
Namaku Arin, aku dibesarkan di sebuah Panti Asuhan. Tempat
yang nyaman dan para suster di sana juga baik-baik.
Namun pada suatu hari, sekelompok orang bersenjata menyerang
panti asuhan kami, mereka menculik para anak-anak di panti asuhan dan membunuh
suster juga pastur di sana.
Saat itu aku berhasil melarikan diri bersama sahabatku, ia
bernama Mona. Namun di saat kami pikir sudah selamat, seorang pria dengan
rambut perak menyergap kami. Aku masih mengingat persis tawa licik yang keluar
dari pria berambut perak itu.
Mona berusaha melawannya untuk mengulur waktu tapi sia-sia,
ia terbunuh di hadapanku. Meninggalkan luka yang sangat dalam pada diriku, kata-kata
terakhir yang kuingat darinya adalah ‘Larilah, selamatkan dirimu Arin.’
Aku pun berlari sekuat tenaga tanpa arah, dengan air mata
yang terus mengalir dan juga luka-luka di tubuhku, akhirnya aku dapat pergi
dari kejaran mereka.
Meski begitu aku terus berlari dan berlari. Di saat hari mulai
gelap, aku bersembunyi di dalam gua yang kutemukan. Sampai suatu hari aku
sedang berjalan menuju sungai untuk minum, tiba-tiba aku terjatuh ke sungai dan
terbawa arusnya, di saat itulah aku bertemu denganmu, Seva.
...
Mendengar cerita dari Arin, membuatku terduduk diam. Arin
mengalami nasib yang sama denganku, dia juga merupakan korban kekejaman yang
tak terbayangkan. Aku merasakan kepedihan dan kehilangan yang mendalam
terpancar dari dirinya.
Arin menundukkan kepalanya, dan aku merasa ada kesedihan
yang begitu besar dalam hatinya. Aku mengulurkan tanganku lalu mengusap
kepalanya dengan lembut, rambut pirangnnya terasa lembut di tanganku. “Arin, kamu
tidak sendiri. Aku juga mengalami hal yang sama denganmu.” Arin mengangkat
kepalanya dan bertatap mata denganku. “Benarkah?” Jawab Arin.
“Ya, Hal yang sama juga terjadi padaku satu tahun yang lalu.
Berbeda denganmu aku diselamatkan oleh seseorang.” Aku terdiam sejenak lalu
melanjutkan. “Berlari sendirian dan bersembunyi selama beberapa hari di hutan
yang lebat ini, Kau hebat Arin.” Aku menatapnya tersenyum.
Setelah bertatap mata sejenak, Arin menganggukkan kepala
dengan perlahan. Ada kelegaan yang terpancar dari wajahnya.
“Seva, apa yang harus kulakukan mulai sekarang?” tanya Arin dengan suara lemah, Aku merenung
sejenak lalu berkata. “Hal itu, kau sendiri yang harus memutuskan.”
Arin kembali terdiam, ia terlihat seperti memikirkan
sesuatu.
Setelah beberapa saat duduk di pinggir sungai, Arin menoleh
ke arahku dengan wajah penuh rasa penasaran. "Seva, setelah ini kamu mau
pergi ke mana?"
__ADS_1
Aku memandang balik Arin. “Aku akan pergi ke pusat kota perdagangan
Warenburg.” Jawabku sambil melihat ke atas.
“hmmm... kota yang terkenal sebagai pusat perdagangan itu
ya?” Tanya Arin.
“Ya betul, Paul. Maksudku guruku pernah bercerita, jika aku
ingin melakukan perjalanan, kota itu tempat yang cocok untuk memulainya.” Jelasku
pada Arin. “Bagaimana denganmu?”
Arin terlihat berpikir sejenak, wajahnya terlihat ragu lalu
ia kembali menatapku. “Bagaimana jika aku ikut dengan mu sampai ke Warenburg?” Arin
bertanya dengan wajah antusiasnya.
Aku sedikit terkejut mendengar permintaan Arin untuk ikut
dengaku ke Warenburg. Aku tidak langsung menjawab melainkan berpikir sejenak,
mempertimbangkan keadaan dan risiko perjalanan.
“Hey, Seva!” Arin menepuk pundakku menyadarkanku dari
lamunanku. “Bagaimana?” Tanya Arin dengan mata berbinar menatapku.
“Kita kan baru saja bertemu, mengapa kau tiba-tiba ingin
ikut bersamaku?” tanyaku pada Arin.
Arin lalu tertawa geli dan tersenyum. “Ntah mengapa saat
pertama melihatmu aku merasa familiar denganmu dan juga kamu telah menyelamatkanku.
Aku yakin kamu pasti orang baik.”
