TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU

TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU
Bab 1 Keponakan Satu Satunya


__ADS_3

"Raja Perang, kami akan mengikuti Anda sampai mati!" teriak ratusan ribu tentara. Di perbatasan Negara Kerinci, di mana asap perang membubung tinggi, tentara-tentara itu tampak sedang menatap sosok pria kurus yang tengah berdiri di hadapan mereka.


Tatapan mereka dipenuhi oleh semangat yang membara.


Nawang Tirta, seorang komandan angkatan bersenjata, merupakan pria yang sangat disegani oleh negara.


Dia diberi gelar sebagai Raja Perang


Tertinggi!


Dalam satuan tentara Kerinci, Nawang merupakan panutan bagi jutaan prajurit


Hari ini, Nawang berencana akan meninggalkan perbatasan dan kembali ke kota.


Saat angin utara yang dingin berembus, Nawang berbalik dan menatap ratusan ribu prajurit Tentara Serigala Darah yang di bawah komandonya dengan mata memerah.


Ada ketidakrelaan dan kemarahan yang besar di balik tatapannya.


Tidak lama kemudian, suaranya yang serak bergema di perbatasan itu saat dia mengatakan; "Seseorang telah menyusup ke dalam rumahku, membunuh keluargaku, dan menghabisi klanku"


"Bunuh! Bunuh! Bunuh!" teriak ratusan ribu prajurit itu secara serentak.


Aura membunuh yang luar biasa memenuhi langit Kerinci.


Mata para prajurit itu memerah karena amarah yang membuncah. Mereka berharap bisa kembali ke kota secepatnya untuk membalaskan dendam sang Raja Perang!


Musuh Raja Perang merupakan musuh mereka juga. Secara tidak langsung musuh-musuh itu juga musuh Kerinci!


Hati Nawang dipenuhi oleh penyesalan yang sangat dalam saat melihat medan perang yang sunyi. Dia merasa seolah-olah wajah berlumuran darah yang tengah menangis berkata kepadanya, Nawang, aku pernah mengatakan bahwa aku ingin melihatmu menikah dan punya anak.


Namun, sekarang, sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku ..


Mati ... mereka semua sudah mati ...


Nawang, kamu adalah satu-satunya harapan Keluarga Tirta. Jangan pernah kembali apalagi berpikir untuk balas dendam!


Lari! Larilah sejauh mungkin! Jangan membalas dendam karena lawanmu sangatlah kuat dan kejam ...


Di kehidupan selanjutnya, mari kita menjadi saudara lagi!


Keluarga Tirta merupakan salah satu keluarga terkuat yang ada di Kota Habuan.


Namun, setengah tahun yang lalu, keluarga itu dimusnahkan dan hampir semua anggota


Keluarga Tirta mati dengan cara yang


mengenaskan!


Semua ini gara-gara seorang wanita yang bernama Nindi Cakrawala, tunangan Nawang! Setahun yang lalu, Nindi, menantu Keluarga Tirta, mencuri informasi rahasia dan kemudian bekerja sama dengan Keluarga Wiryawan dan


Keluarga Kencana untuk menghancurkan Keluarga Tirta secara diam-diam.


Dengan kerja sama di antara mereka, Keluarga Tirta, salah satu keluarga terkaya, kehilangan seluruh harta benda

__ADS_1


mereka. Tidak sampai di situ saja, semua anggota Keluarga Tirta juga dibantai dengan cara yang keji.


Lebih dari setengah tahun yang lalu, Leo, kakak laki-laki Nawang, mengirimkan sepucuk surat kepadanya. Namun, saat itu, Nawang sedang


bertempur di medan perang sehingga dia tidak tahu apa yang telah menimpa seluruh keluarganya sampai pada hari kemenangan mereka.


Sudah lebih dari setengah tahun sejak Keluarga Tirta dimusnahkan. Keluarga Cakrawala, yang dahulunya hanyalah sebuah keluarga kecil, kini telah menjadi salah satu dari empat keluarga berpengaruh yang ada di Kota Habuan.


Selain itu, Keluarga Kencana dan Keluarga Wiryawan, yang juga merupakan empat keluarga berpengaruh, menjadi penguasa kota dan tak ada yang berani mengusik mereka!


Namun, ketika Raja Perang marah, ribuan nyawa pasti akan melayang. Tidak akan ada satu pun yang mampu menahannya!


Selain terbakar oleh amarah, Nawang juga merasa sangat bersalah.


Dia bergabung dengan tentara sepuluh ahun yang lalu. Dia memang memiliki koneksi yang sangat luas, tetapi anggota Keluarga Tirta tidak mengetahui identitasnya yang sebenarnya. Baik itu mengenai kekuatannya maupun hartanya yang melimpah karena rahasia-rahasia yang


menyertainya.


