The Sweetest Dream

The Sweetest Dream
Pernyataan Suka


__ADS_3

Sehari setelah demonstrasi dengan ketua OSIS berakhir..


"Kyaa!! Kak Bryan, kau tampan sekali!" ucap seorang gadis yang nampaknya akrab dengan Bryan.


Sedari tadi, Selena mengamati kedua orang yang baru tiba di sekolah dengan diantar mobil mewah tersebut. Masing-masing mobil tersebut adalah BMW berwarna hitam dan Porsche berwarna merah.


Sudah jelas keduanya adalah anak orang kaya. Namun..


"Apa? Mobilku bagus, kak? Kau bisa saja, kak Bryan. Bukankah mobil keluargamu setidaknya ada lebih dari 3 buah? Semuanya pasti adalah mobil yang lebih mewah daripada mobil keluargaku. Hohoho.."


"Tidak juga. Carissa, masuklah ke dalam kelas barumu. Nanti kau terlambat."


Oh, namanya Carissa.. Namun, perlukah dia berbicara seperti itu? Apalagi, dia..


Tiba-tiba, Selena tersadar akan perbuatannya sendiri. Ia menggumam; "Astaga.. apa yang telah kupikirkan? Untuk apa aku memperhatikan mereka berdua sedari tadi?"


Lalu, Selena pun masuk ke dalam kelasnya.


"Hei, kalian sudah dengar? Nampaknya hari ini Bryan datang ke sekolah secara bersamaan dengan seorang gadis cantik." ujar Lupita, seorang ratu gosip di kelas.


"Benarkah? Itu heboh sekali. Siapa gadis itu?" tanya temannya.


"Kudengar dia adalah anak baru di kelas 1-1." jawab Lupita serba tahu.


Selena yang biasanya tidak tertarik dengan gosip apapun, tiba-tiba ingin tahu dan bergabung dengan para siswi di kelasnya untuk mendengarkan cerita dari Lupita.


"Nama anak itu Carissa. Dia baru pindah dari Jakarta. Kudengar, dia adalah teman semenjak masa kecil Bryan." kata Lupita.


Semua siswi semakin tertarik dan penasaran akan cerita tersebut.


"Terus, terus?" tanya mereka kepada Lupita.


"Kalau dilihat dari keakraban mereka, kelihatannya mereka berpacaran." kata Lupita tanpa ragu-ragu.


Para siswi langsung mendesah kecewa. Benar juga. Bryan adalah siswa yang paling digemari oleh para siswi di sekolah ini. Selena hampir lupa akan hal itu dan merasa dirinya beruntung karena Bryan bersikap baik kepadanya beberapa hari lalu.


Setelah mendengar kabar dari Lupita, informasi itu langsung tersimpan bagaikan kartu memori di dalam otak Selena. Ia tidak akan pernah jatuh cinta lagi, tidak akan!


Lalu, pada jam makan siang..


"Selena!"


Selena mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ia pun menoleh dan..


"Bry--"


"Kau sendirian? Mau makan bersamaku?" kata Bryan sebelum Selena berkata-kata.


"Anu.. aku.."


"Ya, kenapa?"


Selena berpikir sejenak. Meskipun dia punya pacar, tidak apa-apa kan makan bersama dengannya? Lagipula kami hanya teman..


"Selena?"


"Ya. Boleh, ayo." Selena menjawab secepatnya.


Di atap sekolah..


"Wah, di sini dingin juga ya. Anginnya keras." ucap Bryan ketika duduk di kursi lipat yang ia bawakan untuknya dan Selena dari ruangan pertemuan sekolah.


"Iya.. Makanlah. Nanti kau tidak sempat makan bila jam makan siang berakhir." ujar Selena dengan ekspresi biasa saja.


"Selena."


"Hmm?"


"Kau terlihat sedikit berbeda."


"Maksudmu?"


"Hingga kemarin lalu kamu selalu malu-malu padaku. Namun, saat ini kamu bisa berbicara lancar denganku."


"Ah.. itu.."


Bryan menatap Selena. Tiba-tiba bibir Selena menjadi kaku. Selena yang biasanya pandai berkata-kata sebagai ketua OSIS, seketika terdiam.

__ADS_1


"Kau suka pada seseorang, Selena?"


Mendengar pertanyaan mendadak dari Bryan, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku.."


"Kamu suka siapa?" tanya Bryan lagi.


"Aku.. aku.."


"Jangan-jangan, kamu suka pada kakakku?" desak Bryan.


"Aku... tidak.. tidak suka kakakmu." jawab Selena pelan.


"Apa?"


"Mak-maksudku.. aku suka pada.."


Selena berpikir-pikir, kemudian ia menjawab secepat mungkin.


"Theodore! Ya, aku suka padanya!"


Setelah mendengar itu, mendadak wajah Bryan yang semula ceria berubah menjadi serius.


"Benarkah?" nada suaranya terdengar kecewa.


Namun, saat itu Selena tidak menyadarinya.


"Ya, benar. Yuk, segera habiskan makanan kita dan kembali ke kelas masing-masing."


"Kau kelas berapa, Selena?" tanya Bryan tiba-tiba.


