The Wanderer

The Wanderer
Titik Keputusasaan


__ADS_3

Gelap...


Di mana aku?


Sekelilingku hanyalah kegelapan yang tidak berujung, namun


samar-samar terlihat cahaya yang redup.


Di sana Kak Ani dan para penghuni panti berdiri menghadapku,


raut wajah mereka terlihat datar, lalu perlahan mereka membalikan badan mereka


dan pergi menjauh.


Aku mencoba berlari menggapai mereka, namun ntah mengapa


semakin aku berlari semakin jauh mereka.


“Tunggu! Jangan tinggalkan aku.” Teriakku mencoba menggapai


mereka.


Sampai akhirnya mereka menghilang dari pandanganku, sekali


lagi kegelapan mengelilingiku, aku pun terdiam.


Tiba-tiba rasa sakit kepala yang hebat membuatku terjatuh,


rasa sakit yang tak tertahankan ini perlahan membuatku kehilangan kesadaranku.


Tubuhku terasa berat, perlahan kucoba membuka mataku,


langit-langit yang berbeda saat kubuka mataku menyambutku.


Di mana ini?


Kucoba menggerakan tubuhku namun tidak bisa, semuanya terasa


kaku, lalu terdengar suara seorang pria dari sampingku, Aku memalingkan


pandangan dan melihat seorang pria yang duduk di samping ranjang tempatku


tertidur.


“Kau sudah bangun?” ucapnya dengan nada pelan.


Pria dengan rambut keputihan dan kerutan yang menghiasi


wajahnya, mengungkapkan jejak waktu yang telah ia lewati.


Aku mencoba berbicara namun hanya bisikan lemah yang keluar


dari mulutku, pria itu hanya mengangguk dan berkata. “Kau beristirahatlah dulu.”


Pria itu pun pergi meninggalkanku sendiri, seketika aku


teringat dengan kak Ani dan kata-kata terakhirnya, bibirku gemetar aku pun


mengigitnya mencoba menahan rasa sakit dari hatiku, tanganku menutup kedua


mataku yang mengeluarkan air mata.


Kak Ani sudah tidak ada begitu juga dengan penghuni panti asuhan


yang lain, kenyataan pahit yang harus kuterima membuatku putus asa dan berpikir


mengapa aku tidak mati saja.


Hari demi hari kulalui di ranjang ini, terkadang pria paruh


baya itu masuk ke kamar ini untuk memberiku makan, namun ia tidak menanyakan


sama sekali identitasku dan mengapa aku bisa sampai seperti ini.


Setiap kali aku mencoba berbicara dengannya, ia hanya menjawabku


dengan senyuman dan berkata untuk memulihkan diriku dulu.


Setelah satu minggu berlalu, akhirnya tubuhku pulih kembali,

__ADS_1


walaupun masih ada beberapa bagian yang terasa kaku.


Aku pun beranjak bangun dari ranjang dan berjalan menuju pintu


kamar, kubuka pintu itu, sebuah ruang tamu yang sederhana dengan tembok dan


langit-langit yang terbuat dari kayu menyambutku.


Aku berjalan keliling ruangan itu, lalu kulihat ke arah luar


jendela, di sana pria paruh baya itu sedang memotong kayu dengan sebuah kapak yang


besar.


Segera aku menghampiri pria paruh baya itu, ia segera


menyadari kehadiranku lalu menghentikan aktifitasnya dan menatapku.


“Sepertinya kau sudah pulih.” Ucap pria itu sambil membuka


sarung tangan yang ia pakai.


Pria itu menghampiriku lalu menepuk pundaku dan berkata. “Ayo


masuk, pasti ada banyak yang ingin kau tanyakan.”


Kami berduapun masuk kembali ke dalam kabin milik pria paruh


baya itu, pria itu lalu duduk di bangku kayu tua miliknya, ia mempersilahkan ku


duduk di sebrangnya.


Aku pun duduk menghadapnya lalu berkata. “Siapa kau?” pria


itu terkekeh sejenak lalu menjawab. “itukah hal pertama yang ingin kau tanyakan


pada pria yang telah menyelamatkanmu?” ia lalu mengambil sepuntung rokok dari


saku bajunya dan mulai membakar lalu menghisapnya.


Aku hanya terdiam lalu pria itu kembali berkata. “Namaku Paul,


menghisap rokoknya kembali lalu berkata. “dengan luka seperti itu, kau harusnya


sudah mati nak.” Ucapnya melihat ke arahku.


