The Sweetest Dream

The Sweetest Dream
Happy Ending


__ADS_3

Walaupun masih remaja, baik Selena maupun Bryan kini memiliki mimpi yang tidak jauh berbeda. Selena akan menjadi seorang dokter, sementara Bryan akan mewarisi impian sang ibu sebagai seorang pembuat dan pemilik pabrik sepatu yang handal.


Sejak beberapa tahun lalu, bakat sang ibulah yang telah membuat bisnis perusahaan keluarga Bryan berjalan dengan baik dan cukup terkenal di kalangan masyarakat.


Bryan pun berjanji kepada dirinya sendiri untuk menemukan kelemahan dan kekurangan yang masih sering timbul dalam bisnis keluarganya tersebut, sebelum sang ayah mengubah pemikirannya terhadap kesungguhan Bryan dibandingkan dengan kakaknya.


Anton, ayah Bryan itu baru-baru ini telah mengizinkan kedua orang putranya untuk membantu usahanya yang mulai lesu, dengan syarat kepada Bryan dan Joseph untuk tidak mencampuri hubungan pribadinya dengan Vero.


Anton berjanji akan memutuskan semuanya secara lebih bijaksana, bila kedua orang putranya berhasil mewarisi bakat almarhum sang ibu.


Dengan kecerdasan Bryan dan ketegasan Joseph, kedua pemuda bersaudara itu dengan cepat menangkap setiap titik permasalahan yang timbul dalam usaha keluarga itu dan mampu menguraikannya menjadi sebuah peluang.


Demi kesuksesan rencana barunya, hari ini Bryan menemui Selena di sebuah cafe.


"Selena." panggil Bryan.


"Ng? Ada apa, Bryan?"


"Bagaimana menurutmu tentang sepatu ini?" tanya Bryan, sambil menunjukkan sebuah sketsa desain sepatu yang dibuatnya.


"Uwahh.. ternyata kamu juga pandai menggambar ya, Bryan." ucap Selena, dengan mata yang berbinar.


"Hehe. Kamu benar-benar terpukau, Selena. Berarti, desain ini cukup bagus." putus Bryan.


"Ah.. tentu saja. Lalu, itu karena aku menyukai sepatu berwarna pink.." kata Selena pelan.


"Hahaha. Aku tahu. Makanya, aku sengaja mendesainnya sambil memikirkan dirimu, Selena." balas Bryan.


"Ah.. mengapa kamu berkata demikian, Bryan?" ucap Selena, sedikit tersipu.


"Ng? Apanya yang mengapa? Tentu saja, kamu adalah model yang akan memakai sepatu ini, Selena."


"Ehh??" pekik Selena.


"Eh--apa? Hahaha. Tenang saja, kamu pasti bisa. Pertunjukkannya akan dilaksanakan di gedung besar di dekat perusahaan Papaku hari Sabtu depan sepulang sekolah."


"Apa..?! Bryan, jangan memutuskannya secara sepi--"


"Kumohon, sayang. Aku benar-benar ingin melihatmu memakainya." sanggah Bryan sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, sehingga posisi wajahnya amat dekat dengan wajah merona Selena.


"Ukh.. baiklah." kata Selena akhirnya.


"Yes! Lalu, untuk bajunya dress ini ya." ujar Bryan, sambil mengeluarkan kertas lain yang bergambar desain baju.

__ADS_1


"Ehh?? Sebenarnya, kamu mau menjadikan aku boneka pajangan atau apa, Bryan?!" protes Selena.


"Hahaha. Kamu kan cantik, Selena. Bagiku, kamu seperti model." goda Bryan.


"Kamu ini..! Bukankah kamu tahu bahwa aku tidak pandai dalam berpose.. aku hanya pandai berpidato di hadapan orang banyak." ucap Selena sambil cemberut.


"Hahaha. Setidaknya, kamu bukan seorang yang akan gentar ketika tampil di hadapan orang banyak."


"Huh.. tapi tetap saja! Aku kan hanya gadis biasa yang tidak begitu menarik.."


"Tidak begitu menarik? Apa maksudmu, Selena?" tanya Bryan heran.


"Benar. Aku bukan apa-apa, dibandingkan dengan seorang gadis yang seperti Carissa. Maksudku.. dia cantik, serba bisa, kaya.." gumam Selena pelan dan murung.


"Selena, Selena. Oleh karena itulah, aku memilihmu."


"Eh?"


