The Sweetest Dream

The Sweetest Dream
Hubungan Terselubung


__ADS_3

Sudah beberapa hari Bryan dan Selena tidak berjalan bersama di sekolah. Para murid pun bergosip bahwa mereka berdua telah putus.


"Hei, benarkah pasangan paling terkenal di sekolah kita itu sudah putus?!" seru seorang gadis kepada gadis yang lain.


"Tentu saja mereka harus putus."


Tiba-tiba, terdengar suara seorang gadis yang menyela pembicaraan mereka.


"Carissa! Bikin kaget saja kau."


"Aku yakin, kak Bryan kini sadar bahwa gadis itu tidak sepadan dengannya. Orang hebat dan kaya sepertinya sudah seharusnya bersamaku." ucap Carissa sombong dan sangat percaya diri.


Para siswi yang mendengarnya pun mulai membatin tidak suka terhadap Carissa.


"Benar juga. Aku akan menjenguk kak Bryan di rumahnya hari ini. Toh dia sakit, dia pasti memerlukan aku." ucapnya seolah dialah yang paling dekat dan memiliki hati Bryan.


Sepulang sekolah, Carissa pun bergegas membelikan makanan-makanan kesehatan untuk Bryan, seperti ronde jahe dan sup sehat.


Karena jarak perjalanannya cukup jauh, ia terus ditemani dan diantar oleh supir hingga di depan rumah Bryan, lalu dibukakan pintu oleh pelayan rumah Bryan yang mengenal gadis itu sejak lama.


"Vero, dimana kak Bryan?" tanya Carissa kepada sang pelayan, sambil menginstruksikan kepadanya untuk memanaskan lagi makanan yang dibawanya untuk Bryan.


"Tuan Muda berada di kamarnya, Nona." jawab pelayan bernama Vero tersebut.


Mendengar itu, Carissa menatap ke lantai 2, lurus-lurus pada kamar Bryan yang tertutup rapat. Kemudian, ia dengan bersemangat melangkah menaiki tangga menuju kamar Bryan.


TOK TOK


Ia mengetuk pintu kamar Bryan, dengan girang ingin segera melihat lelaki itu.


"Siapa?"


Bryan membuka pintu untuk melihat, lalu..


"Kak Bryan!" Carissa langsung melompat memeluk Bryan.


"Carissa, lepaskan. Jangan berbuat seperti ini." ucap Bryan dengan tidak nyaman.


"Kak Bryan! Kenapa sih kakak masih saja begini terhadapku?! Bukannya Selena sudah bukan lagi pacar kakak? Aku benar-benar sedih melihat kakak yang sangat kacau seperti ini. Nanti wajah tampanmu jadi menurun, lho." ucap Carissa secara berlebihan.


"Diamlah. Aku tak ingin berbicara denganmu. Pulanglah ke rumahmu. Mamamu pasti mengkhawatirkanmu." ucap Bryan ringan dan singkat.


"Ah, kak Bryan memang perhatian. Carissa suka sekali! Namun, Carissa sangat rindu pada kakak.. Tidak bisakah Carissa menunggu di kamar kakak hingga paman datang?" rengek Carissa, sok manja.

__ADS_1


"Pulanglah." jawab Bryan ketus.


"Kak~!" Carissa terus merengek dan berusaha menggoda Bryan.


Hingga akhirnya..


"Cukup!!" bentak Bryan tiba-tiba.


Melihat wajah Bryan yang tersulut emosi dan suaranya yang keras, Carissa langsung bersandiwara.


"Kak Bryan memang kejam. Padahal aku sudah mencintai kakak sejak lama, tapi kakak malah mengabaikanku dan memilih gadis lain yang sama sekali tidak memiliki standar untuk dipilih." omel Carissa.


Namun, kata-kata Carissa itu bagaikan sebuah lelucon kasar bagi Bryan, ia pun dengan amarah mendorong tubuh gadis itu hingga gadis itu terjatuh ke lantai. Kemudian, ia membanting pintu dan membiarkan Carissa terduduk malu di luar pintu kamar.


"AHHH! Sial! Kenapa sih gadis itu bisa berpengaruh sedalam ini pada kak Bryan?! Padahal gadis bodoh itu belum terlalu lama mengenal kak Bryan!" gerutu Carissa.


Seketika Carissa hendak mengetuk keras pintu kamar Bryan..


"Carissa." panggil Joseph.


"Oh, kak Joseph. Selamat siang kak."


"Selamat siang juga, Carissa." Joseph tersenyum ramah kepada Carissa.


Namun, Carissa yang pada dasarnya bersifat serakah dan manja itu selalu mengabaikan Joseph sewaktu sedang bersama dengan Bryan. Hal itu membuat Joseph semakin geram dan membenci adiknya sendiri.


"Carissa, kamu tidak pulang ke rumahmu?" tanya Joseph.


