The Wanderer

The Wanderer
Roothorn!


__ADS_3

Kami terus bergerak dengan lincah, menghindari akar-akar itu


sambil tetap berusaha melawan monster yang mengejar kami. Detak jantung kami


semakin cepat, dan keringat mengalir deras dari wajah kami. Aku mencoba


berpikir cepat, mencari cara untuk menghadapi akar-akar ini.


“Sial, akar-akar ini mengganggu sekali!” ucapku kesal.


Setiap kali kami berusaha berlari, akar-akar itu memanjang


dan menyergap tiba-tiba seperti tangan-tangan raksasa yang mencoba menangkap


mangsa.


"Kita harus mencari cara untuk menghentikan akar-akar


itu, Seva!" ucap Arin dengan wajah yang mulai panik.


Aku mengeluarkan belatiku berusaha memotong akar-akar yang


memanjang. Namun, semua terasa sia-sia. Setiap kali aku berhasil memotong,


dengan cepat akar itu beregenerasi.


Aku merenung sejenak, mencari solusi. "Kita tidak bisa


terus berlari, akar-akar ini terlalu cepat tumbuh kembali. Kita perlu


menghadapinya dengan strategi yang berbeda."


Aku melihat sekitar, mencari sesuatu yang bisa membantu


kami. Mataku tertuju pada sebuah batu besar yang terletak tidak jauh dari


tempat kami berdiri.


"Arin, lihat ke sana! Apakah kamu melihat batu besar


itu?" tanyaku sambil menunjuk.


Arin mengangguk. "Ya, aku melihatnya! Apa yang harus


kita lakukan dengan batu itu?"


"Ayo kita gunakan batu ini untuk menghentikan akar-akar


itu," ucapku sambil merencanakan tindakan selanjutnya.


Kami berdua berlari menuju batu besar itu. Dengan sekuat


tenaga, kami berusaha menggulingkannya menuju akar-akar yang mendekat. Dalam


satu momen yang tepat, kami menggulingkan batu besar itu. Saat batu besar itu


menyentuh akar-akar itu, kami dapat melihat akar-akar itu tertimpa dan tidak


bisa bergerak.


"Saatnya kita berlari!" seruku pada Arin.


Kami berdua berlari menjauh, menghindari akar-akar yang


sempat terhenti sejenak karena batu besar tersebut. Adrenalin kami terus


memuncak, karena kami tahu monster itu tidak akan berhenti begitu saja.


Saat kami terus bergerak, aku berpaling untuk melihat ke


arah monster itu. Seakan tidak merasa rasa sakit, monster itu tiba-tiba


memotong lengannya sendiri dengan satu gerakan yang ganas. Lalu, monster itu


kembali mengejar kami dengan mata yang membara dan niat membunuh.


Kami terus berlari sekencang mungkin, gerakan monster itu


semakin cepat jika kami berhenti sebentar saja mungkin monster itu dapat


menyusul kami. Tiba-tiba, aku melihat sesuatu di penghujung hutan yang


membuatku terkejut.


"Arin, lihat!" seruku sambil menunjuk ke arah

__ADS_1


sosok yang berdiri di tepi hutan.


Arin yang sedang fokus berlari, menoleh ke arah yang


kutunjuk. Sosok pria itu berdiri tegak dengan pakaian yang terlihat berbeda


dari pakaian kami. Dia memiliki rambut merah yang terikat dan tatapan matanya


penuh kekhawatiran.


"Cepat! Lari ke arahku!" seru pria tersebut dengan


suara yang menggetarkan.


Tanpa berpikir panjang aku langsung menarik lengan Arin,


kami segera berlari ke arah pria itu.


Setelah beberapa saat, kami berhasil mencapai tepi hutan di


mana pria itu berdiri. Sesampainya di sana, kami mendapati diri kami berada di


tengah sekelompok orang bersenjata lengkap yang siap sedia.


Dalam keadaan terkejut, aku menarik nafas dalam-dalam dan


bertanya, "Siapa kalian?"


Pria berambut merah itu dengan lembut menyentuh bahuku dan


tersenyum, "Kalian tidak perlu takut, mereka adalah warga dari desa


kincir. Aku adalah Kyle, kesatria yang sedang bertugas di desa kincir."


Kami merasa lega mendengar penjelasan Kyle. Namun, aku masih


merasa bingung, "Tapi kenapa kalian menyelamatkan kami? Dan apa hubungan


kalian dengan monster itu?"


Kyle mendekatkan diri dan menjawab, "Saat di desa, kami


merasakan gempa kecil dan juga mendengar suara gemuruh yang besar. Ketika kami mencari


sumbernya, aku melihat kalian berdua dalam bahaya, jadi kami memutuskan untuk


menyangka, Roothornlah yang menciptakan gempa kecil tadi.”


“Roothorn?” tanya Arin bingung.


