
Satu tahun telah berlalu semenjak kejadian itu, kini aku
tinggal bersama dengan seorang pria paruh baya bernama Paul di kabin tua
miliknya. Hari demi hari kulewati berlatih ilmu bela diri dengan Paul, hubungan
kami semakin dekat setelah menghabisi waktu bersama setahun ini, ia sudah
menjadi guruku yang kuhormati.
Setahun berlatih bersamanya telah mengubah diriku secara
fisik dan mental. Tubuhku menjadi lebih kuat dan gesit, sementara pikiranku
lebih fokus dan tenang.
Paul, dengan kebijaksanaannya dan pengalaman bertahun-tahun
dalam seni bela diri, terus memberiku pelajaran berharga. Ia mengajarkan
gerakan-gerakan yang halus dan strategi bertarung yang efektif. Setiap gerakan
dan teknik yang diajarkannya menjadi kekuatan baru dalam diriku.
Selain pelatihan, kami juga menghabiskan waktu bersama di
luar kabin. Kami menjelajahi hutan, berbicara tentang kehidupan, dan tertawa
bersama. Kebersamaan kami memberikan kedamaian dan kehangatan di tengah-tengah
kehidupan yang penuh tantangan.
Musim dingin telah berganti menjadi musim semi, tumpukan
salju di sepanjang jalan sudah mulai mencair tergantikan dengan
tumbuhan-tumbuhan yang mulai mekar kembali.
Aku berdiam diri dalam kamarku dengan tatapan jauh melihat
ke arah luar jendela, mungkin sudah saatnya aku pergi berkelana demi menemukan
mereka dan membalaskan dendamku.
Aku beranjak pergi keluar kamar menuju ruang tamu, di sana
Paul sedang duduk di bangku kesayangannya, aku pun duduk menghadapnya. “Aku
akan pergi.” Ucapku pada Paul yang seketika menatapku.
Paul tersenyum lalu tertawa. “Kau ingin pergi?” Ia menatapku
senyumnya perlahan memudar ketika dia melihat ketegasan di mataku. Dia
menganggukkan kepala, menunjukkan pengertian yang dalam. "Aku mengerti,
Seva." Kata Paul dengan suara lembut. "Pergilah, aku tahu bahwa ini
adalah perjalanan yang harus kau jalani sendiri."
Perasaan campur aduk menyelimuti hatiku, Paul telah menjadi
sosok guru yang sangat kuhormati, memberiku pelatihan dan kebijaksanaan yang
tak ternilai.
“Terima kasih, Paul.” Ucapku dengan nada rendah. “Terima
kasih telah menyelamatkanku dan melatihku selama satu tahun ini.”
Kami berdua saling menatap, merasakan ikatan yang telah
terjalin di antara kami selama setahun terakhir. Perpisahan ini bukanlah akhir
dari hubungan kami, tetapi hanya langkah baru dalam perjalanan hidup
masing-masing.
“Sebelum kau pergi, ada sesuatu yang ingin kuberikan
padamu.” Ucap Paul beranjak dari duduknya. “Kau pergilah bersiap-siap dulu.” Ia
pun pergi menuju kamarnya.
Melihatnya pergi, aku juga beranjak menuju kamarku untuk
bersiap.
Kuangkat tasku, kulihat sekeliling kamar yang telah
kutempati selama satu tahun. ‘Ini adalah perpisahan’ ucapku dalam hati.
Lalu aku pergi keluar kabin, di luar sana kulihat Paul sudah
menunggu dengan memegang sesuatu yang terbalut kain merah.
Kuhampiri dirinya yang sedang berdiri dengan senyuman di
wajahnya.
“Bawalah ini.” Ucap Paul memberikan benda yang ia pegang.
__ADS_1
Kubuka balutan kain itu, di sana terdapat sebilah belati
dengan pemata berwarna keemasan menempel pada ujung gagang belati itu.
“Itu adalah belati milik mendiang temanku, kuputuskan untuk
memberikannya padamu.” Paul berkata dengan menepuk pundakku.
“Apakah kau yakin memberikannya padaku?” tanyaku padanya.
Paul hanya menjawab dengan anggukan kepalanya lalu berkata.
“Anggap saja itu hadiah kelulusanmu.” Ia pun tertawa.
“Baiklah, akan kuterima belati ini.” Aku pun tersenyum, aku
mengulurkan tangan kananku, Paul merespon dengan melakukan hal yang sama, kami
berdua berjabat tangan dengan senyuman di kedua wajah kami.
“Terima kasih, Paul. Jagalah dirimu baik-baik.” Ucapku
padanya, Paul pun membalas. “Kau juga nak, mampirlah kembali jika ada
kesempatan.”
“Oke.” Balasku, kami berduapun melepaskan jabat tangan kami.
Kami berdiri di sana, menghela nafas dalam-dalam, menyadari
bahwa saat perpisahan telah tiba. Namun, dalam hati kami, ada keyakinan yang
kuat bahwa perjalanan kami tidak akan berakhir di sini.
Dengan langkah mantap dan hati yang penuh semangat, aku
meninggalkan tempat yang pernah menjadi rumahku selama setahun. Perjalanan ini
bukan hanya tentang balas dendam, tapi juga tentang menemukan identitasku yang
sejati, menemukan keadilan, dan memulihkan kedamaian yang telah dirampas.
...
Udara segar dan hangat menyambutku saat aku melangkah ke
dunia yang luas di luar sana. Angin menerpa wajahku, memberikan semangat dan
energi baru dalam petualangan yang kuinginkan.
