
Jalan satu arah dengan pemandangan padang rumput yang luas, Langit
senja memberikan sentuhan warna oranye dan merah muda, menambahkan pesona pada
suasana di sekitarnya.
kuda yang kutunggangi bersama Lisa melaju dengan pelan, Gerald
dan Arin berjalan mendampingi di samping. Sebenarnya aku masih bisa berjalan,
namun Gerald memaksaku untuk menunggangi kuda dikarenakan luka pada tubuhku.
Senyum tipis terukir di wajahku, menikmati setiap detik
perjalanan yang damai ini. Dengan senja yang semakin merayap, sinar matahari
semakin memudar, tidak jauh dari kami aku dapat melihat tembok dan gerbang
berdiri dengan gagah.
Di sana terlihat sosok perempuan berdiri di depan gerbang,
wajahnya terlihat lega ketika melihat kedatangan kami. Perempuan itu
melambaikan tangannya ke arah kami, Gerald yang melihat juga ikut melambaikan
tangannya.
“Tina!” Teriak Gerald pada perempuan itu.
Setelah berjalan sebentar, kami sampai di mulut gerbang. Perempuan
yang tadi melambaikan tangan langsung menghampiri Gerald, mereka seperti sedang
mendiskusikan sesuatu.
Kulihat Gerald menghampiriku dan berkata. “Maafkan aku
teman-teman, aku tidak bisa mendampingi kalian,” ucap Gerald.
Gerald memanggil beberapa penjaga lalu memerintah mereka
untuk mengawal kami. “Aku harus mengurus sesuatu, kalian akan di kawal oleh
para penjaga ke rumah sakit.”
Aku menatap Gerald lalu tersenyum dan berkata. “Baiklah,
jaga dirimu.” Gerald membalas dengan senyuman yang lebar di wajahnya. “Kalian
juga dan selamat datang di kota Warenburg.”
Kami bertiga berpisah dengan Gerald di gerbang. Segera kami
memasuki gerbang kota Warenburg, seketika keramaian kota menyambut.
Walaupun hari sudah mulai gelap, namun kota ini masih
terlihat sibuk. Di sepanjang jalan masuk, terdapat deretan toko-toko yang
berwarna cerah dengan berbagai produk dagangan yang dipajang menarik.
Bunyi riuh mengisi udara ketika pedagang dan pengunjung
berinteraksi. Aroma rempah-rempah dan kuliner lezat menyatu menjadi kesatuan
wangi yang khas di udara. Terdengar nyanyian penjual makanan dan suara tawa
anak-anak yang bermain di antara orang-orang dewasa.
Tidak jauh dari sana, terlihat tempat pertukangan dengan
pandai besi yang sedang bekerja keras membentuk logam menjadi alat-alat tajam
dan perkakas.
Kami terus berjalan hingga sampai di alun-alun kota, di sana
terdapat air mancur yang airnya memancar tinggi dengan gemerlap cahaya matahari
senja menerpanya, menciptakan pemandangan yang mempesona.
Setelah beberapa saat berjalan kami sampai di sebuah
bangunan besar dengan tanaman hias yang menggantung di setiap jendelanya.
Para penjaga yang mengawal kami menghampiri salah satu
pekerja di sana, setelah itu mereka menghampiri kami dan berkata. “Kita sudah
sampai di rumah sakit. Kami akan kembali ke pos, jaga diri kalian,” ucap salah
satu penjaga itu lalu berpamitan.
Pekerja rumah sakit itu menghampiri kami. “Aku sudah
mendengar penjelasannya dari para penjaga tadi. Namaku Rafa, aku adalah pimpinan
__ADS_1
perawat di rumah sakit ini.” Rafa mengulurkan tangannya padaku.
Aku menatap Arin dan Lisa mereka mengangguk pelan lalu aku
menerima uluran tangan Rafa, kami berdua pun berjabat tangan. “Aku Seva, kami
akan berada di bawah perawatan Anda.” Mendengar jawabanku Rafa tersenyum, ia
lalu mempersilahkan kami untuk masuk.
Di dalam rumah sakit itu tidak terlalu ramai, hanya ada
beberapa orang yang berlalu-lalang. Cahaya lampu redup menciptakan suasana yang
hening, mengiringi langkahku di dalam gedung yang luas ini.
Rasanya aneh berada di tempat seperti ini, terlebih ketika
saat-saat senja yang indah di luar seolah berkontras dengan kesunyian di dalam.
Kami berjalan di sepanjang lorong dengan pintu kayu yang berderet
rapi, tiba-tiba salah satu pintu itu terbuka. Seorang wanita dengan rambut
pendek keluar dari dalam ruangan pintu tersebut.
“Nona Lisa!” perempuan itu seketika terkejut saat melihat Lisa,
langkah kami terhenti ketika wanita itu segera menghampiri Lisa.
Aku merasa pernah melihat wanita itu, namun aku tidak
terlalu mengingatnya. Ia terlihat khawatir melihat kondisi Lisa yang penuh luka,
saat menyadari keberadaanku pandangan wanita itu beralih padaku.
“Kau, pria yang telah menyelamatkan kami bukan?” ucap wanita
itu.
Arin menatapku wajahnya terlihat bingung, aku pun mencoba untuk
mengingat siapa wanita ini dan kapan aku pernah menyelamatkannya.
