The Wanderer

The Wanderer
Kota Kebebasan Warenburg


__ADS_3

Jalan satu arah dengan pemandangan padang rumput yang luas, Langit


senja memberikan sentuhan warna oranye dan merah muda, menambahkan pesona pada


suasana di sekitarnya.


kuda yang kutunggangi bersama Lisa melaju dengan pelan, Gerald


dan Arin berjalan mendampingi di samping. Sebenarnya aku masih bisa berjalan,


namun Gerald memaksaku untuk menunggangi kuda dikarenakan luka pada tubuhku.


Senyum tipis terukir di wajahku, menikmati setiap detik


perjalanan yang damai ini. Dengan senja yang semakin merayap, sinar matahari


semakin memudar, tidak jauh dari kami aku dapat melihat tembok dan gerbang


berdiri dengan gagah.


Di sana terlihat sosok perempuan berdiri di depan gerbang,


wajahnya terlihat lega ketika melihat kedatangan kami. Perempuan itu


melambaikan tangannya ke arah kami, Gerald yang melihat juga ikut melambaikan


tangannya.


“Tina!” Teriak Gerald pada perempuan itu.


Setelah berjalan sebentar, kami sampai di mulut gerbang. Perempuan


yang tadi melambaikan tangan langsung menghampiri Gerald, mereka seperti sedang


mendiskusikan sesuatu.


Kulihat Gerald menghampiriku dan berkata. “Maafkan aku


teman-teman, aku tidak bisa mendampingi kalian,” ucap Gerald.


Gerald memanggil beberapa penjaga lalu memerintah mereka


untuk mengawal kami. “Aku harus mengurus sesuatu, kalian akan di kawal oleh


para penjaga ke rumah sakit.”


Aku menatap Gerald lalu tersenyum dan berkata. “Baiklah,


jaga dirimu.” Gerald membalas dengan senyuman yang lebar di wajahnya. “Kalian


juga dan selamat datang di kota Warenburg.”


Kami bertiga berpisah dengan Gerald di gerbang. Segera kami


memasuki gerbang kota Warenburg, seketika keramaian kota menyambut.


Walaupun hari sudah mulai gelap, namun kota ini masih


terlihat sibuk. Di sepanjang jalan masuk, terdapat deretan toko-toko yang


berwarna cerah dengan berbagai produk dagangan yang dipajang menarik.


Bunyi riuh mengisi udara ketika pedagang dan pengunjung


berinteraksi. Aroma rempah-rempah dan kuliner lezat menyatu menjadi kesatuan


wangi yang khas di udara. Terdengar nyanyian penjual makanan dan suara tawa


anak-anak yang bermain di antara orang-orang dewasa.


Tidak jauh dari sana, terlihat tempat pertukangan dengan


pandai besi yang sedang bekerja keras membentuk logam menjadi alat-alat tajam


dan perkakas.


Kami terus berjalan hingga sampai di alun-alun kota, di sana


terdapat air mancur yang airnya memancar tinggi dengan gemerlap cahaya matahari


senja menerpanya, menciptakan pemandangan yang mempesona.


Setelah beberapa saat berjalan kami sampai di sebuah


bangunan besar dengan tanaman hias yang menggantung di setiap jendelanya.


Para penjaga yang mengawal kami menghampiri salah satu


pekerja di sana, setelah itu mereka menghampiri kami dan berkata. “Kita sudah


sampai di rumah sakit. Kami akan kembali ke pos, jaga diri kalian,” ucap salah


satu penjaga itu lalu berpamitan.


Pekerja rumah sakit itu menghampiri kami. “Aku sudah


mendengar penjelasannya dari para penjaga tadi. Namaku Rafa, aku adalah pimpinan

__ADS_1


perawat di rumah sakit ini.” Rafa mengulurkan tangannya padaku.


Aku menatap Arin dan Lisa mereka mengangguk pelan lalu aku


menerima uluran tangan Rafa, kami berdua pun berjabat tangan. “Aku Seva, kami


akan berada di bawah perawatan Anda.” Mendengar jawabanku Rafa tersenyum, ia


lalu mempersilahkan kami untuk masuk.


Di dalam rumah sakit itu tidak terlalu ramai, hanya ada


beberapa orang yang berlalu-lalang. Cahaya lampu redup menciptakan suasana yang


hening, mengiringi langkahku di dalam gedung yang luas ini.


Rasanya aneh berada di tempat seperti ini, terlebih ketika


saat-saat senja yang indah di luar seolah berkontras dengan kesunyian di dalam.


Kami berjalan di sepanjang lorong dengan pintu kayu yang berderet


rapi, tiba-tiba salah satu pintu itu terbuka. Seorang wanita dengan rambut


pendek keluar dari dalam ruangan pintu tersebut.


“Nona Lisa!” perempuan itu seketika terkejut saat melihat Lisa,


langkah kami terhenti ketika wanita itu segera menghampiri Lisa.


Aku merasa pernah melihat wanita itu, namun aku tidak


terlalu mengingatnya. Ia terlihat khawatir melihat kondisi Lisa yang penuh luka,


saat menyadari keberadaanku pandangan wanita itu beralih padaku.


“Kau, pria yang telah menyelamatkan kami bukan?” ucap wanita


itu.


Arin menatapku wajahnya terlihat bingung, aku pun mencoba untuk


mengingat siapa wanita ini dan kapan aku pernah menyelamatkannya.


