The Wanderer

The Wanderer
Serikat Petualang


__ADS_3

Setelah menerima formulir dari wanita sekretaris, aku dan


Arin duduk di sudut ruangan untuk mengisi data diri sebagai calon petualang.


Formulir tersebut berisi pertanyaan tentang nama, usia, latar belakang, dan


keterampilan kami.


Aku dengan antusias mengisi setiap bagian, sedangkan Arin


terlihat sedikit canggung dan ragu, matanya sesekali melirik formulir milikku seolah mencari informasi.


"Tenang saja, isi saja dengan jujur," ucapku mencoba memberikan


semangat pada Arin.


Beberapa saat kemudian, kami menyerahkan formulir tersebut


kepada wanita sekretaris. Dia melihatnya dengan penuh perhatian sambil sesekali


mengangguk puas. "Bagus, nampaknya kalian berdua memiliki keterampilan


yang menarik," ucapnya sambil tersenyum.


"Lalu apa langkah selanjutnya?" tanyaku penasaran.


“Sebelum itu, aku akan menjelaskan tentang peringkat di serikat


ini,” ucap wanita sekretaris itu.Aku dan Arin mendengarkannya dengan baik.


“Terdapat lima peringkat dalam serikat petualang. Yaitu D,


C, B, A dan yang tertinggi adalah S.” Wanita itu menunjuk ke arah papan misi. “Tingkat


kesulitan misi yang dapat di ambil itu tergantung dengan peringkat petualang


kalian. Tentu saja semakin sulit misi, semakin besar juga hadiah yang kalian


dapatkan.”


Wanita sekretaris memberikan senyuman penuh semangat. "Peringkat


D adalah langkah awal yang baik bagi pemula dalam petualangan. Setelah kalian


berhasil menyelesaikan beberapa misi dan meningkatkan kemampuan, kalian akan


dapat naik peringkat dan mengambil misi yang lebih menantang."


“Hey, Seva. Kita kan belum punya uang, untuk perlengkapannya


bagaimana?” bisik Arin di belakangku.


Sebelum aku menjawab, tiba-tiba wanita sekretaris itu memegang


kedua tangan Arin lalu dengan mata yang berbinar ia berkata. “Tenang saja, nona...


Arin. Serikat kami menyediakan perlengkapan dasar untuk para pemula.”


Arin yang terkejut dengan jawaban tiba-tiba dari wanita


sekretaris, perlahan melihat ke arahku dengan kaki gemetar.


“Baiklah, lalu langkah selanjutnya apa?” tanyaku.


Wanita sekretaris itu memberikan kami masing-masing sebuah


kartu. “Kalian hanya perlu melakukan cap ibu jari menggunakan darah kalian di kartu ini.” Ia memberikan kami


sebuah jarum kecil lalu lanjut berkata. “Setelah kalian melakukan cap darah,


kalian sudah resmi menjadi bagian dari serikat petualang.”


Tak ragu sedikit pun, aku mengambil jarum kecil yang


diberikan wanita sekretaris. Setetes darah merah mengalir dari luka kecil di


ibu jariku. Kugenggam erat kartu itu, dan dengan penuh keyakinan, aku menekan


ibu jariku pada bagian atas kartu.


Kartu itu tiba-tiba bersinar begitu terang, seolah meresapi


darah dan energi dari cap jempolku. Tulisan-tulisan misterius mulai bermunculan,

__ADS_1


menuliskan nama dan juga statusku sebagai seorang petualang, aku dan Arin yang


melihatnya takjub.


Di lain sisi kulihat Arin ragu-ragu untuk menusuk ibu


jarinya. Namun, ia terlihat mencoba mengalahkan rasa takut, dengan cepat ia


menusuk ibu jarinya menggunakan jarum lalu menekan bagian atas kartu itu. Ia melakukan


semua itu dengan mata tertutup.


Hal yang sama terjadi kartu Arin tiba-tiba bersinar,


menuliskan nama dan statusnya.


"Selamat, kalian telah resmi menjadi bagian dari


serikat petualang," ucap wanita sekretaris dengan bangga. Ia menepuk


tangannya dengan pelan, menyemangati kami untuk petualangan yang akan kami hadapi. Ia lalu mengambil sebuah buku. “Ini


adalah buku panduan petualang, semua informasi yang kalian butuhkan ada di


dalam buku ini.”


