The Wanderer

The Wanderer
Cahaya Yang Menerangi Jalan Baru


__ADS_3

Tubuhku terombang-ambing dalam kegelapan tak berujung, aku


dapat merasakan diriku tenggelam lebih dalam.


Entah mengapa aku terpikirkan masa-masa di mana aku masih


berada di panti asuhan. Hembusan angin yang lembut menerpa wajahku, suara tertawa


dari para anak-anak penghuni panti dari kejauhan dan juga senyuman kak Ani


setiap kali ia melihatku.


Kenangan itu, apakah aku bisa merasakannya lagi? Sepertinya tidak


bisa, hari-hari itu sudah tidak ada lagi. Semuanya telah sirna pada malam itu.


Kak Ani sebentar lagi aku akan menyusulmu di sana.


Perasaan apa ini? Apa aku sedang merasakan kedamaian? Semuanya


terasa hening.


“Seva...”


Siapa itu? Aku mendengar seseorang memanggilku dari


kejauhan.


“Seva...”


Kumohon, diamlah.


“Seva... bangunlah!”


Perlahan aku membuka mataku, aku masih berada di tempat gelap


ini. Namun, sebuah cahaya yang menyilaukan terlihat di depanku.


Cahaya itu semakin mendekat menelan kegelapan yang menyelimutiku.


Tubuhku perlahan-lahan bangkit dan aku berdiri di hadapan


cahaya yang semakin mendekat. Ketika cahaya itu mencapai kecerahannya yang


penuh, aku melihat sosok yang berdiri di depanku. Itu adalah kak Ani, dengan


senyum hangat yang terukir di wajahnya.


"Kak Ani..." Sapaku dengan suara yang hampir


terputus.


Ia melangkah mendekatiku dan meraih tanganku dengan lembut.


Perasaan hangat menyusupi tubuhku, seakan-akan memulihkan kekuatan dan semangat


yang telah hilang.


“Seva, kamu tidak sendiri. Aku... tidak, kami semua selalu


ada di sisimu,” ucapnya dengan suara lembut.


Aku merasa air mata mengalir di pipiku, tapi ini bukan air


mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Kak Ani menghapus air mataku


dengan lembut, memberikan ketenangan yang kurindukan.


Aku menghela nafas panjang lalu bertanya. “Apakah kau akan


pergi?”


“Tentu saja tidak, aku selalu disini.” Jawab Kak Ani. “Kalau


begitu, bolehkah aku tinggal?” aku kembali bertanya, aku tidak ingin berpisah


lagi dengan mereka.


Kak Ani mengangguk dan menjawab. “Tentu saja kau boleh


tinggal.” Aku merasa senang dengan jawaban kak Ani, perlahan aku mendekat ke


arahnya.


Namun, langkahku tiba-tiba berhenti. Kak Ani menahanku untuk


tidak mendekat lagi, ia lalu berkata. “Tapi tidak sekarang.”


“Seva, masih banyak yang harus kau lakukan.” Aku menatap

__ADS_1


wajah kak Ani yang tersenyum lalu ia lanjut berkata. “Sekarang, waktunya


untukmu kembali,” ucap kak Ani penuh keyakinan.


“Tapi kak Ani,” ucapku ragu.


Tiba-tiba sesuatu menarikku, aku dengan cepat meraih tangan


kak Ani tidak ingin melepaskannya lagi. Namun, dengan lembut kak Ani menyentuh


tanganku, ia menatapku dengan senyuman tulus di wajahnya.


Entah mengapa seketika aku melepaskan tangan kak Ani bersama


dengan senyum yang terlukis di wajahku. “Selamat tinggal, Kak Ani.”


...


Semuanya kembali gelap, samar-samar aku mendengar suara tangisan


seseorang, suara itu juga memanggil namaku berulang kali.


“Seva... Bangunlah,” ucap suara itu.


Aku sontak membuka mataku, cahaya menyilaukan perlahan


mengisi pandanganku. Tubuhku terasa berat saat aku meraih kesadaran. Napasku


terengah-engah, dan aku merasakan sensasi rasa sakit yang memenuhi setiap serat


tubuhku.


Saat kutoleh ke samping, Arin terduduk di sebelahku dengan


ekspresi wajah yang terkejut dan juga air mata yang mengalir dari pipinya, ia


langsung memelukku dengan sangat erat.


“Seva... Syukurlah, kupikir kau telah mati.” Arin berkata


sambil memelukku dan tidak berhenti menangis.


Aku merasa pusing dan kebingungan. Aku mencoba memahami


situasi di sekitarku, mencari tahu di mana aku berada lalu aku mengingat belati


yang menancap di dadaku.


sana dan juga luka di dadaku telah tertutup.