"Aku? Aku kelas 2-2. Kalau kamu?"


"Aku kelas 2-4."


"Ah, berarti kelasmu ada di pojokan ya?" ucap Selena sambil tersenyum.


"Ya.."


Entah mengapa, Selena merasa bahwa Bryan tiba-tiba menjadi kurang bersemangat.


Bryan sedikit terkejut mendengar perkataan Selena. Ia nampak seperti memahami sesuatu, karena dirinya tanpa sadar menganggukkan kepala pelan.


"Tidak."


"Hm? Tidak? Apa maksudmu?" tanya Selena bingung.


"Carissa bukan pacarku. Dia seperti seorang adik bagiku."


"Ah.."


Mendadak Selena merasa malu. Ia telah sembarangan berasumsi dan menanyakan hal yang aneh kepada Bryan. Ia pun berkata; "Maaf.. maafkan aku, Bryan."


"Hm? Kenapa kau meminta maaf? Memangnya kau salah apa?" tanya Bryan dengan santai, namun sebenarnya sorot matanya memancing Selena.


"Aku.. aku sebenarnya.. suka.. pada..mu."


Segera setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Selena membekap mulutnya sendiri dengan wajah merona karena malu. Ia bahkan cegukan karena habis makan.


"Hpft.. hahahaha."


Bryan menahan tawa sebentar, namun tiba-tiba tertawa keras.


Sekejap, wajah Selena langsung memucat. Ia tidak dapat berkata-kata dan langsung menundukkan kepala.


"Selena?"


"Maaf, aku mau balik ke kelas sekarang." Selena berdiri dan hendak berbalik meninggalkan atap, namun..


GREP


"Selena."


Bryan menggenggam tangan Serena, lalu ia terkejut..


"Selena.. kau menangis?"

__ADS_1


"Lepaskan tanganku.." wajah Selena merah padam karena malu.


Selena pun tidak dapat menahan rasa malu dan kekecewaannya. Ia menangis, lalu..


GYUTT


Tiba-tiba, Bryan memeluk lembut tubuh mungil Selena.


"Bry--Bryan..?" Selena sangat terkejut.


Lelaki itu bertubuh jauh lebih tinggi dari Selena dan nampak kuat. Dari jarak sedekat ini, Selena dapat merasakan hangatnya tubuh lelaki itu.. Lalu...


BATSS


Selena mendorong tubuh Bryan, lalu berlari terserok-serok dan pergi dari tempat itu secepatnya.


"Hah..hah..hah..." Nafas Selena tersendat-sendat. Lalu, ia meminum air yang dibawanya.


Selena berjongkok di dekat tangga yang mengarah ke rooftop tadi. Tubuhnya gemetar dan ia membenamkan wajahnya yang merah pada lututnya.


Sementara itu, Bryan yang berdiri di atas tangga melihat ke bawah dengan senyuman yang penuh arti.


"Kau benar-benar manis, Selena." ucapnya.


Namun, Selena tidak mendengarnya dan terus meringkuk dengan diam di situ.


"Selena?"


"Uwaa..!" jerit Selena tiba-tiba.


"Kau kenapa?"


Selena benar-benar kaget karena Bryan muncul dengan tiba-tiba. Jantungnya seperti mau copot. Lalu, ia berdiri dan berkata dengan sedikit membungkukkan leher; "Maaf.. tak seharusnya aku berkata demikian kepadamu."


"Berkata apa?"


"Ah...mm.. itu.."


"Berkata apa maksudmu, Selena?" tanya Bryan mendekati Selena.


DEG DEG DEG


"Itu..."


Oh, tidak! Jantungku... batin Selena.


"Kau suka padaku?"


Tiba-tiba, wajah Selena membeku. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Akhirnya, ia putus asa dan terkulai lesu.


"Haha, manisnya."


"Manis..?" wajah Selena bersemu merah.


"Iya, kamu manis. Aku juga suka padamu, Selena. Sejak kita masih kelas 1."


DEG DEG DEG


Wajah Selena memerah dan jantungnya tidak terkendali, sehingga tangannya bergantian menutupi wajah, lalu menyentuh pipi, lalu dahi, mulut, dan dadanya yang berdebar.


"Ahahaha.. kau imut sekali."


"Bry--"


KISS


Tiba-tiba Bryan mengecup pipi Selena yang merona itu.


"Bry--Bryan.. Bryann.." Selena kalang kabut karena perasaan baru yang timbul dalam hatinya.


"Hm? Kok kamu jadi nge-rap?" goda Bryan.


"I--it--itu.. hahaha." Selena tertawa malu-malu.


Selena belum dapat menguasai perasaan gugup dan malunya, namun kini ia menjadi semakin penasaran.


Siapa Bryan sebenarnya? Apakah hubungan mereka akan berlanjut dengan manis dan sangat dekat seperti yang telah dibayangkan oleh Selena selama ini?

__ADS_1


Sementara itu, bagi Bryan, Selena adalah gadis yang menarik, lugu, dan manis. Entah apa yang ingin ia lakukan bersama gadis itu selanjutnya? Yang pasti, mulai saat ini ia akan berada di sisi Selena dan melindunginya.


__ADS_2