“Lalu mengapa kau tidak membiarkanku mati saja?” aku berkata


dengan nada gemetar sambil menggenggam kedua tanganku yang gemetar. “Aku sudah


tidak punya siapapun di dunia ini, bukankah lebih baik kau membiarkanku mati


saja.” Dengan bibir bergetar dan mataku yang mulai berair, aku mengingat


kembali kejadian malam itu.


Paul yang mendengar ucapanku menghisap kembali rokoknya


dalam-dalam lalu mematikannya, ia lalu memposisikan duduknya sedikit condong ke


depan dan berkata. “Tidak, aku tidak bisa melakukan itu.” Kudengar ia menghela


nafasnya dan lanjut berkata. “Nak, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, namun


setidaknya kau harus bersyukur telah diberi kesempatan kedua untuk hidup.” Paul


kembali menatapku.


“Kak Ani, bukan?” mendengar Paul mengucapkan itu, mataku


terbuka lebar dan aku beranjak berdiri dari duduk ku terdiam menghadapnya. “Bagaimana


kau bisa tahu nama itu?” Tanyaku pada Paul.


Paul terkekeh sejenak. “Kau menyebutkan nama itu berulang


kali saat kau tak sadarkan diri.” Paul menatapku kembali dan berkata. “Kau


telah kehilangan dia bukan?” ucapannya membuatku geram lalu aku berteriak. “Memangnnya

__ADS_1


kau tahu apa, soal kehilangan!” amarahku sulit ku pendam, air mata yang kutahan


akhirnya mengalir. “Apa kau tahu rasanya kehilangan orang-orang yang kau


sayangi dalam semalam!” kutatap tajam Paul yang hanya terdiam.


Paul hanya menggelengkan kepalanya saja. “Lantas mengapa aku


harus bersyukur telah diberikan kesempatan untuk hidup? Kau seharusnya


membiarkan ku mati saja!” lanjutku berkata dengan nada kasar.


Tiba-tiba Paul menggebrak mejanya dengan keras lalu berkata.


“Justru karena itu kau harusnya bersyukur dan melanjutkan hidupmu, kau pikir


bagaimana perasaan mereka yang sudah tiada jika kau mati.” Ia menatap tajam


kearahku dan lanjut berkata. “Kehilangan seseorang yang kau sayangi memang


menyakitkan, tapi belajarlah untuk menerimanya, orang-orang yang pergi


meninggalkanmu pasti tidak akan mau kau berakhir seperti mereka.”


Mendengar ucapan Paul, aku kembali mengingat perkataan terakhir


dari Kak Ani ‘Teruslah hidup’ aku pun kembali terdiam, kepalaku menunduk


menghadap kebawah, air mata menetes deras dari mataku.


Paul pun berdiri, ia berjalan ke arahku lalu menepuk


pundaku. “Tenangkanlah dirimu dulu.” Paul pun pergi meninggalkan ku sendiri.


Kenangan demi kenangan mengalir dalam pikiranku, masa-masa bahagia


yang kulalui telah sirna, kini aku hanya sendiri di dunia yang luas ini, rasa


takut menjalar di seluruh tubuhku, seketika aku teringat dengan pria berambut


perak dan para bawahannya, merekalah penyebab seluruh tragedi yang kualami.


Tiba-tiba aku merasakan kobaran api yang sangat panas dalam


hatiku. Benar aku belum boleh mati, sampai saat di mana aku membalaskan dendam


ku, aku belum boleh mati.


Paul kembali melanjutkan memotong kayu di halaman depan


rumahnya, setelah beberapa saat Seva keluar dari kabin miliknya. Seva membawa


sebuah pedang panjang milik Paul yang ia jadikan pajangan di ruang tamunya.


“Hey pak tua, apakah kau bisa menggunakan ini?” Ucap seva


sambil menggengam sebuah pedang panjang.


Paul yang melihatnya hanya terkekeh lalu melanjutkan


memotong kayu. “Ya aku bisa.” Ucap paul pada Seva. “Namun hari-hari itu sudah


berakhir untukku, mengapa kau bertanya?” tanya Paul.


Dengan tatapan penuh tekad yang kuat Seva menjawab. “Ajarkan


aku cara bertarung.” Mendengar jawaban Seva, Paul terdiam sejenak dan tertawa


dengan kencang “Memangnya apa yang ingin kau lakukan anak?” tanya paul dengan


nada mengejek.


“Kau benar, aku belum boleh mati. Masih ada hal yang harus


kulakukan.” Jawab Seva dengan tegas.


Paul kembali terdiam menatap ke arah Seva. “Sebutkan namamu nak?”


Paul bertanya dengan nada serius.

__ADS_1


“Seva, namaku adalah Seva.”


__ADS_2