The Wanderer

The Wanderer
Awal sebelum tragedi


__ADS_3

Langit-langit yang sama, setiap kali aku membuka mata ku langit-langit


ini lah yang pertama ku lihat.


Aku pun duduk di kasur menatap ke luar jendela, langit yang cerah dan


berawan hembusan angin yang meniup rerumputan sekitar membawa aroma dari bunga-bunga


yang bertebaran, aku menghela nafas dalam-dalam berpikir bahwa damai sekali di sini.


Tok… Tok… Tok


Terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar ku, aku langsung menoleh


kearah jam dinding yang terpasang di sudut atas kamar, terlihat waktu telah


menunjukan pukul 8 pagi seketika keringat dingin mulai jatuh dari pelipis ku di


tambah dengan suara ketukan yang pelan namun terasa sangat mencekam, apa ini ?


“Seevaa… apakah kau sadar sudah jam berapa ini?”Terdengar suara dari balik pintu, suara halus yang


sampai membuat bulu kuduk ku berdiri terasa seperti mengancam.


“Si-Sial, jangan-jangan.” sebelum aku bisa bertindak apapun pukulan


keras menghantam pintu itu dari arah luar membuatnya terbuka lebar.


BRAAK!!


“BOCAH TENGIK! MAU SAMPAI KAPAN KAU TIDUR HAH ?!”


“WAH! Suster Nia!”


Sesosok wanita berdiri di hadapan pintu yang terbuka lebar, wanita berambut


pirang dan berpakaian suster itu memasang wajah yang amat sangat menyeramkan,


matanya terbuka lebar menatap ke arahku, ya dialah Suster Nia, seorang kepala Suster


yang mengurus rumah Yatim Piatu tempat ku tinggal dan merupakan putri dari


mendiang pemilik panti asuhan ini.


“Tu-Tunggu, suster jangan bertindak gegabah!” Sebuah bangku kayu


melayang di udara dengan cepat menghantam ke arah tempat ku tidur.


“Bocah tengik, kau lihat sudah jam berapa sekarang, anak-anak yang lain


sudah mulai beraktifitas sedangkan kau di sini masih enak-enaknya tidur santai.”


Suster Nia menggelengkan kepalanya, jengkel.


“Maafkan aku suster, aku terlalu letih kemarin berburu di hutan,” ucapku


panik


“Banyak alasanx, kau pikir aku tidak tahu mengapa kau bisa telat pulang


kemarin, kau bermain-main lagi kan di reruntuhan itu.”


Sial ternyata suster tahu, aku memalingkan pandangan ku dari suster, ia


pun mendekati ku.


“Sudah berapa kali ku bilang Seva, tempat itu berbahaya, bagaimana jika


terjadi hal buruk kepadamu, apa yang akan kau lakukan? Kau itu masih anak-anak,”


ucap Suster Ani.


Hal ini sudah biasa bagiku dimarahi dan dinasehati oleh beliau, aku pun


juga tahu dia berkata seperti ini karena dia menyayangi ku.

__ADS_1


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya menundukan kepalaku, kudengar


suster Ani menghela nafas nya.


“Dengar Seva, kau mungkin anak tertua di panti asuhan ini tapi bukan


berarti kau bisa melakukan apapun sesukamu, kau harus bisa menjadi contoh baik


untuk anak-anak yang lain.” Suster Ani mengatakan hal itu sambil duduk di


sebelahku.


“Maafkan aku suster,” ucapku perlahan menatap ke arahnya.


Wajah Suster Ani mulai perlahan lembut tidak seperti tadi, ia tersenyum


ke arahku lalu memegang pundak kiriku dengan tangan lembutnya.


“Jika kau benar-benar menyesal.” Nada bicaranya mulai terasa lembut,


namun ntah mengapa perasaanku terasa tidak enak mendengar nada bicaranya.


“Sebagai hukumanmu kali ini, kau harus mencuci piring, menyapu halaman,


mencuci dan menjemur pakaian lalu mengumpulkan kayu bakar di hutan.”


Oh tidak, ternyata perasaan ku benar, ia tidak akan begitu saja memberi


ampun.


“Ta-Tapi sus-” belum sempat menyelesaikan kalimatku, tangan suster yang


berada di pundak ku mulai mencengkram dengan keras.


“Tapi apa?” Senyuman sinis yang ia berikan tak pernah gagal membuatku


merinding. “Seva?”