KISS


Kecupan Bryan di pipi Selena begitu mendadak, sehingga mata gadis itu membelalak terkejut.


"Kamu manis sekali sih. Aku jadi ingin membanggakanmu di hadapan orang lain."


Beberapa hari kemudian, Joseph memutuskan untuk melupakan perasaannya terhadap Carissa, karena tersadar akan usaha dan pengorbanannya yang sia-sia.


Sejauh ini, Joseph telah banyak membantu dan bahkan menuruti apa saja kemauan gadis itu. Tak jarang Joseph membelikan barang-barang mahal untuk Carissa, sementara gadis itu ternyata juga melakukan hal yang serupa kepada lelaki lain.


Sayangnya, semua perbuatan konyol Carissa itu malah berbalik menyerangnya. Kini, semua orang tahu akan sifat jeleknya dan tidak ada yang mau berteman dengan gadis itu.


Lama-kelamaan, sebelum naik kelas dua SMA, gadis itu pun tidak tahan. Ia kembali ke kota aslinya dan melanjutkan sekolah di sekolah lamanya.


Kini, semua murid dan guru mengenal akan pasangan yang tidak terpisahkan itu. Selena dan Bryan yang kini telah berada di tingkat 3 SMA, telah menjadi teladan dan dua orang yang paling berprestasi di sekolah mereka.


Bryan telah bergabung dalam OSIS sebelum memasuki tahun terakhir, untuk membantu tugas-tugas Selena dan terus mengawasi gadis itu.


"Selena. Kini, aku harus lebih sering mengawasimu." ucap Bryan.


"Eh, memangnya kenapa?" tanya Selena.


"Karena kamu bertambah cantik dan manis, jadi aku harus memastikan tidak ada lelaki lain yang boleh mengganggumu."


Jawaban Bryan membuat Selena tersipu, namun gadis itu sudah cukup terbiasa oleh gombalan lelaki itu.

__ADS_1


"Baiklah, awasi aku. Namun, sebelum itu kamu harus menyelesaikan semua ini."


BRUKKK


Selena menyerahkan setumpuk kertas yang harus diperiksa sebelum difotokopi kepada Bryan.


Bryan langsung mendesah karena dirinya memang tidak suka hal-hal yang merepotkan.


Selena tertawa kecil melihat reaksi Bryan, kemudian ia celingak-celinguk dan..


KISS


Selena mengecup pipi Bryan ketika tidak ada orang lain di sekitar ruang OSIS, lalu beranjak dari meja pertemuan dan berkata; "Tolong ya, sayang."


Mendengar permohonan manis itu, Bryan tidak dapat menjawab dan hanya duduk diam sambil mengamati gadis itu berjalan keluar dari ruangan.


"Kamu benar-benar membuatku mabuk kepayang.. Selena."


Akhirnya, mau tidak mau Bryan menyelesaikan semua tugas itu hingga sedikit lelah dan tertidur.


Beberapa saat kemudian..


"Bryan." panggil Selena.


"Ng?"


"Hampir semua murid dan guru sudah pulang saat ini. Ruangan ini juga akan segera dibersihkan oleh petugas kebersihan sekolah. Ayo, kita pulang." ujar Selena sambil tersenyum.


"Hmm.. ok." jawab Bryan dengan sedikit menguap.


Mereka pun keluar dari ruangan itu sambil menyelempang tas sekolah mereka. Di tempat parkir, Pak Tris telah menunggu.


Namun, keduanya langsung terkejut ketika melihat Joseph yang duduk di sebelah bapak supir itu.


"Yo." sapa Joseph sambil melambaikan salah satu tangannya.


Bryan dan Selena pun tersenyum, lalu menaiki mobil keluarga Bryan dan Joseph itu hingga sampai ke tempat baru, yakni tempat permulaan untuk mengenal satu sama lain dengan akrab.


"Wah..." gumam Selena.


Mereka telah tiba di sebuah taman hiburan. Setelah itu, keluarga Pak Tris yang menaiki taxi menyusulnya. Kemudian, kakak beradik itu mengizinkan Pak Tris sekeluarga untuk bermain bersama.


Sementara itu, Selena beserta kakak beradik itu memilih permainan pertama mereka dengan sukacita.

__ADS_1


Andai semua hal yang berbahagia ini dapat terus berlanjut, beberapa tahun kemudian, Bryan pasti akan menikahi Selena dan hidup bersama dengan gadis itu seumur hidupnya.


__ADS_2