
Lisa telah sampai di gerbang masuk kota Warenburg, bersama
keempat wanita itu Lisa bergegas menghampiri penjaga gerbang.
“Tolong bawa mereka ke rumah sakit.” Perintah Lisa pada kedua
penjaga yang sedang bertugas.
Salah satu penjaga gerbang membawa keempat wanita yang
bersama Lisa menuju rumah sakit, sedangkan yang satunya meminta penjelasan dari
Lisa.
“Nona Lisa, anda dari mana saja? Sudah dua hari Anda menghilang,”
tanya penjaga itu.
“Nanti saja penjelasannya. Sekarang, aku ingin kau segera mengumpulkan
beberapa kesatria yang sedang bertugas.” Lisa memerintahkan penjaga gerbang itu.
Namun, tiba-tiba seseorang datang menahan penjaga itu untuk tidak pergi. “Tunggu.”
Sosok pria kesatria yang gagah berdiri tegak dengan sikap
yang kokoh dan penuh keberanian. Dia memiliki postur yang tinggi dan atletis,
dengan bahu yang lebar dan tubuh yang berotot. Wajahnya yang gagah memiliki
garis rahang yang tegas dan raut yang serius. Matanya memancarkan kecerdasan
dan ketajaman, seolah-olah selalu siap menghadapi tantangan apa pun yang ada di
depannya.
Pria ini mengenakan baju zirah yang berkilauan menutupi
tubuhnya, Di pinggangnya tergantung pedang besar yang memancarkan kehebatan dan
keadilan.
Penjaga gerbang itu terkejut panik saat melihat pria besar
ini, dengan cepat ia menundukan kepalanya.
Pandangan Lisa teralihkan ke pria itu, Lisa menundukan
kepalanya menunjukkan rasa hormat pada pria itu lalu berkata dengan suara pelan.
“Kakak Gerald.”
Pria itu bernama Gerald, ia merupakan pemimpin para kesatria
di kota Warenburg dan juga kakak kandung dari Lisa.
“Dari mana saja kau? Mengapa pakaianmu lusuh seperti itu?”
Gerald berkata dengan nada datar.
“Singkatnya aku diculik oleh sekelompok bandit saat sedang
bersama Rani, lalu seorang pengembara menyelamatkan kami dan sekarang dia
sedang mengejar para bandit yang melarikan diri.” Jelas Lisa pada Gerald.
Gerald hanya terdiam melihat adiknya, lalu ia mengangkat
tangan kanannya memanggil penjaga gerbang tadi. “Bawakan adikku jubah yang
bersih.” Perintah Gerald ke penjaga gerbang.
Dengan sigap penjaga gerbang itu masuk kembali ke posnya
untuk mengambil jubah yang bersih.
Sementara menunggu, Gerald mendekati adiknya dan berkata. “Jadi
kau meminta pasukan untuk kau bawa menuju markas bandit?” Lisa hanya membalasnya
dengan anggukan kecil.
Gerald memberi Lisa tatapan yang tajam lalu berkata. “Untuk
apa?” Lisa bergetar mendengar ucapan Gerald, ia merasa nyalinya seketika runtuh
di hadapan kakaknya.
__ADS_1
Namun, ia harus kuat menghadapi intimidasi kakaknya itu. Dengan mengumpulkan tekad yang kuat Lisa
membalas tatapan tajam kakaknya lalu berkata. “Aku telah diselamatkan oleh
pengembara itu. Sekarang, giliranku untuk membantunya.”
Lisa merasakan setetes keringat turun dari pelipisnya, ia
terus menatap Gerald yang dari tadi menatap tajam ke arahnya.
Kontes saling menatap antara kakak dan adik itu seketika
terganggu dengan datangnya penjaga gerbang tadi, ia membawakan satu jubah
bersih. “Tuan Gerald, ini jubah yang anda minta.”
Gerald menghela nafasnya mengakhiri intimidasinya lalu ia
menerima jubah itu. “Pakailah ini.” Gerald berkata sambil melempar jubah itu ke
Lisa.
Lisa segera menangkap jubah itu lalu mengenakannya, Lisa
dengan wajah bingungnya berkata. “Bagaimana dengan permintaanku?”
Gerald kembali menatap Lisa lalu berkata dengan nada sedikit
keras. “Tina, dari tadi kau mendengarkan bukan? Cepatlah keluar!”
Tiba-tiba seorang gadis dengan penampilan sederhana
mengenakan jubah khas kesatria Warenburg keluar dari balik semak-semak.
Gadis itu bernama Tina, ia merupakan asisten pribadi Gerald
dan juga salah satu ahli sihir dalam kesatuan kesatria Warenburg.
“Jika kau sudah menyadari keberadaanku, mengapa kau tidak
memanggilku dari tadi?” Keluh Tina dengan raut wajahnya yang cemberut.
Gerald terlihat mengusap rambutnya lalu tersenyum. “Maafkan
aku, lagi pula kenapa kau malah menguping? Bukannya langsung keluar saja.”