“Apa kau tidak ingat? Aku merupakan salah satu orang yang


terkurung bersama Lisa di sarang bandit,” ucap wanita itu.


Mendengar penjelasan wanita itu, aku baru mengingatnya dia


adalah kesatria wanita yang terkurung bersama Lisa. “Maaf, aku baru mengingatnya.”


“Terima kasih telah menyelamatkan kami.” Ia kembali menatapku dan melanjutkan. “Namaku


Rani, aku merupakan penjaga pribadi Lisa.” Jelasnya.


“Ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan kalian? mengapa


kalian terluka?” tanya Rani, sebelum aku bisa menjawab Rafa memotong


pembicaraan kami. “Sudah cukup, aku harus segera memeriksa mereka,” ucap Rafa.


Rani yang merasa di tegur Rafa segera membungkukkan badannya


lagi. “Ma-maafkan aku, tuan Rafa.”


“Sudah, angkat wajahmu. Bukannya kau seharusnya


beristirahat?” ucap Rafa dengan nada yang menusuk.


Rani yang mendengar ucapan Rafa, tubuhnya langsung terlihat


bergetar. Ia segera membungkukkan badannya lagi. “Maafkan aku!” Rani langsung


masuk kembali ke kamarnya, membanting pintu kayu itu.


Rafa menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. “Benar-benar


wanita itu,” ucapnya.


Arin yang melihat interaksi ini tertawa kecil.


Kami pun melanjutkan langkah kami, sampai akhirnya terhenti


di depan ruangan.


“Kalian tunggulah di sini, aku akan mengantar Lisa ke tempat


lain dulu.” Rafa mempersilahkan Lisa untuk jalan terlebih dahulu. Sebelum pergi


Lisa melihat ke arahku dan Arin lalu melambaikan tangannya. “Sampai ketemu


nanti, Seva.”


Mereka berdua pun pergi meninggalkan aku dan Arin.


Arin tiba-tiba menepuk pundakku. Saat kami saling memandang,

__ADS_1


ia tertawa kecil lalu berkata. “Tidak kusangka, pria yang telah menyelamatkanku


ternyata seorang playboy yang telah menyelamatkan banyak wanita juga.”


“Bukan seperti itu, aku kebetulan menemukan mereka saat sibuk


mencarimu,” ucapku.


Mendengar ucapanku, wajah Arin sedikit memerah. Ia lalu


menundukkan kepalanya. “Oh, seperti itu,” ucapnya dengan nada rendah.


“Tapi Seva, aku benar-benar berterima kasih padamu. Kau telah


menyelamatkanku tidak hanya sekali tapi dua kali.” Arin memalingkan wajahnya ke


arahku. Senyuman muncul perlahan dari bibirnya, menciptakan lengkungan indah


yang begitu alami. Wajahnya terpancar kebahagiaan dan kepuasan, seperti sinar


matahari di tengah hari yang cerah. “Kau adalah pahlawanku, Seva.”


Melihat senyumannya, entah mengapa wajahku terasa hangat. Segera


aku memalingkan wajahku dari pandangannya. “Itu belum seberapa,” ucapku dengan


nada rendah.


Kami menunggu tidak terlalu lama, Rafa datang lalu


mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Arin pergi, sebelumnya ia


bilang ingin berkeliling rumah sakit ini.


Aku dan Rafa memasuki ruangan itu. Kamar rumah sakit itu


terasa tenang, dengan dinding putih bersih yang mencerminkan cahaya dari lampu di


langit-langit ruangan.


Di satu sisi ruangan, terdapat jendela besar yang membiarkan


cahaya matahari senja masuk, memberikan sentuhan hangat. Aroma bunga lavender


yang menyelubungi udara juga memberikan rasa tenang dan menyegarkan.


Rafa mempersilahkanku untuk merebahkan diri di atas kasur. Selama


beberapa menit ke depan Rafa memeriksa kondisiku.


“Tidak ada masalah pada dirimu. Selanjutnya, kau hanya perlu


beristirahat saja,” ucap Rafa.


Aku mengangguk. “Terima kasih, Rafa.”


Rafa tertawa kecil lalu berkata. “Ini sudah tugasku. Sekarang,


kau beristirahatlah.” Rafa pergi meninggalkanku sendiri di dalam kamar.


Aku berbaring di ranjang menatap langit-langit, kutarik


nafas dalam-dalam lalu menutup kedua mataku.


.


..


...


“Wah... Jadi kau ya orangnya.” Suara misterius tiba-tiba


terdengar.


Sesosok bayangan berkabut muncul di hadapanku, dengan wujud


seorang pria. Namun, nada suaranya seperti anak kecil. “Siapa kau?” tanyaku


pada sosok tersebut.


“Hehe, kau orang yang menarik.” Tutur katanya penuh dengan


keceriaan, seolah sedang bermain-main dalam percakapan.


“Jangan khawatir, kita pasti akan segera bertemu.” Sosok tersebut


membalikkan badannya, perlahan pergi menjauh.


“Tunggu! Siapa kau?” aku berteriak memanggil sosok itu. Langkahnya


terhenti, ia melirik sedikit ke arahku. “Mereka menyebutku sebagai Selbest.” Sosok


itu tiba-tiba menghilang dari hadapanku.


Perlahan aku membuka kedua mata, kulihat Arin tertidur lelap


di bangku sebelah ranjangku. Aku pun duduk lalu melihat keluar jendela.

__ADS_1


“Selbest...”


__ADS_2