The Wanderer

The Wanderer
Pertanda Buruk


__ADS_3

Namaku Arin, aku dibesarkan di sebuah Panti Asuhan. Tempat


yang nyaman dan para suster di sana juga baik-baik.


Namun pada suatu hari, sekelompok orang bersenjata menyerang


panti asuhan kami, mereka menculik para anak-anak di panti asuhan dan membunuh


suster juga pastur di sana.


Saat itu aku berhasil melarikan diri bersama sahabatku, ia


bernama Mona. Namun di saat kami pikir sudah selamat, seorang pria dengan


rambut perak menyergap kami. Aku masih mengingat persis tawa licik yang keluar


dari pria berambut perak itu.


Mona berusaha melawannya untuk mengulur waktu tapi sia-sia,


ia terbunuh di hadapanku. Meninggalkan luka yang sangat dalam pada diriku, kata-kata


terakhir yang kuingat darinya adalah ‘Larilah, selamatkan dirimu Arin.’


Aku pun berlari sekuat tenaga tanpa arah, dengan air mata


yang terus mengalir dan juga luka-luka di tubuhku, akhirnya aku dapat pergi


dari kejaran mereka.


Meski begitu aku terus berlari dan berlari. Di saat hari mulai


gelap, aku bersembunyi di dalam gua yang kutemukan. Sampai suatu hari aku


sedang berjalan menuju sungai untuk minum, tiba-tiba aku terjatuh ke sungai dan


terbawa arusnya, di saat itulah aku bertemu denganmu, Seva.


...


Mendengar cerita dari Arin, membuatku terduduk diam. Arin


mengalami nasib yang sama denganku, dia juga merupakan korban kekejaman yang


tak terbayangkan. Aku merasakan kepedihan dan kehilangan yang mendalam


terpancar dari dirinya.


Arin menundukkan kepalanya, dan aku merasa ada kesedihan


yang begitu besar dalam hatinya. Aku mengulurkan tanganku lalu mengusap


kepalanya dengan lembut, rambut pirangnnya terasa lembut di tanganku. “Arin, kamu


tidak sendiri. Aku juga mengalami hal yang sama denganmu.” Arin mengangkat


kepalanya dan bertatap mata denganku. “Benarkah?” Jawab Arin.


“Ya, Hal yang sama juga terjadi padaku satu tahun yang lalu.


Berbeda denganmu aku diselamatkan oleh seseorang.” Aku terdiam sejenak lalu


melanjutkan. “Berlari sendirian dan bersembunyi selama beberapa hari di hutan


yang lebat ini, Kau hebat Arin.” Aku menatapnya tersenyum.


Setelah bertatap mata sejenak, Arin menganggukkan kepala


dengan perlahan. Ada kelegaan yang terpancar dari wajahnya.


“Seva, apa yang harus kulakukan mulai sekarang?”  tanya Arin dengan suara lemah, Aku merenung


sejenak lalu berkata. “Hal itu, kau sendiri yang harus memutuskan.”


Arin kembali terdiam, ia terlihat seperti memikirkan


sesuatu.


Setelah beberapa saat duduk di pinggir sungai, Arin menoleh


ke arahku dengan wajah penuh rasa penasaran. "Seva, setelah ini kamu mau


pergi ke mana?"

__ADS_1


Aku memandang balik Arin. “Aku akan pergi ke pusat kota perdagangan


Warenburg.” Jawabku sambil melihat ke atas.


“hmmm... kota yang terkenal sebagai pusat perdagangan itu


ya?” Tanya Arin.


“Ya betul, Paul. Maksudku guruku pernah bercerita, jika aku


ingin melakukan perjalanan, kota itu tempat yang cocok untuk memulainya.” Jelasku


pada Arin. “Bagaimana denganmu?”


Arin terlihat berpikir sejenak, wajahnya terlihat ragu lalu


ia kembali menatapku. “Bagaimana jika aku ikut dengan mu sampai ke Warenburg?” Arin


bertanya dengan wajah antusiasnya.


Aku sedikit terkejut mendengar permintaan Arin untuk ikut


dengaku ke Warenburg. Aku tidak langsung menjawab melainkan berpikir sejenak,


mempertimbangkan keadaan dan risiko perjalanan.


“Hey, Seva!” Arin menepuk pundakku menyadarkanku dari


lamunanku. “Bagaimana?” Tanya Arin dengan mata berbinar menatapku.


“Kita kan baru saja bertemu, mengapa kau tiba-tiba ingin


ikut bersamaku?” tanyaku pada Arin.


Arin lalu tertawa geli dan tersenyum. “Ntah mengapa saat


pertama melihatmu aku merasa familiar denganmu dan juga kamu telah menyelamatkanku.


Aku yakin kamu pasti orang baik.”


