
Tubuh Suster Lisa perlahan mulai dingin. Tanganku bergetar
hebat, dadaku terasa sangat sesak, hanya ada satu pertanyaan yang menghantui
pikiranku saat ini.
Mengapa? Mengapa ini terjadi? Bukankah tadi pagi semua masih
sama, hari-hari damai yang kita lalui, tapi mengapa sekarang menjadi seperti
ini?
“Su-suster Lisa?” bibirku gemetar mengucapnya.
Suara kobaran api yang melahap bangunan panti asuhan
terdengar sangat keras, bahkan hawa panasnya mulai menusuk tubuh ku.
“Seva!” Terdengar suara teriakan memanggil namaku, siapa?
Ntah mengapa tubuhku terasa sangat lemas, bibirku terasa kaku, aku tak bisa
membalas suara yang memanggilku.
Di pangkuanku Suster Lisa sudah terbujur kaku, aku pun
mencoba sekuat memindahkannya namun sia-sia tubuhku sudah terlalu lemas, aku
pun hanya duduk terdiam di samping tubuh Suster Lisa.
Lalu...
“Seva! Di sini kau rupanya” suara dari arah pintu gudang,
ternyata itu Kak Ani.
Ia langsung berlari ke arahku lalu memelukku dengan erat
namun seketika pandangannya teralihkan ketika melhat tubuh Suster Lisa yang
terbaring kaku.
Aku melihat Kak Ani menutup mulut dengan kedua telapak
tangannya, air mata perlahan mengalir membasahi pipinya, lalu terdengar suara
bergetar keluar dari mulutnya. “Lisa...”
Gelombang emosi mengalir dalam diriku—campuran rasa sedih,
amarah dan bingung. Pikiranku berantakan mencoba memahami kenyataan bahwa
suster Lisa sudah tidak ada.
Aku merasa tangan ku di genggam erat oleh kak Ani, ia
menatapku lalu berkata. “Kita harus segera pergi dari sini.”
Aku hanya terdiam menatapnya, mencoba berkata sesuatu namun
suaraku seperti tertahan tidak bisa keluar.
“Seva!” Kak Ani membentakku dengan suara lantang, membuatku
tersadar dari lamunanku.
“Ta-tapi, bagaimana dengan yang lain?” tanyaku pada Kak Ani.
Ia menggelengkan kepalanya dan berkata. “Mereka telah
tertangkap dan aku tidak mengetahui keberadaan Suster Siska-“ Kak Ani bediri
dari duduknya menatap ke arah luar pintu. “Para penjahat itu berada di area
depan, mereka sedang sibuk membawa anak panti yang lain, jadi ini kesempatan
kita.” Ia menatapku.
Aku pun menganggukkan kepalaku lalu berdiri, Kak Ani langsung
menggenggam erat tanganku, kami berdua segera pergi dari gudang yang perlahan mulai
tersambar kobaran api meninggalkan tubuh Suster Lisa di sana.
__ADS_1
Kami berdua berlari sekencang mungkin melewati halaman panti
asuhan dipenuhi dengan puing-puing yang terbakar.
Setelah kami hampir melewati pagar belakang panti asuhan
menuju hutan, tiba-tiba sebuah anak panah meluncur dengan cepat menusuk bahu
kiri kak Ani.
“Kak Ani!” teriaku panik dari balik pagar.
Dari arah panti terlihat seorang pria menggunakan busur, dia
seketika berteriak. “Hey! Aku menemukan orangnya!”
“Gawat, Seva cepat lari menuju hutan!” Ucap kak Ani yang
berusaha melewati pagar, darah segar mengalir dari bahu kiri kak Ani membuatnya
sedikit kesulitan untuk memanjat pagar itu.
Dengan sekuat tenaga aku mencoba membantu Kak Ani melewati
pagar itu dan berhasil, kami berdua segera berlari menuju ke arah hutan, namun
dari kejauhan aku melihat segerombolan orang berkuda membawa obor menuju ke
arah kami.
“Cepat Seva!” Ucap Kak Ani panik.
Kami pun sampai di perbatasan hutan, dengan nafas
terengah-engah kami memasuki hutan disambut dengan suasana yang gelap, kami
berlari tanpa arah mencoba menghindari kejaran orang-orang berkuda itu.
Kulihat ke arah kak Ani, tangannya berlumuran darah dan ia
terlihat lemas, aku pun memelankan lariku lalu menggandeng lengan kak Ani.
