The Wanderer

The Wanderer
Undangan Pesta


__ADS_3

Selbest, nama itu terus berputar di pikiranku. Siapa dia


sebenarnya?


Arin yang tertidur di sebelahku terbangun lalu berkata. “Seva,


kau sudah bangun?”


Aku menatap Arin yang sedang meregangkan badannya. “Kau


seharusnya jangan tidur seperti itu, tidak bagus untuk tubuhmu,” ucapku pada


Arin.


Arin hanya membalas dengan tawaan kecil, aku pun beranjak


bangun dari kasur menuju meja yang berada di sisi tembok kamar. Di sana


terdapat sehelai kain basah dan juga wadah yang berisi air hangat. Aku mengusap


wajahku menggunakan kain tersebut.


“Seva, kau tahu. Semalam aku bertemu pria aneh,” ucap Arin.


“Sudah kubilang, berhati-hatilah.”


“Bukan begitu. Maksudku aneh, pria itu berkata soal takdir


dan pertemuan.”


“Memangnya apa yang dimaksud dengan takdir dan pertemuan? Lalu


apa kau bertanya soal identitasnya?” tanyaku.


"Aku juga tidak tahu pasti. Dia tampak begitu misterius,


namanya Selly. Namun, dia pergi begitu saja sebelum aku sempat bertanya lebih


lanjut." Jawab Arin.


"Tapi kata-katanya tentang takdir dan pertemuan


membuatku berpikir. Apakah pertemuan kita yang kebetulan ini sebenarnya sudah


ditakdirkan sejak awal?" tambah Arin, matanya berbinar.


Aku menghela nafasku, “Pertemuan kita hanyalah kebetulan


saja,” Ucapku pada Arin.


Arin terlihat cemberut mendengar jawabanku. Namun, kalau di


pikir-pikir semenjak aku bertemu dengan Arin, entah mengapa aku merasa ikatan


yang kuat dengannya dan juga kekuatan baru yang kudapat saat menyelamatkannya.


Apa memang ini hanyalah kebetulan? Atau ini merupakan takdir?


Daripada terlalu memikirkan hal tersebut, aku beranjak pergi keluar.


“Kau mau ke mana?” tanya Arin.


“Aku ingin berjalan-jalan sebentar, tubuhku terasa kaku jika


harus beristirahat terus.” Sebelum aku meraih gagang pintu. Tiba-tiba, pintu


kayu itu terbuka lebar, di baliknya Gerald sudah berdiri tegap.


“Seva, bagaimana kabarmu?” tanya Gerald dengan suara lembut


saat memasuki ruangan.


Aku pun mundur tidak jadi keluar ruangan. “Sudah lebih baik


sekarang.”


Gerald tersenyum lega mendengar jawabanku. “Baguslah, ada


sesuatu yang ingin kuberitahu padamu.” Sebelum melanjutkan Gerald melihat Arin


yang sedang duduk di sebelah ranjang. “Kebetulan sekali, Arin juga ada di sini.”


“Apa yang ingin kau beritahu?” tanyaku penasaran.


“Pemimpin kota Warenburg yaitu tuan Thomas, mengundangmu


untuk hadir sebagai tamu kehormatan di pesta yang diadakannya. Dia ingin


memberikan penghargaan atas peranmu dalam membantu memberantas para bandit,"


ungkap Gerald dengan gembira.


Aku terkejut mendengarnya. Aku tidak pernah mengira tindakanku


akan diakui dan dihargai oleh pemimpin kota ini. Aku merasa senang namun dilain


sisi aku juga merasa tidak enak, karena semua itu hanyalah kebetulan saja.

__ADS_1


“Ada apa Seva? Kau terlihat ragu.” Sepertinya Gerald melihat


ekspresi wajahku. Aku pun mencoba kembali tersenyum. “Tidak, terima kasih atas


undangannya. Tapi aku merasa tidak enak menerimanya,” ucapku.


“Tenang saja, aku sudah menceritakan semuanya pada tuan


Thomas. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” Aku tahu Gerald berkata seperti


itu untuk meyakinkanku. Namun, tetap saja aku merasa tidak enak menerimanya.


Arin datang menghampiri kami berdua lalu berkata. “Terima


saja, lagi pula akan lebih tidak sopan jika kita menolaknya.”


Mendengar jawaban Arin, aku pun tidak bisa membantah. “Baiklah,


kami akan datang ke pesta tersebut.”


Gerald terlihat senang mendengar jawabanku, kedua tangannya


lalu menepuk pundakku. “Bagus. Oh ya, aku hampir lupa.” Gerald terlihat merogoh


kantung celananya, mengeluarkan selembar kertas.


“Ini adalah alamat rumahku. Nanti sore, kalian datanglah.”


Gerald memberikanku selembar kertas itu, di sana tertulis alamat lengkap,


dengan tanda senyuman?


Sebelum aku sempat menjawab, Arin tiba-tiba menyaut. “Kami akan


datang.”


“Baiklah, sampai ketemu nanti.” Gerald pun pergi dengan


senyuman lebar di wajahnya.


Arin yang terlihat senang bersenandung dengan riang, aku


yang melihatnya menghela nafasku dalam-dalam.


“Hei Arin, kau tidak bisa seperti itu.”


