
Tubuhku terombang-ambing dalam kegelapan tak berujung, aku
dapat merasakan diriku tenggelam lebih dalam.
Entah mengapa aku terpikirkan masa-masa di mana aku masih
berada di panti asuhan. Hembusan angin yang lembut menerpa wajahku, suara tertawa
dari para anak-anak penghuni panti dari kejauhan dan juga senyuman kak Ani
setiap kali ia melihatku.
Kenangan itu, apakah aku bisa merasakannya lagi? Sepertinya tidak
bisa, hari-hari itu sudah tidak ada lagi. Semuanya telah sirna pada malam itu.
Kak Ani sebentar lagi aku akan menyusulmu di sana.
Perasaan apa ini? Apa aku sedang merasakan kedamaian? Semuanya
terasa hening.
“Seva...”
Siapa itu? Aku mendengar seseorang memanggilku dari
kejauhan.
“Seva...”
Kumohon, diamlah.
“Seva... bangunlah!”
Perlahan aku membuka mataku, aku masih berada di tempat gelap
ini. Namun, sebuah cahaya yang menyilaukan terlihat di depanku.
Cahaya itu semakin mendekat menelan kegelapan yang menyelimutiku.
Tubuhku perlahan-lahan bangkit dan aku berdiri di hadapan
cahaya yang semakin mendekat. Ketika cahaya itu mencapai kecerahannya yang
penuh, aku melihat sosok yang berdiri di depanku. Itu adalah kak Ani, dengan
senyum hangat yang terukir di wajahnya.
"Kak Ani..." Sapaku dengan suara yang hampir
terputus.
Ia melangkah mendekatiku dan meraih tanganku dengan lembut.
Perasaan hangat menyusupi tubuhku, seakan-akan memulihkan kekuatan dan semangat
yang telah hilang.
“Seva, kamu tidak sendiri. Aku... tidak, kami semua selalu
ada di sisimu,” ucapnya dengan suara lembut.
Aku merasa air mata mengalir di pipiku, tapi ini bukan air
mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Kak Ani menghapus air mataku
dengan lembut, memberikan ketenangan yang kurindukan.
Aku menghela nafas panjang lalu bertanya. “Apakah kau akan
pergi?”
“Tentu saja tidak, aku selalu disini.” Jawab Kak Ani. “Kalau
begitu, bolehkah aku tinggal?” aku kembali bertanya, aku tidak ingin berpisah
lagi dengan mereka.
Kak Ani mengangguk dan menjawab. “Tentu saja kau boleh
tinggal.” Aku merasa senang dengan jawaban kak Ani, perlahan aku mendekat ke
arahnya.
Namun, langkahku tiba-tiba berhenti. Kak Ani menahanku untuk
tidak mendekat lagi, ia lalu berkata. “Tapi tidak sekarang.”
“Seva, masih banyak yang harus kau lakukan.” Aku menatap
__ADS_1
wajah kak Ani yang tersenyum lalu ia lanjut berkata. “Sekarang, waktunya
untukmu kembali,” ucap kak Ani penuh keyakinan.
“Tapi kak Ani,” ucapku ragu.
Tiba-tiba sesuatu menarikku, aku dengan cepat meraih tangan
kak Ani tidak ingin melepaskannya lagi. Namun, dengan lembut kak Ani menyentuh
tanganku, ia menatapku dengan senyuman tulus di wajahnya.
Entah mengapa seketika aku melepaskan tangan kak Ani bersama
dengan senyum yang terlukis di wajahku. “Selamat tinggal, Kak Ani.”
...
Semuanya kembali gelap, samar-samar aku mendengar suara tangisan
seseorang, suara itu juga memanggil namaku berulang kali.
“Seva... Bangunlah,” ucap suara itu.
Aku sontak membuka mataku, cahaya menyilaukan perlahan
mengisi pandanganku. Tubuhku terasa berat saat aku meraih kesadaran. Napasku
terengah-engah, dan aku merasakan sensasi rasa sakit yang memenuhi setiap serat
tubuhku.
Saat kutoleh ke samping, Arin terduduk di sebelahku dengan
ekspresi wajah yang terkejut dan juga air mata yang mengalir dari pipinya, ia
langsung memelukku dengan sangat erat.
“Seva... Syukurlah, kupikir kau telah mati.” Arin berkata
sambil memelukku dan tidak berhenti menangis.
Aku merasa pusing dan kebingungan. Aku mencoba memahami
situasi di sekitarku, mencari tahu di mana aku berada lalu aku mengingat belati
yang menancap di dadaku.
sana dan juga luka di dadaku telah tertutup.
