
Ribuan tahun yang lalu, dunia terguncang oleh peperangan
dahsyat yang melibatkan para dewa di setiap wilayah mereka. Langit menjadi
gelap oleh awan gelap yang bergulung, dentuman hebat terdengar di seluruh
penjuru benua.
Dalam kekacauan dan kehancuran tersebut, dunia terlihat
seperti sebuah medan perang yang terbakar. Gunung-gunung roboh, lautan
mengamuk, dan hutan-hutan terbakar. Para dewa terus bertempur tanpa henti,
mengeluarkan kekuatan yang luar biasa demi melindungi wilayah mereka masing-masing.
Hingga dari puluhan dewa yang berperang, hanya tersisa tujuh
dewa yang berhasil bertahan yaitu Malphas sang dewa perang, Flauran sang dewa
kebijaksanaan, Cain sang dewa hukum, Selbest sang dewa kebebasan, Bilith sang
dewa keabadian, decarabia sang dewa waktu dan More sang dewa cinta.
Mereka yang berjuang dengan sengit melihat satu sama lain,
dan kesadaran akan kerusakan yang mereka timbulkan menyesakkan hati mereka.
Dalam kesepakatan yang langka, para dewa menarik diri dari
pertempuran dan kembali ke tempat asal mereka. Mereka menyadari bahwa kekuatan
mereka yang besar harus digunakan untuk kebaikan, bukan untuk
memporak-porandakan dunia. Dalam perjanjian damai, mereka bersumpah untuk
menjaga keseimbangan dan harmoni di dunia.
Namun dari salah satu dewa yang bertahan, ia memiliki dendam
yang dalam kepada dewa yang lain. Di balik layar ia memulai rencana untuk
membalaskan dendamnya. Membuat kedamaian sejati di dunia ini belum bisa
sepenuhnya tercapai.
...
Panas...
Tubuhku terasa sangat panas...
Tapi aku tidak tahu mengapa, aku merasa senang dan semangat.
Jantungku berdebar sangat kencang, perasaan ini terasa semakin kuat setiap aku
memikirkan untuk balas dendam dan melindungi orang terdekatku.
Aku melihat bayangan Arin di sudut ruangan, mataku berkaca-kaca.
Dia terlihat rapuh, terikat oleh kekuatan yang mencekiknya. Api dalam dadaku
semakin membesar saat pikiranku tertuju pada keberadaannya. Aku harus bebas.
Aku harus melindunginya.
Kukepalkan erat tanganku, penuh dengan tekad dan kekuatan
yang terpendam. Aku merasakan kekuatan itu mengalir melalui pembuluh darahku,
memenuhi setiap serat ototku. Dengan satu hentakan yang kuat, tanganku yang
terikat terlepas, merobek ikatan yang membelenggu.
Saat itu, sensasi kebebasan mengalir melalui setiap pori
tubuhku. Seolah-olah aku telah membebaskan diriku dari belenggu yang mengikat.
Energi menyala-nyala di sekitarku, berdenyut-denyut seiring dengan nafas yang
memburu.
Aku melangkah maju menuju pintu di depanku, kubuka pintu itu
di sana tidak ada orang terlihat hanya ruangan kosong tanpa ada penjaga.
Aku menelusuri lorong panjang di depanku, terdapat beberapa
pintu di sana. Kubuka setiap pintu yang kulihat namun tidak ada orang sama
sekali di setiap ruangan yang kubuka. Sampai akhirnya aku sampai di pintu
terakhir, kubuka pintu itu seketika aku terdiam melihat di dalamnya.
Ruangan ini jauh lebih luas dari ruangan yang lain. Ruangan
__ADS_1
itu gelap dan suram, penuh dengan atmosfer yang mencekam. Dinding-dindingnya
terbuat dari batu kasar yang tampak kuno dan usang, di sepanjang dinding
terdapat sel penjara yang tertutup.
Di dalam sel itu terdapat lima wanita yang terkurung, mereka
terkejut ketika melihatku masuk ke dalam ruangan itu. Salah satu wanita itu
mendekat ke arah jeruji besi sel tersebut, wanita dengan penampilan kusam dan
luka di penjuru tubuhnya melihatku dengan tatapan penuh harapan.
Dengan suara pelan wanita itu berkata. “Kamu, kamu bukan
salah satu dari mereka bukan?” Aku menghampiri wanita itu lalu menjawab. “Salah
satu dari mereka? Bukan, aku sedang mencari seorang wanita berambut pirang.”
Kulihat wanita itu menggelengkan kepalanya, wajahnya
menunduk ke bawah. “Seperti yang kau lihat, tidak ada wanita seperti yang kau
sebutkan.” Wanita itu pun menatapku lagi dan lanjut berkata. “Aku Lisa, kumohon
keluarkan kami dari tempat ini.”
Ada sedikit keraguan dalam hatiku, aku harus segera
menemukan Arin namun aku juga tidak bisa membiarkan ke lima wanita ini.
“Memangnya apa yang terjadi dengan kalian?” kucoba bertanya pada
Lisa. Kulihat wajah Lisa yang terlihat cemas, lalu ia menjawab. “Aku tidak bisa
menjelaskan sekarang.” Lisa melihat ke arah pintu lalu melanjutkan. “Sudah tidak
ada waktu lagi, para bandit itu akan segera kembali.”
Benar, aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Aku harus
mencari cara untuk membantu mereka dan juga menyelamatkan Arin.
