The Wanderer

The Wanderer
Secercah Cahaya Dalam Keheningan


__ADS_3

Dalam ketegangan yang melanda, pintu terbuka perlahan,


memperlihatkan sosok pria yang masuk ke dalam ruangan. Aku menegakkan tubuhku,


berusaha melihat dengan jelas siapa yang datang.


Sosok itu merupakan seorang pria berbadan besar, wajahnya


terlihat kasar dan tatapanya yang dingin, membuatku yakin dialah orang yang


bertanggung jawab atas situasi yang kualami sekarang.


Pria itu duduk tepat di hadapanku, ia tersenyum lebar lalu


membuka kain yang menutup mulutku.


“Hey bocah, apa yang kau lakukan di tengah hutan bersama


seorang wanita?” pria itu berbicara dengan nada meledek.


Aku meronta lalu berteriak pada pria itu. “Dimana Arin?!”


aku menatap tajam ke arah pria itu, namun ia hanya tertawa lepas.


Aku berusaha menahan emosi yang meluap-luap, tidak ingin


menunjukkan ketakutanku pada bandit tersebut. Aku tahu bahwa ketakutan hanya


akan memberinya kekuatan atas diriku, dan aku harus mempertahankan kendali atas


situasi ini.


Aku menatap tajam ke arah bandit itu. "Kau telah


membuat kesalahan besar dengan menculik aku. Aku bukanlah orang yang lemah yang


bisa kau manfaatkan. Kau tidak akan pernah berhasil memperoleh apa yang kau


inginkan dariku."


Pria itu tersenyum lebar lalu tertawa lepas. “Darimu? Aku


tidak mengharapkan apapun darimu bocah.” Tiba-tiba pukulan keras darinya


menghantam wajahku.


“Tidak, tidak darimu. Gadis itu, aku pasti dapat untung


besar jika menjualnya.” Pria itu berkata lalu tertawa.


Aku mengangkat wajahku, menatap pria itu dengan tajam. “Jika


kau berani menyentuh Arin, aku pasti akan membunuhmu!” Ucapku dengan amarah


yang memuncak.


Pria itu hanya tersenyum lalu berdiri, dengan cepat ia


menendang wajahku yang dari tadi menatapnya. Tendangannya sangat keras sampai


membuat luka pada dahiku, darah menetes keluar dari dahiku, namun aku tidak


bergeming.


Aku mengangkat wajahku, darah mengalir dari luka di dahiku.


Tatapanku tajam menembus mata pria besar itu. "Jika kau berani menyentuh


Arin, kubunuh kau!" Ucapku dengan suara yang penuh kemarahan, suara yang


memenuhi ruangan tersebut.


Pria itu terkejut sejenak, namun tidak lama kemudian


wajahnya tertawa licik. "Kau bicara besar, bocah. Tapi lihatlah, apa yang


bisa kau lakukan dalam keadaan seperti ini?" Sambil berkata, ia melangkah mundur


dengan senyuman sombong di wajahnya.


Pria itu membalikan badannya pergi menuju pintu. “Tunggu!


Jangan pergi, bajingan!”  Teriakku dengan


sekuat tenaga. Aku meronta-ronta mencoba melepaskan diri, namun sangat sulit


dikarenakan tanganku yang terikat pada tiang kayu ruangan ini.


Pria itu melangkah menuju pintu dengan langkah yang mantap.


Ia menoleh sekilas ke arahku dengan senyuman mengejek sebelum akhirnya


menghilang dari pandanganku. Kini aku terdiam sendirian di ruangan yang gelap,

__ADS_1


terikat pada tiang kayu yang kuat.


Dalam keheningan yang mencekam, aku berusaha meraih kekuatan


dalam diriku. Meski terjebak dalam situasi yang sulit, aku tidak boleh


menyerah. Aku harus menemukan cara untuk membebaskan diriku dan mencari Arin.


aku mulai mencari-cari celah atau benda yang bisa membantu melonggarkan ikatan.


Namun, ruangan ini terlalu gelap aku tidak bisa melihat


apapun. Meski begitu aku tetap berusah melepaskan ikatan ini, apapun caranya.


...


Dilain tempat, Arin terbangun di dalam ruangan yang gelap


dengan sumber cahaya remang dari sebuah lilin yang menyala. Kedua tangannya


terikat di atas kepalanya, ia mencoba melepaskan ikatan itu namun tidak bisa.


“Di mana ini?” Arin berkata dengan wajah yang bingung dan


ketakutan.


Arin melihat sekeliling ruangan gelap itu, ia mencari


keberadaan Seva tapi tidak ada tanda keberadaanya di ruangan ini. Arin


merasakan kecemasan yang  memenuhi


dadanya, kekhawatiran dan rasa takut mempengaruhi pikirannya.


“Seva!” Arin berteriak memanggil nama Seva dengan suara


tercekat. Namun bukannya Seva yang datang, melainkan seorang pria kurus masuk


dari pintu kayu di ruangan itu.


“Berisik!” Pria kurus itu berkata dengan nada kasar, ia


perlahan menghampiri Arin yang terikat.


