The Wanderer

The Wanderer
Langit Merah


__ADS_3

Dedaunan musim gugur yang mulai berguguran. daun-daunnya, diwarnai dengan warna merah tua, menari-nari dengan


anggun menyentuh tanah.


Aku berhenti


sejenak dan mengangkat kepalaku melihat langit biru yang jernih, berdiri diam


lalu menghela nafasku dengan panjang. “Sebentar lagi musim dingin ya.”


Semakin dalam aku


memasuki hutan hawa dingin mulai terasa di seluruh tubuh ku, aku mulai bergegas


mencari ranting-ranting kering yang bisa kubawa untuk penyimpanan kayu bakar di


panti asuhan, ranting yang haruskugunakan haruslah ranting yang kering karena jika


rantingnya basah itu belum tentu bisa menyulut api, walaupun bisa butuh tenaga


lebih untuk menghidupkannya.


“Sepertinya ini


sudah cukup,” ucapku sambil menggendong tumpukan ranting kering di punggungku.


Hari masih


terlihat cerah, akan sangat disayangkan jika aku pulang sekarang, jadi kupikir


akan lebih baik jika aku tinggal sebentar lagi saja di hutan ini.


“Hmm… bagaimana


jika aku pergi ke reruntuhan itu lagi,” pikirku, namun itu merupakan ide yang


buruk, aku khawatir jika Suster Ani akan mengetahuinya.


Setelah berpikir


sejenak, aku memutuskan untuk pergi menuju reruntuhan itu, reruntuhan yang menurut


cerita Pastur Martin dulunya adalah kota kuno yang besar dikarenakan bentuk


dari puing-puingnya yang besar dan tersusun rapih, dulu ketika Pastur Martin


masih muda beliau bersama dengan dua orang arkeolog dan dibantu dengan penduduk


desa, melakukan sebuah penelitian pada reruntuhan itu.


Setelah melewati


semak belukar yang padat akhirnya aku sampai pada dataran rumput yang luas, di


sinilah reruntuhan itu berada.


Di depanku sudah


terlihat beberapa puing batu dari ukuran yang kecil hingga besar, aku berhenti


sejenak menatap bingung, tidak jauh dari tempatku terdapat beberapa tenda yang


berdiri di tengah hamparan rumput yang luas.


Aneh, seingatku


kemarin tidak ada tenda di sini.


Belum sempat


bereaksi apapun aku mendengar suara langkah kaki mendekat, dengan cepat aku


bersembunyi di balik puing batu yang besar.


Dari arah yang


sama tempatku datang terdapat dua sosok pria muncul dari balik semak-semak,


wajah mereka tertutup dengan topeng dan mereka memakai jubah hitam yang


menutupi seluruh tubuh mereka.


Mereka berdua


terlihat sedang mencari sesuatu, lalu salah satu dari mereka berkata. “Kau


yakin anak tadi menuju tempat ini?” ia menatap temannya. “Aku yakin.” Jawab


temannya.


“Gawat, apakah


mereka mencariku?” gumamku.


Kedua pria itu pun


perlahan pergi menjauh, aku menggunakan kesempatan ini untuk segera pergi dari


tempat ini, entah mengapa perasaanku jadi tidak enak.


Lalu…


“Hey… berhenti!”


… Terdengar suara


di belakangku.


Tubuhku terguncang


seolah-olah jantung ku telah ditikam, aku menoleh dan melihat sosok pria tinggi


berbadan besar berdiri tegap di belakangku.


Ia perlahan


mendekat, tanah terasa berguncang setiap kali ia melangkahkan kaki nya.


“Ma-maaf… aku


hanya sedang mencari kayu bakar,” ucapku gemetar.


Pria itu berhenti


tepat di depanku, tubuhnya sangat besar sampai aku harus mendongak ke atas


untuk menatap matanya, ia menatap tajam ke arahku, lalu berkata dengan suara


yang berat.


“Apakah kau dari


panti asuhan di dekat tempat ini?”


Aku hanya


mengagguk menjawab pertanyaannya, lidahku terasa kaku tak bisa berkata apapun.


Apa yang harus ku


lakukan, bagaimana kalau dia adalah orang jahat?


Tiba-tiba tangan


besarnya memegang erat tanganku, ia menyeretku dengan kasar.


“Hey… lepaskan!”


teriakku mencaoba melepaskan diri dari genggamannya namun sia-sia, tenaga nya


terlalu besar.


Ia menyeretku ke

__ADS_1


tempat tenda tadi berdiri, di sana kulihat sudah ada beberapa orang sedang


berbaris menghadap seorang yang berdiri di depan mereka, siapa dia? Apakah dia


pemimpin mereka?


“Aku telah


menangkap salah satu anak dari panti asuhan itu.” Pria besar itu berkata lalu


melemparku ke tanah.