Setiap langkah membawa aku lebih jauh dari kenyamanan dan
keamanan yang pernah ada sebelumnya. Aku menyusuri jalan-jalan yang belum
menjulang tinggi.
Perjalananku berlanjut selama satu minggu, sampai saat aku
kehabisan bekal yang kubawa. “Sial, sudah habis ternyata.” Celetukku kesal.
Terpaksa aku harus berhenti sejenak untuk membangun tendaku,
jarak sampai ke kota terdekat masih jauh paling tidak 2 hari berjalan kaki,
dengan tipisnya persediaan tidak mungkin aku bisa sampai di sana.
Setelah tenda berdiri aku terdiam merenung berpikir apa yang
harus kulakukan, tiba-tiba telingaku menangkap suara aliran air. “Sungai!”
Ucapku senang.
Segera aku pergi mengikuti suara aliran air itu, hingga
sampailah aku di sebuah sungai yang tidak terlalu lebar, sungai ini tidak terlalu
dalam hanya selutut kakiku dan memiliki arus yang tenang, jadi tidak berbahaya
jika aku memancing di sungai itu.
Karena tidak memiliki alat pancing, aku mencari sebatang pohon
dengan ukuran yang tidak terlalu besar, setidaknya pas saat kugenggam, setelah
menemukannya batang pohon itu kuruncingkan.
Kubuka bajuku lalu. “Baiklah, hyatt...” aku melompat ke
sungai dan mulai mencari ikan yang berenang di dalam air.
Setelah menghabiskan waktu memancing, aku segera kembali ke
tenda, menyalahkan api unggun lalu mulai membakar ikan hasil dari memancing
tadi.
Ditengah asik menikmati ikan bakar ini, tiba-tiba terdengar
suara teriakan tidak jauh dari tempat aku mendirikan tenda.
Kucoba dengar baik-baik, teriakan itu berasal dari seorang
__ADS_1
perempuan ia sepertinya membutuhkan pertolongan. Segera aku pergi menuju sumber
suara itu.
Suara itu ternyata berasal dari sungai tempat ku memancing,
aku pun segera mempercepat langkahku dikarenakan suara teriakan tadi mulai
memudar.
Sesampainya di sungai tidak terlihat apapun, sungai itu
masih terlihat tenang. Kucoba melihat sekeliling namun tidak ada orang sama
sekali.
Tiba-tiba, ketika aku berada di tepi sungai yang tampak
tenang, aku mendengar suara air yang berdesir dengan sangat keras. Langsung
saja, aku berlari ke arah suara tersebut, mencoba mencari tahu apa yang sedang
terjadi.
Sampai di tepi sungai, aku terkejut melihat seorang
perempuan terlihat berjuang di dalam air, tampaknya dia tenggelam dan
membutuhkan pertolongan segera. Tanpa berpikir panjang, aku segera melompat ke
dalam air, berenang mendekati perempuan itu dengan cepat.
Dengan usaha terakhir, aku berhasil mencapai perempuan
tersebut dan meraih tangannya. Dengan segenap kekuatan yang aku miliki, aku
mencoba menariknya ke permukaan. Namun, tiba-tiba arus sungai menjadi sangat
kuat.
Kedua tubuh kami terombang-ambing oleh arus sungai yang
ganas. Aku berjuang untuk mempertahankan diri kami agar tidak tenggelam.
Perlahan-lahan, dengan usaha keras, aku berhasil membawa perempuan itu
mendekati tepi sungai yang lebih aman.
Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, akhirnya aku
berhasil menarik perempuan itu keluar dari air. Kami berdua terbaring lelah di
tepi sungai, berusaha untuk memulihkan napas kami. Aku melihat perempuan itu
yang sedang terbatuk-batuk.
“Hey, kau baik-baik saja?” tanyaku padanya.
Perempuan itu perlahan membuka matanya lalu menatapku. “Ya,
sepertinya.” Ia pun beranjak duduk dengan menghela nafas panjang.
perempuan itu mengangkat kembali menatapku dengan tatapan
penuh rasa terima kasih. Suaranya terdengar lembut ketika dia berkata,
"Terima kasih, kau telah menyelamatkan hidupku. Aku tidak tahu apa yang
akan terjadi jika kau tidak datang."
Aku tersenyum dan menjawab. “Iya, yang penting kau selamat. Apa
yang terjadi padamu?”
Kulihat perempuan itu menundukan kepalanya, rambut
panjangnya yang basah menutupi mukanya itu, aku merasa perempuan ini tidak
ingin menceritakan apa yang terjadi padanya, ntah karena malu atau memang ia
tidak mau menceritakannya.
Aku pun beranjak berdiri lalu kuulurkan tangan kananku untuk
membantunya berdiri juga. “Ayo berdiri.” Perempuan itu lalu menggengam tanganku
lalu berdiri.
Kami saling menatap dalam keheningan yang nyaman. Di langit,
matahari terbenam memberikan cahaya yang memancar, menciptakan suasana yang
damai di sekeliling kami. Aku berpikir untuk mengakhiri keheningan dan
mencairkan suasana.
"Aku Seva, Siapa namamu?" tanyaku dengan ramah,
mencoba untuk memulai percakapan.
Perempuan itu tersenyum tipis. "Namaku Arin."
__ADS_1
jawabnya dengan lembut. "Terima kasih Seva, aku benar-benar beruntung
bahwa kau ada di sini."