
“Seva, aku pergi dulu ya. Kamu beristirahat saja,” ucapku
pada Seva. Ia menjawab dengan anggukan kecil lalu berkata. “Baiklah, berhati-hatilah
Arin.”
Aku pun melambaikan tangan pada Seva dan Rafa, Setelah itu,
aku berjalan keluar meninggalkan mereka berdua. Aku merasa senang bisa bertemu
kembali dengan mereka setelah peristiwa yang telah terjadi. Di dalam hati, aku
bersyukur bahwa Seva telah datang tepat waktu untuk menyelamatkanku.
Langit di luar sudah semakin gelap, namun suasana di kota
Warenburg masih ramai. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di sekitar
rumah sakit, menikmati keramaian dan kehangatan kota yang penuh kehidupan.
Beberapa toko masih buka, menawarkan berbagai barang yang menarik perhatian.
Aku berhenti sejenak di depan sebuah toko bunga yang menarik
perhatianku. Aroma bunga-bunga yang harum menghiasi udara dan aku merasa
tertarik untuk membeli beberapa rangkaian bunga untuk Seva sebagai ungkapan
terima kasih atas pertolongan mereka.
“Hmm... aku ingin membeli bunga untuk Seva, tapi-“ aku
merogoh isi kantongku namun tidak ada uang sepeserpun. “Gawat, aku tidak punya
uang.”
“Hey, kamu” terdengar suara seseorang memanggil, aku pun
menengok ke arah suara itu. Di sana terlihat seorang wanita melambaikan
tangannya mendekatiku.
Wanita itu berhenti tepat di depanku, ia terlihat memperhatikanku
dari bawah sampai atas. “Kamu gadis yang tadi datang bersama Gerald dan yang
lainnya bukan?” tanya wanita itu.
Aku baru mengingat, wanita ini merupakan orang yang tadi berdiskusi
dengan Gerald di gerbang masuk. “Benar, kamu kalau tidak salah Tina bukan?
Namaku Arin.” aku pun menjawab pertanyaannya.
“Nama yang bagus, Arin” ia menjawab dengan senyuman lalu
lanjut berkata. “Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku hanya melihat-lihat saja.” Aku kembali menatap
bunga-bunga yang terpajang di toko itu. “Tadinya, aku ingin membeli salah satu
bunga ini. Tapi, aku baru sadar tidak punya uang.” Aku mengusap kepala
belakangku.
Tina yang mendengar penjelasanku tertawa kecil. “Sini, biar
aku belikan.” Mendengar tawaran dari Tina, aku merasa senang dengan kebaikannya.
Namun, aku masih merasa tidak enak menerimanya. “Tidak perlu, Tina. Aku tidak
ingin merepotkanmu.”
Tina tersenyum ramah. "Tidak usah khawatir. Anggap saja
ini sebagai hadiah awal pertemanan kita.” Tina lalu menarikku ke dalam toko
bunga tersebut.
__ADS_1
Kami berdua mengelilingi toko bunga tersebut, menikmati
keindahan bunga-bunga yang tersusun rapi dan warna-warni yang menarik. Tina
berhenti lalu menatapku. “Kau ingin bunga yang mana?”
Aku sedikit bingung memilihnya, karena banyak sekali bunga-bunga
yang indah. “Hmm... aku bingung memilihnya,” ucapku pada Tina.
“Bagaimana kalau bunga matahari ini?” Tina menunjuk pada serangkaian
bunga matahari. “Warnanya mirip dengan rambutmu dan juga bunga ini memiliki arti
cinta dan harapan.”
Aku memperhatikan rangkaian bunga matahari itu, memang
terlihat indah aromanya juga segar. “Baiklah, aku memilih bunga ini.”
Setelah Tina membayarkan bunga tersebut, kami keluar dari
toko bunga dengan senyum bahagia di wajah kami. Tina memberikan rangkaian bunga
itu padaku. "Kami ingin memberikan bunga itu pada Seva bukan?"
Wajahku tiba-tiba terasa hangat mendengar pertanyaan Tina
lalu aku menjawab dengan anggukan kecil sambil memeluk bunga itu. “Seva, dia
telah menyelamatkanku dua kali. Setidaknya aku ingin memberi dia sesuatu.”
Tina tersenyum mendengar jawabanku.
Hari sudah malam, kami berdua lanjut berjalan di sekitar
rumah sakit. “Kota ini terasa sangat damai,” ucapku.
