
Selbest, nama itu terus berputar di pikiranku. Siapa dia
sebenarnya?
Arin yang tertidur di sebelahku terbangun lalu berkata. “Seva,
kau sudah bangun?”
Aku menatap Arin yang sedang meregangkan badannya. “Kau
seharusnya jangan tidur seperti itu, tidak bagus untuk tubuhmu,” ucapku pada
Arin.
Arin hanya membalas dengan tawaan kecil, aku pun beranjak
bangun dari kasur menuju meja yang berada di sisi tembok kamar. Di sana
terdapat sehelai kain basah dan juga wadah yang berisi air hangat. Aku mengusap
wajahku menggunakan kain tersebut.
“Seva, kau tahu. Semalam aku bertemu pria aneh,” ucap Arin.
“Sudah kubilang, berhati-hatilah.”
“Bukan begitu. Maksudku aneh, pria itu berkata soal takdir
dan pertemuan.”
“Memangnya apa yang dimaksud dengan takdir dan pertemuan? Lalu
apa kau bertanya soal identitasnya?” tanyaku.
"Aku juga tidak tahu pasti. Dia tampak begitu misterius,
namanya Selly. Namun, dia pergi begitu saja sebelum aku sempat bertanya lebih
lanjut." Jawab Arin.
"Tapi kata-katanya tentang takdir dan pertemuan
membuatku berpikir. Apakah pertemuan kita yang kebetulan ini sebenarnya sudah
ditakdirkan sejak awal?" tambah Arin, matanya berbinar.
Aku menghela nafasku, “Pertemuan kita hanyalah kebetulan
saja,” Ucapku pada Arin.
Arin terlihat cemberut mendengar jawabanku. Namun, kalau di
pikir-pikir semenjak aku bertemu dengan Arin, entah mengapa aku merasa ikatan
yang kuat dengannya dan juga kekuatan baru yang kudapat saat menyelamatkannya.
Apa memang ini hanyalah kebetulan? Atau ini merupakan takdir?
Daripada terlalu memikirkan hal tersebut, aku beranjak pergi keluar.
“Kau mau ke mana?” tanya Arin.
“Aku ingin berjalan-jalan sebentar, tubuhku terasa kaku jika
harus beristirahat terus.” Sebelum aku meraih gagang pintu. Tiba-tiba, pintu
kayu itu terbuka lebar, di baliknya Gerald sudah berdiri tegap.
“Seva, bagaimana kabarmu?” tanya Gerald dengan suara lembut
saat memasuki ruangan.
Aku pun mundur tidak jadi keluar ruangan. “Sudah lebih baik
sekarang.”
Gerald tersenyum lega mendengar jawabanku. “Baguslah, ada
sesuatu yang ingin kuberitahu padamu.” Sebelum melanjutkan Gerald melihat Arin
yang sedang duduk di sebelah ranjang. “Kebetulan sekali, Arin juga ada di sini.”
“Apa yang ingin kau beritahu?” tanyaku penasaran.
“Pemimpin kota Warenburg yaitu tuan Thomas, mengundangmu
untuk hadir sebagai tamu kehormatan di pesta yang diadakannya. Dia ingin
memberikan penghargaan atas peranmu dalam membantu memberantas para bandit,"
ungkap Gerald dengan gembira.
Aku terkejut mendengarnya. Aku tidak pernah mengira tindakanku
akan diakui dan dihargai oleh pemimpin kota ini. Aku merasa senang namun dilain
sisi aku juga merasa tidak enak, karena semua itu hanyalah kebetulan saja.
__ADS_1
“Ada apa Seva? Kau terlihat ragu.” Sepertinya Gerald melihat
ekspresi wajahku. Aku pun mencoba kembali tersenyum. “Tidak, terima kasih atas
undangannya. Tapi aku merasa tidak enak menerimanya,” ucapku.
“Tenang saja, aku sudah menceritakan semuanya pada tuan
Thomas. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” Aku tahu Gerald berkata seperti
itu untuk meyakinkanku. Namun, tetap saja aku merasa tidak enak menerimanya.
Arin datang menghampiri kami berdua lalu berkata. “Terima
saja, lagi pula akan lebih tidak sopan jika kita menolaknya.”
Mendengar jawaban Arin, aku pun tidak bisa membantah. “Baiklah,
kami akan datang ke pesta tersebut.”
Gerald terlihat senang mendengar jawabanku, kedua tangannya
lalu menepuk pundakku. “Bagus. Oh ya, aku hampir lupa.” Gerald terlihat merogoh
kantung celananya, mengeluarkan selembar kertas.
“Ini adalah alamat rumahku. Nanti sore, kalian datanglah.”
Gerald memberikanku selembar kertas itu, di sana tertulis alamat lengkap,
dengan tanda senyuman?
Sebelum aku sempat menjawab, Arin tiba-tiba menyaut. “Kami akan
datang.”
“Baiklah, sampai ketemu nanti.” Gerald pun pergi dengan
senyuman lebar di wajahnya.
Arin yang terlihat senang bersenandung dengan riang, aku
yang melihatnya menghela nafasku dalam-dalam.
“Hei Arin, kau tidak bisa seperti itu.”
“Hmm? Apa maksudmu? Bukankah mereka mengundang kita dengan
baik, sudah sewajarnya kita menerima undangan itu.”
