TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU

TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU
Bab 11 Aku Adalah Raja Perang Tertinggi


__ADS_3

Ketika dia masih kecil, dia sangat mengagumi Nawang, dia bahkan memiliki perasaan Namun, saat Keluarga Tirta hancur dan tidak ada seorang pun yang membantu mereka. Ditambah tidak ada kabar dari Nawang,


sejak saar itulah, sosok Nawang menghilang di hati Intan. Rasa cintanya dahulu sebesar rasa bencinya yang sekarang.


"Makan saja. Jaga kata-katamu itu!" ucap Albert marah seraya menggebrak meja.


"Kenapa kamu berteriak kepada putrimu? Memangnya dia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya?" ucap Nyonya Teguh tidak senang, matanya melotot ke arah Albert.


Dia lalu menatap Nawang dan mencibir; "Jika benar apa yang kamu katakan itu, pangkatmu di militer pasti sudah sangat tinggi karena kamu berada medan perang selama sepuluh tahun dan kembali hidup-hidup, kan? Jadi, apa pangkatmu sekarang? Apakah kamu sudah menjadi sersan?"


Yang orang biasa tahu adalah seorang prajurit yang bergabung dengan militer hanya bisa kembali ke kampung halamannya dengan dua Yang pertama adalah pensiun dan yang kedua adalah prajurit tersebut telah melakukan banyak kecurangan di militer sehingga mereka dapat mengajukan permohonan untuk mutasi.


Jika seseorang ingin dimutasi, dia setidaknya harus menjadi petugas lapangan.


Namun, usia Nawang masih kurang dari tiga puluh tahun, tahun ini. Di mata siapa pun juga, dia tidak akan mungkin menjadi petugas lapangan. Oleh karena itu, Nyonya Teguh sengaja mempermalukan Nawang.


Nawang mengerutkan keningnya, lalu


menggeleng dan berkata; "Tidak."


"Kalau kamu bukan sersan, lalu apakah kamu seorang petugas lapangan?" tanya Nyonya Teguh berpura-pura terkejut, tetapi matanya dipenuhi oleh penghinaan.


"Tidak juga," kata Nawang kembali menggeleng.


"Ya Tuhan! Apa jangan-jangan kamu sudah menjadi seorang jenderal!" seru Nyonya Teguh berlebihan.


Wajah Albert memerah. Dia menundukkan kepalanya dan merasa tidak berdaya.


Harapan yang semula tampak di mata Intan juga telah menghilang, kini berubah menjadi kekecewaan yang mendalam.


Dia tidak menyangka kalau pria yang dia kagumi sejak kecil itu hanyalah seorang pecundang dan pengecut. Benar-benar menyedihkan!


Nawang masih saja menggelengkan kepalanya.


"Kamu sudah sepuluh tahun di sana. Apakah kamu bekerja sebagai tukang masak?"


Nawang menggelengkan kepalanya dan berkata; "Bisa dikatakan bahwa aku tidak memiliki pangkat di militer. Aku hanya memiliki sebuah gelar."


"Gelar? Gelar apa?" tanya Albert terkejut.


Dia sontak mengangkat kepalanya dan menatap Nawang dengan serius.

__ADS_1


"Raja Perang Tertinggi!"


Nawang mengangkat kepalanya, tatapannya tampak serius.


Mereka yang mendengar seketika terkejut.


Setelah beberapa saat, wajah Albert tampak bergetar. Dia kemudian menghela nafasnya, lalu membungkukkan tubuhnya.


Mata Intan dipenuhi oleh kekecewaan dan juga penghinaan.


Keluarga Tirta dahulunya adalah keluarga yang sangat kuat serta berpengaruh di Kota Habuan.


Namun, siapa sangka pengecut seperti Nawang berani sekali menyombongkan dirinya seperti ini?


Benar-benar memalukan bagi leluhur Keluarga Tirta.


"Hah, lucu sekali! Raja Perang Tertinggi? Kamu pasti terlalu banyak menonton serial TV dan film!" cibir Nyonya Teguh.


Dalam seratus tahun terakhir, jangankan orang biasa, bahkan beberapa prajurit pun belum pernah mendengar gelar apa pun. Apa lagi, gelar "Raja Perang Tertingi", benar-benar terdengar agak konyol.


Yang tidak mereka ketahui adalah dalam beberapa tahun terakhir, kalau bukan karena Nawang yang memimpin Tentara Serigala Darah untuk mengusir musuh yang kuat berkali-kali, perbatasan pasti sudah hancur. Kehidupan lebih dari satu miliar rakyat pasti akan berakhir menyedihkan, seperti kehilangan harta benda serta kematian anggota keluarga mereka.