Sebelum Kyle bisa menjawab, salah satu orang dari kelompok


itu berteriak. “Kyle! Dia sudah dekat!” Roothorn mendekat dengan cepat, membuat


tanah sekitar berguncang. Sekelompok orang itu segera membuat barisan bertahan.


“Maaf, penjelasannya nanti saja. Kami harus mengalahkan


monster ini,” ucap Kyle mengeluarkan pedang yang tersarung di punggungnya. Ia


segera memasang kuda-kuda bersiap menyerang monster itu.


“Kami akan membantu,” aku menawarkan diri mengeluarkan belati yang tersarung di


pinggangku. Kyle melihatku dan tersenyum, ia lalu menganggukkan kepala


tanda setuju.


Monster itu semakin mendekat, wajah para warga juga terlihat


semakin panik. “Jangan gentar! Monster itu hanya sendiri, kita pasti bisa


mengalahkannya,” Kyle berkata dengan suara tegas membuat para warga semangat


kembali, mereka mengangkat senjata lalu berteriak. “Demi desa kincir!”


Dengan mata yang semakin menyala, monster Roothorn akhirnya


keluar dari hutan lebat menuju dataran terbuka. Saat tubuhnya yang besar


bergerak melalui pepohonan, pohon-pohon besar terhempas seperti kertas yang


diterbangkan oleh angin kencang. Dedaunan dan ranting-ranting beterbangan di


udara, menciptakan pemandangan yang menakutkan.

__ADS_1


"Wahai Roothorn, hentikan perbuatanmu yang merusak


ini!" seru Kyle dengan suara yang bergema di sekitar dataran. "Kami,


warga desa kincir, tidak akan membiarkanmu menyebabkan kekacauan di tanah


kami!"


Para warga desa kincir yang berada di belakang Kyle juga


berteriak dengan semangat.


“Arin, kau mundurlah,” ucapku pada Arin. Arin menganggukkan


kepalanya lalu pergi menjaga jarak dari medan pertempuran.


Tanah di sekitar Roothorn kini berguncang dengan lebih hebat. Monster itu mendaratkan


salah satu kakinya dengan kuat, menciptakan gempa kecil yang membuat warga desa


terhuyung-huyung. Namun, mereka tetap tegar berdiri, tidak menunjukkan rasa


takut.


Aku dan para warga desa serentak maju, berusaha menyerang Roothorn dari berbagai arah,


mencoba memotong akar-akarnya yang terus tumbuh dan menyentuh tanah.


Namun, Roothorn bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Monster itu mengeluarkan


serangan balasan dengan menggunakan tangannya yang berbentuk akar panjang,


menghalangi serangan-serangan kami.


Tanah terus berguncang, dan deru serangan serta teriakan para warga desa mengisi udara.


Sampai pada titik di mana Roothorn meraung dengan keras, dari akarnya yang


memanjang tumbuh duri-duri tajam.


Dalam satu hempasan dari akar Roothorn, beberapa warga terhempas dan mengalami luka parah.


Kyle yang melihat keaadan semakin genting, memerintahkan para warga untuk


mundur dan menjaga jarak.


Saat aku hendak mundur, salah satu akar Roothorn mengarah padaku. Dalam satu hentakan


yang kuat, aku terhempas ke udara melayang tanpa arah. Roothorn dengan cepat


kembali mengarahkan serangannya padaku.


Aku berusaha mengendalikan tubuhku agar tidak jatuh dengan keras, namun akar


Roothorn yang memanjang sangat cepat, membuatku sulit menghindar. Ujung akar


itu tajam dan lancip, mirip seperti tombak raksasa yang meluncur dengan cepat


ke arahku.


Detik-detik tersebut terasa seperti waktu yang melambat. Terlihat ujung akar itu semakin


mendekat dengan kecepatan yang mengerikan. “Seva!” Aku dapat mendengar arin


berteriak. Tiba-tiba Cahaya keemasan muncul tepat di hadapanku, membuat Ujung


akar yang tajam itu pecah berantakan ketika bersentuhan dengan cahaya tersebut.


Saat aku melihat ke arah Arin, tiba-tiba suasana di sekitar


kami berubah. Angin berhembus kencang, dedaunan bergetar, dan langit mulai


memancarkan cahaya yang menyilaukan.


Arin menundukkan kepalanya. Dia merentangkan kedua tangannya


ke atas, dan tiba-tiba tubuhnya mulai mengeluarkan sinar keemasan seperti


cahaya misterius tadi.


Arin menaikkan kepalanya dan melihat Roothorn dengan tatapan


tajam, kedua matanya juga ikut menyala dengan sinar keemasan. “Aku tidak akan


membiarkanmu menyakiti Seva!” serunya, suaranya terdengar kuat dan penuh

__ADS_1


keyakinan.


__ADS_2