
Hari ini sudah awal minggu di hari Senin, tanggal 16 Maret 2020.
Selena dan Bryan kini kembali berjalan bersama sebelum dan sesudah bersekolah. Bryan telah berbicara baik-baik dengan Winston bahwa dirinya tidak dapat meneruskan tim pembelajaran sepulang sekolah. Awalnya, Winston mengeluh karena dirinya sendiri membutuhkan bimbingan dan asupan ilmu dari Bryan. Namun, mau tidak mau ia pun menyetujui permintaan Bryan setelah disogok sapu tangan mahal dari Bryan.
Winston, pacar ketua kelas Selena itu termasuk siswa yang materialistis, suka berpolitik, suka berargumen dan bertengkar, serta sedikit licik.
Sepulang sekolah..
"Bryan. Mengapa kamu akhirnya memutuskan untuk tidak mengajar lagi?"
"Selena, bagaimana mungkin aku sanggup sekian lama tidak melihatmu? Apa kau berpikir aku akan berbuat seperti itu hingga lulus kelas 2?" kata Bryan dengan nada setengah protes.
"Baik, baik. Kau juga jangan berpikir demikian. Mana mungkin aku sanggup tidak melihatmu selama itu, Bryan..?" ucap Selena malu-malu.
"Selena.." Bryan memeluk gadis itu.
"Bryan.. kau harum." wajah Selena semakin merona saat mengatakan pujian itu.
"Eh? Hahahaha. Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu kepadamu? Kamu pakai shampoo dan sabun apa, Selena? Aroma tubuhmu.. seperti apel."
"Apel?"
"Iya, baunya seperti buah-buahan. Bau anak-anak, aku suka."
"Ah, Bryan. Kau ini." kata Selena, saking pipinya merona, ia langsung menyentuh kedua pipinya sendiri.
"Haha. Kau manis, deh. Gadis apel."
"Berhenti bercanda." kata Selena, masih dengan wajah merona.
"Selena. Apa kau pernah membaca kutipan dari tokoh-tokoh terkenal, seperti Winston Churchill? Maksudku, bukan Winston yang kita kenal itu.. haha."
"Ah, itu.. kalau tokoh itu sih aku belum pernah baca. Biasanya, aku suka karya Helen Keller. Terkadang aku menggunakan kutipannya untuk majalah sekolah." jawab Selena jujur.
"Oh, begitu. Kurasa kedua tokoh inspirasional kita itu terkenal dalam penulisan karya-karya mereka." kata Bryan sambil menyilangkan kedua lengannya.
"Iya, itu benar. Salah satu kutipan Helen Keller yang kuingat adalah --kebahagiaan bukan semata berasal dari mencari hal yang melengkapi diri kita, melainkan dari dalam hati.--"
"Oh, begitu. Hmm.. kalau aku, kutipan yang paling kuingat dari Winston Churchill adalah --jangan lepaskan pacarmu, walau bagaimanapun juga.--"
__ADS_1
Selena tertawa terbahak-bahak, lalu berkata; "Ah, Bryan... aku sampai mengeluarkan air mata. Kau ini.. mana mungkin ada kutipan seperti itu?"
"Hahaha. Ketahuan juga."
"Bryan, dasar kau ini. Tentu saja aku tahu." balas Selena dengan ekspresi wajah ingin menegur, namun malah menahan senyumannya yang terus merekah.
"Aku bercanda. Salah satu kutipan Winston Churchill yang terkenal adalah --jika kamu menghadapi neraka, teruslah berjalan melaluinya.--"
Selena sedikit terkejut dengan kutipan yang diambil oleh Bryan. Ia seperti merenung sejenak, lalu berkata; "Ah, dalam sekali kutipan itu. Aku sampai merinding. Apa tidak ada kutipan lain yang lebih indah?" kata Selena sambil menoleh ke arah Bryan dengan senyuman manisnya.
Namun..
"Selena.. aku tidak ingin membahas tentang hal ini lagi. Oh iya, karena hari ini kita berdua tidak ada kegiatan, bagaimana jika aku ke rumahmu dan bertemu dengan keluargamu?" kata Bryan dengan sekejap ingin menutupi ekspresi wajahnya yang tadinya berubah kelam.
Namun, ekspresi wajah Bryan yang sebelumnya itu telah ditangkap oleh kedua mata dan kepala Selena. Gadis itu pun berkata; "Bryan.. kau tidak apa-apa?"
"Hm? Apa maksudmu?"
"Baru saja, wajahmu terlihat sendu. Aku belum pernah melihat ekspresi wajahmu yang demikian. Apa kau tidak apa-apa?" kata Selena apa adanya.
"Selena.. kita berbicara di rumahmu saja. Aku ingin bertemu dengan keluargamu." balas Bryan, lagi-lagi tanpa senyuman.
"Oh.. ok." akhirnya Selena menurut dan tidak bertanya lagi.
Setibanya di depan rumah, Selena langsung turun dari mobil Bryan dan membunyikan bel pintu. Tak lama kemudian, Miranda, ibu Selena pun keluar dari dalam rumah dan berjalan menuju pagar pintu untuk membukakannya.
"Selena, kamu sudah pulang, Nak. Ah, kau juga datang, Bryan." kata ibu Selena ramah kepada Bryan, setelah menatap putrinya.