Tina menatap Gerald dengan wajah kesal, lalu menjawab dengan
nada yang sedikit berlebihan. “Maafkan aku, Tuan Gerald yang hebat!” Tina menyilangkan
lengannya lalu mengangkat alisnya menatap Gerald kesal.
Lisa yang melihat interaksi antara Gerald dan Tina menghela
nafasnya lalu menggelengkan kepalanya. “Hey! Bagaimana dengan permintaanku?”
tanya Lisa sedikit kesal.
Tina seketika terkejut melihat keberadaan Lisa, ia segera
menghampiri Lisa. “Lisa? Dari mana saja kau dua hari ini?”
Lisa terlihat jengkel mendengar perkataan Tina, ia lalu menjawab.
“Kau mendengarkan pembicaraan kami dari tadi. Tapi kau tidak menyadari keberadaanku?”
Tina hanya membalasnya dengan tawaan kecil.
Lisa kembali menatap Gerald dan berkata. “Bagaimana dengan
permintaanku?” Gerald yang mendengar pertanyaan Lisa lalu menjawab dengan
enteng. “Aku saja sudah cukup bukan?”
Mendengar jawaban Gerald Lisa sedikit terkejut. “Kau-“ sebelum
bisa menyelesaikan kalimatnya, Gerald memotong dengan berbicara pada Tina. “Tina,
tolong jaga kota ini selama aku pergi.” Tina yang mendengar perkataan Gerald
juga ikut terkejut.
Tina terlihat bingung lalu ia bertanya kepada Gerald. “Tu-Tunggu,
apa maksudmu?” Gerald terkekeh melihat wajah bingungnya Tina, ia lalu mendekati
Lisa dan mengusap kepalanya dengan kencang. “Aku harus membantu pria yang telah
__ADS_1
menyelamatkan adikku.” Jawab Gerald dengan senyum lebar di wajahnya.
Seperti tahu akan rencana Gerald, penjaga gerbang tadi menenteng
tali kepang dengan dua ekor kuda yang berdiri tegak di sampingnya.
Segera Gerald mengangkat tubuh Lisa untuk menunggangi salah
satu kuda itu, Gerald lalu menyusul menaiki kuda satunya lagi.
Tina yang melihat mereka hanya bisa menghela nafas panjang
lalu berkata. “Kau memang suka seenaknya saja.” Ia pun tersenyum ke arah kedua
kakak beradik itu dan melanjutkan. “Kalian berdua berhati-hatilah, jangan lupa
untuk kembali.”
Gerald membalas dengan lambaian tangannya, Lisa juga ikut
melambaikan tangannya. Mereka berdua akhirnya berangkat menuju tempat Seva
berada.
...
Seva berdiri tegak di antara para bandit yang
mengelilinginya, dia berhasil mengambil alih pertarungan ini.
Tiga bandit yang tersisa merupakan petarung jarak dekat,
menguntungkan Seva dalam hal bertarung.
Seva dengan percaya diri menghadapi tiga bandit yang
tersisa. Dia memanfaatkan keunggulan bertarung jarak dekatnya dan kekuatan
barunya. Dalam gerakan yang cepat, Seva menggunakan kelincahan dan kekuatannya
untuk menghindari serangan musuh dan pada saat yang sama memberikan serangan
balik yang mematikan.
Setiap serangan yang dilakukan Seva mengenai sasaran,
mencerminkan keahlian bertarung yang ia miliki ditambah dengan kekuatan barunya
yang mampu memperkuat fisik Seva, berhasil membuat para bandit tidak berdaya.
Tak lama kemudian, satu per satu bandit jatuh di tangan
Seva. pertarungan berakhir dengan kemenangan telak bagi Seva.
Dalam keheningan pasca-pertarungan, Seva berdiri di
tengah-tengah para bandit yang telah dikalahkannya. Napasnya terengah-engah,
tetapi ekspresi wajahnya tetap tenang.
Tiba-tiba Seva merasakan getaran halus yang merambat melalui
pijakan kakinya. Dalam sekali pandang, ia melihat sekelilingnya, mengamati
setiap detail dengan waspada. Dari kejauhan, terlihat bayangan samar yang
semakin mendekat ke arah Seva, meninggalkan jejak debu yang terangkat di
belakangnya.
Saat napasnya masih terengah-engah, Seva dengan hati-hati
mempersiapkan dirinya menghadapi apa pun yang akan terjadi. Setiap ototnya
tegang, siap merespons situasi dengan cepat. Ketegangan semakin memuncak ketika
bayangan semakin mendekat.
Lambat laun, gambaran yang lebih jelas mulai terbentuk di
hadapan Seva. Seorang pria yang mengenakan zirah berkilauan dengan detail yang
rumit, menunggang kuda dengan gagah.
Namun, itu bukanlah satu-satunya sosok yang memasuki pandangan
Seva. Di belakang pria itu, sosok yang dikenal oleh Seva ikut menunggangi kuda
__ADS_1
dengan kehadiran yang mempesona. Itu adalah Lisa.