The Wanderer

The Wanderer
Pertarungan Penentu Dimulai


__ADS_3

Aku sedikit lega melihat Lisa datang, kulihat ia melambaikan tangannya. Tiba-tiba, pria yang berada di depan Lisa melompat dari kudanya dengan gerakan lincah dan meluncur ke arahku. Dengan mengangkat pedang besarnya pria itu meluncur dengan cepat, berusaha untuk menyerangku.


Dalam sekejap, aku merasakan adrenalin membanjiri tubuhku, siap untuk menghadapi serangan ini. Aku dengan refleks yang tajam melompat ke samping, menghindari serangannya.


Suara dentuman keras menggema ketika pria itu menghantam tanah yang tadi kupijak. Dari balik gumpalan debu yang beterbangan ia meluncur dengan cepat berusaha menyerangku. Pria itu melancarkan serangan beruntun, dengan gerakan pedang yang lincah dan tepat. Aku dengan sigap menghindari setiap serangan, bergeser dengan kecepatan yang sama dengan gerakannya.


Tiba-tiba aku kehilangan keseimbanganku lalu terjatuh ke tanah, melihatku lengah pria itu segera melancarkan serangan mematikan tepat ke arah kepalaku.


Dalam waktu yang singkat itu aku mendengar Lisa berteriak. “Gerald, hentikan!”


Tiba-tiba, saat pedang besar itu hampir saja mengenai kepalaku, sebuah gelombang angin yang kuat melanda area sekitar. Daun-daun pohon bergerak dalam kekacauan, debu dan rumput terombang-ambing oleh angin yang mendadak menerjang.


Dalam sekejap, semuanya berhenti. Seperti ada keheningan yang tiba-tiba menyelimuti medan pertempuran. Ketika aku melihat ke depan, aku melihat pedang besar itu, hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. Tetapi pedang itu tidak bergerak lagi.


Lisa segera berlari menghampiriku, wajahnya terlihat khawatir. “Kamu tidak apa-apa kan?” ucap Lisa sambil mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.


Tiba-tiba, ekspresi wajah Lisa berubah menjadi serius. Dia menghampiri pria tersebut dengan langkah tegap, tatapan matanya menusuk tajam ke arah pria itu. "Gerald, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyerangnya tiba-tiba?!”


Pria itu hanya terdiam, aku juga sedikit bingung. “Lisa, kau mengenal pria ini?” Tanyaku.


Lisa kembali menatapku lalu membungkuk. “Maafkan aku, pria bodoh ini adalah kakakku.” Kutatap pria itu, dia hanya tersenyum sambil mengusap kepalanya.


“Hahaha... Maafkan aku, kupikir kau adalah banditnya.” Pria itu berkata sambil kembali memasukkan pedang besarnya ke dalam sarung pedang yang terikat di pinggangnya.


Lisa dengan ekspresi kesal langsung memukul kepala pria itu. “Dasar bodoh, bagaimana jika seranganmu mengenai dia?”


Aku hanya terdiam melihat Lisa memarahi kakaknya. Setelah itu, mereka berdua menghampiriku. “Sekali lagi, aku minta maaf atas tindakan yang kulakukan.” Pria itu mengulurkan tangannya dan lanjut berkata. “Aku Gerald.”


Meskipun masih merasa sedikit kesal, aku menerima jabatan tangannya dengan hati terbuka. "Aku memaafkanmu, Gerald. Tetapi kita perlu belajar untuk lebih berhati-hati dalam situasi seperti ini."


Lisa mengangguk setuju, menunjukkan bahwa dia juga sudah mulai meredakan kekesalannya. "Benar, kau harus mendengar perkataannya, Gerald.”


Gerald mengangguk penuh penyesalan. "Aku berjanji akan menjadi lebih berhati-hati ke depannya.”


“Bagaimana dengan temanmu?” tanya Lisa.


Aku memandang ke arah bos bandit itu pergi. “Dia telah dibawa pergi,” jawabku dengan nada rendah.

__ADS_1


“Kalau begitu, kita harus segera mengejarnya,” ucap Lisa.


Gerald memperhatikan para bandit yang telah kukalahkan, lalu melihat ke arahku dan berkata. “Tunggu, bagaimana dengan para bandit ini?”


Lisa menatap kakaknya itu dengan wajah jengkel lalu menjawab. “Kau kan pemimpin kesatria, perintahkan saja bawahanmu nanti.”


Gerald menghela nafasnya dengan panjang, ia menghampiri salah satu bandit yang terbaring di tanah. “Baiklah, kalian ambil kuda itu. Aku akan mengikat bandit ini dulu.”


Setelah menaiki salah satu kuda itu bersama Lisa, kami segera pergi menuju Gerald yang sedang mengikat para bandit itu dalam satu ikatan. “Gerald, cepatlah.” 


“Kalian pergi lebih dulu, aku hampir selesai.” Gerald berkata sambil menerima tali kuda miliknya dari Lisa.


Lisa menepuk pundakku lalu berkata. “Baiklah, ayo pergi.”


Kami berdua berangkat mengikuti arah bos bandit pergi. Dalam perjalanan Lisa bertanya padaku. “Aku belum tahu namamu siapa?” aku melirik sedikit ke belakang lalu menjawab. “Namaku Seva.”


Lisa mengangguk lalu tersenyum. “Oh... Nama yang bagus,” ucap Lisa. Aku merasakan Lisa bersandar di punggungku.


Aku menaiki kuda dengan hati-hati, merasa getaran tubuh binatang itu di bawahku. Dalam gelapnya hutan yang menyelimuti kami, hanya suara hembusan angin yang terdengar. Kami bergerak dengan cepat mengejar waktu, mengikuti jejak-jejak yang terlihat samar di bawah.


