
Gelap...
Di mana aku?
Sekelilingku hanyalah kegelapan yang tidak berujung, namun
samar-samar terlihat cahaya yang redup.
Di sana Kak Ani dan para penghuni panti berdiri menghadapku,
raut wajah mereka terlihat datar, lalu perlahan mereka membalikan badan mereka
dan pergi menjauh.
Aku mencoba berlari menggapai mereka, namun ntah mengapa
semakin aku berlari semakin jauh mereka.
“Tunggu! Jangan tinggalkan aku.” Teriakku mencoba menggapai
mereka.
Sampai akhirnya mereka menghilang dari pandanganku, sekali
lagi kegelapan mengelilingiku, aku pun terdiam.
Tiba-tiba rasa sakit kepala yang hebat membuatku terjatuh,
rasa sakit yang tak tertahankan ini perlahan membuatku kehilangan kesadaranku.
Tubuhku terasa berat, perlahan kucoba membuka mataku,
langit-langit yang berbeda saat kubuka mataku menyambutku.
Di mana ini?
Kucoba menggerakan tubuhku namun tidak bisa, semuanya terasa
kaku, lalu terdengar suara seorang pria dari sampingku, Aku memalingkan
pandangan dan melihat seorang pria yang duduk di samping ranjang tempatku
tertidur.
“Kau sudah bangun?” ucapnya dengan nada pelan.
Pria dengan rambut keputihan dan kerutan yang menghiasi
wajahnya, mengungkapkan jejak waktu yang telah ia lewati.
Aku mencoba berbicara namun hanya bisikan lemah yang keluar
dari mulutku, pria itu hanya mengangguk dan berkata. “Kau beristirahatlah dulu.”
Pria itu pun pergi meninggalkanku sendiri, seketika aku
teringat dengan kak Ani dan kata-kata terakhirnya, bibirku gemetar aku pun
mengigitnya mencoba menahan rasa sakit dari hatiku, tanganku menutup kedua
mataku yang mengeluarkan air mata.
Kak Ani sudah tidak ada begitu juga dengan penghuni panti asuhan
yang lain, kenyataan pahit yang harus kuterima membuatku putus asa dan berpikir
mengapa aku tidak mati saja.
Hari demi hari kulalui di ranjang ini, terkadang pria paruh
baya itu masuk ke kamar ini untuk memberiku makan, namun ia tidak menanyakan
sama sekali identitasku dan mengapa aku bisa sampai seperti ini.
Setiap kali aku mencoba berbicara dengannya, ia hanya menjawabku
dengan senyuman dan berkata untuk memulihkan diriku dulu.
Setelah satu minggu berlalu, akhirnya tubuhku pulih kembali,
__ADS_1
walaupun masih ada beberapa bagian yang terasa kaku.
Aku pun beranjak bangun dari ranjang dan berjalan menuju pintu
kamar, kubuka pintu itu, sebuah ruang tamu yang sederhana dengan tembok dan
langit-langit yang terbuat dari kayu menyambutku.
Aku berjalan keliling ruangan itu, lalu kulihat ke arah luar
jendela, di sana pria paruh baya itu sedang memotong kayu dengan sebuah kapak yang
besar.
Segera aku menghampiri pria paruh baya itu, ia segera
menyadari kehadiranku lalu menghentikan aktifitasnya dan menatapku.
“Sepertinya kau sudah pulih.” Ucap pria itu sambil membuka
sarung tangan yang ia pakai.
Pria itu menghampiriku lalu menepuk pundaku dan berkata. “Ayo
masuk, pasti ada banyak yang ingin kau tanyakan.”
Kami berduapun masuk kembali ke dalam kabin milik pria paruh
baya itu, pria itu lalu duduk di bangku kayu tua miliknya, ia mempersilahkan ku
duduk di sebrangnya.
Aku pun duduk menghadapnya lalu berkata. “Siapa kau?” pria
itu terkekeh sejenak lalu menjawab. “itukah hal pertama yang ingin kau tanyakan
pada pria yang telah menyelamatkanmu?” ia lalu mengambil sepuntung rokok dari
saku bajunya dan mulai membakar lalu menghisapnya.
Aku hanya terdiam lalu pria itu kembali berkata. “Namaku Paul,
menghisap rokoknya kembali lalu berkata. “dengan luka seperti itu, kau harusnya
sudah mati nak.” Ucapnya melihat ke arahku.
