
Kami terus bergerak dengan lincah, menghindari akar-akar itu
sambil tetap berusaha melawan monster yang mengejar kami. Detak jantung kami
semakin cepat, dan keringat mengalir deras dari wajah kami. Aku mencoba
berpikir cepat, mencari cara untuk menghadapi akar-akar ini.
“Sial, akar-akar ini mengganggu sekali!” ucapku kesal.
Setiap kali kami berusaha berlari, akar-akar itu memanjang
dan menyergap tiba-tiba seperti tangan-tangan raksasa yang mencoba menangkap
mangsa.
"Kita harus mencari cara untuk menghentikan akar-akar
itu, Seva!" ucap Arin dengan wajah yang mulai panik.
Aku mengeluarkan belatiku berusaha memotong akar-akar yang
memanjang. Namun, semua terasa sia-sia. Setiap kali aku berhasil memotong,
dengan cepat akar itu beregenerasi.
Aku merenung sejenak, mencari solusi. "Kita tidak bisa
terus berlari, akar-akar ini terlalu cepat tumbuh kembali. Kita perlu
menghadapinya dengan strategi yang berbeda."
Aku melihat sekitar, mencari sesuatu yang bisa membantu
kami. Mataku tertuju pada sebuah batu besar yang terletak tidak jauh dari
tempat kami berdiri.
"Arin, lihat ke sana! Apakah kamu melihat batu besar
itu?" tanyaku sambil menunjuk.
Arin mengangguk. "Ya, aku melihatnya! Apa yang harus
kita lakukan dengan batu itu?"
"Ayo kita gunakan batu ini untuk menghentikan akar-akar
itu," ucapku sambil merencanakan tindakan selanjutnya.
Kami berdua berlari menuju batu besar itu. Dengan sekuat
tenaga, kami berusaha menggulingkannya menuju akar-akar yang mendekat. Dalam
satu momen yang tepat, kami menggulingkan batu besar itu. Saat batu besar itu
menyentuh akar-akar itu, kami dapat melihat akar-akar itu tertimpa dan tidak
bisa bergerak.
"Saatnya kita berlari!" seruku pada Arin.
Kami berdua berlari menjauh, menghindari akar-akar yang
sempat terhenti sejenak karena batu besar tersebut. Adrenalin kami terus
memuncak, karena kami tahu monster itu tidak akan berhenti begitu saja.
Saat kami terus bergerak, aku berpaling untuk melihat ke
arah monster itu. Seakan tidak merasa rasa sakit, monster itu tiba-tiba
memotong lengannya sendiri dengan satu gerakan yang ganas. Lalu, monster itu
kembali mengejar kami dengan mata yang membara dan niat membunuh.
Kami terus berlari sekencang mungkin, gerakan monster itu
semakin cepat jika kami berhenti sebentar saja mungkin monster itu dapat
menyusul kami. Tiba-tiba, aku melihat sesuatu di penghujung hutan yang
membuatku terkejut.
"Arin, lihat!" seruku sambil menunjuk ke arah
__ADS_1
sosok yang berdiri di tepi hutan.
Arin yang sedang fokus berlari, menoleh ke arah yang
kutunjuk. Sosok pria itu berdiri tegak dengan pakaian yang terlihat berbeda
dari pakaian kami. Dia memiliki rambut merah yang terikat dan tatapan matanya
penuh kekhawatiran.
"Cepat! Lari ke arahku!" seru pria tersebut dengan
suara yang menggetarkan.
Tanpa berpikir panjang aku langsung menarik lengan Arin,
kami segera berlari ke arah pria itu.
Setelah beberapa saat, kami berhasil mencapai tepi hutan di
mana pria itu berdiri. Sesampainya di sana, kami mendapati diri kami berada di
tengah sekelompok orang bersenjata lengkap yang siap sedia.
Dalam keadaan terkejut, aku menarik nafas dalam-dalam dan
bertanya, "Siapa kalian?"
Pria berambut merah itu dengan lembut menyentuh bahuku dan
tersenyum, "Kalian tidak perlu takut, mereka adalah warga dari desa
kincir. Aku adalah Kyle, kesatria yang sedang bertugas di desa kincir."
Kami merasa lega mendengar penjelasan Kyle. Namun, aku masih
merasa bingung, "Tapi kenapa kalian menyelamatkan kami? Dan apa hubungan
kalian dengan monster itu?"
Kyle mendekatkan diri dan menjawab, "Saat di desa, kami
merasakan gempa kecil dan juga mendengar suara gemuruh yang besar. Ketika kami mencari
sumbernya, aku melihat kalian berdua dalam bahaya, jadi kami memutuskan untuk
menyangka, Roothornlah yang menciptakan gempa kecil tadi.”
“Roothorn?” tanya Arin bingung.