Aku menghela nafas panjang lalu berkata. “Baiklah.” Mendengar
persetujuanku Arin melompat kegirangan.
Kulihat hari mulai gelap, aku menyarankan Arin untuk ikut ke
tenda milikku. Setelah sampai kupersilahkan Arin memakan ikan yang kubakar tadi
lalu kusarankan ia tidur di dalam tendaku, sedangkan aku berjaga di luar.
Awalnya Arin tidak setuju namun setelah beberapa kali
kubujuk akhirnya dia mau juga dan segera masuk ke dalam tenda untuk tidur.
Ketika Arin sudah tertidur di dalam tenda, aku duduk di luar
sambil memandangi api unggun yang semakin redup. Ntah mengapa aku merasa lega,
selama perjalanan ini aku selalu sendiri, setelah memikirkan besok aku akan
memulai perjalanan dengan seseorang hatiku merasa senang.
Rasa kantuk mulai menghampiri, mataku terasa berat. Kuputuskan
untuk duduk bersandar pada pohon dekat tendaku berdiri, kupejamkan mataku untuk
beristirahat sejenak, perlahan rasa kantuk mulai menyelimuti hingga akhirnya aku
tertidur lelap.
...
Gelap...
Tempat ini lagi...
Kegelapan yang tak berujung mengelilingiku dan juga secercah
cahaya yang redup terlihat di depanku. Kak Ani dan para penghuni panti berdiri
di sana dengan wajah mereka yang datar.
Mimpi ini selalu datang di saat yang tak terduga, sampai aku
__ADS_1
sudah terbiasa melihatnya. Namun mimpi satu ini berbeda.
Satu per satu penghuni panti terbakar kobaran api yang besar,
suara teriakan mereka menyayat hatiku.
Mereka terbakar semua hingga hanya menyisakan Kak Ani yang
masih berdiri diam, di antara tubuh para penghuni panti yang sudah hangus terbakar.
“Kak Ani?” Kucoba memanggilnya dengan suara bergetar.
Terlihat Kak Ani membuka mulutnya, namun seketika kakiku
terasa lemas membuatku terjatuh duduk, mataku terbuka lebar dan jantungku
berdetak dengan sangat kencang. Darah segar mengalir keluar dari setiap lubang
di wajah Kak Ani.
“Se...va...” Kak Ani memanggilku dengan suara yang serak.
Tubuh Kak Ani seketika jatuh di tengah genangan cairan
berwarna merah, tiba-tiba Kak Ani bergerak mengeluarkan suara seperti patahan
tulang, dengan gerakan patah-patah ia merangkak ke arahku.
“Ti-Tidak! Menjauh!” Teriakku panik, Jantungku berdetak
sangat kencang, keringat mengalir hebat dari pelipisku. Kak Ani mulai mendekat,
tubuhku terasa kaku tidak bisa kugerakkan.
Sampai akhirnya Kak Ani berhenti tepat di hadapanku, wajahnya
yang dipenuhi dengan cairan merah membuat bulu kudukku berdiri. Air mata berwarna
merah terus mengalir dari mata Kak Ani, tangan kanannya perlahan bergerak lalu
menyentuh pipi kananku.
Kulihat Kak Ani perlahan membuka mulutnya, dengan suara yang
serak ia berkata. “Ba-Ba..ngun, Seva...”
Tatapan matanya terasa seperti menariku tenggelam di lautan
kegelapan ini, sampai akhirnya semuanya gelap.
...
Aku sontak kaget terbangun dari mimpi buruk itu, tubuhku
dipenuhi keringat dan jantungku berdebar hebat.
Kucoba tenangkan diriku, namun ada yang aneh. Saat aku
benar-benar tersadar, aku merasa kedua tanganku terikat kencang di belakangku
dan juga mulutku tersumpal dengan kain. Aku melihat sekelilingku, tempat ini gelap
aku tidak bisa melihat apapun. Kucoba berteriak namun sia-sia, suaraku teredap
dengan kain yang menutup mulutku.
‘Bagaimana aku bisa ada di situasi ini? Apa yang terjadi? Siapa
yang melakukannya?’ Semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiranku, rasa
tegang dan tak menentu terasa semakin kuat di dalam hatiku.
Aku pun teringat dengan Arin, di mana dia? Apakah dia baik-baik
saja? Sial, bagaimanapun juga aku harus bisa membebaskan diri dari tempat ini.
Setelah beberapa saat, terdengar suara langkah kaki mendekat
ke arah tempatku di sekap. Hatiku berdegup semakin cepat, dan rasa cemas
semakin menguasai pikiranku. Siapa yang akan datang? Apakah mereka teman atau
musuh? Bagaimana aku bisa melepaskan diri dari ikatan ini?
__ADS_1