The Sweetest Dream

The Sweetest Dream
Rahasia Gelap Terbongkar


__ADS_3

"Tuan Anton. Kapan anda akan meresmikan hubungan kita?" ucap Vero di suatu sore.


"Nanti, Vero. Aku harus mengurus putra keduaku yang bandel sebelum dapat menikahimu." jawab Antonio, ayah dari Bryan dan Joseph.


"Oh, benarkah yang baru saja anda katakan? Anda akan menikahi saya?!" tanya Vero, amat girang.


"Panggil saja aku Anton. Jangan khawatir akan apapun. Aku pasti akan memanjakanmu, Vero." kata Antonio.


"Ah~~ Anton bisa saja." balas Vero dengan tertawa genit.


KLOTAK


Tiba-tiba, mereka mendengar sesuatu.


"Suara apa itu?" ucap Vero.


"Ah, mungkin kau salah dengar, sayang."


"Oh, Anton sayang. Aku akan mengeceknya."


Begitu Vero keluar dari kamar Anton, wajahnya langsung pucat pasi dan tegang.


Bryan tengan berdiri di hadapan Vero dengan ekspresi wajah yang amat murka dan jijik.


"Bry-- kyaaaa!"


BRUKK


Bryan dengan tiba-tiba mendorong wanita itu hingga tersungkur ke lantai.


"Vero. Kau baru saja hendak memanggilku Bryan? Kau sudah lupa siapa dirimu? Cepat katakan apa yang sedang kau lakukan di kamar Papaku." kata Bryan dengan geram.


"Tuan Bryan. Mungkin anda salah dengar. Mana mungkin saya berani? Saya hanya masuk ke kamar Tuan Besar karena beliau memanggil saya." jawab Vero.


"Jadi, kau benar-benar tidak berbuat macam-macam dengan Papaku?" ucap Bryan sinis.


"Astaga, Tuan Muda.. Mana mungkin saya berani?" kata Vero.


"Ada apa?" tiba-tiba, sang ayah keluar dari kamarnya.


"Tuan Muda mencurigai saya berbuat yang tidak-tidak, Tuan Besar." jawab Vero.


"Benarkah itu, Bryan?" tanya ayah Bryan dengan ketus.


"Sebelum aku menjawab, aku ingin memastikan sesuatu dengan Papa." kata Bryan.


"Memastikan apa?" ucap sang ayah.


"Apakah Papa dan Vero menyembunyikan sesuatu dari aku dan kakak?" tanya Bryan, tidak kalah ketus dan tegas dengan ayahnya.


"Menyembunyikan apa maksudmu? Kau jangan seenaknya menuduh, dasar anak bandel! Belum kapok dihajar kamu rupanya?" kata sang ayah dengan kejam.

__ADS_1


"Terserah Papa. Bila perlu, Papa boleh menghajarku sampai mati. Namun, Papa harus berkata yang sejujur-jujurnya kepadaku. Bila aku masih seorang anak bagi Papa, aku ingin mendengar alasan Papa memanggil Vero ke dalam kamar Papa selama itu belakangan ini." sela Bryan.


"Kamu..! Dasar anak kurang ajar!!"


GREPP


Tak seperti biasanya, Bryan menghentikan tangan ayahnya yang hendak memukulnya. Sang ayah terkejut dan matanya memelototi Bryan dengan bengis.


"Kurang ajar!"


DAKK


Bahkan, Bryan menangkis tendangan kaki ayahnya dengan satu tangannya yang lain. Lalu, ia dapat dengan mudah menghindari setiap gerakan kasar berikutnya dari ayahnya itu.


Tersulut oleh amarah, Antonio hendak menyaduk Bryan dengan kepalanya. Namun, lagi-lagi dihindari oleh putranya.


"Bryan..! Dasar setan kau!! Joseph!" tiba-tiba sang ayah berseru memanggil putra kebanggaannya.


Tak lama kemudian, Joseph muncul dan terkejut oleh keadaan sang ayah dan Bryan yang nampak jelas sedang beradu fisik.


"Bryan! Sedang apa kau?!" bentak Joseph, ia langsung melepaskan genggaman tangan Bryan dan mendorong tubuh adiknya.


"Kakak.. aku punya alasan berbuat seperti ini. Hal ini bukan karena masalah Selena." jawab Bryan tegas.


"Bicara apa kamu? Jangan mengungkit-ungkit tentang gadis itu lagi! Kamu---"


"Papa berselingkuh." sanggah Bryan tiba-tiba.


"Joseph!" seru ayah mereka.


"Tuan Joseph." Vero ikut-ikutan memanggil.


"Apa kamu bisa membuktikan ucapanmu barusan, Bryan?" tanya kakaknya.


"Tuan Muda, mohon jangan mempercayai perkataan sepihak dari Tuan Bryan! Jangankan berselingkuh, saya sama sekali tidak berani kurang ajar dengan Tuan-tuan." ucap Vero dengan akting bulusnya.


"Oh, begitu? Lalu, mengapa kau langsung memegangi perutmu sewaktu aku mendorongmu?" tanya Bryan.


DEG


"Tuan Muda, saya--" ucap Vero dengan tubuh yang sedikit bergetar dan tegang.


"Padahal aku hanya mendorongmu pelan. Namun, kamu langsung tersungkur ke lantai dengan posisi duduk yang aneh. Apakah kamu tadi berusaha untuk melindungi sesuatu dalam perutmu?" tanya Bryan, dengan semakin menyudutkan Vero.