"Tidak apa-apa, kak. Mama pasti akan mengerti bila aku sangat merindukan kak Bryan."


DEG


Jantung Joseph bagaikan dipukul dengan batu, bergemuruh dan terluka.


"Pulanglah, Carissa. Kakak akan mengantarmu." ucap Joseph.


Ia jelas-jelas tidak suka. Namun, Carissa tidak menyadarinya sama sekali dan bersikeras menunggu Bryan.


"Pokoknya, Carissa tidak akan beranjak dari sini bila kak Bryan tidak mau menyantap makanan yang Carissa bawakan!" Carissa membulatkan tekad.


"Carissa. Berdirilah." kata Joseph gusar.


"Tidak mau!" jawab Carissa spontan, seperti anak kecil.

__ADS_1


"Carissa!!" bentak Joseph tiba-tiba, sehingga membuat Carissa terkejut.


Sial! Joseph mengumpat pelan. Ia sebenarnya paling tidak ingin membentak Carissa.


Namun, ia masih saja meneruskan; "Carissa, kamu harus segera berdiri, nanti kamu masuk angin. Makanan itu kamu makan sa---"


Tiba-tiba dan sebelum Joseph menyelesaikan perkataannya, Bryan membuka pintu kamarnya dan..


"Ok. Akan kumakan." katanya datar.


"Kak Bryan! Sungguhkah kak Bryan akan memakan makanan yang dibawakan Carissa?" Carissa langsung berdiri.


Bryan mengangguk dengan ekspresi yang misterius. Ia saling bertatapan dengan Joseph, dengan ekspresi yang sedikit lebih baik daripada ekspresi 'membunuh' kakaknya.


Meskipun Bryan sama sekali tidak memandang ke arah Carissa, gadis itu sudah girang bukan main. Ia bahkan sedikit melompat karena senang, dan wajahnya sangat berseri-seri.


Tak lama kemudian, Vero membawakan sebuah nampan dengan dua buah mangkuk berisi makanan berkuah kepada Bryan.


Bryan menerima makanan itu, sambil terus memandang ke arah kakaknya dengan ekspresi yang tidak terbaca, yakni antara tenang dan marah.


"Carissa, kamu tunggu saja di luar. Aku akan segera menghabiskan makanan ini." kata Bryan kepada Carissa.


"Ng, baiklah." jawab Carissa terlampau gembira.


Saat itu, wajah Joseph kaku. Ia terlihat amat cemburu dan murka. Sayangnya, yang mengetahui hal itu bukanlah gadis pujaannya, melainkan Bryan.


Ia berjalan dengan amat gusar ke dalam kamarnya dan membanting pintu.


"AHH! Sialll!! Aku akan membalas perbuatanmu, Bryan!" celotehnya seorang diri dengan wajah hampir sama menyeramkan dengan sang ayah, sambil bernafas berat menahan amarah. Ia terus-menerus mengumpat.


Lalu, di depan pintu kamar Joseph, secara tidak diketahui olehnya, Vero telah mendengarkan semua umpatannya.


Rupanya Tuan Joseph menyukai Nona Carissa. Sedangkan, Nona Carissa menyukai Tuan Bryan. Lalu, bagaimana dengan Tuan Bryan? Vero berpikir dalam benaknya.


Selama ini, Vero telah mengamati tingkah laku dan perkembangan ketiga orang anak tersebut. Usianya yang lebih tua dari mereka, yakni 27 tahun, tidak membuatnya kurang mengerti atau jauh tertinggal mengenai pergumulan perasaan mereka.


Sebaliknya, Vero ingin mengetahui dan mencari tahu lebih dalam mengenai hubungan ketiganya, serta siapa gadis yang telah ditinggalkan oleh Bryan.


"Wah - wah, masa remaja memang paling mendebarkan. Andai aku memiliki kesempatan seperti itu dalam hidupku." gumamnya pelan pada dirinya sendiri, sebelum meninggalkan area tersebut.


Mungkin saja, kali ini dirinya dapat berjasa lebih lagi dalam melayani keluarga konglomerat tersebut. Bayangan Vero adalah uang. Ia akan melakukan apapun yang diminta oleh mereka, bila mereka membayarnya dengan cukup. Bahkan, ia memiliki sebuah kartu gelap yang membuatnya amat percaya diri dan bangga pada dirinya sendiri selama ini.


"Kalian tidak tahu, para Tuan Muda tampan. Bahwa aku, Vero, saat ini sedang mengandung anak dari Papa kalian." katanya sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Selama ini, baik Bryan maupun Joseph, keduanya mempercayai sang ayah bahwa ia tidak akan sampai melakukan hubungan gelap dengan wanita lain. Namun, bagaimanakah reaksi mereka masing-masing saat kelak mengetahui perbuatan hina ayah mereka itu?


__ADS_2