Dalam keheningan, tiba-tiba setitik cahaya meluncur dengan cepat ke arah kami. Dengan cepat aku menarik kekang kuda dengan kuat. Binatang itu, merespon perintahku menyebabkan tubuhnya melambat dan seketika berhenti.


Aku memegang erat kekang kuda untuk menjaga keseimbanganku, Lisa juga berpegang padaku dengan erat. Kulihat sekeliling hutan yang gelap untuk mencari tahu asal dari bola api tersebut.


“Siapa di sana?” Lisa berteriak memanggil siapa pun yang bertanggung jawab telah menyerang kami secara membabi buta.


Tiba-tiba cahaya rembulan tertutupi oleh sesuatu menciptakan bayangan hitam yang menutupi kami dari atas. Segera kutoleh ke atas, sosok yang kukenal terlihat meluncur ke arah kami dengan cepat.


Aku langsung menarik kekang kuda itu mencoba untuk menghindar. Namun, semuanya terasa begitu cepat. Suara dentuman keras tercipta saat sosok itu menghantam tanah menciptakan gelombang kejut yang besar, membuat kami terhempas dari kuda yang kami naiki.


“Hahaha... sudah kuduga kau tidak akan menyerah begitu saja.” Terdengar suara dari balik debu-debu yang beterbangan.


Ketika debu yang beterbangan perlahan-lahan mengendap, cahaya rembulan kembali menerangi tempat itu lalu sosok pria yang tegap dengan senyuman lebar di wajahnya mulai terlihat dengan jelas di tengah-tengah keheningan yang mencekam.


Ya betul, itu adalah bos bandit yang sedang kami kejar. Aku tidak menyangka ia akan melakukan serangan dadakan dari pada memilih melarikan diri, tekad pria ini patut diberi pujian.


Aku mencoba bangkit saat kulihat ke arah Lisa, ia masih terbaring. Segera aku berlari ke tempat Lisa berada. “Hey, bangun cepat” ucapku pada Lisa.

__ADS_1


Lisa terbangun, pandangannya masih terlihat kabur, seolah-olah mata dan pikirannya masih mencoba mencerna di mana dan situasi apa dia berada.


“Wah... sepertinya kau membawa bantuan kali ini.” Bos bandit itu berkata dengan nada sombongnya, ia perlahan mendekat ke arah kami.


Dari balik semak-semak anggota bandit yang lain muncul, masing-masing dari mereka membawa senjata lengkap. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang tadi, apa mereka memanggil bala bantuan dan sengaja menunggu kedatangan kami.


Aku menatap tajam satu per satu para bandit yang muncul, mencoba mencari keberadaan Arin. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang membawa Arin.


“Lisa, ayo sadarlah.” Aku mencoba menggoyangkan tubuh Lisa, beruntungnya ia segera merespon. “Maaf... Aku sudah baik-baik saja sekara-” ucapan Lisa tiba-tiba terpotong. aku menatap Lisa, ekspresi wajahnya terlihat terkejut.


“K-Kau?” ucap Lisa sambil menunjuk ke arah bos bandit itu.


Bos bandit itu seketika tertawa. “Hahaha... Kau tahu siapa aku, gadis kecil?”


Aku kembali menatap Lisa. “Lisa, kau tahu siapa dia?” tanyaku.


Lisa menatap bos bandit dengan ngeri lalu menjawab. “Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas perdagangan manusia untuk dijadikan budak dan dia merupakan orang yang pernah menghancurkan desa kincir di wilayah barat Warenburg.” Kulihat tetesan keringat turun dari pelipis Lisa lalu ia melanjutkan. “Penjahat paling dicari di Warenburg, Si Pemburu Malam Jack.”


“Kau benar, gadis kecil.” Jack berkata dengan ekspresi wajah yang terlihat senang. “Itulah aku, Jack Si Pemburu Malam.” Ia tertawa dengan keras.


“Aku tidak tahu kalau kau yang bertanggung jawab telah menculikku dan keempat wanita itu.” Lisa melanjutkan, ekspresi wajahnya terlihat marah.


Kami berdua pun bangun berdiri bersampingan. Kulihat Jack melangkah maju dengan langkah yang pasti, mengekspresikan dominasinya atas situasi. Senyum di wajahnya memancarkan ketenangan yang mencekam, seolah-olah menunjukkan keyakinan diri yang tak tergoyahkan.


Kulihat ke arah Lisa meskipun ada rasa takut yang melingkupi pikirannya, ketegasan tergambar di matanya yang fokus, siap menghadapi apa pun yang akan datang.


Sinar bulan melambat-lambat turun, menciptakan bayangan yang memanjang di sekeliling kami. Di bawah tekanan aku dapat merasakan detak jantung kami berdentum seirama.


Dalam satu hentakan kaki yang kuat, Jack berlari ke arah kami di ikuti dengan para bawahannya.


Lisa segera mengeluarkan pedang yang tersarung di pinggangnya, begitu pula denganku bersiap menghadapi mereka semua.


Kami memandang satu sama lain, saling menguatkan dengan tatapan penuh tekad. Dimulai dari langkahku dan diikuti oleh Lisa dari belakang, kami berdua maju berlari ke arah para bandit itu.


...


Di lain sisi, Gerald baru saja selesai mengikat para bandit itu. “Sepertinya mereka sudah pergi jauh,” Ucap Gerald sambil mengusap rambutnya.

__ADS_1


Gerald segera menaiki kudanya. Dengan satu hentakan yang kuat pada tali kekang kuda, ia mempercepat lajunya menyusul Lisa dan Seva. “Tunggu aku, kalian berdua.”


__ADS_2