"Tuan Muda, mengapa anda berkata demikian? Saya hanya berusaha untuk tidak terluka secara fatal. Mana mungkin saya hamil muda dari Tuan Be---!" tiba-tiba, Vero membekap mulutnya sendiri.


"Vero.. kamu...!" ucap Joseph.


"Tu--Tuan Joseph.. Tuan Bryan.. Tuan-tuan telah salam paham." ucap Vero dengan terbata-bata.


"Cukup!" seru Antonio tiba-tiba.

__ADS_1


Kakak beradik itu langsung menatap ke arah ayah mereka.


"Itu memang benar. Vero hamil anak Papa."


Mendadak, dunia seperti runtuh dan kedua putra Antonio itu seperti tertemplak keras. Walau kedengkian yang timbul dalam benak Bryan dan Joseph tidak sama besar, kakak beradik itu sama-sama merasa syok dan murka.


Selama ini, Joseph telah amat menghormati dan bahkan mengagungkan ayahnya. Dia percaya bahwa ayahnya adalah seorang pria terhormat dan bermartabat, yang tidak mungkin akan berbuat tidak senonoh atau rendahan. Namun, kini apa yang dilihatnya adalah hal yang sebaliknya. Joseph tidak dapat menahan besarnya amarah dan kekecewaan yang kini menghujam dadanya.


"Kalau kalian keberatan dengan hal ini, silahkan saja tinggalkan rumah ini tanpa membawa apapun!" seru sang ayah, yang masih tidak merasa bersalah sedikit pun.


"Papa. Apa perkataan Papa barusan serius?" kata Joseph dengan semakin terkejut.


"Tentu saja. Papa tidak butuh dua orang putra yang melawan orang tua! Segera putuskan niat kalian!" jelas Antonio, dengan nada suara yang semakin percaya diri dan nyaring.


Wajah Joseph menjadi kaku. Ia hanya meremas wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya, lalu menggeram keras.


"Kakak.." ucap Bryan.


Bryan sepertinya dapat mengetahui dengan baik bagaimana perasaan sang kakak dibandingkan dirinya yang selama ini tidak terlalu mengabdikan hidupnya untuk sang ayah. Bagi Bryan, sang ayah memang wajib untuk dihormati karena bagaimana pun juga pria itu adalah orang tuanya. Namun, Bryan tidak pernah menoleransi atau menutup mata sedikit pun dari setiap tindakan hina dan sikap semena-mena ayahnya.


"Kakak. Apakah kakak masih ingat? Saat itu, Mama pernah berkata kepada kita untuk selalu menghormati Papa. Namun, apakah kakak tahu dan pernah memikirkan apa yang dialami oleh Mama dulu?" ucap Bryan kepada kakaknya.


"Apa? Apa yang dialami oleh Mama? Selain kejadian hari ini, apa saja perbuatan Papa?" tanya Joseph tiba-tiba, sehingga membuat semua orang saat itu amat terkejut.


"Kalian..! Keluar kalian dari rumah ini! SEKARANG!" bentak ayah mereka, amarahnya kian menjadi-jadi.


"Mama hanya ingin menghormati Papa, sama seperti kita. Namun, seperti yang kita lihat hari ini. Papa sekalipun tidak pernah menghormati Mama, hingga akhir hidupnya. Seharusnya kita bertemu Mama.. sebelum Mama meninggal. Apakah kakak ingat apa yang diperbuat oleh Papa saat itu?!" seru Bryan dengan wajah yang amat terluka dan hati yang amat pilu.


"...."


Joseph menundukkan kepalanya, serta terdiam dengan tangan terkepal erat dan bergetar.


"Bryan. Maafkan kakak. Mulai saat ini, kakak akan lebih mempercayaimu. Ayo kita tinggalkan saja orang dewasa yang tidak berguna ini." kata Joseph dengan tidak terduga.


"JOSEPH!!" bentak ayahnya.


"Papa keterlaluan!! Apa hak Papa melarang kita bertemu dengan Mama? Lalu, apa Papa sekarang juga punya hak untuk menghakimi kita?!" Joseph balik berseru kepada ayahnya.


"KALIAN.. ANGKAT KAKI DARI TEMPAT INI! SEKARANG!!" murka Antonio.


"Terserah Papa. Kita akan melakukannya." jawab Joseph.


"Kakak.." Bryan masih merasa sedikit tidak percaya akan reaksi kakaknya.


"Bryan. Kita pergi saja dari rumah ini, kita tinggalkan tua bangka yang tidak tahu diri ini!" seru Joseph.


"Tidak." jawab Bryan singkat.


"Apa?!" seru Joseph, terkejut.


"Kakak, aku tahu Papa dominan di rumah ini. Namun, bukankah kita tidak perlu menuruti perkataannya setiap saat? Lagipula, rumah ini separuh atas nama Mama. Itu berarti kita juga layak tinggal di sini." kata Bryan.

__ADS_1


Sekejap, Joseph langsung tersenyum mengerti. Mereka berdua hanya memandang ke arah sang ayah yang mengamuk dan menggeram hebat, namun tidak lagi merasa harus mundur atau terancam. Kini, sebagai kakak beradik mereka mampu mengalahkan segala rencana busuk yang dipikirkan oleh Vero maupun ayah mereka.


__ADS_2