
Akuberjalan di atas jalan setapak yang berkelok-kelok, mengarahkan langkahku
menuju dataran tinggi yang terlihat indah dan hijau di kejauhan. Sinar matahari
bersinar terang di langit biru cerah, memancarkan kehangatan yang membalut
tubuhku.
Jalan setapakini menanjak terjal, namun pemandangan di sekelilingku semakin memukau setiap
langkah yang kutempuh. Arin berjalan di belakangku, dia membungkukkan badannya,
wajahnya tampak sedikit lelah dan sesekali terdengar nafasnya yang berat.
“Seva… apa masih jauh?” suaranya terdengar lirih, terbawa angin sejuk dataran tinggi.
Aku berhenti sejenak dan menoleh padanya. “Memangnya kau tidak bisa lihat? Dataran
tingginya sudah terlihat di depan sana,” ucapku, mencoba menyemangati Arin.
Kami terus mengikuti jalan setapak yang menanjak, langkah demi langkah, meresapi keindahan
dataran tinggi yang semakin dekat. Aroma harum dedaunan segar menyegarkan
perjalanan kami, dan sejuknya angin dataran tinggi membawa kesejukan yang
menyenangkan. Kami melewati pepohonan rindang yang menari tertiup angin.
Arin terus berusaha mengikuti langkahku, namun jelas terlihat bahwa dia sedikit kewalahan
dengan perjalanan ini. Keringat mengalir di wajahnya, dan napasnya mulai
terdengar lebih cepat. Aku memutuskan untuk memberikan waktu sejenak untuk
beristirahat.
"Ayo kita duduk sebentar, Arin," ucapku sambil menepuk pelan bahu Arin. Kami
menemukan batu besar di sisi jalan setapak dan duduk di bawah pohon. Pandangan
kami terbuka lebar ke dataran tinggi yang indah, hamparan hijau yang mempesona,
dan bukit-bukit yang menjulang gagah di kejauhan.
Aku menatap Arin yang sedang mengatur pernafasannya, dalam pikiranku mengapa gadis ini
selalu mengikutiku, apa karena aku telah menyelamatkannya atau mungkin dia juga
merasakan ikatan yang kuat denganku?
“Arin, kita kan sudah sampai di Warenburg. mengapa kau selalu mengikutiku?” tanyaku. Arin
masih terlihat mengatur nafasnya. “Kita harusnya memilih jalan masing-masing,”
lanjutku.
Arin terdiam sejenak, ia terus menundukkan kepalanya ke bawah. Arin menggigit
bibirnya, tampak menahan kata-kata yang ingin keluar dari mulutnya.
“Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita.” Aku pun berdiri bersiap untuk
melanjutkan perjalanan. “Ayo,” ucapku pada Arin.
Saat aku berjalan, tiba-tiba Arin memegang baju belakangku. “Aku…” Arin bersuara namun
tertahan. “Aku… aku tidak ingin sendiri lagi.” Aku dapat merasakan suaranya
bergetar saat mengatakan itu.
Melihat Arin yang masih menundukkan kepalanya, Aku tersenyum.
Dengan lembut aku mengusap kepalanya. "Maafkan aku, telah bertanya seperti
itu. Tenang saja, aku akan selalu ada di sampingmu," ucapku tulus.
Arin perlahan menatap wajahku, senyuman hangat menghiasi
wajahnya. “Terima kasih, Seva,” ucapnya dengan suara rendah.
Kami berdua kembali berjalan, menuju dataran tinggi
Whirlwind. Langit masih cerah, tetapi kini Arin terlihat jauh lebih.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, kami tiba di dataran tinggi Whirlwind
yang menakjubkan. Aku mengeluarkan buku panduan petualang dari saku dan mencari
informasi tentang Windhill Flower, tumbuhan herbal yang kami cari. Di dalam
buku, tertulis bahwa tumbuhan ini tumbuh di dekat sumber air yang tersembunyi
di antara perbukitan.
Kami pun memulai pencarian kami. Arin sepertinya sudah terbiasa
dalam mencari jejak-jejak tumbuhan herbal ini. Kami melewati lembah dan hutan,
mengikuti aliran sungai yang jernih, dan akhirnya, kami menemukan sebuah air
terjun dikelilingi oleh gemericik daun-daun pohon dan aroma khas tumbuhan
herbal.
Di tengah sumber air itu, kami menemukan Windhill Flower
yang indah bersemi. Tumbuhan kecil ini memiliki kelopak bunga putih dengan tepi
berwarna biru lembut. Kami berdua terpesona oleh keindahannya dan bersemangat
mengumpulkan tumbuhan ini.
“Seva, menurutmu kita harus mengumpulkan berapa tumbuhan
ini?” tanya Arin, matanya berbinar-binar karena antusiasme.
