The Wanderer

The Wanderer
Serangan Balik!


__ADS_3

Lisa menatap Seva dengan tatapan khawatir. Wajahnya dipenuhi


dengan ekspresi ketidakpercayaan dan kekhawatiran saat ia menyaksikan tindakan


kekerasan yang dilakukan oleh Seva. Dia merasakan amarah yang meluap dari dalam


diri Seva.


“Hey, tenanglah.” Gumam Lisa dengan suara lembut.


Seva masih terlihat terengah-engah, kepalan tangannya masih


terjepit erat. Namun, matanya bertemu dengan tatapan khawatir Lisa.


Lisa mendekati Seva, tangannya yang lembut menyentuh lengan Seva


dengan lembut. "Kita ada di sini bersama-sama, sebagai sekutu. Kita dapat


mengatasi ini dengan cara yang lebih baik." bisik Lisa.


Mendengar itu, perlahan kepalan tangan Seva melonggar. Seva


menghela nafas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan pikirannya yang kacau.


Dalam diri Seva ia tidak ingin kehilangan Arin sama seperti


ia kehilangan orang-orang terdekatnya dulu, walaupun ia baru saja bertemu


dengan Arin, perasaan kesamaan dirinya dengan Arin membuat ia merasa sangat


dekat dan tidak ingin hal sama terulang kembali.


“Kau benar, Lisa.” Seva berkata dengan suara mantap. “Ayo,


kita harus segera pergi.”


Lisa mengangguk setuju, dan dengan itu, mereka berenam


memulai langkah mereka ke lorong belakang. Mereka menghadapi pintu yang


terkunci rapat, menantang mereka untuk mencari cara membukanya.


“Kalian mundurlah.” perintah Seva pada kelima wanita itu.


Dalam satu pukulan telak, Seva berhasil menghancurkan pintu


dan dengan cepat mereka semua keluar dari lorong gelap itu.


Mereka semua segera berlari menuju pintu keluar dan berakhir


di sebuah ruangan gelap dengan cahaya minim.


Seva bergegas menuju jendela pada ruangan itu, di luar dia


melihat beberapa bandit itu telah melarikan diri.


“Mereka melarikan diri,” ucap Seva pada kelima wanita itu. “Aku


akan mengikuti mereka, kalian pergilah ke tempat aman.”


“Aku akan pergi denganmu.” Lisa datang menghampiri Seva


menawarkan diri untuk pergi dengannya. Seva menggelengkan kepalanya dan


berkata. “Tidak, kau ikutlah dengan mereka. Aku harus menyelamatkan temanku.”


Lisa tetap bersikeras untuk ikut, namun setelah menerima tolakan


yang tegas dari Seva, akhirnya ia menyerah. “Baiklah, aku akan segera


mengirimkan bantuan.” Seva mengangguk mendengar jawaban Lisa.


Mereka akhirnya berpisah di mana Seva pergi mengikuti kawanan


bandit dan Lisa pergi ke tempat aman untuk mencari bantuan.


...


Aku berlari mengikuti kawanan bandit itu dari belakang,


kulihat jumlah mereka lebih dari sepuluh orang dipimpin oleh pria berbadan

__ADS_1


besar yang menghampiriku saat aku terkurung. Mereka juga membawa sebuah kereta


kuda yang kusimpulkan di dalam kereta itulah Arin berada.


Kulihat salah satu dari mereka menghampiri pria berbadan besar


itu dan berkata. “Bos, bagaimana dengan tahanan yang lain?” Pria besar itu


melihat ke arah bandit yang berkata tadi lalu tersenyum lebar. “Biarkan saja


mereka, gadis pirang ini lebih berharga dari pada tahanan yang lain.” Ucap pria


besar itu.


Aku harus bertidak cepat untuk menyelamatkan Arin dari pria


besar dan kawanan banditnya. Aku berusaha mencari peluang dan merencanakan


langkah selanjutnya.


Dalam kegelapan malam yang menyelimuti diriku dan mereka, aku


melangkah dengan hati-hati, berusaha untuk tidak menarik perhatian dari para bandit.


Setelah beberapa saat, aku menyadari bahwa ada satu anggota


bandit yang tampak agak lengah. Dengan hati-hati, aku mengamati gerak-gerik


anggota tersebut dan mencoba memperkirakan saat yang tepat untuk bertindak.


Tiba-tiba, kesempatan itu muncul. Anggota bandit tersebut


sedang sibuk memperbaiki tali sepatunya yang terlepas. aku melihatnya sebagai


momen yang tepat untuk menyerang.


