
Lisa menatap Seva dengan tatapan khawatir. Wajahnya dipenuhi
dengan ekspresi ketidakpercayaan dan kekhawatiran saat ia menyaksikan tindakan
kekerasan yang dilakukan oleh Seva. Dia merasakan amarah yang meluap dari dalam
diri Seva.
“Hey, tenanglah.” Gumam Lisa dengan suara lembut.
Seva masih terlihat terengah-engah, kepalan tangannya masih
terjepit erat. Namun, matanya bertemu dengan tatapan khawatir Lisa.
Lisa mendekati Seva, tangannya yang lembut menyentuh lengan Seva
dengan lembut. "Kita ada di sini bersama-sama, sebagai sekutu. Kita dapat
mengatasi ini dengan cara yang lebih baik." bisik Lisa.
Mendengar itu, perlahan kepalan tangan Seva melonggar. Seva
menghela nafas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan pikirannya yang kacau.
Dalam diri Seva ia tidak ingin kehilangan Arin sama seperti
ia kehilangan orang-orang terdekatnya dulu, walaupun ia baru saja bertemu
dengan Arin, perasaan kesamaan dirinya dengan Arin membuat ia merasa sangat
dekat dan tidak ingin hal sama terulang kembali.
“Kau benar, Lisa.” Seva berkata dengan suara mantap. “Ayo,
kita harus segera pergi.”
Lisa mengangguk setuju, dan dengan itu, mereka berenam
memulai langkah mereka ke lorong belakang. Mereka menghadapi pintu yang
terkunci rapat, menantang mereka untuk mencari cara membukanya.
“Kalian mundurlah.” perintah Seva pada kelima wanita itu.
Dalam satu pukulan telak, Seva berhasil menghancurkan pintu
dan dengan cepat mereka semua keluar dari lorong gelap itu.
Mereka semua segera berlari menuju pintu keluar dan berakhir
di sebuah ruangan gelap dengan cahaya minim.
Seva bergegas menuju jendela pada ruangan itu, di luar dia
melihat beberapa bandit itu telah melarikan diri.
“Mereka melarikan diri,” ucap Seva pada kelima wanita itu. “Aku
akan mengikuti mereka, kalian pergilah ke tempat aman.”
“Aku akan pergi denganmu.” Lisa datang menghampiri Seva
menawarkan diri untuk pergi dengannya. Seva menggelengkan kepalanya dan
berkata. “Tidak, kau ikutlah dengan mereka. Aku harus menyelamatkan temanku.”
Lisa tetap bersikeras untuk ikut, namun setelah menerima tolakan
yang tegas dari Seva, akhirnya ia menyerah. “Baiklah, aku akan segera
mengirimkan bantuan.” Seva mengangguk mendengar jawaban Lisa.
Mereka akhirnya berpisah di mana Seva pergi mengikuti kawanan
bandit dan Lisa pergi ke tempat aman untuk mencari bantuan.
...
Aku berlari mengikuti kawanan bandit itu dari belakang,
kulihat jumlah mereka lebih dari sepuluh orang dipimpin oleh pria berbadan
__ADS_1
besar yang menghampiriku saat aku terkurung. Mereka juga membawa sebuah kereta
kuda yang kusimpulkan di dalam kereta itulah Arin berada.
Kulihat salah satu dari mereka menghampiri pria berbadan besar
itu dan berkata. “Bos, bagaimana dengan tahanan yang lain?” Pria besar itu
melihat ke arah bandit yang berkata tadi lalu tersenyum lebar. “Biarkan saja
mereka, gadis pirang ini lebih berharga dari pada tahanan yang lain.” Ucap pria
besar itu.
Aku harus bertidak cepat untuk menyelamatkan Arin dari pria
besar dan kawanan banditnya. Aku berusaha mencari peluang dan merencanakan
langkah selanjutnya.
Dalam kegelapan malam yang menyelimuti diriku dan mereka, aku
melangkah dengan hati-hati, berusaha untuk tidak menarik perhatian dari para bandit.
Setelah beberapa saat, aku menyadari bahwa ada satu anggota
bandit yang tampak agak lengah. Dengan hati-hati, aku mengamati gerak-gerik
anggota tersebut dan mencoba memperkirakan saat yang tepat untuk bertindak.
Tiba-tiba, kesempatan itu muncul. Anggota bandit tersebut
sedang sibuk memperbaiki tali sepatunya yang terlepas. aku melihatnya sebagai
momen yang tepat untuk menyerang.
