The Wanderer

The Wanderer
Mimpi Buruk


__ADS_3

Tubuh Suster Lisa perlahan mulai dingin. Tanganku bergetar


hebat, dadaku terasa sangat sesak, hanya ada satu pertanyaan yang menghantui


pikiranku saat ini.


Mengapa? Mengapa ini terjadi? Bukankah tadi pagi semua masih


sama, hari-hari damai yang kita lalui, tapi mengapa sekarang menjadi seperti


ini?


“Su-suster Lisa?” bibirku gemetar mengucapnya.


Suara kobaran api yang melahap bangunan panti asuhan


terdengar sangat keras, bahkan hawa panasnya mulai menusuk tubuh ku.


“Seva!” Terdengar suara teriakan memanggil namaku, siapa?


Ntah mengapa tubuhku terasa sangat lemas, bibirku terasa kaku, aku tak bisa


membalas suara yang memanggilku.


Di pangkuanku Suster Lisa sudah terbujur kaku, aku pun


mencoba sekuat memindahkannya namun sia-sia tubuhku sudah terlalu lemas, aku


pun hanya duduk terdiam di samping tubuh Suster Lisa.


Lalu...


“Seva! Di sini kau rupanya” suara dari arah pintu gudang,


ternyata itu Kak Ani.


Ia langsung berlari ke arahku lalu memelukku dengan erat


namun seketika pandangannya teralihkan ketika melhat tubuh Suster Lisa yang


terbaring kaku.


Aku melihat Kak Ani menutup mulut dengan kedua telapak


tangannya, air mata perlahan mengalir membasahi pipinya, lalu terdengar suara


bergetar keluar dari mulutnya. “Lisa...”


Gelombang emosi mengalir dalam diriku—campuran rasa sedih,


amarah dan bingung. Pikiranku berantakan mencoba memahami kenyataan bahwa


suster Lisa sudah tidak ada.


Aku merasa tangan ku di genggam erat oleh kak Ani, ia


menatapku lalu berkata. “Kita harus segera pergi dari sini.”


Aku hanya terdiam menatapnya, mencoba berkata sesuatu namun


suaraku seperti tertahan tidak bisa keluar.


“Seva!” Kak Ani membentakku dengan suara lantang, membuatku


tersadar dari lamunanku.


“Ta-tapi, bagaimana dengan yang lain?” tanyaku pada Kak Ani.


Ia menggelengkan kepalanya dan berkata. “Mereka telah


tertangkap dan aku tidak mengetahui keberadaan Suster Siska-“ Kak Ani bediri


dari duduknya menatap ke arah luar pintu. “Para penjahat itu berada di area


depan, mereka sedang sibuk membawa anak panti yang lain, jadi ini kesempatan


kita.” Ia menatapku.


Aku pun menganggukkan kepalaku lalu berdiri, Kak Ani langsung


menggenggam erat tanganku, kami berdua segera pergi dari gudang yang perlahan mulai


tersambar kobaran api meninggalkan tubuh Suster Lisa di sana.

__ADS_1


Kami berdua berlari sekencang mungkin melewati halaman panti


asuhan dipenuhi dengan puing-puing yang terbakar.


Setelah kami hampir melewati pagar belakang panti asuhan


menuju hutan, tiba-tiba sebuah anak panah meluncur dengan cepat menusuk bahu


kiri kak Ani.


“Kak Ani!” teriaku panik dari balik pagar.


Dari arah panti terlihat seorang pria menggunakan busur, dia


seketika berteriak. “Hey! Aku menemukan orangnya!”


“Gawat, Seva cepat lari menuju hutan!” Ucap kak Ani yang


berusaha melewati pagar, darah segar mengalir dari bahu kiri kak Ani membuatnya


sedikit kesulitan untuk memanjat pagar itu.


Dengan sekuat tenaga aku mencoba membantu Kak Ani melewati


pagar itu dan berhasil, kami berdua segera berlari menuju ke arah hutan, namun


dari kejauhan aku melihat segerombolan orang berkuda membawa obor menuju ke


arah kami.


“Cepat Seva!” Ucap Kak Ani panik.


Kami pun sampai di perbatasan hutan, dengan nafas


terengah-engah kami memasuki hutan disambut dengan suasana yang gelap, kami


berlari tanpa arah mencoba menghindari kejaran orang-orang berkuda itu.


Kulihat ke arah kak Ani, tangannya berlumuran darah dan ia


terlihat lemas, aku pun memelankan lariku lalu menggandeng lengan kak Ani.