“Kau benar, tapi-“ aku merasa perkataanku pasti akan langsung
Aku pun segera pergi menuju pintu sebelum tiba-tiba Arin
berteriak memanggilku. “Seva, tunggu!”
“Ada apa lagi?”
"Aku harus memberitahumu sesuatu, Seva," ucap Arin
perlahan, mencoba menenangkan diri sebelum berbicara lebih lanjut. "Kita
tidak punya uang."
Mendengar Arin berkata seperti itu. Tiba-tiba, pernafasanku
terhenti sesaat dan matapun terbelalak kaget. "Tidak punya uang?"
ulangku, mencoba memastikan bahwa aku tidak salah dengar.
Arin mengangguk dengan cemas. Rasa panik melanda pikiranku.
Bagaimana mungkin kami bisa hadir di pesta tanpa uang? Aku membayangkan wajah
gembira Tuan Thomas berubah menjadi kecewa saat kami harus menolak undangannya
karena masalah keuangan ini.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyaku
khawatir, mencoba merenungkan solusi.
Arin menggaruk kepalanya, mencoba untuk memikirkan sesuatu.
"Kita bisa mencoba mencari pekerjaan sementara untuk mendapatkan uang,
atau... mungkin ada cara lain?"
Aku terdiam sejenak, kemudian matapun bersinar saat sebuah ide
muncul dalam benakku. "Tunggu sebentar, aku punya ide! Kota ini memiliki
serikat petualang bukan?"
Arin memandangku dengan ekspresi bingung. “Sepertinya,
memang kenapa?”
__ADS_1
“Bagus, kita bisa mendaftar sebagai petualang lalu
mengerjakan misi yang terpampang di sana,” ucapku dengan semangat.
Arin tampak ragu-ragu. “Tunggu, kau ingin aku juga mendaftar
sebagai petualang?” Arin menggelengkan kepalanya lalu lanjut berkata. “Aku
bahkan tidak bisa bertarung.”
“Tapi, itu satu-satunya pilihan kita sebagai pendatang baru
di kota ini.” Aku menepuk pundaknya dengan penuh keyakinan, "Tidak usah
khawatir, kita bisa melakukannya bersama-sama.”
“Dari mana datangnya rasa percaya dirimu itu.” Arin menghela
nafasnya menatapku.
“Jika kau tidak mau, tidak apa-apa. Lagi pula kau juga yang
berkata ingin ikut denganku.” Aku membalikkan badanku, perlahan berjalan ke
arah pintu.
Arin terdengar menggerutu sedikit lalu. “Tunggu! Aku ikut.”
Aku tertawa kecil mendengarnya, kami berdua pun pergi menuju
pusat kota. Setelah berjalan-jalan sebentar di pusat kota, langkah kami
terhenti di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar namun terlihat
terawat. Di atas pintu masuknya terdapat tulisan Serikat Petualang.
“Sepertinya ini tempatnya,” ucap Arin.
Kami berdua masuk ke dalam bangunan itu. Ketika memasuki
ruangan utama, suasana riuh rendah dari suara para petualang yang sedang
berdiskusi, berbagi cerita, atau merencanakan misi berikutnya langsung
menyambut kedatangan kami.
Dinding-dindingnya dihiasi dengan peta, artefak langka, dan
peralatan petualangan yang mengundang rasa penasaran. Tempat ini menjadi rumah
bagi berbagai macam petualang dari berbagai latar belakang dan keterampilan,
menciptakan atmosfer beragam dan menarik.
Kami berdua pun menghampiri meja resepsionis yang berada di
ujung ruangan, terdapat papan misi besar di sebelah meja resepsionis, dipenuhi
dengan berbagai misi yang menunggu untuk diambil oleh para petualang.
Pilihan misi tersebut bervariasi, mulai dari mengatasi
monster yang mengerikan, mencari harta karun, hingga membantu warga kota dengan
masalah mereka. Setiap misi memiliki tingkat kesulitan dan imbalan yang
berbeda, mengundang para petualang untuk menantang diri mereka sendiri dan
meraih penghargaan dari pencapaian mereka.
Langkah kami terhenti di depan meja resepsionis, kami
langsung di sambut oleh seorang wanita berambut cokelat yang sepertinya
merupakan sekretaris di serikat ini. Senyuman hangat terlukis di wajahnya, dengan
nada ramah wanita itu berkata. “Ada yang bisa aku bantu?”
Aku memandang Arin sejenak sebelum dengan percaya diri
menjawab, “Kami ingin mendaftar sebagai petualang.”
Wanita itu mengangguk mengerti, lalu menatap kami dengan
penuh semangat. “Baiklah, kalian datang pada saat yang tepat. Kami sedang
membutuhkan lebih banyak petualang untuk menangani misi-misi di kota ini.”
“Memangnya kota ini kekurangan petualang?” Tanyaku
penasaran.
Wanita itu merogoh sesuatu di bawah meja lalu mengeluarkan
selembar kertas. “Iya benar, kota ini sedang kekurangan petualang yang handal.”
Aku mengangguk mengerti, wanita itu memberikan selembar
__ADS_1
kertas itu padaku lalu berkata. “Tolong isi formulir ini terlebih dahulu.”