Aku mencoba bangkit, tiba-tiba terdengar suara seorang pria.


“Ternyata kau masih hidup. Sudah kuduga gadis itu memang spesial.”


Aku mengalihkan pandangan menuju suara itu, terlihat Jack


dengan darah mengalir dari luka di dahinya tersenyum lebar.


“Arin, mundurlah.” Aku mengisyaratkan Arin untuk mundur. Arin


lalu mengangguk setuju, ia segera pergi menjauh.


Dengan kaki gemetar aku mencoba bangkit, namun tanganku


seperti meraba sesuatu. Itu adalah belati pemberian Paul, aku segera mengambilnya


dan berdiri tegap.


Di bawah mentari terbit yang memancarkan sinar keemasan, aku


berdiri di hadapan Jack. Dengan belati pemberian Paul di tanganku, aku


mempersiapkan diri untuk pertarungan penentu ini


Jack, dengan pedangnya yang berkilau, tersenyum sinis seolah


merasa yakin dengan kemenangan yang akan diraihnya. Aku tidak membiarkan


kepercayaan dirinya mengintimidasi diriku.


Pertarungan dimulai saat kami saling mengamati dan mencari


celah di pertahanan masing-masing. Aku melancarkan serangan pertamaku dengan


kecepatan dan kekuatan penuh, berusaha menciptakan tekanan yang tak terduga


pada Jack.


Pedang Jack meluncur dengan lincah, menghalau seranganku. Aku

__ADS_1


bergerak dengan cepat, menggunakan belati untuk memblokir serangan-serangannya.


Setiap gerakan memancarkan kekuatan dan ketepatan yang dimiliki oleh kedua


senjata kami.


Setiap serangan dan tangkisan yang kami lakukan menciptakan


suara tajam yang memecah keheningan pagi.


Api yang membara dalam pertarungan ini memancarkan kekuatan


yang memenuhi udara di sekeliling kami.


Keringat mengalir di wajahku dan napasku terengah-engah,


tetapi aku tidak membiarkan kelelahan menghalangku. Aku terus melancarkan


serangan dengan kecepatan dan ketepatan yang tak tergoyahkan.


Waktu terasa berputar dengan cepat saat pertarungan


berlangsung. Kami saling menyerang dan bertahan dengan kekuatan dan kecepatan


penuh, mencari celah untuk mengakhiri pertarungan ini.


Akhirnya, dengan gerakan yang cepat dan taktis, aku berhasil


mengecoh pertahanan Jack. Belati dalam tanganku menancap di sisi lengannya,


memaksa pedangnya jatuh ke tanah.


Jack yang terkejut terlihat lengah, melihat kesempatan ini


aku langsung menerjang lalu menebas tubuh Jack menggunakan belatiku.


Seketika Jack terjatuh ke tanah, seranganku tadi menyebabkan


luka yang fatal pada tubuh Jack hingga menyebabkan pendarahan hebat. Jack yang


terlihat kesakitan masih sempat untuk tertawa, ia lalu berkata. “Kau... yang


menang.”


Aku menatap Jack yang terkapar di tanah, merasakan kepuasan


dan kemenangan dalam hatiku. Dengan belati yang terangkat tinggi, aku


mengumandangkan kemenangan ini dengan berteriak sekencang-kencangnya.


Arin segera berlari ke arahku, ketika adrenalin mulai


menghilang aku merasa sangat lemas. Dengan cepat Arin menopang tubuhku agar


tidak terjatuh.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Arin, aku hanya menjawab dengan


anggukan kecil.


Dari jauh kami melihat Gerald melambaikan tangannya, di


sampingnya berdiri Lisa dengan senyuman di wajahnya ia juga ikut melambaikan


tangan.


“Bagaimana dengan bos bandit itu?” Arin berkata sambil melihat


Jack yang terkapar.


“Biar Gerald saja yang mengurusnya nanti,” Ucapku dengan


tersenyum.


Kami berdua berjalan menuju tempat Gerald dan Lisa berdiri.


Akhirnya semuanya selesai, pikirku. Pertarungan antara aku


dan Jack yang berlangsung di bawah sinar mentari terbit akan selalu menjadi


bagian penting dalam perjalanan hidupku.


Dalam kemenangan ini, aku meneguhkan tekadku untuk terus


melindungi orang-orang yang kucintai dan berjuang untuk mereka. Aku memandang


ke langit melihat cahaya matahari yang bersinar.


Semangat baru menggebu-gebu dalam hatiku, perjalananku masih

__ADS_1


sangat panjang dan aku siap menghadapi setiap tantangan yang ada di hadapanku.


__ADS_2