Dengan gerakan yang cepat dan presisi, aku mendekati anggota
bandit tersebut dari belakang. Dalam sekejap, kulancarkan serangan ke titik
lemahnya. Anggota bandit itu jatuh ke tanah dengan terhuyung-huyung, tak
berdaya.
mendekati kereta kuda. Dengan cepat aku menyelinap masuk ke dalam kereta kuda,
di dalamnya aku melihat Arin tertunduk lesu dengan tangannya terikat erat di
balik badannya.
“Arin,” bisikku.
Mendengar suaraku Arin sedikit terkejut ia langsung menatapku
dengan tatapan penuh harapan, matanya berkaca-kaca.
“Seva?” ucap Arin tidak percaya.
“Pipimu terluka.” Aku mengusap pelan pipinya.
“Kau datang?” Air mata menetes dari mata Arin, ia langsung
menenggelamkam wajahnya ke dadaku.
Aku tidak ingin menghabiskan banyak waktu, segera kulepaskan
tali yang mengikat tangan Arin.
Setelah terlepas Arin langsung memelukku dengan erat, kubalas
pelukannya dengan tepukan halus pada kepala Arin.
“Apa reuninya sudah selesai?” tiba-tiba terdengar suara
berat dari arah belakangku.
Sebelum sempat bertindak, tubuhku terlempar keluar dari
kereta kuda, beruntung aku melepas Arin tepat sebelum aku terlempar.
Dengan susah payah aku mencoba bangkit dan entah kapan para
__ADS_1
bandit sudah mengelilingiku.
Pemimpin bandit itu keluar dari kereta kuda dengan menjambak
rambut Arin lalu melemparnya ke anggota bandit yang lain.
“Cepat, bawa gadis ini pergi!” perintah dari pimpinan bandit
itu.
Dengan cepat beberapa anggota bandit itu pergi membawa Arin
menaiki kuda.
Pimpinan bandit itu menghampiriku yang terduduk di tanah, ia
lalu menendangku dengan keras di area perut.
Aku merasakan rasa sakit yang menusuk di perutku. Namun aku
mencoba tidak menghiraukannya dan bangkit berdiri.
Pimpinan bandit itu melihat diriku yang mencoba bangkit lalu
tertawa dengan nada mengejek. “Kau pikir kau bisa melawan kami? Kau hanyalah
seorang anak kecil yang terjebak dalam urusan besar ini.”
Aku menatap pimpinan bandit itu dengan tajam, walaupun
terluka, aku tidak akan gentar.
Pimpinan bandit itu langsung memerintah bawahannya untuk
melawanku, sedangkan ia segera menaiki kuda dan pergi menyusul anggotanya yang membawa
Arin tadi.
“Minggir kalian!” ucapku dengan tegas.
Para bandit itu hanya membalas dengan tawaan remeh, lalu
salah satu dari mereka maju melancarkan serangan menggunakan sebilah pisau.
Dengan cepat aku menghindar, kufokuskan kekuatan pada
kepalan tanganku lalu dalam satu serangan cepat kutinju perut bandit itu dengan
kuat, membuatnya terhempas jauh.
Melihat perlawananku, para bandit itu terkejut dan mulai
bersiaga. Dua dari mereka terlihat merapalkan mantra, aku sedikit terkejut
ternyata mereka dapat menggunakan sihir.
Dalam keadaan genting, aku teringat perkataan Paul saat
melatihku. ‘Dalam pertarungan kelompok. Ingatlah, kau harus menyerang mereka
yang memiliki jangkauan serangan jauh terlebih dahulu.’
Pikiranku dengan cepat menerapkan ajaran dari Paul. Aku
memperhatikan bandit yang sedang merapalkan mantra, menyadari bahwa mereka
merupakan ancaman utama.
Aku memusatkan kekuatan pada kakiku. Aku menghempaskan
diriku ke arah bandit yang sedang fokus merapalkan mantra, dengan momentum yang
pas, kuputar badanku dan menendang tepat di kepala salah satu dari mereka.
Tendanganku mendarat dengan hantaman yang kuat, membuat bandit itu terlempar ke
belakang dan menabrak rekannya yang lain.
Dampak tendangan itu terasa seketika, bandit-bandit yang
sebelumnya penuh kepercayaan diri menjadi goyah dan terguncang oleh serangan
__ADS_1
tak terduga ini. Wajah mereka memancarkan ketakutan dan kebingungan, sementara aku
dengan cepat mengambil kendali pertarungan ini.