
Tepat seminggu berikutnya adalah hari yang langka bagi Selena, karena hari ini ia tiba-tiba mendapatkan sebuah pesan email dari Bryan.
Pesan itu berisikan sebuah puisi yang ditulis oleh Bryan..
***Bagaikan Ikan Koi***
Waktu kecil hidupku mudah
Apapun indah bagiku
Kini ku telah bertumbuh
Kukatakan pengakuanku
Ku harus dilempar ke air dalam
Bagaikan ikan koi
Hidupku dihantui
Ku harus berpikir sehari semalam
Namun, kini ku menjadi kuat
Andai hidupku seperti dulu
Mungkin ku takkan melihat berkat
Selena terpukau oleh keahlian Bryan dalam menulis puisi singkat tersebut. Bahkan, Selena dapat membayangkan bagaimana Bryan membacakan puisi tersebut untuknya. Apalagi, kelemahan Selena adalah menulis puisi. Hal itu cukup mengejutkan, karena dirinya terkenal ahli membuat kata-kata.
Selena membaca puisi itu berulang kali, sambil berusaha untuk memahami maknanya.
Apakah puisi ini berkaitan dengan Bryan..? batin Selena.
Selena mencatat puisi tersebut di buku tulisnya, agar dapat mengingat dan merenungkannya setiap memiliki waktu senggang.
"Kakak."
DEG
"B--Ben..?" ucap Selena kaget.
"Kak Selena sedang apa?" tanya si adik kecil.
"Ah, kakak sedang membaca puisi. Ben mau lihat?"
Ben pun mengangguk, lalu duduk di atas pangkuan Selena di atas kursi baca yang menghadap ke laptop.
"Uwahh.. puisi ini tulisan Kak Bryan ya?" ucap Ben dengan terkesima.
Selena tertawa kecil, karena Ben berlagak seolah mengerti akan makna puisi tersebut.
"Benar. Ben suka tulisan Kak Bryan?"
__ADS_1
"Iya, suka. Ben suka ikan. Rasanya lezat."
"Hahahaha." tiba-tiba, Selena mengakak.
"Eh, kenapa kakak tertawa? Bukankah Kak Selena juga suka ikan?" tanya Ben polos.
"Iya, kakak juga suka ikan. Ikan itu lezat. Selain itu, ikan itu lucu, seperti Ben." goda Selena.
"Ihh.. Ben benci ikan! Ben benci! Ben lebih lucu daripada ikan!!" gerutu Ben.
Selena tertawa terbahak-bahak, lalu mencium pipi adik kecilnya karena gemas.
"Benar juga. Ben lebih lucu daripada ikan. Ben paling lucu sedunia." ucap Selena dengan sayang.
Ben hanya tersenyum manja.
"Kakak, tulis puisi untuk Ben dong." pinta Ben tiba-tiba.
"Boleh. Puisi apa?" tanya Selena.
"Mmm.. Puisi ikan paus, atau ikan hiu saja deh."
Lagi-lagi, Selena dibuat adik kecilnya tertawa terpintal-pintal. Mereka tak sadar bahwa sang ayah dan ibu sedang mengintip ke kamar Selena secara diam-diam. Sudah lama Selena tidak tertawa lepas seperti itu, bahkan ketika Ben melakukan sesuatu yang lucu atau konyol.
Kedua orang tua mereka pun tersenyum dan hati mereka menjadi tenang. Hari ini hari Minggu, jadi mereka akan pergi beribadah pada sore hari.
Sebelum itu, Selena ingin lebih lama lagi bermain bersama dengan Ben. Oleh karena itu, Selena mengeluarkan permainan kartu dan caturnya.
Seketika Ben melihat kakaknya yang mengeluarkan benda-benda tersebut, anak itu cemberut dan hampir kabur dari kamar.
"Hmm.. Ben tidak suka bermain catur atau kartu bersama kakak." jawab Ben jujur.
"Eh, kenapa?"
"Ben masih berumur 5 tahun. Selain itu, Ben selalu kalah dari kakak." ucap Ben dengan nada yang putus-putus, serta tatapan sinis-imutnya.
"Hahaha. Baiklah, kakak mengerti. Bagaimana jika kita menggambar dan mewarnai saja?" ujar Selena.
"Ok!" jawab Ben dengan langsung bersemangat.