Prang!


"Hentikan!" Albert melempar gelasnya ke lantai, matanya terbakar amarah; "Jika kalian berdua berani mengatakan yang tidak-tidak lagi, pergi dari sini!"


Tubuh Nyonya Teguh gemetaran, dia tidak berani mengatakan apa pun.


"Tuan Teguh, aku ... "


Nawang ingin menjelaskan situasinya begitu dia tahu kalau Albert sedang salah paham. Namun, saat dia hendak mengatakan sesuatu, dia merasakan tangan Albert menepuk bahunya.


"Nawang, tidak peduli apa pun pangkatmu, kamu adalah anak temanku sekaligus anak laki-laki kesayanganku. Jangan bicarakan soal itu lagi. Ayo kita minum!" ucap Albert. Saat menatap wajah Nawang, matanya memerah dan tangannya tampak sedikit gemetar.


Nawang mengangguk seraya mengepalkan tangannya dan berkata; "Baiklah! Ayo kita minum!"


Setelah beberapa lama mereka minum, Nawang tampak biasa saja, sedangkan Albert terlihat sedikit mabuk.


Albert menatap gelas anggur yang ada di tangannya itu, matanya dipenuhi oleh


ketidakrelaan, tetapi dia tetap berusaha

__ADS_1


membujuk Nawang; "Nawang, dengarkan aku. Balas dendam karena keluargamu yang hancur ... menyerahlah."


"Tahun ini, konsekuensi yang aku terima demi mencari tahu kebenaran dibalik hancurnya keluargamu sangatlah besar. Apakah kamu tahu siapa pembunuh Keluarga Tirta?" tanya Albert seraya menghela nafas tak berdaya.


"Tiga dari empat keluarga berpengaruh yang ada di kota ini, yaitu Keluarga Kencana, Cakrawala, dan Wiryawan. Tentu saja, ada beberapa pihak lain yang juga turut ikut campur dalam masalah ini," jawab Nawang.


Albert tercengang mendengarnya.


"Kamu ... kamu sudah mengetahuinya?"


Nawang mengangguk.


"Lalu kamu ..." Albert tampak bingung.


Dia berpikir, seharusnya Nawang tahu betapa kuat dan mengerikannya ketiga keluarga itu. Namun kenapa dia masih bersikeras untuk kembali?


"Aku kembali untuk balas dendam!" ucap Nawang dengan tegas.


"Balas dendam? Bagaimana caranya kamu balas dendam? Kamu telah bertugas di ketentaraan selama sepuluh tahun, tetapi kamu tidak mendapatkan apa-apa. Apakah kamu pikir kamu bisa membalas dendam hanya karena keluargamu itu hancur?" cibir Intan.


Albert tidak mencegah Intan kali ini karena menurutnya, ucapan Intan itu sangatlah masuk akal.


"Nawang, semua itu tidak sesederhana yang kamu pikirkan ..."


"Percayalah kepadaku, Tuan. Siapa pun yang telah berani menyentuh Keluarga Tirta, cepat atau lambat mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal," ucap Nawang mantap seraya memegang tangan Albert dan menatap matanya.


"Nawang ... " Albert tercengang. Entah kenapa, dia ingin sekali mempercayai ucapan Nawang, tetapi musuhnya kali ini adalah tiga keluarga itu.


Albert menghela nafas dan segera mengubah topik pembicaraan mereka. Dia berpikir bahwa Nawang mungkin mengucapkan kata-kata tersebut hanya karena ingin mempertahankan harga dirinya.


"Kita bisa bicarakan tentang balas dendammu itu nanti. Sekarang, setelah kamu kembali, kamu harus lebih memperhatikan keselamatanmu karena masa depan Keluarga Tirta ada di pundakmu."


"Baiklah," ucap Nawang sembari mengangguk.


"Sekarang, kamu dan Nindi pastinya sudah ... baiklah, aku akan mengecek tanggalnya nanti. Kamu bisa memilih waktu pernikahanmu dengan Intan agar ada orang yang bisa mengambil alih perusahaanku," putus Albert.


Bang!


"Albert, apa kamu sudah gila? Berani sekali kamu menikahkan putrimu serta memberikan perusahaan kita kepada pengecut yang tidak berguna sepertinya?!" teriak Nyonya Teguh


sembari menggebrak meja.

__ADS_1


__ADS_2