Dalam waktu yang singkat aku berpikir keras cara untuk
menyelamatkan mereka, setelah beberapa saat Lisa tiba-tiba berkata. “Apa yang kamu
lakukan? Mereka akan segera kembali!”
mundurlah!” aku memikirkan perasaan yang kurasakan saat aku melepaskan diri
dari ikatan, aku merasakan aliran kekuatan dari seluruh tubuhku. Dalam satu
gerakan yang cepat, aku mengayunkan pukulan ke jeruji besi dengan penuh
kekuatan.
Suara dentuman keras memenuhi ruangan saat jeruji besi itu
terguncang. Serpihan-serpihan logam berterbangan ke segala arah, Jeruji besi
yang sebelumnya tegar dan kokoh hancur berantakan, membuka jalan keluar bagi
Lisa dan empat wanita yang terkurung.
Lisa segera keluar dari dalam sel dan langsung memelukku
dengan erat, namun aku segera melepaskan pelukannya. “Kita harus cepat, apakah kau
tahu jalan keluar dari tempat ini?” tanyaku pada Lisa.
“Maaf, kau benar. Ada jalan keluar alternatif di lorong
belakang, tetapi itu terkunci rapat dan hanya bandit yang memegang kuncinya.” Ucap
Lisa.
Dari arah luar aku mendengar suara langkah kaki yang cepat. “Sepertinya
mereka mendengar suara keras tadi.” Ucapku dengan nada khawatir.
“Aku akan menahan mereka, kalian pergilah ke lorong
belakang. Cari cara untuk membobol jalan keluar itu.” Perintahku pada mereka.
Kulihat Lisa mendekatiku dan berkata. “Aku akan ikut denganmu,
kau tidak bisa menahan mereka sendirian.” Lisa menatapku dengan tekad yang kuat
di matanya.
Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak, ini akan sangat
berbahaya. Kau harus ikut mereka.” Ucapku pada Lisa. “Aku juga harus mencari
__ADS_1
temanku.” Lanjutku.
Lisa tiba-tiba menepuk pundaku dan berkata. “Tenang saja,
aku bisa bertarung dan juga salah satu dari mereka adalah kesatria dari Warenburg.”
Ucap Lisa sambil menunjuk salah satu dari wanita itu.
“Dan aku merupakan adik dari pemimpin kesatria dari Warenburg,
kau bisa percaya padaku.” Ucap Lisa lagi dengan percaya diri.
Aku terkejut mendengar perkataan Lisa, tidak kusangka
ternyata ada orang penting yang terkurung di tempat ini. Dengan menghela nafas
panjang aku menggelengkan kepalaku dan berkata. “Baiklah, jika kau bersikeras
untuk membantu.” Aku pun tersenyum.
Kami berenam segera keluar dari ruangan itu, namun tanpa
disangka tiga orang bandit sudah menunggu di lorong depan.
“Kau, cepat beri tahu yang lain! Para tahanan melarikan
diri!” perintah salah satu bandit itu.
Aku dengan tegas berkata. “Jangan halangi kami! Kami akan
keluar dari tempat ini, apapun yang terjadi.”
Bandit yang memerintah tadi menjawab dengan remeh. “Membiarkan
kalian pergi?” bandit itu tertawa dengan keras dan lanjut berkata. “Itu tidak
akan terjadi, bocah tengik!” dengan memegang senjata, kedua bandit itu langsung
meluncur ke arah kami.
Lisa menatapku lalu mengangguk, kami berdua juga ikut maju
tak mau kalah dengan para bandit.
pertarungan pun dimulai. Aku dan Lisa menunjukkan keahlian
bertarung kami, melawan dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Pukulan
dan tendangan saling bertukar, menciptakan dentuman dan suara keras di sekitar kami.
aku meluncurkan serangan bertubi-tubi, menghindari serangan
lawan dengan keahlianku yang terlatih. Lisa juga menunjukkan kemampuannya
sebagai seorang kesatria, dengan gerakan yang presisi dan serangan yang
mematikan.
Sementara bandit-bandit itu berusaha keras melawan, mereka
terkejut dengan kemampuan tempur yang ditunjukkan oleh aku dan Lisa.
Dengan memfokuskan kekuatan pada kepalan tanganku, dengan
cepat aku memukul wajah bandit itu dengan serangan telak, membuat ia terlempar
beberapa meter kebelakang. Sementara Lisa berhasil menghabisi bandit satunya.
Aku segera menghampiri bandit yang baru saja kuhajar, dengan
cepat kutarik kerah bajunya dan berkata dengan nada keras. “Dimana Arin berada?!”
bandit itu hanya terkekeh mendengar pertanyaanku.
“Maksudmu gadis berambut pirang itu?” Jawab bandit itu
dengan nada remeh. “Gadis itu sudah di bawa pergi.” Bandit itu pun tertawa
keras.
Mendengar jawabannya yang terkesan meremehkan, aku merasa
darahku mendidih. Dengan luapan emosi aku menghantam dada bandit itu dengan
pukulan yang keras hingga menembus dadanya.
Lisa terkejut melihat tindakanku, wajahnya dipenuhi dengan
ekspresi tidak percaya.
Aku berdiri, darah menetes dari tanganku. Tanganku mengepal keras,
tatapanku tajam ke depan.
“Aku akan menghabisi mereka semua.” Ucapku dengan nada penuh
__ADS_1
amarah.