The Wanderer

The Wanderer
Titik Terendah


__ADS_3

Aku dan Lisa maju menghadapi para bandit yang mulai mendekat,


jumlah mereka jauh lebih banyak dari kami. Mereka berbaris dengan


senjata-senjata mereka yang siap di tangan, dan tatapan mereka penuh nafsu


kejam.


Kulihat Lisa menggenggam pedangnya erat-erat, matanya penuh


dengan tekad dan ketegasan. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, namun dia


tidak mau mengalah.


Dalam hatiku, aku tahu bahwa kami dalam posisi yang sangat


tidak menguntungkan. Namun, aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku bersumpah


akan menyelamatkan Arin dan melindungi Lisa,


Pertempuran dimulai, bentrokan antara kami dengan kelompok


bandit itu tak dapat di hindari lagi, mereka menyerang secara berkelompok membuat


aku dan Lisa kesulitan menghadapinya.


Pedang dan tombak mereka berayun dalam gerakan yang


terkoordinasi, mencoba melumpuhkan aku dan Lisa. Setiap serangan yang kami hindari,


serangan lain sudah menghampiri kami.


Aku dan Lisa berusaha bertahan sebaik mungkin. Kami bergeser


dan menghindari serangan dengan kecepatan dan keahlian yang kami miliki, namun


jumlah bandit terus bergerak maju dan serangan mereka menjadi semakin kuat.


Serangan-serangan yang tiba bergantian dengan cepat,


menyisakan sedikit celah untuk bernapas. Aku berusaha menghindar dan memblokir


sebanyak yang aku bisa, tetapi gerakan mereka terlalu terkoordinasi dan


kecepatan mereka luar biasa.


Kulihat Lisa dalam bahaya. Namun, tiba-tiba pedang bandit


meluncur di depan wajahku, dan aku dengan cepat melangkah menghindar, membuat


jarak antara aku dan Lisa semakin jauh.


Pandanganku bertemu dengan pandangan Lisa, Aku bisa melihat


kekhawatirannya.


Pertempuran berlangsung semakin intens, tetapi akhirnya,


kelebihan jumlah membuktikan kekuatannya. Aku terdesak ke tanah, merasakan rasa


sakit di sekujur tubuhku.


Mereka mengelilingi kami dengan senyum mengejek, merasa


senang karena keberhasilan mereka dalam memojokkan kami.


Kulihat Jack berlari dengan cepat menuju Lisa yang sedang


sibuk bertahan dari serangan bandit. “Lisa, awas!” aku berteriak dengan kencang


memperingati Lisa. Namun, ketika Lisa membalikkan badannya Jack dengan pukulan


keras menghantam perut Lisa, membuatnya terhempas jauh.


Wajah Lisa terlihat terkejut dan terpukul saat ia terlempar.


Tubuhnya terayun dengan tak terkendali, membuatnya kehilangan keseimbangan.


Rambutnya berkibar di udara, menciptakan bayangan yang melintas dengan cepat.


Ekspresi kesakitan dan ketidakberdayaan terpancar di wajahnya.


Tiba-tiba sosok pria melompat lalu menangkap Lisa sebelum ia


mendarat di tanah. Pria itu adalah Gerald dengan ekspresi khawatir ia melihat


adiknya yang kesakitan di pangkuannya.

__ADS_1


“Lisa!” Gerald berteriak mencoba memastikan adiknya


baik-baik saja.


Para bandit terkejut termasuk juga dengan Jack ketika


melihat kedatangan Gerald yang tiba-tiba, beberapa dari mereka merasa takut. Namun,


Jack tersenyum sinis dan berkata. “Wah... Lihat siapa yang datang. Sang pahlawan


dan pemimpin para kesatria Warenburg.” Jack menepuk tangannya dengan ekspresi


sombong.


Lisa membuka matanya melihat sosok Gerald di hadapannya, ia lalu


tersenyum. Gerald yang melihat wajah Lisa menghela nafasnya lalu ia membaringkan


tubuh Lisa di tanah dengan hati-hati.


Ekspresi marah melukis wajah Gerald, Wajahnya yang biasanya


penuh dengan kebaikan dan kelembutan kini dipenuhi dengan kemarahan yang


membara. Dahi Gerald berkerut, mengungkapkan kegelisahan yang mendalam.


Dengan cepat Gerald mengeluarkan pedang besarnya lalu


melesat ke arah bandit yang mengelilingiku. Dalam satu tebasan yang kuat para


bandit itu terhempas jauh, ia lalu mengulurkan tangannya padaku. “Apa kau masih


mampu bertarung?” tanya Gerald.


Aku menerima uluran tangannya lalu berdiri. “Ya, tenang saja


ini belum seberapa.” Jawabku.


