The Sweetest Dream

The Sweetest Dream
Perasaan Baru 15+


__ADS_3

Tiga hari pun berlalu sejak Bryan terakhir kali melihat Selena. Ia merasa kangen bukan main, seolah bukan hanya 3 hari, melainkan 3 tahun tak bertemu gadisnya itu.


Kini, setiap hari Jumat sepulang sekolah, ia akan menjadi seorang pengajar sukarelawan dan idola bagi orang-orang yang bahkan namanya saja tidak dihafalnya.


Karena pembawaan sifat Bryan yang ingin bebas dan tidak suka merepotkan atau direpotkan, lama-kelamaan ia tidak tahan juga. Apalagi, kini para gadis mulai meminta nomor kontaknya dengan berbagai alasan yang menurut Bryan adalah omong kosong atau kebohongan semata.


"Ah.. aku ingin cepat bertemu dengan Selena." gumamnya, seolah jiwanya akan menghilang tanpa Selena.


Hari Minggu ini Bryan akan mengunjungi rumah Selena, sekaligus bertemu dengan keluarga Selena.


Kedua orang tua Selena nampaknya amat menyayangi dan mempercayai putrinya, sehingga mereka bahkan tidak ikut merayakan pesta ulang tahun Selena beberapa hari yang lalu. Begitulah pikir Bryan.


Jam tangan Bryan tengah menunjukkan pukul 1 siang dan cuaca saat itu amat terik. Karena tidak ingin ketahuan oleh ayahnya dan meski sedikit berkeringat, Bryan berjalan kaki menuju rumah Selena yang jaraknya hanya beberapa blok dari kompleks perumahannya. Sebelum berangkat, Bryan menelepon gadis itu.


Dengan menggunakan GPS, ia pun dengan sekejap telah tiba di depan rumah Selena.


Bryan menekan bel pintu dan memanggil nama Selena. Hanya dalam waktu kurang dari 2 menit, Selena telah muncul dan hendak membukakan pintu pagar untuknya.


"Selena. Kau.." Bryan mengamati Selena sejenak.


"Ng? Kenapa?" tanya Selena.


"Hari ini kau terlihat berbeda."


"Berbeda?" Selena membukakan pintu pagar sambil sesekali melihat kepada dirinya sendiri dari atas ke bawah. Selena pun langsung menyadari bahwa ia memakai baju rumah yang amat feminin, yakni dress pink bermotif kelinci putih. Ia juga menggunakan alas kaki berupa sandal bergambar kelinci 3D yang imut dan rambut hitamnya yang panjang dikuncir kuda olehnya. Bahkan, penjepit rambutnya pun berbentuk kelinci.


"Selena.. apa yang kau lakukan?"


"Ng? Apa maksudmu, Bryan?"


"Kau manis sekali.. Bagaimana jika ada lelaki lain yang lewat dan melihatmu. Cepat, kita masuk saja." Bryan mendorong lembut gadis itu dan menutup pintu pagar.


"Bryan.. kenapa sih.. kau selalu membuatku tersipu." kata Selena dengan pipi merona seperti buah peach.


"Apa kau membubuhkan make up, Selena?"


"Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya menggunakan sedikit lip gloss karena bibirku kering." jawab Selena kikuk.


"Hmm.. kurasa kau seharusnya menggunakan lip balm, itu lebih aman untukmu."


"Aman?"


"Iya. Aman dari lelaki di sekitarmu. Termasuk aku, yang mencuri ciuman pertamamu."


DEG


"Ap--apa sih Bryan! Sudah, ayo cepat masuk!" ucap Selena malu-malu.


"Hahaha. Ok."


Setelah Bryan melepaskan sepatu dan melangkah masuk ke dalam rumah Selena..

__ADS_1


"Eh, kok rumahmu kosong, Selena? Mana orang tuamu?" Bryan celingak-celinguk mencari penampakan keluarga Selena.


"Ah, itu.. mereka sebenarnya baru saja pergi ke mall bersama dengan adikku sepulang beribadah dan mengantarku kembali ke rumah. Mungkin sore nanti mereka akan pulang."


"Apa?!" tiba-tiba Bryan terkejut. "Mengapa begitu? Apa kau sengaja mengusir mereka agar berduaan saja denganku?" tambahnya.


"Ah, Bryan. Kau selalu bercanda. Tentu saja aku ingin bersamamu. Lagipula, kita sudah 3 hari tidak bertemu, bukan?" kata Selena sambil tersenyum manis.


"..."


Bryan terdiam dan tidak menjawab. Ia berjalan memasuki ruang tamu, kemudian duduk di atas sofa.


Setelah mengambil segelas air untuk Bryan, Selena berjalan ke arah lelaki itu. Lalu, ia meletakkan air itu di atas meja dan membungkukkan badan untuk menatap wajah Bryan. Namun..


"Bryan?"


"Selena.." wajah Bryan sedikit memerah.


"Ng? Apa?" Selena membalasnya dengan bertanya, tidak mengerti akan reaksi Bryan yang tidak seperti biasanya.


"Tolong berdirilah dengan tegak, Selena." ucap Bryan sambil memalingkan wajah.


Selena pun menurutinya. Namun, ketika Selena dengan cepat berdiri tegak, bagian dada gadis itu sedikit bergerak naik turun.


Setika, Bryan yang melihat itu merasa sedikit aneh. Seharusnya, ia tidak perlu dengan cepat menoleh kembali ke arah Selena saat gadis itu berdiri sedekat ini di hadapannya. Namun, bukankah hal ini sering dilakukannya? Entah mengapa, Bryan merasa gugup.


"Selena.. gantilah bajumu. Aku akan menunggu di sini." kata Bryan tidak jelas, bahkan tidak berani menatap Selena.