Aku mencoba bangkit, tiba-tiba terdengar suara seorang pria.
“Ternyata kau masih hidup. Sudah kuduga gadis itu memang spesial.”
Aku mengalihkan pandangan menuju suara itu, terlihat Jack
dengan darah mengalir dari luka di dahinya tersenyum lebar.
“Arin, mundurlah.” Aku mengisyaratkan Arin untuk mundur. Arin
lalu mengangguk setuju, ia segera pergi menjauh.
Dengan kaki gemetar aku mencoba bangkit, namun tanganku
seperti meraba sesuatu. Itu adalah belati pemberian Paul, aku segera mengambilnya
dan berdiri tegap.
Di bawah mentari terbit yang memancarkan sinar keemasan, aku
berdiri di hadapan Jack. Dengan belati pemberian Paul di tanganku, aku
mempersiapkan diri untuk pertarungan penentu ini
Jack, dengan pedangnya yang berkilau, tersenyum sinis seolah
merasa yakin dengan kemenangan yang akan diraihnya. Aku tidak membiarkan
kepercayaan dirinya mengintimidasi diriku.
Pertarungan dimulai saat kami saling mengamati dan mencari
celah di pertahanan masing-masing. Aku melancarkan serangan pertamaku dengan
kecepatan dan kekuatan penuh, berusaha menciptakan tekanan yang tak terduga
pada Jack.
Pedang Jack meluncur dengan lincah, menghalau seranganku. Aku
__ADS_1
bergerak dengan cepat, menggunakan belati untuk memblokir serangan-serangannya.
Setiap gerakan memancarkan kekuatan dan ketepatan yang dimiliki oleh kedua
senjata kami.
Setiap serangan dan tangkisan yang kami lakukan menciptakan
suara tajam yang memecah keheningan pagi.
Api yang membara dalam pertarungan ini memancarkan kekuatan
yang memenuhi udara di sekeliling kami.
Keringat mengalir di wajahku dan napasku terengah-engah,
tetapi aku tidak membiarkan kelelahan menghalangku. Aku terus melancarkan
serangan dengan kecepatan dan ketepatan yang tak tergoyahkan.
Waktu terasa berputar dengan cepat saat pertarungan
berlangsung. Kami saling menyerang dan bertahan dengan kekuatan dan kecepatan
penuh, mencari celah untuk mengakhiri pertarungan ini.
Akhirnya, dengan gerakan yang cepat dan taktis, aku berhasil
mengecoh pertahanan Jack. Belati dalam tanganku menancap di sisi lengannya,
memaksa pedangnya jatuh ke tanah.
Jack yang terkejut terlihat lengah, melihat kesempatan ini
aku langsung menerjang lalu menebas tubuh Jack menggunakan belatiku.
Seketika Jack terjatuh ke tanah, seranganku tadi menyebabkan
luka yang fatal pada tubuh Jack hingga menyebabkan pendarahan hebat. Jack yang
terlihat kesakitan masih sempat untuk tertawa, ia lalu berkata. “Kau... yang
menang.”
Aku menatap Jack yang terkapar di tanah, merasakan kepuasan
dan kemenangan dalam hatiku. Dengan belati yang terangkat tinggi, aku
mengumandangkan kemenangan ini dengan berteriak sekencang-kencangnya.
Arin segera berlari ke arahku, ketika adrenalin mulai
menghilang aku merasa sangat lemas. Dengan cepat Arin menopang tubuhku agar
tidak terjatuh.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Arin, aku hanya menjawab dengan
anggukan kecil.
Dari jauh kami melihat Gerald melambaikan tangannya, di
sampingnya berdiri Lisa dengan senyuman di wajahnya ia juga ikut melambaikan
tangan.
“Bagaimana dengan bos bandit itu?” Arin berkata sambil melihat
Jack yang terkapar.
“Biar Gerald saja yang mengurusnya nanti,” Ucapku dengan
tersenyum.
Kami berdua berjalan menuju tempat Gerald dan Lisa berdiri.
Akhirnya semuanya selesai, pikirku. Pertarungan antara aku
dan Jack yang berlangsung di bawah sinar mentari terbit akan selalu menjadi
bagian penting dalam perjalanan hidupku.
Dalam kemenangan ini, aku meneguhkan tekadku untuk terus
melindungi orang-orang yang kucintai dan berjuang untuk mereka. Aku memandang
ke langit melihat cahaya matahari yang bersinar.
Semangat baru menggebu-gebu dalam hatiku, perjalananku masih
__ADS_1
sangat panjang dan aku siap menghadapi setiap tantangan yang ada di hadapanku.