Aku memperhatikan keindahan Windhill Flower yang tumbuh
dengan subur di sekitar air terjun. Tidak terdapat petunjuk jelas di lembaran
misi berapa banyak tumbuhan ini harus kami bawa kembali ke serikat petualang. “Sebaiknya,
kita membawa sepuluh tangkai saja.” Saranku pada Arin.
Arin pun membuat tanda oke pada tangannya lalu berkata. “Aku
akan mengambil di bibir sungai, kau ambil yang di sebelah sana.”
jempol tanda setuju, kami berdua lalu mulai memetik Windhill Flower dengan
hati-hati, memastikan kami tidak merusak tanamannya sehingga dapat tumbuh
kembali di masa mendatang.
Setelah beberapa saat, aku berhasil mengumpulkan lima
Windhill Flower. Saat aku melihat ke arah Arin, ia terlihat kesulitan . “Arin,
kau tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.
Dia menggelengkan kepala, namun tetap tersenyum.
"Tinggal satu lagi," katanya dengan nafas tersengal. "Entah
mengapa yang satu ini sangat sulit untuk dicabut."
Arin tetap berusaha menarik tanaman itu. Tiba-tiba, tanah di
tempat Arin berdiri mulai bergetar.
“Arin! Lepaskan tanaman itu!” teriakku dengan khawatir,
tetapi Arin tampak tidak menghiraukan teriakanku. Ia tetap saja berusaha
menarik tanaman itu tanpa menyadari tanah di sekitarnya semakin berguncang.
“Sebentar lagi.” Saat Arin berusaha menarik tanaman itu,
tanah di sekitarnya mulai terbelah membuat tanamannya terlepas. “Aku mendapatkannya,”
ucap Arin dengan semangat.
“Arin! Menjauh dari tempat itu!” Arin melihatku dengan
ekspresi bingung, namun seketika ia akhirnya tersadar. Tanah yang ia pijak semakin
berguncang dan terbelah.
__ADS_1
Sadar akan situasinya Arin berusaha lari ke arahku. Dalam sekejap,
tanah di tengah-tengah tempat itu mulai bergoyang dengan keras. Seperti ledakan
besar dari bawah, tanah itu hancur, memuntahkan debu dan kerikil ke udara.
Arin seketika terhempas, namun dengan cepat aku
menangkapnya. Beruntung dia tidak terluka.
Suara gemuruh terdengar mengisi udara, sesosok monster
bangkit dari dalam tanah. Ketika monster itu sepenuhnya muncul dari bawah
tanah, cahaya redup dari matanya yang merah menyala menyinari area sekitarnya,
memberikan tampilan menakutkan pada wajahnya yang mengerikan.
Monster itu memiliki kepala seperti bunga yang mekar, lengan
dan kakinya terbuat dari akar-akar yang panjang.
Tubuh monster itu berdiri tinggi, menghadap kami dengan mata
yang terus menyala merah. Tanaman liar yang menutupi tubuhnya bergoyang-goyang,
menciptakan kesan yang menyeramkan. aku merasa detak jantungku semakin cepat,
namun aku tahu kami harus segera bertindak.
"Ayo, Arin, kita harus menghindarinya!" seruku
dengan nada tegas. Aku membantu Arin berdiri dan berlari menjauh dari monster
yang menjulang di depan kami.
Terdengar suara gemuruh saat monster itu mengejar. Kami berusaha
berlari sekuat tenaga, menghindari akar-akar yang menjulang mencoba menangkap
kami.
"Sialan! Aku tidak pernah menduga mencabut bunga akan
menghadirkan monster seperti ini!" teriak Arin sambil berlari, tetapi
matanya masih berbinar antusiasme melihat monster itu dari dekat.
"Kita tidak bisa menghadapinya secara langsung. Ayo
kita cari tempat untuk bersembunyi!" ucapku, mengarahkan Arin ke arah
hutan di sebelah jalan setapak.
Dengan nafas terengah-engah kami berusaha melarikan diri,
menghindari serangan monster itu.
Akhirnya, aku dan Arin berhasil mencapai hutan yang lebat,
berusaha bersembunyi di balik pepohonan yang rindang. Monster itu terlihat terus
mencari-cari keberadaan kami dengan deru yang mengerikan.
"Seva, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
tanya Arin dengan napas tersengal. Wajahnya pucat karena ketakutan.
Aku merenung sejenak mencoba memikirkan langkah kami
selanjutnya. Gerakan monster itu lambat, namun, akar-akarnya yang dapat
memanjang sangat mengganggu jika kami terus berlari.
"Kita tidak bisa melarikan diri dari monster ini
selamanya. Kita harus mencari cara untuk mengalahkannya," ucapku.
Arin menatapku kaget. “Kau serius?” ucapnya.
Aku hanya menganggukan kepalaku sambil menatap tajam ke arah
monster itu.
__ADS_1