
Dalam ketegangan yang melanda, pintu terbuka perlahan,
memperlihatkan sosok pria yang masuk ke dalam ruangan. Aku menegakkan tubuhku,
berusaha melihat dengan jelas siapa yang datang.
Sosok itu merupakan seorang pria berbadan besar, wajahnya
terlihat kasar dan tatapanya yang dingin, membuatku yakin dialah orang yang
bertanggung jawab atas situasi yang kualami sekarang.
Pria itu duduk tepat di hadapanku, ia tersenyum lebar lalu
membuka kain yang menutup mulutku.
“Hey bocah, apa yang kau lakukan di tengah hutan bersama
seorang wanita?” pria itu berbicara dengan nada meledek.
Aku meronta lalu berteriak pada pria itu. “Dimana Arin?!”
aku menatap tajam ke arah pria itu, namun ia hanya tertawa lepas.
Aku berusaha menahan emosi yang meluap-luap, tidak ingin
menunjukkan ketakutanku pada bandit tersebut. Aku tahu bahwa ketakutan hanya
akan memberinya kekuatan atas diriku, dan aku harus mempertahankan kendali atas
situasi ini.
Aku menatap tajam ke arah bandit itu. "Kau telah
membuat kesalahan besar dengan menculik aku. Aku bukanlah orang yang lemah yang
bisa kau manfaatkan. Kau tidak akan pernah berhasil memperoleh apa yang kau
inginkan dariku."
Pria itu tersenyum lebar lalu tertawa lepas. “Darimu? Aku
tidak mengharapkan apapun darimu bocah.” Tiba-tiba pukulan keras darinya
menghantam wajahku.
“Tidak, tidak darimu. Gadis itu, aku pasti dapat untung
besar jika menjualnya.” Pria itu berkata lalu tertawa.
Aku mengangkat wajahku, menatap pria itu dengan tajam. “Jika
kau berani menyentuh Arin, aku pasti akan membunuhmu!” Ucapku dengan amarah
yang memuncak.
Pria itu hanya tersenyum lalu berdiri, dengan cepat ia
menendang wajahku yang dari tadi menatapnya. Tendangannya sangat keras sampai
membuat luka pada dahiku, darah menetes keluar dari dahiku, namun aku tidak
bergeming.
Aku mengangkat wajahku, darah mengalir dari luka di dahiku.
Tatapanku tajam menembus mata pria besar itu. "Jika kau berani menyentuh
Arin, kubunuh kau!" Ucapku dengan suara yang penuh kemarahan, suara yang
memenuhi ruangan tersebut.
Pria itu terkejut sejenak, namun tidak lama kemudian
wajahnya tertawa licik. "Kau bicara besar, bocah. Tapi lihatlah, apa yang
bisa kau lakukan dalam keadaan seperti ini?" Sambil berkata, ia melangkah mundur
dengan senyuman sombong di wajahnya.
Pria itu membalikan badannya pergi menuju pintu. “Tunggu!
Jangan pergi, bajingan!” Teriakku dengan
sekuat tenaga. Aku meronta-ronta mencoba melepaskan diri, namun sangat sulit
dikarenakan tanganku yang terikat pada tiang kayu ruangan ini.
Pria itu melangkah menuju pintu dengan langkah yang mantap.
Ia menoleh sekilas ke arahku dengan senyuman mengejek sebelum akhirnya
menghilang dari pandanganku. Kini aku terdiam sendirian di ruangan yang gelap,
__ADS_1
terikat pada tiang kayu yang kuat.
Dalam keheningan yang mencekam, aku berusaha meraih kekuatan
dalam diriku. Meski terjebak dalam situasi yang sulit, aku tidak boleh
menyerah. Aku harus menemukan cara untuk membebaskan diriku dan mencari Arin.
aku mulai mencari-cari celah atau benda yang bisa membantu melonggarkan ikatan.
Namun, ruangan ini terlalu gelap aku tidak bisa melihat
apapun. Meski begitu aku tetap berusah melepaskan ikatan ini, apapun caranya.
...
Dilain tempat, Arin terbangun di dalam ruangan yang gelap
dengan sumber cahaya remang dari sebuah lilin yang menyala. Kedua tangannya
terikat di atas kepalanya, ia mencoba melepaskan ikatan itu namun tidak bisa.
“Di mana ini?” Arin berkata dengan wajah yang bingung dan
ketakutan.
Arin melihat sekeliling ruangan gelap itu, ia mencari
keberadaan Seva tapi tidak ada tanda keberadaanya di ruangan ini. Arin
merasakan kecemasan yang memenuhi
dadanya, kekhawatiran dan rasa takut mempengaruhi pikirannya.
“Seva!” Arin berteriak memanggil nama Seva dengan suara
tercekat. Namun bukannya Seva yang datang, melainkan seorang pria kurus masuk
dari pintu kayu di ruangan itu.
“Berisik!” Pria kurus itu berkata dengan nada kasar, ia
perlahan menghampiri Arin yang terikat.