Dengan gerakan yang cepat dan presisi, aku mendekati anggota


bandit tersebut dari belakang. Dalam sekejap, kulancarkan serangan ke titik


lemahnya. Anggota bandit itu jatuh ke tanah dengan terhuyung-huyung, tak


berdaya.


mendekati kereta kuda. Dengan cepat aku menyelinap masuk ke dalam kereta kuda,


di dalamnya aku melihat Arin tertunduk lesu dengan tangannya terikat erat di


balik badannya.


“Arin,” bisikku.


Mendengar suaraku Arin sedikit terkejut ia langsung menatapku


dengan tatapan penuh harapan, matanya berkaca-kaca.


“Seva?” ucap Arin tidak percaya.


“Pipimu terluka.” Aku mengusap pelan pipinya.


“Kau datang?” Air mata menetes dari mata Arin, ia langsung


menenggelamkam wajahnya ke dadaku.


Aku tidak ingin menghabiskan banyak waktu, segera kulepaskan


tali yang mengikat tangan Arin.


Setelah terlepas Arin langsung memelukku dengan erat, kubalas


pelukannya dengan tepukan halus pada kepala Arin.


“Apa reuninya sudah selesai?” tiba-tiba terdengar suara


berat dari arah belakangku.


Sebelum sempat bertindak, tubuhku terlempar keluar dari


kereta kuda, beruntung aku melepas Arin tepat sebelum aku terlempar.


Dengan susah payah aku mencoba bangkit dan entah kapan para

__ADS_1


bandit sudah mengelilingiku.


Pemimpin bandit itu keluar dari kereta kuda dengan menjambak


rambut Arin lalu melemparnya ke anggota bandit yang lain.


“Cepat, bawa gadis ini pergi!” perintah dari pimpinan bandit


itu.


Dengan cepat beberapa anggota bandit itu pergi membawa Arin


menaiki kuda.


Pimpinan bandit itu menghampiriku yang terduduk di tanah, ia


lalu menendangku dengan keras di area perut.


Aku merasakan rasa sakit yang menusuk di perutku. Namun aku


mencoba tidak menghiraukannya dan bangkit berdiri.


Pimpinan bandit itu melihat diriku yang mencoba bangkit lalu


tertawa dengan nada mengejek. “Kau pikir kau bisa melawan kami? Kau hanyalah


seorang anak kecil yang terjebak dalam urusan besar ini.”


Aku menatap pimpinan bandit itu dengan tajam, walaupun


terluka, aku tidak akan gentar.


Pimpinan bandit itu langsung memerintah bawahannya untuk


melawanku, sedangkan ia segera menaiki kuda dan pergi menyusul anggotanya yang membawa


Arin tadi.


“Minggir kalian!” ucapku dengan tegas.


Para bandit itu hanya membalas dengan tawaan remeh, lalu


salah satu dari mereka maju melancarkan serangan menggunakan sebilah pisau.


Dengan cepat aku menghindar, kufokuskan kekuatan pada


kepalan tanganku lalu dalam satu serangan cepat kutinju perut bandit itu dengan


kuat, membuatnya terhempas jauh.


Melihat perlawananku, para bandit itu terkejut dan mulai


bersiaga. Dua dari mereka terlihat merapalkan mantra, aku sedikit terkejut


ternyata mereka dapat menggunakan sihir.


Dalam keadaan genting, aku teringat perkataan Paul saat


melatihku. ‘Dalam pertarungan kelompok. Ingatlah, kau harus menyerang mereka


yang memiliki jangkauan serangan jauh terlebih dahulu.’


Pikiranku dengan cepat menerapkan ajaran dari Paul. Aku


memperhatikan bandit yang sedang merapalkan mantra, menyadari bahwa mereka


merupakan ancaman utama.


Aku memusatkan kekuatan pada kakiku. Aku menghempaskan


diriku ke arah bandit yang sedang fokus merapalkan mantra, dengan momentum yang


pas, kuputar badanku dan menendang tepat di kepala salah satu dari mereka.


Tendanganku mendarat dengan hantaman yang kuat, membuat bandit itu terlempar ke


belakang dan menabrak rekannya yang lain.


Dampak tendangan itu terasa seketika, bandit-bandit yang


sebelumnya penuh kepercayaan diri menjadi goyah dan terguncang oleh serangan

__ADS_1


tak terduga ini. Wajah mereka memancarkan ketakutan dan kebingungan, sementara aku


dengan cepat mengambil kendali pertarungan ini.


__ADS_2