
Setelah menerima formulir dari wanita sekretaris, aku dan
Arin duduk di sudut ruangan untuk mengisi data diri sebagai calon petualang.
Formulir tersebut berisi pertanyaan tentang nama, usia, latar belakang, dan
keterampilan kami.
Aku dengan antusias mengisi setiap bagian, sedangkan Arin
terlihat sedikit canggung dan ragu, matanya sesekali melirik formulir milikku seolah mencari informasi.
"Tenang saja, isi saja dengan jujur," ucapku mencoba memberikan
semangat pada Arin.
Beberapa saat kemudian, kami menyerahkan formulir tersebut
kepada wanita sekretaris. Dia melihatnya dengan penuh perhatian sambil sesekali
mengangguk puas. "Bagus, nampaknya kalian berdua memiliki keterampilan
yang menarik," ucapnya sambil tersenyum.
"Lalu apa langkah selanjutnya?" tanyaku penasaran.
“Sebelum itu, aku akan menjelaskan tentang peringkat di serikat
ini,” ucap wanita sekretaris itu.Aku dan Arin mendengarkannya dengan baik.
“Terdapat lima peringkat dalam serikat petualang. Yaitu D,
C, B, A dan yang tertinggi adalah S.” Wanita itu menunjuk ke arah papan misi. “Tingkat
kesulitan misi yang dapat di ambil itu tergantung dengan peringkat petualang
kalian. Tentu saja semakin sulit misi, semakin besar juga hadiah yang kalian
dapatkan.”
Wanita sekretaris memberikan senyuman penuh semangat. "Peringkat
D adalah langkah awal yang baik bagi pemula dalam petualangan. Setelah kalian
berhasil menyelesaikan beberapa misi dan meningkatkan kemampuan, kalian akan
dapat naik peringkat dan mengambil misi yang lebih menantang."
“Hey, Seva. Kita kan belum punya uang, untuk perlengkapannya
bagaimana?” bisik Arin di belakangku.
Sebelum aku menjawab, tiba-tiba wanita sekretaris itu memegang
kedua tangan Arin lalu dengan mata yang berbinar ia berkata. “Tenang saja, nona...
Arin. Serikat kami menyediakan perlengkapan dasar untuk para pemula.”
Arin yang terkejut dengan jawaban tiba-tiba dari wanita
sekretaris, perlahan melihat ke arahku dengan kaki gemetar.
“Baiklah, lalu langkah selanjutnya apa?” tanyaku.
Wanita sekretaris itu memberikan kami masing-masing sebuah
kartu. “Kalian hanya perlu melakukan cap ibu jari menggunakan darah kalian di kartu ini.” Ia memberikan kami
sebuah jarum kecil lalu lanjut berkata. “Setelah kalian melakukan cap darah,
kalian sudah resmi menjadi bagian dari serikat petualang.”
Tak ragu sedikit pun, aku mengambil jarum kecil yang
diberikan wanita sekretaris. Setetes darah merah mengalir dari luka kecil di
ibu jariku. Kugenggam erat kartu itu, dan dengan penuh keyakinan, aku menekan
ibu jariku pada bagian atas kartu.
Kartu itu tiba-tiba bersinar begitu terang, seolah meresapi
darah dan energi dari cap jempolku. Tulisan-tulisan misterius mulai bermunculan,
__ADS_1
menuliskan nama dan juga statusku sebagai seorang petualang, aku dan Arin yang
melihatnya takjub.
Di lain sisi kulihat Arin ragu-ragu untuk menusuk ibu
jarinya. Namun, ia terlihat mencoba mengalahkan rasa takut, dengan cepat ia
menusuk ibu jarinya menggunakan jarum lalu menekan bagian atas kartu itu. Ia melakukan
semua itu dengan mata tertutup.
Hal yang sama terjadi kartu Arin tiba-tiba bersinar,
menuliskan nama dan statusnya.
"Selamat, kalian telah resmi menjadi bagian dari
serikat petualang," ucap wanita sekretaris dengan bangga. Ia menepuk
tangannya dengan pelan, menyemangati kami untuk petualangan yang akan kami hadapi. Ia lalu mengambil sebuah buku. “Ini
adalah buku panduan petualang, semua informasi yang kalian butuhkan ada di
dalam buku ini.”
Setelah menerima buku panduan itu, wanita sekretaris lanjut
berkata. “Sekarang, kalian bisa memilih misi-misi yang terpampang di papan sana.”