Sosok yang berdiri


tadi menghampiri ku, tubuhnya ramping dengan rambut perak klimisnya ia terlihat


elegan.


Pria berambut


perak itu menepuk tangannya sambil tersenyum sinis. “Bagus, cepat masukan dia


ke sel!”


Dengan cepat para


bawahannya membawaku menuju sebuah ke kotak jeruji, mereka melemparku ke dalam


lalu menguncinya.


“Lepaskan aku!”


Teriaku dari dalam kotak jeruji.


Pria berambut


perak itu menatapku lalu berkata. “Tenang saja nak, sebentar lagi temanmu yang


lain akan ikut denganmu.” Pria berambut perak itu lalu mengangkat kedua


tangannya dan berteriak dengan senyum lebar. “Kalian semua! Malam ini kita akan memulai rencana kita. Tangkap semua


anak-anak di panti asuhan itu dan habisi mereka yang mencoba menghalangi!” Para


bawahannya menyoraki dengan gembira sambil mengangkat kepalan tangan mereka.


“Semua ini demi yang


mulia.” Ucap mereka semua


serentak.


***


Hari sudah mulai


gelap, ntah sudah berapa lama aku terkurung, telapak tangan ku terluka karena


sudah berapa kali aku mencoba untuk membuka paksa kotak jeruji ini namun tetap


tidak berhasil.


“Tolong…


siapapun,” teriakku mencoba meraih siapapun yang mendengarnya.


Pria berambut


perak dan para bawahannya sudah pergi dari tadi, apa yang harus kulakukan


mereka pasti berniat buruk, bagaimanapun caranya aku harus menghentikan mereka.


Aku kembali mencoba


menendang paksa jeruji besi itu dengan sekuat tenaga, kaki ku mulai terasa


sakit tapi aku coba untuk mengabaikannya. “Kumohon… terbukalah.” Tendangan demi


Aku pun terduduk


lemas, air mata perlahan mengalir dari mataku, perasaan tidak enak terus


menghantuiku aku khawatir jika terjadi sesuatu di panti asuhan.


“Oh Tuhan… kumohon


tolong aku.” Aku mengepalkan tanganku yang terluka memanjatkan doa memohon


untuk diberikan keajaiban.


Lalu tiba-tiba


terdengar suara dari arah semak-semak.


“Siapa di sana?”


Sosok yang


familiar pun muncul dari dalam semak-semak itu, Suster Ani.


“Seva?!” teriak


Suster Ani berlari ke arahku.


Aku menghela nafas


panjang, rasanya sangat lega ketika melihat wajah yang


akrab.


Suster Ani


sekarang berada tepat di depan kotak jeruji ini, ia melihat sekelilingnya lalu


berkata. “Tunggu Seva, aku akan mengeluarkanmu.”Kulihat suster


Ani mengambil sebuah batang kayu lalu berulang kali memukul gembok dari kotak


jeruji ini.


Setelah beberapa kali memukul akhirnya gembok itu


terlepas, Suster Ani langsung membuka pintu kotak jeruji itu, ia menatapku


sesaat lalu memelukku dengan erat.


“Seva... dasar anak bodoh, aku mencarimu dari tadi.”


Aku merasa bersalah melihat Suster Ani menangis sambil


memelukku dengan erat.


“Maafkan aku, Sus- tidak kak Ani.” Aku memeluknya


kembali dengan erat.


Setelah beberapa saat ia melepaskan pelukannya lalu


mengusap air mata yang mengalir, ia menatapku dengan serius dan berkata. “Apa


yang terjadi? Bagaimana kau bisa terkurung seperti ini?”


Aku pun teringat dengan sekelompok misterius tadi,


mereka bertujuan untuk menculik anak-anak di panti asuhan.


“Kak Ani, para orang yang mengurungku mereka memiliki


niat buruk terhadap panti asuhan kita!” ucapku mencoba meyakinkan kak Ani.


Ekspresi kak Ani terlihat terkejut, ia diam sesaat


tidak merespon ucapanku.

__ADS_1


Kak Ani terlihat bergumam dengan suara yang kecil.


“Jadi mereka menargetkan panti asuhan ini juga.” Raut wajah kak Ani terlihat


khawatir.


“Kak Ani?” aku mencoba bertanya namun tangan kak Ani


memegang erat tangan kananku.


“Ayo Seva, kita harus segera kembali.” Ia lalu


menarikku, aku pun mencoba bertanya lagi “Apa yang sebenarnya terjadi?” Kak Ani


hanya melihatku sesaat lalu berkata. “Nanti akan kujelaskan, yang penting kita


harus cepat sampai kembali ke panti asuhan.”


Kami berdua berlari menyusuri hutan yang gelap,


beberapa kali kakiku tersandung namun dengan cepat kak Ani menolongku.