“Lalu mengapa kau tidak membiarkanku mati saja?” aku berkata
dengan nada gemetar sambil menggenggam kedua tanganku yang gemetar. “Aku sudah
tidak punya siapapun di dunia ini, bukankah lebih baik kau membiarkanku mati
saja.” Dengan bibir bergetar dan mataku yang mulai berair, aku mengingat
kembali kejadian malam itu.
Paul yang mendengar ucapanku menghisap kembali rokoknya
dalam-dalam lalu mematikannya, ia lalu memposisikan duduknya sedikit condong ke
depan dan berkata. “Tidak, aku tidak bisa melakukan itu.” Kudengar ia menghela
nafasnya dan lanjut berkata. “Nak, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, namun
setidaknya kau harus bersyukur telah diberi kesempatan kedua untuk hidup.” Paul
kembali menatapku.
“Kak Ani, bukan?” mendengar Paul mengucapkan itu, mataku
terbuka lebar dan aku beranjak berdiri dari duduk ku terdiam menghadapnya. “Bagaimana
kau bisa tahu nama itu?” Tanyaku pada Paul.
Paul terkekeh sejenak. “Kau menyebutkan nama itu berulang
kali saat kau tak sadarkan diri.” Paul menatapku kembali dan berkata. “Kau
telah kehilangan dia bukan?” ucapannya membuatku geram lalu aku berteriak. “Memangnnya
__ADS_1
kau tahu apa, soal kehilangan!” amarahku sulit ku pendam, air mata yang kutahan
akhirnya mengalir. “Apa kau tahu rasanya kehilangan orang-orang yang kau
sayangi dalam semalam!” kutatap tajam Paul yang hanya terdiam.
Paul hanya menggelengkan kepalanya saja. “Lantas mengapa aku
harus bersyukur telah diberikan kesempatan untuk hidup? Kau seharusnya
membiarkan ku mati saja!” lanjutku berkata dengan nada kasar.
Tiba-tiba Paul menggebrak mejanya dengan keras lalu berkata.
“Justru karena itu kau harusnya bersyukur dan melanjutkan hidupmu, kau pikir
bagaimana perasaan mereka yang sudah tiada jika kau mati.” Ia menatap tajam
kearahku dan lanjut berkata. “Kehilangan seseorang yang kau sayangi memang
menyakitkan, tapi belajarlah untuk menerimanya, orang-orang yang pergi
meninggalkanmu pasti tidak akan mau kau berakhir seperti mereka.”
Mendengar ucapan Paul, aku kembali mengingat perkataan terakhir
dari Kak Ani ‘Teruslah hidup’ aku pun kembali terdiam, kepalaku menunduk
menghadap kebawah, air mata menetes deras dari mataku.
Paul pun berdiri, ia berjalan ke arahku lalu menepuk
pundaku. “Tenangkanlah dirimu dulu.” Paul pun pergi meninggalkan ku sendiri.
Kenangan demi kenangan mengalir dalam pikiranku, masa-masa bahagia
yang kulalui telah sirna, kini aku hanya sendiri di dunia yang luas ini, rasa
takut menjalar di seluruh tubuhku, seketika aku teringat dengan pria berambut
perak dan para bawahannya, merekalah penyebab seluruh tragedi yang kualami.
Tiba-tiba aku merasakan kobaran api yang sangat panas dalam
hatiku. Benar aku belum boleh mati, sampai saat di mana aku membalaskan dendam
ku, aku belum boleh mati.
Paul kembali melanjutkan memotong kayu di halaman depan
rumahnya, setelah beberapa saat Seva keluar dari kabin miliknya. Seva membawa
sebuah pedang panjang milik Paul yang ia jadikan pajangan di ruang tamunya.
“Hey pak tua, apakah kau bisa menggunakan ini?” Ucap seva
sambil menggengam sebuah pedang panjang.
Paul yang melihatnya hanya terkekeh lalu melanjutkan
memotong kayu. “Ya aku bisa.” Ucap paul pada Seva. “Namun hari-hari itu sudah
berakhir untukku, mengapa kau bertanya?” tanya Paul.
Dengan tatapan penuh tekad yang kuat Seva menjawab. “Ajarkan
aku cara bertarung.” Mendengar jawaban Seva, Paul terdiam sejenak dan tertawa
dengan kencang “Memangnya apa yang ingin kau lakukan anak?” tanya paul dengan
nada mengejek.
“Kau benar, aku belum boleh mati. Masih ada hal yang harus
kulakukan.” Jawab Seva dengan tegas.
Paul kembali terdiam menatap ke arah Seva. “Sebutkan namamu nak?”
Paul bertanya dengan nada serius.
__ADS_1
“Seva, namaku adalah Seva.”