
Dedaunan musim gugur yang mulai berguguran. daun-daunnya, diwarnai dengan warna merah tua, menari-nari dengan
anggun menyentuh tanah.
Aku berhenti
sejenak dan mengangkat kepalaku melihat langit biru yang jernih, berdiri diam
lalu menghela nafasku dengan panjang. “Sebentar lagi musim dingin ya.”
Semakin dalam aku
memasuki hutan hawa dingin mulai terasa di seluruh tubuh ku, aku mulai bergegas
mencari ranting-ranting kering yang bisa kubawa untuk penyimpanan kayu bakar di
panti asuhan, ranting yang haruskugunakan haruslah ranting yang kering karena jika
rantingnya basah itu belum tentu bisa menyulut api, walaupun bisa butuh tenaga
lebih untuk menghidupkannya.
“Sepertinya ini
sudah cukup,” ucapku sambil menggendong tumpukan ranting kering di punggungku.
Hari masih
terlihat cerah, akan sangat disayangkan jika aku pulang sekarang, jadi kupikir
akan lebih baik jika aku tinggal sebentar lagi saja di hutan ini.
“Hmm… bagaimana
jika aku pergi ke reruntuhan itu lagi,” pikirku, namun itu merupakan ide yang
buruk, aku khawatir jika Suster Ani akan mengetahuinya.
Setelah berpikir
sejenak, aku memutuskan untuk pergi menuju reruntuhan itu, reruntuhan yang menurut
cerita Pastur Martin dulunya adalah kota kuno yang besar dikarenakan bentuk
dari puing-puingnya yang besar dan tersusun rapih, dulu ketika Pastur Martin
masih muda beliau bersama dengan dua orang arkeolog dan dibantu dengan penduduk
desa, melakukan sebuah penelitian pada reruntuhan itu.
Setelah melewati
semak belukar yang padat akhirnya aku sampai pada dataran rumput yang luas, di
sinilah reruntuhan itu berada.
Di depanku sudah
terlihat beberapa puing batu dari ukuran yang kecil hingga besar, aku berhenti
sejenak menatap bingung, tidak jauh dari tempatku terdapat beberapa tenda yang
berdiri di tengah hamparan rumput yang luas.
Aneh, seingatku
kemarin tidak ada tenda di sini.
Belum sempat
bereaksi apapun aku mendengar suara langkah kaki mendekat, dengan cepat aku
bersembunyi di balik puing batu yang besar.
Dari arah yang
sama tempatku datang terdapat dua sosok pria muncul dari balik semak-semak,
wajah mereka tertutup dengan topeng dan mereka memakai jubah hitam yang
menutupi seluruh tubuh mereka.
Mereka berdua
terlihat sedang mencari sesuatu, lalu salah satu dari mereka berkata. “Kau
yakin anak tadi menuju tempat ini?” ia menatap temannya. “Aku yakin.” Jawab
temannya.
“Gawat, apakah
mereka mencariku?” gumamku.
Kedua pria itu pun
perlahan pergi menjauh, aku menggunakan kesempatan ini untuk segera pergi dari
tempat ini, entah mengapa perasaanku jadi tidak enak.
Lalu…
“Hey… berhenti!”
… Terdengar suara
di belakangku.
Tubuhku terguncang
seolah-olah jantung ku telah ditikam, aku menoleh dan melihat sosok pria tinggi
berbadan besar berdiri tegap di belakangku.
Ia perlahan
mendekat, tanah terasa berguncang setiap kali ia melangkahkan kaki nya.
“Ma-maaf… aku
hanya sedang mencari kayu bakar,” ucapku gemetar.
Pria itu berhenti
tepat di depanku, tubuhnya sangat besar sampai aku harus mendongak ke atas
untuk menatap matanya, ia menatap tajam ke arahku, lalu berkata dengan suara
yang berat.
“Apakah kau dari
panti asuhan di dekat tempat ini?”
Aku hanya
mengagguk menjawab pertanyaannya, lidahku terasa kaku tak bisa berkata apapun.
Apa yang harus ku
lakukan, bagaimana kalau dia adalah orang jahat?
Tiba-tiba tangan
besarnya memegang erat tanganku, ia menyeretku dengan kasar.
“Hey… lepaskan!”
teriakku mencaoba melepaskan diri dari genggamannya namun sia-sia, tenaga nya
terlalu besar.
Ia menyeretku ke
__ADS_1
tempat tenda tadi berdiri, di sana kulihat sudah ada beberapa orang sedang
berbaris menghadap seorang yang berdiri di depan mereka, siapa dia? Apakah dia
pemimpin mereka?
“Aku telah
menangkap salah satu anak dari panti asuhan itu.” Pria besar itu berkata lalu
melemparku ke tanah.
