The Wanderer

The Wanderer
Awal Perjalanan Panjang dan Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu semenjak kejadian itu, kini aku


tinggal bersama dengan seorang pria paruh baya bernama Paul di kabin tua


miliknya. Hari demi hari kulewati berlatih ilmu bela diri dengan Paul, hubungan


kami semakin dekat setelah menghabisi waktu bersama setahun ini, ia sudah


menjadi guruku yang kuhormati.


Setahun berlatih bersamanya telah mengubah diriku secara


fisik dan mental. Tubuhku menjadi lebih kuat dan gesit, sementara pikiranku


lebih fokus dan tenang.


Paul, dengan kebijaksanaannya dan pengalaman bertahun-tahun


dalam seni bela diri, terus memberiku pelajaran berharga. Ia mengajarkan


gerakan-gerakan yang halus dan strategi bertarung yang efektif. Setiap gerakan


dan teknik yang diajarkannya menjadi kekuatan baru dalam diriku.


Selain pelatihan, kami juga menghabiskan waktu bersama di


luar kabin. Kami menjelajahi hutan, berbicara tentang kehidupan, dan tertawa


bersama. Kebersamaan kami memberikan kedamaian dan kehangatan di tengah-tengah


kehidupan yang penuh tantangan.


Musim dingin telah berganti menjadi musim semi, tumpukan


salju di sepanjang jalan sudah mulai mencair tergantikan dengan


tumbuhan-tumbuhan yang mulai mekar kembali.


Aku berdiam diri dalam kamarku dengan tatapan jauh melihat


ke arah luar jendela, mungkin sudah saatnya aku pergi berkelana demi menemukan


mereka dan membalaskan dendamku.


Aku beranjak pergi keluar kamar menuju ruang tamu, di sana


Paul sedang duduk di bangku kesayangannya, aku pun duduk menghadapnya. “Aku


akan pergi.” Ucapku pada Paul yang seketika menatapku.


Paul tersenyum lalu tertawa. “Kau ingin pergi?” Ia menatapku


senyumnya perlahan memudar ketika dia melihat ketegasan di mataku. Dia


menganggukkan kepala, menunjukkan pengertian yang dalam. "Aku mengerti,


Seva." Kata Paul dengan suara lembut. "Pergilah, aku tahu bahwa ini


adalah perjalanan yang harus kau jalani sendiri."


Perasaan campur aduk menyelimuti hatiku, Paul telah menjadi


sosok guru yang sangat kuhormati, memberiku pelatihan dan kebijaksanaan yang


tak ternilai.


“Terima kasih, Paul.” Ucapku dengan nada rendah. “Terima


kasih telah menyelamatkanku dan melatihku selama satu tahun ini.”


Kami berdua saling menatap, merasakan ikatan yang telah


terjalin di antara kami selama setahun terakhir. Perpisahan ini bukanlah akhir


dari hubungan kami, tetapi hanya langkah baru dalam perjalanan hidup


masing-masing.


“Sebelum kau pergi, ada sesuatu yang ingin kuberikan


padamu.” Ucap Paul beranjak dari duduknya. “Kau pergilah bersiap-siap dulu.” Ia


pun pergi menuju kamarnya.


Melihatnya pergi, aku juga beranjak menuju kamarku untuk


bersiap.


Kuangkat tasku, kulihat sekeliling kamar yang telah


kutempati selama satu tahun. ‘Ini adalah perpisahan’ ucapku dalam hati.


Lalu aku pergi keluar kabin, di luar sana kulihat Paul sudah


menunggu dengan memegang sesuatu yang terbalut kain merah.


Kuhampiri dirinya yang sedang berdiri dengan senyuman di


wajahnya.


“Bawalah ini.” Ucap Paul memberikan benda yang ia pegang.

__ADS_1


Kubuka balutan kain itu, di sana terdapat sebilah belati


dengan pemata berwarna keemasan menempel pada ujung gagang belati itu.


“Itu adalah belati milik mendiang temanku, kuputuskan untuk


memberikannya padamu.” Paul berkata dengan menepuk pundakku.


“Apakah kau yakin memberikannya padaku?” tanyaku padanya.


Paul hanya menjawab dengan anggukan kepalanya lalu berkata.


“Anggap saja itu hadiah kelulusanmu.” Ia pun tertawa.


“Baiklah, akan kuterima belati ini.” Aku pun tersenyum, aku


mengulurkan tangan kananku, Paul merespon dengan melakukan hal yang sama, kami


berdua berjabat tangan dengan senyuman di kedua wajah kami.


“Terima kasih, Paul. Jagalah dirimu baik-baik.” Ucapku


padanya, Paul pun membalas. “Kau juga nak, mampirlah kembali jika ada


kesempatan.”


“Oke.” Balasku, kami berduapun melepaskan jabat tangan kami.


Kami berdiri di sana, menghela nafas dalam-dalam, menyadari


bahwa saat perpisahan telah tiba. Namun, dalam hati kami, ada keyakinan yang


kuat bahwa perjalanan kami tidak akan berakhir di sini.


Dengan langkah mantap dan hati yang penuh semangat, aku


meninggalkan tempat yang pernah menjadi rumahku selama setahun. Perjalanan ini


bukan hanya tentang balas dendam, tapi juga tentang menemukan identitasku yang


sejati, menemukan keadilan, dan memulihkan kedamaian yang telah dirampas.


...


Udara segar dan hangat menyambutku saat aku melangkah ke


dunia yang luas di luar sana. Angin menerpa wajahku, memberikan semangat dan


energi baru dalam petualangan yang kuinginkan.


