dan lenyap.. mungkin untuk selamanya.