Kalau tidak, mana mungkin para bajingan itu berani menghabisi semua anggota Keluarga Tirta?


"Lapor, aku akan kembali ke kampung halamanku untuk balas dendam!"


Nawang tidak ingin membawa pasukannya kembali bersamanya karena musuh baru saja mundur dan kondisi di perbatasan masih belum


begitu stabil.


Kekuatannya sendiri pun cukup untuk meratakan seluruh Kota Habuan!


"Tuanku, ada telepon untuk Anda!"


Pria itu merupakan pengawal pribadi Nawang yang bernama Endaru Abhimata.


"Untukku?" tanya Nawang sembari mengerutkan keningnya.


Hanya keluarganya yang tahu nomor telepon itu, tetapi seluruh keluarganya telah tiada. Kenapa masih ada orang yang menghubunginya?


Nawang mengambil ponsel itu dengan wajah kebingungan.


"Apa ... apakah benar ini ... Nawang Tirta?" ucap seorang gadis kecil yang ada di seberang telepon.


Suaranya terdengar sangat lembut dan


penuh harap, tetapi juga gemetar karena panik.


"Ya, benar. Siapa ini?"


"Paman ... apa benar ini Paman Nawang?" tanya gadis kecil itu seraya terisak.


Paman?


Nawang terdiam sejenak, lalu dia tersadar. Dia benar-benar terkejut, tetapi bersemangat.


"Santika?" tanya Nawang.

__ADS_1


Gadis tersebut adalah putri dari kakak laki-laki Nawang yang bernama Santika Tirta. Nawang tidak menyangka kalau keponakannya itu masih hidup. Saat ini, dia benar-benar bersemangat.


"Ini ... ini aku ... " kata Santika terus terisak.


Santika hanya menangis tanpa bisa melanjutkan kata-katanya kembali.


"Santika, jangan takut. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Di mana kamu sekarang? Paman akan segera kembali!" kata Nawang dengan suara


bergetar.


Dia memang baru sekali bertemu Santika pada saat gadis kecil itu masih berusia satu bulan.


Namun, Nawang, yang telah menjadi tentara selama sepuluh tahun, sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri karena dia benar-benar


merindukan keluarganya setiap detiknya.


Suara isakan itu tiba-tiba berhenti setelah mendengar ucapan Nawang, suaranya lalu berubah cemas dan tegas, "Tidak, Paman, tinggalkan aku sendiri. Jangan kembali. Jangan


kembali!"


Suaranya terdengar polos, tetapi mengejutkan.


Saat Nawang mengingat kembali sosok kakaknya, gemuruh amarah yang ada di dadanya kembali berkobar. Nawang merasa seolah-olah dia sedang


melihat dua sosok yang berdiri di antara


tumpukan mayat, yang satunya bertubuh besar dan yang satunya lagi bertubuh kecil, sedang meratap sedih padanya.


Nawang tiba-tiba mendengar sebuah teriakan menyedihkan.


"Oh! Nona Raharja, aku tahu aku salah. Tolong jangan pukul aku. Tolong jangan pukul aku lagi .."


"Dasar ******, aku memintamu untuk meminta uang kepadanya. Kenapa kamu malah meneriakiku seperti ini? Aku pasti akan mematahkan kakimu itu!"


"Nona Tirta, aku merasa kalau kamu pantas untuk dipukuli karena kamu hanyalah seekor binatang kecil!"


"Aku pasti akan mengulitimu hidup-hidup hari ini!"


Kata-kata kejam terlontar dari mulut seorang wanita di ujung telepon itu, yang kemudian diikuti oleh suara pukulan dari sebuah tongkat ke


tubuh Santika. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan bergidik ngeri.


Gadis kecil itu berteriak dengan suara kecil dan serak yang membuat telinga Nawang memerah.


Tatapan membunuh melintas di mata Nawang.


Kekhawatiran serta kemarahan yang ada di hatinya saat ini berubah menjadi teriakan dengan suara berat; "Berhenti! Aku tidak peduli siapa kamu sebenarnya! Berhenti sekarang juga! Kalau tidak, aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu!"


Setelah hening beberapa detik, suara wanita itu kembali terdengar dari seberang telepon, "Untuk apa kamu berteriak? Memangnya kamu pikir aku


takut? Semua anggota Keluarga Tirta bukanlah orang yang baik!"


"Namamu Nawang, 'kan? Dengarkan aku baik-baik. Nona Tirta sedang bersamaku. Kalau kamu cerdik, bawa uang dua miliar dua ratus tiga puluh juta rupiah untuk menebusnya. Kalau

__ADS_1


tidak, aku pasti akan mengubur bajingan kecil ini hidup-hidup hari ini!"


Kemudian, teleponnya ditutup.


__ADS_2