Lari kami tidak secepat tadi karena semakin dalam kami memasuki
hutan jalan setapak pun makin sulit bahkan tidak ada sama sekali, berkali-kali
terlihat sangat lelah ditambah dengan luka di bahu kirinya yang membuat dia harus
menahan rasa sakit juga rasa lelahnya.
Tak jauh di depan secercah cahaya terlihat di ujung
kegelapan hutan ini, sepertinya kami akan segera sampai di penghujung hutan
ini.
“Kak Ani, lihat di depan sana, kita hampir keluar dari hutan
ini.” Ucapku.
Kak Ani hanya tersenyum lalu mengangguk, kami berdua pun
mempercepat lari kami hingga akhirnya sampai di penghujung hutan yang gelap
ini.
Namun...
Langkah kami terhenti, sebuah bibir tebing yang curam dengan
lautan dan ombak ganas di bawahnya menyambut kami.
Kak Ani seketika tersungkur ke tanah, dengan wajah yang terlihat
putus asa ia menatap jauh ke arah lautan yang luas.
“Seva, kau pergilah... tinggalkan aku di sini.” Ucap kak Ani
dengan tatapannya yang terlihat sedih.
Aku menggelengkan kepalaku lalu mencoba menggandeng kak Ani
untuk berdiri lagi.
__ADS_1
“Aku hanya akan menjadi beban, setidaknya kau harus selamat.”
Air mata deras membasahi pipi Kak Ani, gemetar dengan tanda-tanda kelelahan dan
keputusasaan. Bibirnya bergetar, dan tangannya terkepal erat di sampingnya.
Hatiku terasa hancur melihat kak Ani dalam kondisi seperti
ini, meninggalkan kak Ani bukanlah pilihan yang harus kupertimbangkan, aku pun
memeluknya dengan erat dan berkata. “Tidak, mana mungkin aku bisa meninggalkanmu,
kau adalah keluargaku satu-satunya.” Air mata mulai mengalir dari mataku “Kita
pasti bisa melalui ini bersama.”
Kak Ani yang mendengar ucapanku terlihat terkejut, Tatapannya
yang awalnya sedih mulai berubah menjadi harapan yang samar. Air mata yang
mengalir di pipinya mengering perlahan, ia pun melepaskan pelukanku dan
menatapku dengan senyuman. “Maafkan aku, kau benar... aku tidak boleh menyerah.”
Kami berdua pun berdiri, lalu...
Suara tepuk tangan terdengar dari arah hutan, pria beramput
perak muncul dari dalam kegelapan hutan, ia bertepuk tangan dan tersenyum. “Menakjubkan,
sungguh mengharukan sekali melihat ikatan persaudaraan kalian.” Ia berkata lalu
terkekeh.
“Kak Ani mundur!” sontak aku langsung berdiri di depan kak
Ani.
“Apakah aku mengganggu kalian?” Ucap pria itu sambil
mendekat ke arah kami.
Senyuman sinisnya benar-benar membuatku muak, amarah
menggebu-gebu dari dalam diriku. “Apa yang sebenernya kau inginkan?” teriaku
padanya.
Ia hanya terkekeh dan berkata. “apa yang ku inginkan?” tatapannya
benar-benar membuatku bergetar, lalu ia melanjutkan “Semua yang kulakukan
adalah untuk dirinya, untuk mendapatkan cintanya.”
“Dasar sinting! Kau telah membunuh dan menculik orang-orang tidak
bersalah!” ucap Kak Ani yang juga terlihat geram.
“Sudah... tenang saja, kalian juga akan segera menyusul
mereka.” Pria itu pun tertawa lalu menjentikan jarinya, dari dalam hutan yang
gelap, angin berhembus dengan kerasa, membuat dedaunan bergoyang dan
mengeluarkan suara desiran yang mengiris udara, lalu segerombolan orang yang
tadi mengejar kami keluar dari dalam hutan.
Masing-masing dari mereka memegang sebuah busur dan
mengarahkannya pada kami, perasaan ragu dan bingung membuat tubuhku terdiam
kaku, bagaimana aku bisa melawan mereka semua dan melindungi Kak Ani.
“Tembak!” pria berambut perak itu berkata dengan santainya.
Semuanya terasa cepat, Kak Ani tiba-tiba menariku kebelakang
lalu mendorongku ke arah tebing membuatku terjatuh, di saat-saat itu kulihat
anak panah menghujani tubuh Kak Ani, ia melihat ke arahku dengan senyuman dan tatapan
yang hangat, iaberkata. “maafkan aku, teruslah hidup Seva...”
__ADS_1
“Kak Ani!” teriakku, tubuhku terhantam ombak lalu semuanya
menjadi gelap dan dingin.