“Apa kau tidak ingat? Aku merupakan salah satu orang yang
terkurung bersama Lisa di sarang bandit,” ucap wanita itu.
Mendengar penjelasan wanita itu, aku baru mengingatnya dia
adalah kesatria wanita yang terkurung bersama Lisa. “Maaf, aku baru mengingatnya.”
“Terima kasih telah menyelamatkan kami.” Ia kembali menatapku dan melanjutkan. “Namaku
Rani, aku merupakan penjaga pribadi Lisa.” Jelasnya.
“Ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan kalian? mengapa
kalian terluka?” tanya Rani, sebelum aku bisa menjawab Rafa memotong
pembicaraan kami. “Sudah cukup, aku harus segera memeriksa mereka,” ucap Rafa.
Rani yang merasa di tegur Rafa segera membungkukkan badannya
lagi. “Ma-maafkan aku, tuan Rafa.”
“Sudah, angkat wajahmu. Bukannya kau seharusnya
beristirahat?” ucap Rafa dengan nada yang menusuk.
Rani yang mendengar ucapan Rafa, tubuhnya langsung terlihat
bergetar. Ia segera membungkukkan badannya lagi. “Maafkan aku!” Rani langsung
masuk kembali ke kamarnya, membanting pintu kayu itu.
Rafa menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. “Benar-benar
wanita itu,” ucapnya.
Arin yang melihat interaksi ini tertawa kecil.
Kami pun melanjutkan langkah kami, sampai akhirnya terhenti
di depan ruangan.
“Kalian tunggulah di sini, aku akan mengantar Lisa ke tempat
lain dulu.” Rafa mempersilahkan Lisa untuk jalan terlebih dahulu. Sebelum pergi
Lisa melihat ke arahku dan Arin lalu melambaikan tangannya. “Sampai ketemu
nanti, Seva.”
Mereka berdua pun pergi meninggalkan aku dan Arin.
Arin tiba-tiba menepuk pundakku. Saat kami saling memandang,
__ADS_1
ia tertawa kecil lalu berkata. “Tidak kusangka, pria yang telah menyelamatkanku
ternyata seorang playboy yang telah menyelamatkan banyak wanita juga.”
“Bukan seperti itu, aku kebetulan menemukan mereka saat sibuk
mencarimu,” ucapku.
Mendengar ucapanku, wajah Arin sedikit memerah. Ia lalu
menundukkan kepalanya. “Oh, seperti itu,” ucapnya dengan nada rendah.
“Tapi Seva, aku benar-benar berterima kasih padamu. Kau telah
menyelamatkanku tidak hanya sekali tapi dua kali.” Arin memalingkan wajahnya ke
arahku. Senyuman muncul perlahan dari bibirnya, menciptakan lengkungan indah
yang begitu alami. Wajahnya terpancar kebahagiaan dan kepuasan, seperti sinar
matahari di tengah hari yang cerah. “Kau adalah pahlawanku, Seva.”
Melihat senyumannya, entah mengapa wajahku terasa hangat. Segera
aku memalingkan wajahku dari pandangannya. “Itu belum seberapa,” ucapku dengan
nada rendah.
Kami menunggu tidak terlalu lama, Rafa datang lalu
mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Arin pergi, sebelumnya ia
bilang ingin berkeliling rumah sakit ini.
Aku dan Rafa memasuki ruangan itu. Kamar rumah sakit itu
terasa tenang, dengan dinding putih bersih yang mencerminkan cahaya dari lampu di
langit-langit ruangan.
Di satu sisi ruangan, terdapat jendela besar yang membiarkan
cahaya matahari senja masuk, memberikan sentuhan hangat. Aroma bunga lavender
yang menyelubungi udara juga memberikan rasa tenang dan menyegarkan.
Rafa mempersilahkanku untuk merebahkan diri di atas kasur. Selama
beberapa menit ke depan Rafa memeriksa kondisiku.
“Tidak ada masalah pada dirimu. Selanjutnya, kau hanya perlu
beristirahat saja,” ucap Rafa.
Aku mengangguk. “Terima kasih, Rafa.”
Rafa tertawa kecil lalu berkata. “Ini sudah tugasku. Sekarang,
kau beristirahatlah.” Rafa pergi meninggalkanku sendiri di dalam kamar.
Aku berbaring di ranjang menatap langit-langit, kutarik
nafas dalam-dalam lalu menutup kedua mataku.
.
..
...
“Wah... Jadi kau ya orangnya.” Suara misterius tiba-tiba
terdengar.
Sesosok bayangan berkabut muncul di hadapanku, dengan wujud
seorang pria. Namun, nada suaranya seperti anak kecil. “Siapa kau?” tanyaku
pada sosok tersebut.
“Hehe, kau orang yang menarik.” Tutur katanya penuh dengan
keceriaan, seolah sedang bermain-main dalam percakapan.
“Jangan khawatir, kita pasti akan segera bertemu.” Sosok tersebut
membalikkan badannya, perlahan pergi menjauh.
“Tunggu! Siapa kau?” aku berteriak memanggil sosok itu. Langkahnya
terhenti, ia melirik sedikit ke arahku. “Mereka menyebutku sebagai Selbest.” Sosok
itu tiba-tiba menghilang dari hadapanku.
Perlahan aku membuka kedua mata, kulihat Arin tertidur lelap
di bangku sebelah ranjangku. Aku pun duduk lalu melihat keluar jendela.
__ADS_1
“Selbest...”