Selena pun memasukkan semua benda tersebut, lalu mengeluarkan sebuah kertas gambar yang berukuran besar. Ia juga menyediakan pensil menggambar, penghapus, crayon, dan pensil warna untuk Ben.
Adik kecil itu pun mulai menggambar sebuah lingkaran, lalu membuat wajah seseorang.
"Siapa itu Ben?" tanya Selena sambil mengamat-ngamati adiknya.
"Kak Selena."
"Apa?" Selena langsung memperhatikan gambar Ben.
"Lalu, ini Kak Bryan." ucap Ben sambil meringis.
"Oh.."
__ADS_1
"Lalu, Ben berada di antara kalian." kata Ben, sambil terus menggambar.
Anak itu menggambar, lalu mewarnai gambar tersebut hingga selesai. Kemudian, Ben berdiri dan hendak menempelkan gambar itu di dinding kamar kakaknya.
"Ben.. jangan ditempel di kamar kakak. Di kamar Ben saja ya?" ujar Selena.
"Tidak mau! Kakak harus melihat gambar ini setiap hari, supaya kakak bersemangat lagi." balas anak kecil itu.
"Ben.." Selena tidak dapat berkata-kata, lalu membantu adiknya menempelkan gambar itu dengan perekat.
"Bila Ben sudah besar, Ben ingin membuat kakak bahagia selalu. Maafkan Ben karena Ben masih kecil dan belum mengerti apa-apa ya kak." ucap adik Selena itu, dengan mata sayu dan kedua tangan mungilnya menyentuh salah satu tangan kakaknya.
"Ben.. terima kasih.." kata Selena, seraya memeluk adiknya.
Seketika, Selena teringat akan puisi Bryan.
Mungkinkah puisi Bryan juga berkata demikian? Bahwa hidupnya bergejolak dan bahwa aku belum mengerti apa-apa mengenai dirinya? kata Selena dalam hati.
Sewaktu berpikir, tiba-tiba Ben menggoyang-goyangkan tangannya.
"Ng? Ada apa, Ben?"
"Kakak, ayo makan. Ben lapar. Kakak kurus sekali!" ucap adiknya itu.
"Baiklah. Ayo makan."
Ben langsung cengar-cengir karena kali ini anak itu berhasil membuat kakaknya berselera makan.
Ibu mereka telah memasakkan hidangan lezat berupa nasi goreng sayur dan rendang daging sapi.
Mereka pun mulai makan siang sekeluarga.
"Kakak, tolong simpan gambar tadi ya. Ben mohon." kata Ben.
Kedua orang tua mereka langsung ikut mengamati Selena.
"Baiklah. Makanlah, Ben. Jangan sampai tersedak atau tumpah-tumpah." jawab Selena akhirnya.
"Selena. Ben sangat ingin kamu makan bersama kami seperti hari ini. Beberapa pekan ini kamu selalu membawa makananmu ke dalam kamar dan mengurung diri." ucap Miranda, sang ibu.
"Selena. Papa ingin kamu lebih menjaga kesehatan dan ceria seperti biasa, Nak." kata sang ayah yang bernama Jeremy.
"Baiklah, aku berjanji. Maafkan aku karena sudah membuat kalian semua khawatir. Ayo, sekarang kita makan sampai kenyang." balas Selena dengan senyuman manisnya.
Mereka pun menikmati hidangan itu dan menghabiskan waktu bersama hingga sore. Kemudian, mereka bersama-sama menonton sebuah film di rumah sepulang beribadah.
Kini, keadaan Selena telah berangsur-angsur membaik. Ia sudah ceria, mau makan, mau keluar rumah, dan tidurnya nyenyak.
Namun, satu hal masih mengganggu pikiran dan hati gadis itu. Selena masih terus memikirkan Bryan.
Bagaimana dengan Bryan? Apakah keadaan lelaki itu juga telah membaik? Selena terus mengingat momen-momen indah bersama Bryan, serta hari ketika mereka harus berpisah secara keras.
Hingga saat ini, Selena masih kurang mengerti dan sama sekali tidak yakin akan alasannya putus dengan Bryan. Apakah semua itu terjadi karena kesalahannya? Ataukah pihak lain yang merencanakannya? Entah mengapa, pemikiran-pemikiran itu mulai muncul dalam benak Selena.
__ADS_1
Selena hanya berharap akan suatu petunjuk atau keajaiban yang mampu mempersatukan dirinya kembali dengan pujaan hatinya.