Gerald berdiri di sampingku, kami berdua bersiap melakukan


serangan balik. “Baiklah, ayo maju!” dengan satu aba-aba dari Gerald, kami


melesat maju.


Pertempuran dimulai kembali, Gerald dengan gampang menebas


dengan kemampuan bertarung Gerald sangat menguntungkan kami yang awalnya kalah


jumlah.


Melihat bawahannya satu per satu kami kalahkan, Jack mulai


merasa dirinya terpojokkan. Senyuman sombongnya mulai terlihat pudar, ia segera


melarikan diri dari medan tempur.


Melihat Jack yang melarikan diri, Gerald berteriak kepadaku.


“Seva! Jangan biarkan dia pergi, kejarlah dia!” Ia lalu berdiri membelakangiku


menghadang para bandit yang tersisa. “Biar aku yang mengurus disini.”


Aku menjawab dengan anggukan kecil lalu berlari mengejar Jack.


Mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Jack, aku melintasi hutan yang


lebat dan melewati sungai yang mengalir deras. Cepat juga dia larinya, pikirku.


Setelah berlari cukup jauh, aksi kejar-kejaran ini berhenti


di sebuah padang rumput yang luas. Aku melihat Jack berdiri membelakangi cahaya


kemerahan dari matahari yang terbit. Dia memegang sebuah belati dengan permata


keemasan di gagangnya. sementara tangan lainnya memegang erat lengan Arin.


Wajah Jack terpancar dengan senyuman jahat memenuhi wajahnya


yang kotor dan penuh luka. Ekspresi kepuasannya tidak dapat disembunyikan,


karena dia menyadari kekuasaannya atas nyawa Arin.


“Lepaskan dia!” Teriakku pada Jack, namun ia hanya membalasnya


dengan tawaan saja.


“Melepaskannya? Hahaha... kalau kau serius ingin

__ADS_1


menyelamatkan gadis ini, ayo majulah.”


Arin terlihat ketakutan di tangan Jack, namun ia berusaha


untuk tetap terlihat tegar.


Aku mencoba mendekati mereka tetapi setiap aku melangkah,


belati di tangan Jack semakin mendekati leher Arin.


Jack tersenyum dengan senyuman yang penuh keangkuhan,


menggenggam erat lengan Arin sambil memperlihatkan belati dengan permata


keemasan yang berkilauan di tangannya. “Ayo, majulah!” Jack berteriak dengan


suara keras.


Menyadari kalau aku menyerang langsung akan berisiko tinggi


dan berpotensi membahayakan nyawa Arin. Aku memperhatikan sekitarku lalu


kulihat sebuah batu berukuran kepalan tangan tergeletak di atas rumput hijau.


Dalam satu gerakan cepat aku mengambil batu itu lalu


memfokuskan seluruh kekuatan fisik pada lengan kananku. Saat itu waktu terasa begitu


lambat, aku hanya memiliki satu kesempatan untuk menyelamatkan Arin, dengan


cepat aku melempar batu itu ke arah Jack menciptakan suara dentuman yang keras.


Batu itu menerjang dengan cepat mengenai wajah Jack, membuatnya kehilangan


keseimbangan. Hal tersebut membuka peluang untuk Arin menyelamatkan diri. “Arin! Larilah!” aku


berteriak kepada Arin.


Dengan cepat Arin mendorong Jack yang sedang kesakitan lalu


berlari sekuat tenaga ke arahku. Jack yang menyadari Arin terlepas dari genggamannya


langsung melempar belati ke arah Arin dan berteriak. “Bocah sialan!”


Dalam waktu yang singkat itu, aku berlari melesat menuju


Arin dengan mengulurkan tanganku mencoba meraihnya. Ketika jangkauan Arin sudah


dekat aku langsung menarik tangannya lalu melemparnya ke arah berlawanan.


Namun, belati yang dilempar Jack mengenai tepat di dadaku, tubuhku


langsung terasa lemas, kakiku tidak bisa lagi menopang berat badanku. Seketika aku


terjatuh ke tanah.


Aku dapat mendengar suara Arin berteriak memanggil namaku,


namun aku tidak bisa meresponnya. Perlahan pandanganku mulai memudar, hingga akhirnya


semuanya gelap.


.


..


...


Gelap...


Aku takut...


Kak Ani, tolong aku...


Aku merasa diriku tenggelam dalam kegelapan yang pekat, aku


mencoba meraih sesuatu namun tidak ada hasilnya.


Apakah ini akhirnya? Apa aku akan mati begitu saja? Bagaimana


dengan Arin, apakah dia akan selamat?


Hal terakhir yang kuingat, belati pemberian Paul menancap


tepat di dadaku. Dengan luka parah seperti itu, tidak mungkin aku bisa selamat.


Aku pun menutup kedua mataku, membiarkan diriku semakin

__ADS_1


tenggelam dalam kegelapan ini.


__ADS_2