“Jika kau berteriak lagi.” Pria kurus itu mengeluarkan


sebilah pisau tajam dari sakunya lalu mengacungkan pisau itu tepat di leher


Arin. “Aku tidak akan segan-segan.” Pria kurus itu tertawa dengan nada yang


Perlahan pisau itu di arahkan ke pipi kanan Arin. Dengan


gerakan malasnya pria itu membaret pipi Arin, menyebabkan luka tipis pada pipi


kanan Arin.


Arin merasakan desiran rasa sakit pada pipi kanannya.


Tatapan matanya penuh dengan ketakutan dan kepanikan. Dia berjuang untuk tetap


tenang meskipun jantungnya berdegup kencang. Wajahnya mencerminkan kebingungan


dan keputusasaan.


Air mata perlahan keluar dari mata Arin, ia tidak dapat


menahan rasa takutnya. Pria kurus melihat Arin yang menangis tertawa


kegirangan. “Ya, betul menangislah. Ekpresi ketakutanmu itu sangat memuaskan


untuk di lihat.” Senyuman mengerikan pria kurus itu membuat Arin semakin merasa


takut.


Tiba-tiba sesuatu yang keras menghantam pintu kayu ruangan


itu, sosok pria besar yang tadi bersama Seva sudah berdiri tegap di depan pintu


kayu itu dengan tatapan yang mengerikan.


“Apa yang kau lakukan?” tegur pria besar itu.


Pria besar itu melihat luka pada pipi Arin, ia lalu menatap


pria kurus itu dengan penuh amarah. Dengan cepat ia menarik kerah baju pria


kurus itu. “Apa yang kau lakukan bodoh!” teriak pria besar itu.


Pria kecil terlihat ketakutan. “Gadis ini tadi berteriak,


aku hanya memberinya sedikit pelajaran.” Ucap pria kecil dengan suara bergetar


ketakutan.

__ADS_1


“Dasar bodoh! Harga jual gadis ini akan berkurang jika


terdapat luka di tubuhnya.” Pria itu berkata dengan kasar, lalu melempar pria


kecil itu kesudut ruangan.


Pria kecil itu mengerang kesakitan di sudut ruangan, Arin


yang melihatnya terkejut.


Pria besar itu menghampiri Arin yang sedang ketakutan, ia


lalu memegang pipi Arin dengan kasar membuat Arin mengerang kesakitan.


“Jika kau berani macam-macam, aku akan membunuh bocah tengik


yang bersamamu dan juga dirimu. Ingat itu!” Ancam pria besar itu pada Arin.


“Hei bodoh! Cepat keluar dari ruangan ini.” Pria besar itu


memerintah pria kecil itu untuk segera pergi dari ruangan.


Dengan cepat pria kecil itu pergi keluar, di ikuti dengan


pria besar dari belakang lalu menutup pintu kayu itu dengan kasar.


Ruangan itu kembali sunyi, Arin menangis menatap ke bawah.


Setelah beberapa saat menangis, Arin merasakan rasa putus


asa dan takut yang begitu besar. Tubuhnya gemetar, pikirannya dipenuhi dengan


kecemasan akan nasibnya yang tidak pasti. Segala harapan seakan pudar begitu


saja.


Arin merasa terjebak dalam kegelapan ruangan yang mencekam.


Dia merasakan tekanan berat di dadanya dan rasanya sulit untuk bernafas. Air


mata terus mengalir dari matanya.


Arin meratap sendiri, terjebak dalam pikiran gelap yang


menyelimuti dirinya. Dia merasa sendirian dan tak berdaya. Semua harapannya


sirna, dan dia tak tahu apa yang akan terjadi padanya dan pada Seva.


Dalam keadaan yang penuh ketakutan, Arin berlutut di lantai


dingin ruangan itu. Dalam keheningan yang membingungkan, dia hanya bisa


menggenggam erat tangannya dan berdoa agar ada cahaya dalam kegelapan yang


menghantamnya.


“Seva, kumohon datanglah.” Ucap Arin dengan suara pelan.


...


Sudah berapa lama aku terkurung di tempat ini? Apa yang


harus kulakukan?


Aku duduk terdiam di ruangan yang gelap ini, tanganku yang


terikat kuat terlihat bekas luka merah dan lecet di sekitar pergelangan tangan.


Garis-gari goresan tampak jelas, setiap gesekan keras saat aku mencoba membebaskan


diri.


Dalam situasi penuh keputusasaan ini, aku berusaha mengatasi


sensasi sakit yang menghantuiku. Setiap napas yang kuhembuskan terasa berat,


seolah-olah rasa sakit itu merasuk lebih dalam ke dalam diriku.


Namun, mengapa aku terus mendengar suaranya dalam pikiranku.


Suara Arin terus berputar ulang di kepalaku. ‘Seva, kumohon datanglah.’ Setiap kali


aku memikirkan suara itu, getaran kuat terasa di dadaku. Rasanya panas, tubuhku


seperti terbakar kobaran api yang hebat.


Tanpa kusadari seluruh tubuhku mengeluarkan uap panas dan


aku tertawa dengan lepas.


Aku tidak akan membiarkan ini berakhir begitu saja, aku


belum membalaskan dendamku dan aku tidak akan membiarkan orang-orang terdekatku

__ADS_1


tersakiti lagi.


__ADS_2