
Langit-langit yang sama, setiap kali aku membuka mata ku langit-langit
ini lah yang pertama ku lihat.
Aku pun duduk di kasur menatap ke luar jendela, langit yang cerah dan
berawan hembusan angin yang meniup rerumputan sekitar membawa aroma dari bunga-bunga
yang bertebaran, aku menghela nafas dalam-dalam berpikir bahwa damai sekali di sini.
Tok… Tok… Tok
Terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar ku, aku langsung menoleh
kearah jam dinding yang terpasang di sudut atas kamar, terlihat waktu telah
menunjukan pukul 8 pagi seketika keringat dingin mulai jatuh dari pelipis ku di
tambah dengan suara ketukan yang pelan namun terasa sangat mencekam, apa ini ?
“Seevaa… apakah kau sadar sudah jam berapa ini?”Terdengar suara dari balik pintu, suara halus yang
sampai membuat bulu kuduk ku berdiri terasa seperti mengancam.
“Si-Sial, jangan-jangan.” sebelum aku bisa bertindak apapun pukulan
keras menghantam pintu itu dari arah luar membuatnya terbuka lebar.
BRAAK!!
“BOCAH TENGIK! MAU SAMPAI KAPAN KAU TIDUR HAH ?!”
“WAH! Suster Nia!”
Sesosok wanita berdiri di hadapan pintu yang terbuka lebar, wanita berambut
pirang dan berpakaian suster itu memasang wajah yang amat sangat menyeramkan,
matanya terbuka lebar menatap ke arahku, ya dialah Suster Nia, seorang kepala Suster
yang mengurus rumah Yatim Piatu tempat ku tinggal dan merupakan putri dari
mendiang pemilik panti asuhan ini.
“Tu-Tunggu, suster jangan bertindak gegabah!” Sebuah bangku kayu
melayang di udara dengan cepat menghantam ke arah tempat ku tidur.
“Bocah tengik, kau lihat sudah jam berapa sekarang, anak-anak yang lain
sudah mulai beraktifitas sedangkan kau di sini masih enak-enaknya tidur santai.”
Suster Nia menggelengkan kepalanya, jengkel.
“Maafkan aku suster, aku terlalu letih kemarin berburu di hutan,” ucapku
panik
“Banyak alasanx, kau pikir aku tidak tahu mengapa kau bisa telat pulang
kemarin, kau bermain-main lagi kan di reruntuhan itu.”
Sial ternyata suster tahu, aku memalingkan pandangan ku dari suster, ia
pun mendekati ku.
“Sudah berapa kali ku bilang Seva, tempat itu berbahaya, bagaimana jika
terjadi hal buruk kepadamu, apa yang akan kau lakukan? Kau itu masih anak-anak,”
ucap Suster Ani.
Hal ini sudah biasa bagiku dimarahi dan dinasehati oleh beliau, aku pun
juga tahu dia berkata seperti ini karena dia menyayangi ku.
__ADS_1
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya menundukan kepalaku, kudengar
suster Ani menghela nafas nya.
“Dengar Seva, kau mungkin anak tertua di panti asuhan ini tapi bukan
berarti kau bisa melakukan apapun sesukamu, kau harus bisa menjadi contoh baik
untuk anak-anak yang lain.” Suster Ani mengatakan hal itu sambil duduk di
sebelahku.
“Maafkan aku suster,” ucapku perlahan menatap ke arahnya.
Wajah Suster Ani mulai perlahan lembut tidak seperti tadi, ia tersenyum
ke arahku lalu memegang pundak kiriku dengan tangan lembutnya.
“Jika kau benar-benar menyesal.” Nada bicaranya mulai terasa lembut,
namun ntah mengapa perasaanku terasa tidak enak mendengar nada bicaranya.
“Sebagai hukumanmu kali ini, kau harus mencuci piring, menyapu halaman,
mencuci dan menjemur pakaian lalu mengumpulkan kayu bakar di hutan.”
Oh tidak, ternyata perasaan ku benar, ia tidak akan begitu saja memberi
ampun.
“Ta-Tapi sus-” belum sempat menyelesaikan kalimatku, tangan suster yang
berada di pundak ku mulai mencengkram dengan keras.
“Tapi apa?” Senyuman sinis yang ia berikan tak pernah gagal membuatku
merinding. “Seva?”