Aku tertawa canggung. “Tapi tentu saja aku akan melakukannya.”


Aku tidak berani macam-macam dengannya.


kalau begitu, cepat turun dan sarapan, lalu lakukan semua hukumanmu. Ingat,


jangan sampai ada yang terlewat.”


Dengan sigap aku berkata. “Siap suster!”


Suster Ani pun memberikan senyuman tipis lalu perlahan pergi


meninggalkan kamarku, aku menghela nafas panjang. “Ini akan menjadi hari yang


panjang.”


Aku tinggal di sebuah panti asuhan dari aku kecil, dulunya tempat ini


bukanlah sebuah panti asuhan melainkan sebuah gereja, kata mendiang pemilik


panti asuhanku dulu yaitu Pastur Martin. Beliau menemukanku ditelantarkan di


atas teras gerejanya, karena merasa kasihan beliau akhirnya mengasuh dan


membesarkanku.


Karena hal itu akhirnya Pastur Martin memutuskan untuk membuka panti asuhan


untuk anak-anak yang membutuhkan sebuah kehangatan keluarga yang tak pernah


mereka rasakan.


Sudah 16 tahun aku hidup bersama mereka, yang diawal hanya aku seorang


sekarang kami sudah seperti keluarga besar dengan total 10 anak dan 3 pengurus


panti seperti suster Ani, suster Siska dan suster Lisa.

__ADS_1


Pastur Martin sudah meninggal dua tahun yang lalu meninggalkan duka yang


dalam bagi panti asuhan ini, aku sudah menganggap mendiang pastur martin


layaknya ayah ku sendiri dan suster Ani sudah seperti kakak perempuan ku.


Aku beranjak dari kasur ku berjalan menuju lantai bawah, sesampainya di


sana kulihat semua orang sudah melakukan aktifitas mereka masing-masing


walaupun para anak-anak lebih sering bermain.


Di dapur kulihat suster Lisa sedang merapihkan meja makan, ia melihatku


berjalan menghampirinya.


“Lihat, siapa yang akhirnya memutuskan untuk bergabung.” Ucap suster


Lisa sambil tersenyum ke arahku.


“Maafkan aku suster, aku telat bangun lagi.” Ucap ku sambil menggosok


kepala belakang ku.


Suster Lisa hanya tersenyum tipis lalu berkata. “Sudah tidak apa-apa,


kau sarapan dulu saja sana, aku sudah menyisihkan makanan untuk mu di dalam


lemari.”


“Terima kasih Suster Lisa.” aku langsung bergegas menuju lemari yang


dimaksud suster Lisa, disana sudah tersedia semangkuk bubur, segera aku


memakannya dan mencuci mangkuk kotor itu juga piring kotor yang lain.


Setelah itu aku langsung pergi ke halaman depan dan mulai menyapunya, di


sana aku melihat Suster Siska sedang bermain dengan beberapa anak panti yang


lain, ia melihatku sedang menyapu halaman dan memberikan senyuman aku membalas


senyuman itu.


Tidak terasa waktu terlawat dengan cepat, semua tugas yang diberikan


padaku sudah terselesaikan hanya tertinggal satu saja yaitu mencari kayu bakar.


Sebelum berangkat aku beristirahat sejenak di teras, hembusan angin


terasa sangat lembut di wajahku, suara canda tawa dari anak-anak yang lain


terdengar samar di telingaku.


Ah, damai sekali! Pikirku sejenak, sebelum akhirnya aku beranjak kedalam


untuk mempersiapkan peralatan yang ingin kubawa.


Ketika aku ingin membuka pintu keluar, kulihat Suster Ani sedang berdiri


di teras. Ia sadar akan kehadiranku dan menoleh ke arahku.


“Seva, sudah ingin berangkat ya?”


Bukankah sudah jelas?


“Iya, Suster” ucapku melihat ke arahnya.


“Ah, baiklah. Tapi ingat.” Dia menunjuk ke arahku dengan tatapan


layaknya seorang kakak perempuan, lalu melanjutkan. “Berhati-hatilah dan jangan


pulang kemalaman, oke?”


Aku hanya tersenyum berjalan melewatinya, setelah beberapa langkah aku

__ADS_1


menoleh kearahnya tersenyum lebar dan berkata, “Baiklah Suster!”


Suster Ani menghela nafasnya lalu tersenyum.


__ADS_2