"Selena! Menjauh.. menjauhlah dariku!" sentak Bryan tiba-tiba, sehingga membuat gadis itu terkejut.


"Bry--"


"Cepat ganti bajumu! Kau dengar tidak, sih?!" bentak Bryan dengan suara yang lebih lantang, seolah ia marah.


Selena semakin terkejut dan merasa bahwa Bryan tidak seperti biasanya. Ia pun hanya berdiri mematung.


"Apa kau bodoh dan tuli?! Cepat, ganti bajumu!" tiba-tiba Bryan mengatainya dengan kasar.


Wajah Selena memerah karena amat terkejut, lalu ia berlari memasuki kamar sambil menangis.


Seketika itu juga, Bryan menyadari bahwa perkataannya sudah keterlaluan. Ia pun mengetuk pintu kamar Selena. Di depan pintu, ia bahkan mendengar isakan gadis itu.


"Selena.. jangan menangis. Maaf.. maafkan aku." Bryan terus-menerus mengetuk pintu kamar Selena sambil menyebutkan nama gadis itu.


"Pintunya.. tidak.. dikunci..hiks.." jawab Selena terbata-bata.


"Selena. Kalau begitu, aku masuk ya." Bryan dengan perlahan membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Selena.


Kamar gadis itu dipenuhi dengan nuansa warna pink dan motif-motif kelinci. Sangat manis dan feminin!


"Selena, kau sangat menyukai kelinci ya?" tanya Bryan lembut, ia duduk di atas kasur di sebelah Selena.

__ADS_1


"Iya.. dari dulu aku suka kelinci. Aku juga suka warna pink, karena aku merasa seperti tuan putri jika memakai warna itu."


Bryan tersenyum, lalu hendak menyentuh kepala Selena, namun gadis itu menoleh ke arahnya dan..


"Bryan.. apa aku benar-benar terlihat manis berpakaian seperti ini?"


Lagi-lagi, mata Bryan entah mengapa tertuju pada bagian dada gadis itu.


Wajah Bryan langsung memerah. Ia pun berpaling dan mengumpat; "Ah, sial!"


"Bryan.. kau kenapa? Apakah aku menyinggung perasaanmu..?" ucap Selena dengan nada suara pelan dan parau.


Bukannya paham akan maksud Bryan, air mata Selena malah menetes kembali. Gadis itu mengusap-usapkan tangannya pada matanya sambil menangis.


"S-Selena.. tolong jangan menangis. Kau tidak tahu.. bahwa kau.. sangat menggoda."


"Hiks.. apa maksudmu?" isak Selena.


"Tolong jangan salah paham dan menangis.. tolong.. tutupi tubuhmu dengan baik, Selena.." ucap Bryan akhirnya.


Seketika, Selena kembali menatap dirinya sendiri dan menyadari sesuatu.


"Kyaaa!!" jerit Selena.


Rupanya, leher dress yang dikenakan oleh Selena itu sedikit turun, sehingga sedari tadi memperlihatkan sedikit belahan dadanya.


Dari wajah yang sedikit memucat karena menangis, kini wajah Selena berubah menjadi merah padam.


"Selena.. maaf. Maaf karena terlambat memberitahu dan membentakmu dengan kasar." kata Bryan lembut, berusaha untuk menenangkan gadis itu.


"Tidak.. itu bukan salahmu, Bryan. Aku memang bodoh. Seharusnya, aku lebih cepat menyadarinya. Bahkan, aku tidak akan tahu bila kau tidak memberitahuku.. Aaaah! Aku benar-benar kesal pada diriku sendiri!" ucap Selena dengan malu dan bibirnya sedikit bergetar.


"Selena.." Bryan merasa serba salah. Ia hendak menghibur gadis itu. Namun, karena mereka sama-sama baru pertama kali mengalami hal seperti ini, bagaimana caranya? Ia tidak mengerti.


"Selena.. aku tidak melihat apapun, sungguh. Jadi, kau tidak usah khawatir. Jangan menangis lagi, ok?" bujuk Bryan.


Selena hanya menatap Bryan perlahan, lalu ia berkata; "Sungguh..?"


Bryan mengangguk. Kemudian, gadis itu pun merasa lega. Ia meminta Bryan untuk menunggu di ruang tamu, sementara ia akan mengganti pakaiannya di dalam kamar.


Setelah Selena berganti pakaian dan keluar dari kamar, Bryan malah telah meninggalkan rumahnya. Selena menemukan sepucuk surat kecil berwarna putih yang diletakkan di atas sofa.


Selena, maafkan aku. Aku harus pulang karena Papaku akan segera mencariku. Lain kali aku akan main ke rumahmu lagi dan bertemu dengan Ben. Jangan sedih. Aku tidak berbuat aneh-aneh, bukan? Haha. Aku sayang padamu, Selena, selalu.


Setelah membaca surat itu, hati kecil Selena merasa senang, namun juga berdebar. Ternyata, Bryan adalah orang yang jauh lebih dapat ia percayai dan andalkan daripada yang dibayangkannya sebelumnya. Selena merasa geli kepada tingkahnya yang cengeng di hadapan Bryan tadi.


Namun, bagaimana dengan Bryan?


Di lain tempat, yakni rumahnya, Bryan langsung mengurung diri di dalam kamarnya tanpa berkata apapun kepada sang ayah dan Joseph yang sedari tadi menunggu kabar kepergiannya.


"Ahh.. celaka! Apa yang sebenarnya kurasakan ini? Aku tidak boleh begini. Ini tidak benar.. sungguh tercela!" serunya kepada diri sendiri di dalam kamarnya yang terkunci selama 1 jam, sebelum ia akhirnya harus keluar untuk makan malam bersama dengan ayah dan kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2