“Aku mendengar ini dari desa terdekat, bahwa ada


sekelompok organisasi misterius yang menyerang panti asuhan lalu menculik para


anak-anak di sana.” Kak Ani mencoba menjelaskan sambil terus berlari.


Dari kejauhan kami melihat gumpalan asap hitam


membumbung tinggi ke langit diikuti dengan cahaya kemerahan dari bawahnya.


Kak Ani mempercepat lajunya. “Oh tidak!” aku tak


pernah melihat wajah kak Ani setakut itu.


Penhujung hutan sudah terlihat di baliknya merupakan


padang rumput yang luas dan juga rumah yatim piatu yang berdiri megah di


atasnya. Namun setelah kami melewati hutan, rumah yatim piatu kami sudah


tertelan kobaran api yang sangat besar.


Kak Ani tersungkur jatuh ke tanah, kedua telapak tangan


kak Ani menutup mulutnya, air mata perlahan mulai jatuh dari mata kak Ani.


“Me-mengapa ini terjadi?”


“Kak Ani! Ayo berdiri, mungkin saja masih ada yang


selamat.” Bujukku mencoba meyakinkan Kak Ani.


Aku menggoyangkan tubuh kak Ani. “Sekarang bukan


waktunya untuk terdiam, ayo berdiri.”


Kak Ani lalu menggelengkan kepalanya mencoba untuk


tetap tegar. “Ka-kau benar, kita tidak boleh pasrah sekarang.”


Ia lalu memegang kedua bahuku dan berkata. “Seva, kau


coba lewat arah belakang rumah, mungkin saja mereka ada di gudang belakang.”


“Lalu bagaimana denganmu?” tanyaku.


Kak Ani menundukan kepalanya sejenak lalu berkata.


“Aku akan lewat pintu depan, kemungkinan besar sekelompok orang itu ada di


sana, akan sangat berbahaya jika kau yang pergi ke sana.”


“Tidak! jangan bertindak gegabah, terlalu bahaya jika


kau pergi sendiri,” ucapku khawatir.


Kak Ani tiba-tiba membentakku dengan suara yang keras.


“Seva! Kumohon untuk sekali ini saja dengarkan perkataanku.” Matanya terlihat


berair dan suaranya sedikit bergetar.


Aku menelan ludahku dan mengangguk pelan. Kak Ani


hanya tersenyum tipis sambil menepuk kepalaku dengan lembut.


“Baiklah, jaga dirimu kak.” Aku membalikkan badanku


lalu berlari ke arah belakang rumah.


Kobaran api sudah membakar bagian depan rumah hingga


ketengah menyambar dengan cepat dibantu dengan hembusan angin malam.


“Suter Lisa! Suster Siska! Di mana kalian?” teriakku


dengan lantang sambil berlari di halaman belakang rumah.


Kuperiksa gudang belakang, pintunya terkunci kucoba


mengetuknya dengan kencang. “Halo! Apakah ada orang di dalam?” tidak ada respon


sama sekali, akhirnya kucoba mendobrak dengan kencang menggunakan kakiku, pintu


itu pun akhirnya terbuka.


Di sana kulihat Suster Lisa terbaring lemas di lantai


gudang dengan keaadan tengkurap, segera kulari ke arahnya. “Suster Lisa!”


Kubalikkan badannya, aku terkejut tepat di perut Suster Lisa terdapat luka


tusukan membuat baju putih Suster Lisa ternodai darah merah yang mengalir dari


lukanya.


“Suster Lisa, bangunlah!” kucoba menggoyangkan


tubuhnya, perlahan mata Suster Lisa sedikit terbuka lalu ia berkata dengan


lemas. “Se...Seva?” ia mencoba menggerkan tangannya dan memegang pipi kananku.


Aku memegang tangganya dengan erat. “Simpan tenagamu,


aku akan membawamu ke tempat aman.” Suster Lisa menepis tanganku dan


memalingkan wajahnya. “Pergilah! Mereka mengincar anak-anak panti kau-” ucapan


Suster Lisa terpotong, ia terbatuk-batuk darah keluar dari mulutnya.


“Sudah kubilang jangan banyak bergerak dulu!” ucapku


khawatir.


Suster Lisa mengangkat tangannya ke arah pintu gudang


seperti sedang mencoba meraih sesuatu. “Seva... pantinya..” Suara lirih dari


Suster Lisa terdengar sangat menyayat hatiku ditambah dengan air mata yang


perlahan mengalir dari matanya.


“Jangan khawatirkan pantinya, khawatirlah pada dirimu


sendiri dulu!” ucapku mencoba menahan pendarahan di perutnya, namun sudah


terlambat lenganya yang menunjuk ke arah pintu terjatuh lemas, tubuhnya


perlahan dingin lalu hembusan nafas terakhrinya menyentuh halus di pipiku.


“Suster! Bangun... Kumohon.”

__ADS_1


__ADS_2