The Sweetest Dream

The Sweetest Dream
Poin dalam Mencintai


__ADS_3

Di dunia ini, bukan hanya harta kekayaan dan martabat yang mampu membuat para manusia menjadi gelap mata. Cinta dan hawa nafsu juga mampu menjungkir balikkan atau menghalalkan segala cara, tergantung prespektif dan cara seseorang menyikapinya.


Pada umumnya, pria mungkin lebih cenderung terjatuh pada godaan-godaan tersebut daripada wanita, namun ada juga para pria yang mampu berpikir secara benar dan menghargai makna suatu hubungan.


Bahkan, demi menjaga hubungan tersebut, seorang pemuda rela mengorbankan apa saja. Demi mempertahankan mimpi seorang gadis yang dicintainya, pemuda itu terpaksa membuat hati sang gadis terluka dengan meninggalkannya.


Begitulah perbedaan antara sang ayah dengan Bryan. Entah apakah sang ayah benar-benar mencintai wanita bernama Vero itu atau dirinya hanya terbawa kesenangan singkat.


Bryan tidak seperti ayahnya. Ia tidak akan pernah membuat hati Selena terluka, apalagi tanpa alasan yang masuk akal. Bahkan, jika Selena memutuskan untuk meninggalkan Bryan, lelaki itu akan terus mencintai Selena. Hanya gadis itu yang mampu menggerakkan hati Bryan.


Cinta bagaikan mengumpulkan beberapa poin. Artinya, dalam mencintai, salah satu atau kedua belah pihak tidak perlu mendapatkan poin sempurna. Bila terlalu mengharapkan kesempurnaan, perasaan cinta seseorang akan menjadi tawar seiring dengan munculnya kekecewaan.


Demikian pula sebaliknya, mustahil untuk mempertahankan suatu hubungan bila poin cinta itu terlalu kurang. Lalu, bagaimana cara untuk mengantisipasinya? Sebenarnya, kunci untuk meningkatkan poin cinta tersebut terletak pada diri sendiri, karena berbagai alasan dan motivasi itu terbentuk dalam diri setiap orang.


Bryan tentunya ingin sekali hubungannya dengan Selena segera kembali seperti sedia kala. Namun, apakah kini hanya dirinya yang memiliki poin cinta tersebut terhadap Selena?


Tanpa menunggu lagi, Bryan segera menelepon gadis itu.


RING RING RING


Handphone Selena bergetar.


"Ng? Siapa ya..?" gumam Selena dengan mata setengah terpejam, lalu menyambar HPnya dari atas meja kecil di sebelah ranjangnya.

__ADS_1


Saat ini baru pukul 4 pagi, namun seseorang tengah menelepon gadis itu.


"Halo?" ucap gadis itu dengan setengah sadar.


"Selena."


DEG


Seketika, suara panggilan itu membuat hati Selena berdebar dan langsung terjaga.


"B--Bryan?" ucap Selena dengan terkejut.


"Haha. Apa aku telah mengganggu tidurmu?" tanya Bryan.


"Ti--tidak. Tidak apa-apa kok." jawab Selena kikuk.


"Ng? Mengapa kamu meminta maaf?" kata Selena bingung.


"Maaf karena aku tidak dapat berlari kepadamu dan membuat semuanya dapat dimengerti."


"Bryan.."


"Selena.. Sebenarnya.. Papaku ingin aku memilih Carissa."

__ADS_1


DEG


"Be--begitu.." ucap Selena pelan dan lemas.


"Namun, gadis itu adalah pujaan hati kakakku. Tentu saja, aku tidak akan merebutnya dari kakakku." jelas Bryan.


"Begitu..." jawab Selena semakin tidak bertenaga.


"Selena. Perasaanku kepadamu tidak pernah berubah, aku masih menyukaimu."


"..." Selena menitikkan air mata.


"Selena.. maaf karena membuatmu menangis. Namun, bolehkah aku membereskan hal ini dengan kakakku terlebih dahulu?" kata Bryan lembut.


"Terserah kamu, Bryan.. hiks.. kamu dapat berbuat sesuka hatimu.. tolong jangan menggangguku lagi." isak Selena.


Mendengar itu, hati Bryan amat sakit. Ingin rasanya dirinya muncul dan memeluk gadis itu.


"Selena, bukan begitu maksud--"


--- # --- TUTS


Belum sempat menjelaskan, Selena telah menutup panggilan telepon dari Bryan.

__ADS_1


"Sial.." geram Bryan seorang diri.


Bryan tidak menyerah dan bertekad dalam hatinya untuk mengembalikan hubungan mereka seperti sedia kala.


__ADS_2