Sebelum Kyle bisa menjawab, salah satu orang dari kelompok
itu berteriak. “Kyle! Dia sudah dekat!” Roothorn mendekat dengan cepat, membuat
tanah sekitar berguncang. Sekelompok orang itu segera membuat barisan bertahan.
“Maaf, penjelasannya nanti saja. Kami harus mengalahkan
monster ini,” ucap Kyle mengeluarkan pedang yang tersarung di punggungnya. Ia
segera memasang kuda-kuda bersiap menyerang monster itu.
“Kami akan membantu,” aku menawarkan diri mengeluarkan belati yang tersarung di
pinggangku. Kyle melihatku dan tersenyum, ia lalu menganggukkan kepala
tanda setuju.
Monster itu semakin mendekat, wajah para warga juga terlihat
semakin panik. “Jangan gentar! Monster itu hanya sendiri, kita pasti bisa
mengalahkannya,” Kyle berkata dengan suara tegas membuat para warga semangat
kembali, mereka mengangkat senjata lalu berteriak. “Demi desa kincir!”
Dengan mata yang semakin menyala, monster Roothorn akhirnya
keluar dari hutan lebat menuju dataran terbuka. Saat tubuhnya yang besar
bergerak melalui pepohonan, pohon-pohon besar terhempas seperti kertas yang
diterbangkan oleh angin kencang. Dedaunan dan ranting-ranting beterbangan di
udara, menciptakan pemandangan yang menakutkan.
__ADS_1
"Wahai Roothorn, hentikan perbuatanmu yang merusak
ini!" seru Kyle dengan suara yang bergema di sekitar dataran. "Kami,
warga desa kincir, tidak akan membiarkanmu menyebabkan kekacauan di tanah
kami!"
Para warga desa kincir yang berada di belakang Kyle juga
berteriak dengan semangat.
“Arin, kau mundurlah,” ucapku pada Arin. Arin menganggukkan
kepalanya lalu pergi menjaga jarak dari medan pertempuran.
Tanah di sekitar Roothorn kini berguncang dengan lebih hebat. Monster itu mendaratkan
salah satu kakinya dengan kuat, menciptakan gempa kecil yang membuat warga desa
terhuyung-huyung. Namun, mereka tetap tegar berdiri, tidak menunjukkan rasa
takut.
Aku dan para warga desa serentak maju, berusaha menyerang Roothorn dari berbagai arah,
mencoba memotong akar-akarnya yang terus tumbuh dan menyentuh tanah.
Namun, Roothorn bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Monster itu mengeluarkan
serangan balasan dengan menggunakan tangannya yang berbentuk akar panjang,
menghalangi serangan-serangan kami.
Tanah terus berguncang, dan deru serangan serta teriakan para warga desa mengisi udara.
Sampai pada titik di mana Roothorn meraung dengan keras, dari akarnya yang
memanjang tumbuh duri-duri tajam.
Dalam satu hempasan dari akar Roothorn, beberapa warga terhempas dan mengalami luka parah.
Kyle yang melihat keaadan semakin genting, memerintahkan para warga untuk
mundur dan menjaga jarak.
Saat aku hendak mundur, salah satu akar Roothorn mengarah padaku. Dalam satu hentakan
yang kuat, aku terhempas ke udara melayang tanpa arah. Roothorn dengan cepat
kembali mengarahkan serangannya padaku.
Aku berusaha mengendalikan tubuhku agar tidak jatuh dengan keras, namun akar
Roothorn yang memanjang sangat cepat, membuatku sulit menghindar. Ujung akar
itu tajam dan lancip, mirip seperti tombak raksasa yang meluncur dengan cepat
ke arahku.
Detik-detik tersebut terasa seperti waktu yang melambat. Terlihat ujung akar itu semakin
mendekat dengan kecepatan yang mengerikan. “Seva!” Aku dapat mendengar arin
berteriak. Tiba-tiba Cahaya keemasan muncul tepat di hadapanku, membuat Ujung
akar yang tajam itu pecah berantakan ketika bersentuhan dengan cahaya tersebut.
Saat aku melihat ke arah Arin, tiba-tiba suasana di sekitar
kami berubah. Angin berhembus kencang, dedaunan bergetar, dan langit mulai
memancarkan cahaya yang menyilaukan.
Arin menundukkan kepalanya. Dia merentangkan kedua tangannya
ke atas, dan tiba-tiba tubuhnya mulai mengeluarkan sinar keemasan seperti
cahaya misterius tadi.
Arin menaikkan kepalanya dan melihat Roothorn dengan tatapan
tajam, kedua matanya juga ikut menyala dengan sinar keemasan. “Aku tidak akan
membiarkanmu menyakiti Seva!” serunya, suaranya terdengar kuat dan penuh
__ADS_1
keyakinan.