“Jika kau berteriak lagi.” Pria kurus itu mengeluarkan
sebilah pisau tajam dari sakunya lalu mengacungkan pisau itu tepat di leher
Arin. “Aku tidak akan segan-segan.” Pria kurus itu tertawa dengan nada yang
Perlahan pisau itu di arahkan ke pipi kanan Arin. Dengan
gerakan malasnya pria itu membaret pipi Arin, menyebabkan luka tipis pada pipi
kanan Arin.
Arin merasakan desiran rasa sakit pada pipi kanannya.
Tatapan matanya penuh dengan ketakutan dan kepanikan. Dia berjuang untuk tetap
tenang meskipun jantungnya berdegup kencang. Wajahnya mencerminkan kebingungan
dan keputusasaan.
Air mata perlahan keluar dari mata Arin, ia tidak dapat
menahan rasa takutnya. Pria kurus melihat Arin yang menangis tertawa
kegirangan. “Ya, betul menangislah. Ekpresi ketakutanmu itu sangat memuaskan
untuk di lihat.” Senyuman mengerikan pria kurus itu membuat Arin semakin merasa
takut.
Tiba-tiba sesuatu yang keras menghantam pintu kayu ruangan
itu, sosok pria besar yang tadi bersama Seva sudah berdiri tegap di depan pintu
kayu itu dengan tatapan yang mengerikan.
“Apa yang kau lakukan?” tegur pria besar itu.
Pria besar itu melihat luka pada pipi Arin, ia lalu menatap
pria kurus itu dengan penuh amarah. Dengan cepat ia menarik kerah baju pria
kurus itu. “Apa yang kau lakukan bodoh!” teriak pria besar itu.
Pria kecil terlihat ketakutan. “Gadis ini tadi berteriak,
aku hanya memberinya sedikit pelajaran.” Ucap pria kecil dengan suara bergetar
ketakutan.
__ADS_1
“Dasar bodoh! Harga jual gadis ini akan berkurang jika
terdapat luka di tubuhnya.” Pria itu berkata dengan kasar, lalu melempar pria
kecil itu kesudut ruangan.
Pria kecil itu mengerang kesakitan di sudut ruangan, Arin
yang melihatnya terkejut.
Pria besar itu menghampiri Arin yang sedang ketakutan, ia
lalu memegang pipi Arin dengan kasar membuat Arin mengerang kesakitan.
“Jika kau berani macam-macam, aku akan membunuh bocah tengik
yang bersamamu dan juga dirimu. Ingat itu!” Ancam pria besar itu pada Arin.
“Hei bodoh! Cepat keluar dari ruangan ini.” Pria besar itu
memerintah pria kecil itu untuk segera pergi dari ruangan.
Dengan cepat pria kecil itu pergi keluar, di ikuti dengan
pria besar dari belakang lalu menutup pintu kayu itu dengan kasar.
Ruangan itu kembali sunyi, Arin menangis menatap ke bawah.
Setelah beberapa saat menangis, Arin merasakan rasa putus
asa dan takut yang begitu besar. Tubuhnya gemetar, pikirannya dipenuhi dengan
kecemasan akan nasibnya yang tidak pasti. Segala harapan seakan pudar begitu
saja.
Arin merasa terjebak dalam kegelapan ruangan yang mencekam.
Dia merasakan tekanan berat di dadanya dan rasanya sulit untuk bernafas. Air
mata terus mengalir dari matanya.
Arin meratap sendiri, terjebak dalam pikiran gelap yang
menyelimuti dirinya. Dia merasa sendirian dan tak berdaya. Semua harapannya
sirna, dan dia tak tahu apa yang akan terjadi padanya dan pada Seva.
Dalam keadaan yang penuh ketakutan, Arin berlutut di lantai
dingin ruangan itu. Dalam keheningan yang membingungkan, dia hanya bisa
menggenggam erat tangannya dan berdoa agar ada cahaya dalam kegelapan yang
menghantamnya.
“Seva, kumohon datanglah.” Ucap Arin dengan suara pelan.
...
Sudah berapa lama aku terkurung di tempat ini? Apa yang
harus kulakukan?
Aku duduk terdiam di ruangan yang gelap ini, tanganku yang
terikat kuat terlihat bekas luka merah dan lecet di sekitar pergelangan tangan.
Garis-gari goresan tampak jelas, setiap gesekan keras saat aku mencoba membebaskan
diri.
Dalam situasi penuh keputusasaan ini, aku berusaha mengatasi
sensasi sakit yang menghantuiku. Setiap napas yang kuhembuskan terasa berat,
seolah-olah rasa sakit itu merasuk lebih dalam ke dalam diriku.
Namun, mengapa aku terus mendengar suaranya dalam pikiranku.
Suara Arin terus berputar ulang di kepalaku. ‘Seva, kumohon datanglah.’ Setiap kali
aku memikirkan suara itu, getaran kuat terasa di dadaku. Rasanya panas, tubuhku
seperti terbakar kobaran api yang hebat.
Tanpa kusadari seluruh tubuhku mengeluarkan uap panas dan
aku tertawa dengan lepas.
Aku tidak akan membiarkan ini berakhir begitu saja, aku
belum membalaskan dendamku dan aku tidak akan membiarkan orang-orang terdekatku
__ADS_1
tersakiti lagi.