“Kau benar, kota ini memang terasa damai. Karena itu aku
sangat menyukai kota ini.”
kedamaian kota ini. Sebenarnya sedang ada krisis yang terjadi,” ucap Tina.
“Memangnya apa yang terjadi?” tanyaku penasaran.
Wajah Tina seketika murung, ia menatap ke arah bangunan
besar yang ada di ujung kota. “Belum lama ini, pemimpin kota Warenburg telah
jatuh sakit.” Aku terdiam mendengarkan Tina lalu ia lanjut berkata. “Mendengar kabar
itu, seorang diplomat dari negara di timur ingin mengambil alih kota ini.”
“Belum lagi ancaman dari para monster dan bandit di luar
sana.” Lanjut Tina.
Aku merasa mengerti dengan penjelasan Tina, karena aku merupakan
salah satu korban penculikan dari bandit-bandit itu. Aku tidak tahu harus berkata
apa pada Tina.
“Kau tidak perlu khawatir, Arin.” Tina tersenyum ke arahku. “Tenang
saja, penduduk di kota ini sangatlah kompak. Mereka pasti bisa menghadapi
krisis ini.”
Aku merasa sedikit lega mendengar penjelasan Tina. “Semoga
semuanya baik-baik saja,” ucapku.
Tina menjawab dengan anggukan kecil. Kami berdua pun lanjut
berjalan sampai akhirnya berhenti di depan pintu masuk rumah sakit.
“Sudah larut malam, kau beristirahatlah,” ucap Tina.
__ADS_1
“Kau benar. Terima kasih banyak ya, Tina.” Aku menundukkan
badanku. “Baiklah, sampai ketemu nanti.” Tina melambaikan tangannya lalu pergi.
Setelah Tina pergi, aku segera menuju pintu masuk rumah
sakit.
“Kau tahu, aku percaya pertemuan kita bukanlah kebetulan
melainkan sebuah takdir.” Tiba-tiba suara pria terdengar dari belakangku.
Segera aku melihat arah dari suara itu, seorang pria dengan pakaian
layaknya penyair berdiri di belakangku.
“Apa maksudmu?” tanyaku pada pria itu.
Pria penyair itu tersenyum penuh misteri. "Aku percaya
bahwa setiap pertemuan dalam hidup memiliki alasan tersendiri. Kita tidak
selalu tahu apa yang menghubungkan kita dengan orang lain, namun takdir sering
kali membawa kita pada jalan yang tak terduga."
Aku merenung sejenak tentang kata-kata pria itu, mencoba
mencari pemahaman di balik ucapannya. Apakah maksudnya?
"Puisi dan takdir, rasanya kau adalah sosok yang penuh
misteri," ucapku setelah merenung sejenak.
Pria penyair itu tertawa mendengar jawabanku. "Misteri
adalah bagian dari hidup. Namaku adalah Selly dan aku menyusuri kota-kota
dengan pena dan pikiran terbuka."
Selly tersenyum lalu berkata. "Kota Warenburg adalah
salah satu tempat yang sering aku kunjungi sebagai seorang penyair. Kota ini
memiliki aura yang menarik bagi para pencari inspirasi, dan ceritamu, Arin,
sepertinya juga memiliki banyak hal menarik untuk diceritakan."
Aku terkejut ketika dia mengetahui namaku, padahal aku belum
pernah menyebut ataupun memberitahunya. “Bagaimana kau tahu namaku?”
“Seperti yang kukatakan, Arin. Pertemuan kita pasti adalah
takdir,” ucap Selly.
Selly lalu membalikkan badannya dan perlahan pergi. “Kita
pasti akan bertemu lagi.” Selly pun pergi hilang dari pandanganku.
“Pria yang aneh,” Aku pun melanjutkan langkah masuk ke dalam
rumah sakit dengan bunga matahari di genggamanku.
Aku melangkah pelan menuju ruangan Seva. “Seva, aku sudah
kembali,” ucapku dengan lembut. Saat membuka pintu, aku melihat Seva masih
terbaring di ranjang dengan mata tertutup.
Aku mendekatinya dan menempatkan rangkaian bunga matahari di
meja samping tempat tidurnya.
Melihat wajahnya yang tertidur pulas, aku menyentuh pipinya.
“Hehe, wajahmu terlihat lucu saat tertidur.”
Aku pun duduk di sebelah ranjangnya, mataku mulai terasa berat
__ADS_1
sampai akhirnya aku tertidur.