Sosok yang berdiri
tadi menghampiri ku, tubuhnya ramping dengan rambut perak klimisnya ia terlihat
elegan.
Pria berambut
perak itu menepuk tangannya sambil tersenyum sinis. “Bagus, cepat masukan dia
ke sel!”
Dengan cepat para
bawahannya membawaku menuju sebuah ke kotak jeruji, mereka melemparku ke dalam
lalu menguncinya.
“Lepaskan aku!”
Teriaku dari dalam kotak jeruji.
Pria berambut
perak itu menatapku lalu berkata. “Tenang saja nak, sebentar lagi temanmu yang
lain akan ikut denganmu.” Pria berambut perak itu lalu mengangkat kedua
tangannya dan berteriak dengan senyum lebar. “Kalian semua! Malam ini kita akan memulai rencana kita. Tangkap semua
anak-anak di panti asuhan itu dan habisi mereka yang mencoba menghalangi!” Para
bawahannya menyoraki dengan gembira sambil mengangkat kepalan tangan mereka.
“Semua ini demi yang
mulia.” Ucap mereka semua
serentak.
***
Hari sudah mulai
gelap, ntah sudah berapa lama aku terkurung, telapak tangan ku terluka karena
sudah berapa kali aku mencoba untuk membuka paksa kotak jeruji ini namun tetap
tidak berhasil.
“Tolong…
siapapun,” teriakku mencoba meraih siapapun yang mendengarnya.
Pria berambut
perak dan para bawahannya sudah pergi dari tadi, apa yang harus kulakukan
mereka pasti berniat buruk, bagaimanapun caranya aku harus menghentikan mereka.
Aku kembali mencoba
menendang paksa jeruji besi itu dengan sekuat tenaga, kaki ku mulai terasa
sakit tapi aku coba untuk mengabaikannya. “Kumohon… terbukalah.” Tendangan demi
Aku pun terduduk
lemas, air mata perlahan mengalir dari mataku, perasaan tidak enak terus
menghantuiku aku khawatir jika terjadi sesuatu di panti asuhan.
“Oh Tuhan… kumohon
tolong aku.” Aku mengepalkan tanganku yang terluka memanjatkan doa memohon
untuk diberikan keajaiban.
Lalu tiba-tiba
terdengar suara dari arah semak-semak.
“Siapa di sana?”
Sosok yang
familiar pun muncul dari dalam semak-semak itu, Suster Ani.
“Seva?!” teriak
Suster Ani berlari ke arahku.
Aku menghela nafas
panjang, rasanya sangat lega ketika melihat wajah yang
akrab.
Suster Ani
sekarang berada tepat di depan kotak jeruji ini, ia melihat sekelilingnya lalu
berkata. “Tunggu Seva, aku akan mengeluarkanmu.”Kulihat suster
Ani mengambil sebuah batang kayu lalu berulang kali memukul gembok dari kotak
jeruji ini.
Setelah beberapa kali memukul akhirnya gembok itu
terlepas, Suster Ani langsung membuka pintu kotak jeruji itu, ia menatapku
sesaat lalu memelukku dengan erat.
“Seva... dasar anak bodoh, aku mencarimu dari tadi.”
Aku merasa bersalah melihat Suster Ani menangis sambil
memelukku dengan erat.
“Maafkan aku, Sus- tidak kak Ani.” Aku memeluknya
kembali dengan erat.
Setelah beberapa saat ia melepaskan pelukannya lalu
mengusap air mata yang mengalir, ia menatapku dengan serius dan berkata. “Apa
yang terjadi? Bagaimana kau bisa terkurung seperti ini?”
Aku pun teringat dengan sekelompok misterius tadi,
mereka bertujuan untuk menculik anak-anak di panti asuhan.
“Kak Ani, para orang yang mengurungku mereka memiliki
niat buruk terhadap panti asuhan kita!” ucapku mencoba meyakinkan kak Ani.
Ekspresi kak Ani terlihat terkejut, ia diam sesaat
tidak merespon ucapanku.
__ADS_1
Kak Ani terlihat bergumam dengan suara yang kecil.
“Jadi mereka menargetkan panti asuhan ini juga.” Raut wajah kak Ani terlihat
khawatir.
“Kak Ani?” aku mencoba bertanya namun tangan kak Ani
memegang erat tangan kananku.
“Ayo Seva, kita harus segera kembali.” Ia lalu
menarikku, aku pun mencoba bertanya lagi “Apa yang sebenarnya terjadi?” Kak Ani
hanya melihatku sesaat lalu berkata. “Nanti akan kujelaskan, yang penting kita
harus cepat sampai kembali ke panti asuhan.”
Kami berdua berlari menyusuri hutan yang gelap,
beberapa kali kakiku tersandung namun dengan cepat kak Ani menolongku.