Setiap langkah membawa aku lebih jauh dari kenyamanan dan


keamanan yang pernah ada sebelumnya. Aku menyusuri jalan-jalan yang belum


menjulang tinggi.


Perjalananku berlanjut selama satu minggu, sampai saat aku


kehabisan bekal yang kubawa. “Sial, sudah habis ternyata.” Celetukku kesal.


Terpaksa aku harus berhenti sejenak untuk membangun tendaku,


jarak sampai ke kota terdekat masih jauh paling tidak 2 hari berjalan kaki,


dengan tipisnya persediaan tidak mungkin aku bisa sampai di sana.


Setelah tenda berdiri aku terdiam merenung berpikir apa yang


harus kulakukan, tiba-tiba telingaku menangkap suara aliran air. “Sungai!”


Ucapku senang.


Segera aku pergi mengikuti suara aliran air itu, hingga


sampailah aku di sebuah sungai yang tidak terlalu lebar, sungai ini tidak terlalu


dalam hanya selutut kakiku dan memiliki arus yang tenang, jadi tidak berbahaya


jika aku memancing di sungai itu.


Karena tidak memiliki alat pancing, aku mencari sebatang pohon


dengan ukuran yang tidak terlalu besar, setidaknya pas saat kugenggam, setelah


menemukannya batang pohon itu kuruncingkan.


Kubuka bajuku lalu. “Baiklah, hyatt...” aku melompat ke


sungai dan mulai mencari ikan yang berenang di dalam air.


Setelah menghabiskan waktu memancing, aku segera kembali ke


tenda, menyalahkan api unggun lalu mulai membakar ikan hasil dari memancing


tadi.


Ditengah asik menikmati ikan bakar ini, tiba-tiba terdengar


suara teriakan tidak jauh dari tempat aku mendirikan tenda.


Kucoba dengar baik-baik, teriakan itu berasal dari seorang

__ADS_1


perempuan ia sepertinya membutuhkan pertolongan. Segera aku pergi menuju sumber


suara itu.


Suara itu ternyata berasal dari sungai tempat ku memancing,


aku pun segera mempercepat langkahku dikarenakan suara teriakan tadi mulai


memudar.


Sesampainya di sungai tidak terlihat apapun, sungai itu


masih terlihat tenang. Kucoba melihat sekeliling namun tidak ada orang sama


sekali.


Tiba-tiba, ketika aku berada di tepi sungai yang tampak


tenang, aku mendengar suara air yang berdesir dengan sangat keras. Langsung


saja, aku berlari ke arah suara tersebut, mencoba mencari tahu apa yang sedang


terjadi.


Sampai di tepi sungai, aku terkejut melihat seorang


perempuan terlihat berjuang di dalam air, tampaknya dia tenggelam dan


membutuhkan pertolongan segera. Tanpa berpikir panjang, aku segera melompat ke


dalam air, berenang mendekati perempuan itu dengan cepat.


Dengan usaha terakhir, aku berhasil mencapai perempuan


tersebut dan meraih tangannya. Dengan segenap kekuatan yang aku miliki, aku


mencoba menariknya ke permukaan. Namun, tiba-tiba arus sungai menjadi sangat


kuat.


Kedua tubuh kami terombang-ambing oleh arus sungai yang


ganas. Aku berjuang untuk mempertahankan diri kami agar tidak tenggelam.


Perlahan-lahan, dengan usaha keras, aku berhasil membawa perempuan itu


mendekati tepi sungai yang lebih aman.


Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, akhirnya aku


berhasil menarik perempuan itu keluar dari air. Kami berdua terbaring lelah di


tepi sungai, berusaha untuk memulihkan napas kami. Aku melihat perempuan itu


yang sedang terbatuk-batuk.


“Hey, kau baik-baik saja?” tanyaku padanya.


Perempuan itu perlahan membuka matanya lalu menatapku. “Ya,


sepertinya.” Ia pun beranjak duduk dengan menghela nafas panjang.


perempuan itu mengangkat kembali menatapku dengan tatapan


penuh rasa terima kasih. Suaranya terdengar lembut ketika dia berkata,


"Terima kasih, kau telah menyelamatkan hidupku. Aku tidak tahu apa yang


akan terjadi jika kau tidak datang."


Aku tersenyum dan menjawab. “Iya, yang penting kau selamat. Apa


yang terjadi padamu?”


Kulihat perempuan itu menundukan kepalanya, rambut


panjangnya yang basah menutupi mukanya itu, aku merasa perempuan ini tidak


ingin menceritakan apa yang terjadi padanya, ntah karena malu atau memang ia


tidak mau menceritakannya.


Aku pun beranjak berdiri lalu kuulurkan tangan kananku untuk


membantunya berdiri juga. “Ayo berdiri.” Perempuan itu lalu menggengam tanganku


lalu berdiri.


Kami saling menatap dalam keheningan yang nyaman. Di langit,


matahari terbenam memberikan cahaya yang memancar, menciptakan suasana yang


damai di sekeliling kami. Aku berpikir untuk mengakhiri keheningan dan


mencairkan suasana.


"Aku Seva, Siapa namamu?" tanyaku dengan ramah,


mencoba untuk memulai percakapan.


Perempuan itu tersenyum tipis. "Namaku Arin."

__ADS_1


jawabnya dengan lembut. "Terima kasih Seva, aku benar-benar beruntung


bahwa kau ada di sini."


__ADS_2