Aku tertawa canggung. “Tapi tentu saja aku akan melakukannya.”
Aku tidak berani macam-macam dengannya.
kalau begitu, cepat turun dan sarapan, lalu lakukan semua hukumanmu. Ingat,
jangan sampai ada yang terlewat.”
Dengan sigap aku berkata. “Siap suster!”
Suster Ani pun memberikan senyuman tipis lalu perlahan pergi
meninggalkan kamarku, aku menghela nafas panjang. “Ini akan menjadi hari yang
panjang.”
Aku tinggal di sebuah panti asuhan dari aku kecil, dulunya tempat ini
bukanlah sebuah panti asuhan melainkan sebuah gereja, kata mendiang pemilik
panti asuhanku dulu yaitu Pastur Martin. Beliau menemukanku ditelantarkan di
atas teras gerejanya, karena merasa kasihan beliau akhirnya mengasuh dan
membesarkanku.
Karena hal itu akhirnya Pastur Martin memutuskan untuk membuka panti asuhan
untuk anak-anak yang membutuhkan sebuah kehangatan keluarga yang tak pernah
mereka rasakan.
Sudah 16 tahun aku hidup bersama mereka, yang diawal hanya aku seorang
sekarang kami sudah seperti keluarga besar dengan total 10 anak dan 3 pengurus
panti seperti suster Ani, suster Siska dan suster Lisa.
__ADS_1
Pastur Martin sudah meninggal dua tahun yang lalu meninggalkan duka yang
dalam bagi panti asuhan ini, aku sudah menganggap mendiang pastur martin
layaknya ayah ku sendiri dan suster Ani sudah seperti kakak perempuan ku.
Aku beranjak dari kasur ku berjalan menuju lantai bawah, sesampainya di
sana kulihat semua orang sudah melakukan aktifitas mereka masing-masing
walaupun para anak-anak lebih sering bermain.
Di dapur kulihat suster Lisa sedang merapihkan meja makan, ia melihatku
berjalan menghampirinya.
“Lihat, siapa yang akhirnya memutuskan untuk bergabung.” Ucap suster
Lisa sambil tersenyum ke arahku.
“Maafkan aku suster, aku telat bangun lagi.” Ucap ku sambil menggosok
kepala belakang ku.
Suster Lisa hanya tersenyum tipis lalu berkata. “Sudah tidak apa-apa,
kau sarapan dulu saja sana, aku sudah menyisihkan makanan untuk mu di dalam
lemari.”
“Terima kasih Suster Lisa.” aku langsung bergegas menuju lemari yang
dimaksud suster Lisa, disana sudah tersedia semangkuk bubur, segera aku
memakannya dan mencuci mangkuk kotor itu juga piring kotor yang lain.
Setelah itu aku langsung pergi ke halaman depan dan mulai menyapunya, di
sana aku melihat Suster Siska sedang bermain dengan beberapa anak panti yang
lain, ia melihatku sedang menyapu halaman dan memberikan senyuman aku membalas
senyuman itu.
Tidak terasa waktu terlawat dengan cepat, semua tugas yang diberikan
padaku sudah terselesaikan hanya tertinggal satu saja yaitu mencari kayu bakar.
Sebelum berangkat aku beristirahat sejenak di teras, hembusan angin
terasa sangat lembut di wajahku, suara canda tawa dari anak-anak yang lain
terdengar samar di telingaku.
Ah, damai sekali! Pikirku sejenak, sebelum akhirnya aku beranjak kedalam
untuk mempersiapkan peralatan yang ingin kubawa.
Ketika aku ingin membuka pintu keluar, kulihat Suster Ani sedang berdiri
di teras. Ia sadar akan kehadiranku dan menoleh ke arahku.
“Seva, sudah ingin berangkat ya?”
Bukankah sudah jelas?
“Iya, Suster” ucapku melihat ke arahnya.
“Ah, baiklah. Tapi ingat.” Dia menunjuk ke arahku dengan tatapan
layaknya seorang kakak perempuan, lalu melanjutkan. “Berhati-hatilah dan jangan
pulang kemalaman, oke?”
Aku hanya tersenyum berjalan melewatinya, setelah beberapa langkah aku
__ADS_1
menoleh kearahnya tersenyum lebar dan berkata, “Baiklah Suster!”
Suster Ani menghela nafasnya lalu tersenyum.