Aku menghela nafas panjang lalu berkata. “Baiklah.” Mendengar


persetujuanku Arin melompat kegirangan.


Kulihat hari mulai gelap, aku menyarankan Arin untuk ikut ke


tenda milikku. Setelah sampai kupersilahkan Arin memakan ikan yang kubakar tadi


lalu kusarankan ia tidur di dalam tendaku, sedangkan aku berjaga di luar.


Awalnya Arin tidak setuju namun setelah beberapa kali


kubujuk akhirnya dia mau juga dan segera masuk ke dalam tenda untuk tidur.


Ketika Arin sudah tertidur di dalam tenda, aku duduk di luar


sambil memandangi api unggun yang semakin redup. Ntah mengapa aku merasa lega,


selama perjalanan ini aku selalu sendiri, setelah memikirkan besok aku akan


memulai perjalanan dengan seseorang hatiku merasa senang.


Rasa kantuk mulai menghampiri, mataku terasa berat. Kuputuskan


untuk duduk bersandar pada pohon dekat tendaku berdiri, kupejamkan mataku untuk


beristirahat sejenak, perlahan rasa kantuk mulai menyelimuti hingga akhirnya aku


tertidur lelap.


...


Gelap...


Tempat ini lagi...


Kegelapan yang tak berujung mengelilingiku dan juga secercah


cahaya yang redup terlihat di depanku. Kak Ani dan para penghuni panti berdiri


di sana dengan wajah mereka yang datar.


Mimpi ini selalu datang di saat yang tak terduga, sampai aku

__ADS_1


sudah terbiasa melihatnya. Namun mimpi satu ini berbeda.


Satu per satu penghuni panti terbakar kobaran api yang besar,


suara teriakan mereka menyayat hatiku.


Mereka terbakar semua hingga hanya menyisakan Kak Ani yang


masih berdiri diam, di antara tubuh para penghuni panti yang sudah hangus terbakar.


“Kak Ani?” Kucoba memanggilnya dengan suara bergetar.


Terlihat Kak Ani membuka mulutnya, namun seketika kakiku


terasa lemas membuatku terjatuh duduk, mataku terbuka lebar dan jantungku


berdetak dengan sangat kencang. Darah segar mengalir keluar dari setiap lubang


di wajah Kak Ani.


“Se...va...” Kak Ani memanggilku dengan suara yang serak.


Tubuh Kak Ani seketika jatuh di tengah genangan cairan


berwarna merah, tiba-tiba Kak Ani bergerak mengeluarkan suara seperti patahan


tulang, dengan gerakan patah-patah ia merangkak ke arahku.


“Ti-Tidak! Menjauh!” Teriakku panik, Jantungku berdetak


sangat kencang, keringat mengalir hebat dari pelipisku. Kak Ani mulai mendekat,


tubuhku terasa kaku tidak bisa kugerakkan.


Sampai akhirnya Kak Ani berhenti tepat di hadapanku, wajahnya


yang dipenuhi dengan cairan merah membuat bulu kudukku berdiri. Air mata berwarna


merah terus mengalir dari mata Kak Ani, tangan kanannya perlahan bergerak lalu


menyentuh pipi kananku.


Kulihat Kak Ani perlahan membuka mulutnya, dengan suara yang


serak ia berkata. “Ba-Ba..ngun, Seva...”


Tatapan matanya terasa seperti menariku tenggelam di lautan


kegelapan ini, sampai akhirnya semuanya gelap.


...


Aku sontak kaget terbangun dari mimpi buruk itu, tubuhku


dipenuhi keringat dan jantungku berdebar hebat.


Kucoba tenangkan diriku, namun ada yang aneh. Saat aku


benar-benar tersadar, aku merasa kedua tanganku terikat kencang di belakangku


dan juga mulutku tersumpal dengan kain. Aku melihat sekelilingku, tempat ini gelap


aku tidak bisa melihat apapun. Kucoba berteriak namun sia-sia, suaraku teredap


dengan kain yang menutup mulutku.


‘Bagaimana aku bisa ada di situasi ini? Apa yang terjadi? Siapa


yang melakukannya?’ Semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiranku, rasa


tegang dan tak menentu terasa semakin kuat di dalam hatiku.


Aku pun teringat dengan Arin, di mana dia? Apakah dia baik-baik


saja? Sial, bagaimanapun juga aku harus bisa membebaskan diri dari tempat ini.


Setelah beberapa saat, terdengar suara langkah kaki mendekat


ke arah tempatku di sekap. Hatiku berdegup semakin cepat, dan rasa cemas


semakin menguasai pikiranku. Siapa yang akan datang? Apakah mereka teman atau


musuh? Bagaimana aku bisa melepaskan diri dari ikatan ini?

__ADS_1


__ADS_2