"Iya, Tante. Lama tidak bertemu." balas Bryan dengan senyuman yang santun.
"Aduh, aduh. Kamu memang tidak hanya tampan, tapi juga sopan. Tante senang karena saat ini ada yang menjaga Selena." kata ibu Selena, seolah dirinya telah mendapatkan seorang calon menantu.
"Ma, hari ini Bryan baru pertama kali berkunjung ke rumah. Jadi, jangan membuatnya bingung."
"Kalau itu sih mama juga tahu, Selena. Bukankah kau telah sangat menantikan kunjungannya?" kata ibunya, selancar air sungai yang mengalir.
Bryan langsung melirik ke arah Selena dengan senyuman miring dan alis terangkat sebelah, seperti menangkap basah rahasia Selena.
"Ma--Mama! Kenapa sih Mama tidak bisa menjaga raha--" wajah Selena merona, namun perkataannya terhenti seketika melihat reaksi Bryan. "A--apa?" seru Selena kikuk.
__ADS_1
Bryan hanya terkekeh. Melihat tingkah laku kedua anak itu, Miranda tersenyum dengan penuh arti. Kemudian, ia menyuruh kedua anak itu masuk ke dalam rumah, sementara ia menutup pintu pagar dan pintu rumah.
Setelah memasuki rumah, Bryan langsung dipersilahkan duduk di sofa ruang tamu oleh ibu Selena. Kemudian, secara spontan Bryan bertanya; "Tante, papa Selena belum pulang ya?"
Miranda tersenyum lembut dan menjawab; "Tentu saja, Bryan. Si papa biasanya pulang kerja larut malam. Sekarang kan masih pukul 3 sore."
"Ah, benar juga.." Bryan merasa bodoh, karena sebenarnya ia sedikit gugup sehingga berbicara ngawur.
Lalu, tiba-tiba Bryan mendengar suara anak kecil yang menyerukan kata 'kakak' dan berlari menuju ruang tamu.
"Kakak sudah pulang? Ben kangen sama kakak." ucap Ben, bocah yang amat kerdil dan menggemaskan di mata Bryan.
"Ben, kakak sudah pulang. Lihat, siapa ini?" kata Selena sambil tersenyum dan menunjuk ke arah Bryan.
Ben hanya terdiam dan menatap Bryan dengan tatapan penuh curiga.
Bryan merasa gemas, lalu ia berjongkok agar dapat balas menatap wajah Ben.
"Kamu Ben, si kecil yang cerdas dan banyak tingkah itu ya?" kata Bryan dengan senyuman.
Ben masih ragu-ragu untuk menjawab, namun ia terlihat senang dipuji oleh Bryan. Ia hanya menatap Bryan sambil menggeliat-geliat seperti seekor cumi yang malu-malu kucing.
"Hahaha. Kamu imut sekali, seperti kakakmu." ujar Bryan sambil mengelus kepala bocah kecil itu.
Mendadak, Ben sudah menempelkan diri kepada Bryan. Bahkan, ia tidak mau melepas pelukannya di kaki Bryan. Melihat tingkah menggemaskan itu, Bryan langsung mengangkat tubuh mungil Ben dan menggendongnya dalam salah satu lengannya.
"Ben, kamu umur berapa? Kok sudah sepintar ini menilai orang?" canda Bryan.
Ben terkikik, kemudian membalas; "Aku umur 5 tahun, kak. Ngomong-ngomong, kak Bryan tampan sekali. Sangat cocok dengan kak Selena yang cantik seperti tuan putri. Mulai saat ini, kak Bryan adalah idola Ben dan kak Selena."
"Ben..!" wajah Selena sedikit merona, karena lagi-lagi nampaknya keluarganya itu pelan-pelan membocorkan seluruh rahasia Selena mengenai Bryan.
"Ahahaha. Kalian lucu sekali. Baru kali ini aku menjumpai kakak beradik yang seperti kalian ini. Aku senang dapat berkunjung hari ini."
Melihat ekspresi wajah Bryan yang tulus, Miranda tersenyum. Kemudian, setelah ia membuatkan sesuatu di dapur, ia membawakan dan menyuguhkannya kepada ketiga anak itu.
Setelah beberapa saat tertawa dan menikmati waktu bersama dengan keluarga Selena, wajah Bryan tiba-tiba menjadi muram dan sulit diartikan.
Namun, ketika siapapun bertanya kepadanya, Bryan selalu mengalihkan topik pembicaraan dan terlihat berusaha menutupi sesuatu dengan senyuman yang sebisa mungkin ditampilkannya.
__ADS_1
Mereka pun tidak bertanya lagi kepada Bryan. Namun, sejak saat itu, Selena merasa ada sesuatu yang pernah dialami oleh Bryan. Sesuatu yang mungkin pahit dan tidak enak untuk diceritakan.
Selena memandang Bryan dengan penuh perasaan sayang dan entah mengapa sedikit iba. Mungkin saja, lelaki itu akan dapat melupakan apapun yang telah membuatnya berekspresi demikian, bila mulai saat ini Selena lebih memperhatikan Bryan sebesar perhatian yang diberikan lelaki itu kepadanya.