Wanita itu menunjuk pada papan yang berada di samping meja resepsionis.
Aku dan
Arin berjalan kepapan besar, di sana terlihat
banyak sekali misi-misi dari tingkat kesulitan D sampai A, namun lebih di
dominasi oleh misi tingkat C.
“Seva,
bagaimana kalau ini?” Arin menunjuk salah satu misi tingkat D, dengan deskripsi
mencari tumbuhan herbal untuk keperluan rumah sakit.
untuk pemula yaitu 150 koin perak.
“Baiklah.” Aku
pun mengambil misi itu lalu membawanya ke wanita sekretaris.
“Pilihat
yang tepat,” ucap wanita sekretaris itu dengan semangat. “Kalian bisa mencari
lokasi tanaman herbal itu di buku panduan yang tadi aku beri,” lanjutnya.
Wanita sekretaris
itu mengambil lembaran misi tadi. “Oh iya, nama regu kalian apa?” tanya wanita
itu.
“Memangnya
harus ada nama regu ya?” tanya Arin.
“Harus,
agar nanti aku dapat menulisnya di buku laporan.” Jelas wanita sekretaris itu.
“Kau cukup
menulis Seva dan Arin saja,” ucapku.
“Baiklah,
kalau begitu selamat menjalankan misi. Seva dan Arin.”
Kami berdua
pun berpamitan dengan wanita itu lalu pergi keluar. Aku merasa Arin dari tadi
__ADS_1
melihatku dengan tatapan tajam.
“Kenapa?”
tanyaku.
“Tidak,
hanya saja nama regu kita menggunakan nama asli, terdengar membosankan.”
Setelah
berjalan beberapa saat dari serikat petualang, aku dan Arin tiba-tiba berhenti
di bawah pohon rindang. Udara segar dan aroma dedaunan membuat suasana menjadi
lebih tenang. Arin masih terlihat termenung, sepertinya dia masih terpikirkan
tentang nama regu kami.
Aku mengambil
kartu serikat milikku, di sana tertulis status yang kumiliki. Kekuatan Fisik 100,
Kekuatan Sihir 20, Kelincahan 80 dan Kekuatan Spesial “Titans”.
Dari status
yang terlihat di sana, aku penasaran dengan kekuatan spesial dengan nama Titans
ini. Apakah ini kekuatan yang baru saja kudapatkan saat menyelamatkan Arin?
Arin
mendekatiku wajahnya terlihat penasaran. “Apa yang kau lihat?” ucapnya.
“Tidak,
bagaimana kau mau pergi sekarang?” tanyaku.
“Hmm… aku
belum terlalu tahu daerah Warenburg, mungkin kita bisa mencari informasi terlebih
dahulu.” Usul Arin.
“Sebentar,
aku ingin melihat buku panduan yang diberi wanita sekretaris itu.”
Aku membuka
buku panduan petualang mencari informasi tentang tanaman herbal yang terdapat
di lembaran misi. Setelah beberapa menit mencari, terdapat informasi tentang
tanaman herbal itu, dengan nama Windhill Flower. Tanaman ini biasa
tumbuh pada dataran tinggi di barat wilayah Warenburg, lebih tepatnya pada
dataran tinggi Whirlwind.
Kami berdua akhirnya pergi menuju gerbang masuk kota Warenburg, di sana terdapat dua orang
penjaga sedang berdiri tegap. Arin menghampiri para penjaga itu di ikuti olehku
dari belakang.
“Maaf, aku ingin bertanya. Dataran Whirlwind itu di mana ya?” tanya Arin pada para
penjaga.
Dengan sigap penjaga itu melihat ke arah Arin lalu berkata. “Jika kalian ingin ke dataran
tinggi Whirlwind, kalian bisa mengikuti jalan setapak ini nanti akan ada tanda
petunjuk untuk ke dataran tinggi Whirlwind.”
Akumemandang Arin dan kami berdua tersenyum. Petualangan yang menarik tampaknya
sudah menanti di depan mata kami, dan kami siap untuk pergi menuju dataran
tinggi Whirlwind untuk misi pertama kami sebagai petualang.
__ADS_1
Dengansemangat, kami melangkah maju, menapaki jalan setapak menuju dataran tinggi
Whirlwind, dan tak sabar menantikan apa yang akan kami temui di sana.