“Hmm? Apa maksudmu? Bukankah mereka mengundang kita dengan


baik, sudah sewajarnya kita menerima undangan itu.”


“Kau benar, tapi-“ aku merasa perkataanku pasti akan langsung


Aku pun segera pergi menuju pintu sebelum tiba-tiba Arin


berteriak memanggilku. “Seva, tunggu!”


“Ada apa lagi?”


"Aku harus memberitahumu sesuatu, Seva," ucap Arin


perlahan, mencoba menenangkan diri sebelum berbicara lebih lanjut. "Kita


tidak punya uang."


Mendengar Arin berkata seperti itu. Tiba-tiba, pernafasanku


terhenti sesaat dan matapun terbelalak kaget. "Tidak punya uang?"


ulangku, mencoba memastikan bahwa aku tidak salah dengar.


Arin mengangguk dengan cemas. Rasa panik melanda pikiranku.


Bagaimana mungkin kami bisa hadir di pesta tanpa uang? Aku membayangkan wajah


gembira Tuan Thomas berubah menjadi kecewa saat kami harus menolak undangannya


karena masalah keuangan ini.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyaku


khawatir, mencoba merenungkan solusi.


Arin menggaruk kepalanya, mencoba untuk memikirkan sesuatu.


"Kita bisa mencoba mencari pekerjaan sementara untuk mendapatkan uang,


atau... mungkin ada cara lain?"


Aku terdiam sejenak, kemudian matapun bersinar saat sebuah ide


muncul dalam benakku. "Tunggu sebentar, aku punya ide! Kota ini memiliki


serikat petualang bukan?"


Arin memandangku dengan ekspresi bingung. “Sepertinya,


memang kenapa?”

__ADS_1


“Bagus, kita bisa mendaftar sebagai petualang lalu


mengerjakan misi yang terpampang di sana,” ucapku dengan semangat.


Arin tampak ragu-ragu. “Tunggu, kau ingin aku juga mendaftar


sebagai petualang?” Arin menggelengkan kepalanya lalu lanjut berkata. “Aku


bahkan tidak bisa bertarung.”


“Tapi, itu satu-satunya pilihan kita sebagai pendatang baru


di kota ini.” Aku menepuk pundaknya dengan penuh keyakinan, "Tidak usah


khawatir, kita bisa melakukannya bersama-sama.”


“Dari mana datangnya rasa percaya dirimu itu.” Arin menghela


nafasnya menatapku.


“Jika kau tidak mau, tidak apa-apa. Lagi pula kau juga yang


berkata ingin ikut denganku.” Aku membalikkan badanku, perlahan berjalan ke


arah pintu.


Arin terdengar menggerutu sedikit lalu. “Tunggu! Aku ikut.”


Aku tertawa kecil mendengarnya, kami berdua pun pergi menuju


pusat kota. Setelah berjalan-jalan sebentar di pusat kota, langkah kami


terhenti di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar namun terlihat


terawat. Di atas pintu masuknya terdapat tulisan Serikat Petualang.


“Sepertinya ini tempatnya,” ucap Arin.


Kami berdua masuk ke dalam bangunan itu. Ketika memasuki


ruangan utama, suasana riuh rendah dari suara para petualang yang sedang


berdiskusi, berbagi cerita, atau merencanakan misi berikutnya langsung


menyambut kedatangan kami.


Dinding-dindingnya dihiasi dengan peta, artefak langka, dan


peralatan petualangan yang mengundang rasa penasaran. Tempat ini menjadi rumah


bagi berbagai macam petualang dari berbagai latar belakang dan keterampilan,


menciptakan atmosfer beragam dan menarik.


Kami berdua pun menghampiri meja resepsionis yang berada di


ujung ruangan, terdapat papan misi besar di sebelah meja resepsionis, dipenuhi


dengan berbagai misi yang menunggu untuk diambil oleh para petualang.


Pilihan misi tersebut bervariasi, mulai dari mengatasi


monster yang mengerikan, mencari harta karun, hingga membantu warga kota dengan


masalah mereka. Setiap misi memiliki tingkat kesulitan dan imbalan yang


berbeda, mengundang para petualang untuk menantang diri mereka sendiri dan


meraih penghargaan dari pencapaian mereka.


Langkah kami terhenti di depan meja resepsionis, kami


langsung di sambut oleh seorang wanita berambut cokelat yang sepertinya


merupakan sekretaris di serikat ini. Senyuman hangat terlukis di wajahnya, dengan


nada ramah wanita itu berkata. “Ada yang bisa aku bantu?”


Aku memandang Arin sejenak sebelum dengan percaya diri


menjawab, “Kami ingin mendaftar sebagai petualang.”


Wanita itu mengangguk mengerti, lalu menatap kami dengan


penuh semangat. “Baiklah, kalian datang pada saat yang tepat. Kami sedang


membutuhkan lebih banyak petualang untuk menangani misi-misi di kota ini.”


“Memangnya kota ini kekurangan petualang?” Tanyaku


penasaran.


Wanita itu merogoh sesuatu di bawah meja lalu mengeluarkan


selembar kertas. “Iya benar, kota ini sedang kekurangan petualang yang handal.”


Aku mengangguk mengerti, wanita itu memberikan selembar

__ADS_1


kertas itu padaku lalu berkata. “Tolong isi formulir ini terlebih dahulu.”


__ADS_2