“Aku mendengar ini dari desa terdekat, bahwa ada
sekelompok organisasi misterius yang menyerang panti asuhan lalu menculik para
anak-anak di sana.” Kak Ani mencoba menjelaskan sambil terus berlari.
Dari kejauhan kami melihat gumpalan asap hitam
membumbung tinggi ke langit diikuti dengan cahaya kemerahan dari bawahnya.
Kak Ani mempercepat lajunya. “Oh tidak!” aku tak
pernah melihat wajah kak Ani setakut itu.
Penhujung hutan sudah terlihat di baliknya merupakan
padang rumput yang luas dan juga rumah yatim piatu yang berdiri megah di
atasnya. Namun setelah kami melewati hutan, rumah yatim piatu kami sudah
tertelan kobaran api yang sangat besar.
Kak Ani tersungkur jatuh ke tanah, kedua telapak tangan
kak Ani menutup mulutnya, air mata perlahan mulai jatuh dari mata kak Ani.
“Me-mengapa ini terjadi?”
“Kak Ani! Ayo berdiri, mungkin saja masih ada yang
selamat.” Bujukku mencoba meyakinkan Kak Ani.
Aku menggoyangkan tubuh kak Ani. “Sekarang bukan
waktunya untuk terdiam, ayo berdiri.”
Kak Ani lalu menggelengkan kepalanya mencoba untuk
tetap tegar. “Ka-kau benar, kita tidak boleh pasrah sekarang.”
Ia lalu memegang kedua bahuku dan berkata. “Seva, kau
coba lewat arah belakang rumah, mungkin saja mereka ada di gudang belakang.”
“Lalu bagaimana denganmu?” tanyaku.
Kak Ani menundukan kepalanya sejenak lalu berkata.
“Aku akan lewat pintu depan, kemungkinan besar sekelompok orang itu ada di
sana, akan sangat berbahaya jika kau yang pergi ke sana.”
“Tidak! jangan bertindak gegabah, terlalu bahaya jika
kau pergi sendiri,” ucapku khawatir.
Kak Ani tiba-tiba membentakku dengan suara yang keras.
“Seva! Kumohon untuk sekali ini saja dengarkan perkataanku.” Matanya terlihat
berair dan suaranya sedikit bergetar.
Aku menelan ludahku dan mengangguk pelan. Kak Ani
hanya tersenyum tipis sambil menepuk kepalaku dengan lembut.
“Baiklah, jaga dirimu kak.” Aku membalikkan badanku
lalu berlari ke arah belakang rumah.
Kobaran api sudah membakar bagian depan rumah hingga
ketengah menyambar dengan cepat dibantu dengan hembusan angin malam.
“Suter Lisa! Suster Siska! Di mana kalian?” teriakku
dengan lantang sambil berlari di halaman belakang rumah.
Kuperiksa gudang belakang, pintunya terkunci kucoba
mengetuknya dengan kencang. “Halo! Apakah ada orang di dalam?” tidak ada respon
sama sekali, akhirnya kucoba mendobrak dengan kencang menggunakan kakiku, pintu
itu pun akhirnya terbuka.
Di sana kulihat Suster Lisa terbaring lemas di lantai
gudang dengan keaadan tengkurap, segera kulari ke arahnya. “Suster Lisa!”
Kubalikkan badannya, aku terkejut tepat di perut Suster Lisa terdapat luka
tusukan membuat baju putih Suster Lisa ternodai darah merah yang mengalir dari
lukanya.
“Suster Lisa, bangunlah!” kucoba menggoyangkan
tubuhnya, perlahan mata Suster Lisa sedikit terbuka lalu ia berkata dengan
lemas. “Se...Seva?” ia mencoba menggerkan tangannya dan memegang pipi kananku.
Aku memegang tangganya dengan erat. “Simpan tenagamu,
aku akan membawamu ke tempat aman.” Suster Lisa menepis tanganku dan
memalingkan wajahnya. “Pergilah! Mereka mengincar anak-anak panti kau-” ucapan
Suster Lisa terpotong, ia terbatuk-batuk darah keluar dari mulutnya.
“Sudah kubilang jangan banyak bergerak dulu!” ucapku
khawatir.
Suster Lisa mengangkat tangannya ke arah pintu gudang
seperti sedang mencoba meraih sesuatu. “Seva... pantinya..” Suara lirih dari
Suster Lisa terdengar sangat menyayat hatiku ditambah dengan air mata yang
perlahan mengalir dari matanya.
“Jangan khawatirkan pantinya, khawatirlah pada dirimu
sendiri dulu!” ucapku mencoba menahan pendarahan di perutnya, namun sudah
terlambat lenganya yang menunjuk ke arah pintu terjatuh lemas, tubuhnya
perlahan dingin lalu hembusan nafas terakhrinya menyentuh halus di pipiku.
“Suster! Bangun... Kumohon.”
__ADS_1