Setelah menerima buku panduan itu, wanita sekretaris lanjut


berkata. “Sekarang, kalian bisa memilih misi-misi yang terpampang di papan sana.”


Wanita itu menunjuk pada papan yang berada di samping meja resepsionis.


Aku dan


Arin berjalan kepapan besar, di sana terlihat


banyak sekali misi-misi dari tingkat kesulitan D sampai A, namun lebih di


dominasi oleh misi tingkat C.


“Seva,


bagaimana kalau ini?” Arin menunjuk salah satu misi tingkat D, dengan deskripsi


mencari tumbuhan herbal untuk keperluan rumah sakit.


untuk pemula yaitu 150 koin perak.


“Baiklah.” Aku


pun mengambil misi itu lalu membawanya ke wanita sekretaris.


“Pilihat


yang tepat,” ucap wanita sekretaris itu dengan semangat. “Kalian bisa mencari


lokasi tanaman herbal itu di buku panduan yang tadi aku beri,” lanjutnya.


Wanita sekretaris


itu mengambil lembaran misi tadi. “Oh iya, nama regu kalian apa?” tanya wanita


itu.


“Memangnya


harus ada nama regu ya?” tanya Arin.


“Harus,


agar nanti aku dapat menulisnya di buku laporan.” Jelas wanita sekretaris itu.


“Kau cukup


menulis Seva dan Arin saja,” ucapku.


“Baiklah,


kalau begitu selamat menjalankan misi. Seva dan Arin.”


Kami berdua


pun berpamitan dengan wanita itu lalu pergi keluar. Aku merasa Arin dari tadi

__ADS_1


melihatku dengan tatapan tajam.


“Kenapa?”


tanyaku.


“Tidak,


hanya saja nama regu kita menggunakan nama asli, terdengar membosankan.”


Setelah


berjalan beberapa saat dari serikat petualang, aku dan Arin tiba-tiba berhenti


di bawah pohon rindang. Udara segar dan aroma dedaunan membuat suasana menjadi


lebih tenang. Arin masih terlihat termenung, sepertinya dia masih terpikirkan


tentang nama regu kami.


Aku mengambil


kartu serikat milikku, di sana tertulis status yang kumiliki. Kekuatan Fisik 100,


Kekuatan Sihir 20, Kelincahan 80 dan Kekuatan Spesial “Titans”.


Dari status


yang terlihat di sana, aku penasaran dengan kekuatan spesial dengan nama Titans


ini. Apakah ini kekuatan yang baru saja kudapatkan saat menyelamatkan Arin?


Arin


mendekatiku wajahnya terlihat penasaran. “Apa yang kau lihat?” ucapnya.


“Tidak,


bagaimana kau mau pergi sekarang?” tanyaku.


“Hmm… aku


belum terlalu tahu daerah Warenburg, mungkin kita bisa mencari informasi terlebih


dahulu.” Usul Arin.


“Sebentar,


aku ingin melihat buku panduan yang diberi wanita sekretaris itu.”


Aku membuka


buku panduan petualang mencari informasi tentang tanaman herbal yang terdapat


di lembaran misi. Setelah beberapa menit mencari, terdapat informasi tentang


tanaman herbal itu, dengan nama Windhill Flower. Tanaman ini biasa


tumbuh pada dataran tinggi di barat wilayah Warenburg, lebih tepatnya pada


dataran tinggi Whirlwind.


Kami berdua akhirnya pergi menuju gerbang masuk kota Warenburg, di sana terdapat dua orang


penjaga sedang berdiri tegap. Arin menghampiri para penjaga itu di ikuti olehku


dari belakang.


“Maaf, aku ingin bertanya. Dataran Whirlwind itu di mana ya?” tanya Arin pada para


penjaga.


Dengan sigap penjaga itu melihat ke arah Arin lalu berkata. “Jika kalian ingin ke dataran


tinggi Whirlwind, kalian bisa mengikuti jalan setapak ini nanti akan ada tanda


petunjuk untuk ke dataran tinggi Whirlwind.”


Akumemandang Arin dan kami berdua tersenyum. Petualangan yang menarik tampaknya


sudah menanti di depan mata kami, dan kami siap untuk pergi menuju dataran


tinggi Whirlwind untuk misi pertama kami sebagai petualang.

__ADS_1


Dengansemangat, kami melangkah maju, menapaki jalan setapak menuju dataran tinggi


Whirlwind, dan tak sabar menantikan apa yang akan kami temui di sana.


__ADS_2