Lari kami tidak secepat tadi karena semakin dalam kami memasuki


hutan jalan setapak pun makin sulit bahkan tidak ada sama sekali, berkali-kali


terlihat sangat lelah ditambah dengan luka di bahu kirinya yang membuat dia harus


menahan rasa sakit juga rasa lelahnya.


Tak jauh di depan secercah cahaya terlihat di ujung


kegelapan hutan ini, sepertinya kami akan segera sampai di penghujung hutan


ini.


“Kak Ani, lihat di depan sana, kita hampir keluar dari hutan


ini.” Ucapku.


Kak Ani hanya tersenyum lalu mengangguk, kami berdua pun


mempercepat lari kami hingga akhirnya sampai di penghujung hutan yang gelap


ini.


Namun...


Langkah kami terhenti, sebuah bibir tebing yang curam dengan


lautan dan ombak ganas di bawahnya menyambut kami.


Kak Ani seketika tersungkur ke tanah, dengan wajah yang terlihat


putus asa ia menatap jauh ke arah lautan yang luas.


“Seva, kau pergilah... tinggalkan aku di sini.” Ucap kak Ani


dengan tatapannya yang terlihat sedih.


Aku menggelengkan kepalaku lalu mencoba menggandeng kak Ani


untuk berdiri lagi.

__ADS_1


“Aku hanya akan menjadi beban, setidaknya kau harus selamat.”


Air mata deras membasahi pipi Kak Ani, gemetar dengan tanda-tanda kelelahan dan


keputusasaan. Bibirnya bergetar, dan tangannya terkepal erat di sampingnya.


Hatiku terasa hancur melihat kak Ani dalam kondisi seperti


ini, meninggalkan kak Ani bukanlah pilihan yang harus kupertimbangkan, aku pun


memeluknya dengan erat dan berkata. “Tidak, mana mungkin aku bisa meninggalkanmu,


kau adalah keluargaku satu-satunya.” Air mata mulai mengalir dari mataku “Kita


pasti bisa melalui ini bersama.”


Kak Ani yang mendengar ucapanku terlihat terkejut, Tatapannya


yang awalnya sedih mulai berubah menjadi harapan yang samar. Air mata yang


mengalir di pipinya mengering perlahan, ia pun melepaskan pelukanku dan


menatapku dengan senyuman. “Maafkan aku, kau benar... aku tidak boleh menyerah.”


Kami berdua pun berdiri, lalu...


Suara tepuk tangan terdengar dari arah hutan, pria beramput


perak muncul dari dalam kegelapan hutan, ia bertepuk tangan dan tersenyum. “Menakjubkan,


sungguh mengharukan sekali melihat ikatan persaudaraan kalian.” Ia berkata lalu


terkekeh.


“Kak Ani mundur!” sontak aku langsung berdiri di depan kak


Ani.


“Apakah aku mengganggu kalian?” Ucap pria itu sambil


mendekat ke arah kami.


Senyuman sinisnya benar-benar membuatku muak, amarah


menggebu-gebu dari dalam diriku. “Apa yang sebenernya kau inginkan?” teriaku


padanya.


Ia hanya terkekeh dan berkata. “apa yang ku inginkan?” tatapannya


benar-benar membuatku bergetar, lalu ia melanjutkan “Semua yang kulakukan


adalah untuk dirinya, untuk mendapatkan cintanya.”


“Dasar sinting! Kau telah membunuh dan menculik orang-orang tidak


bersalah!” ucap Kak Ani yang juga terlihat geram.


“Sudah... tenang saja, kalian juga akan segera menyusul


mereka.” Pria itu pun tertawa lalu menjentikan jarinya, dari dalam hutan yang


gelap, angin berhembus dengan kerasa, membuat dedaunan bergoyang dan


mengeluarkan suara desiran yang mengiris udara, lalu segerombolan orang yang


tadi mengejar kami keluar dari dalam hutan.


Masing-masing dari mereka memegang sebuah busur dan


mengarahkannya pada kami, perasaan ragu dan bingung membuat tubuhku terdiam


kaku, bagaimana aku bisa melawan mereka semua dan melindungi Kak Ani.


“Tembak!” pria berambut perak itu berkata dengan santainya.


Semuanya terasa cepat, Kak Ani tiba-tiba menariku kebelakang


lalu mendorongku ke arah tebing membuatku terjatuh, di saat-saat itu kulihat


anak panah menghujani tubuh Kak Ani, ia melihat ke arahku dengan senyuman dan tatapan


yang hangat, iaberkata. “maafkan aku, teruslah hidup Seva...”

__ADS_1


“Kak Ani!” teriakku, tubuhku terhantam ombak lalu semuanya


menjadi gelap dan dingin.


__ADS_2