
Pria itu bernama Alber Teguh, teman ayah Nawang. Dia selalu baik kepada Nawang.
Keluarga mereka hampir menjadi saudara dalam pernikahan.
Intan Teguh, anak perempuan Albert, merupakan teman kecil Nawang. Mereka juga cukup akrab. Namun, pada akhirnya, Nawang dan Nindi
bertunangan.
Albert dan Nawang tampak sangat bersemangat sehingga mereka mengobrol cukup lama di depan pintu aula itu.
Yang membuat Nawang terharu adalah selama setahun terakhir ini, Albert mengurus rumah lama milik Keluarga Tirta. Albert berdalih bahwa dia melakukan hal tersebut karena ingin
mengungkapkan rasa kangennya kepada teman lamanya yang sudah meninggal.
"Nawang, ayo kita pulang. Selama ini, Intan selalu saja membicarakanmu," ucap Albert sembari meraih pergelangan tangan Nawang, lalu
membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
"Baiklah."
Bayangan wanita cantik tiba-tiba muncul di benak Nawang.
Sudah bertahun-tahun dia tidak bertemu dengan Intan sehingga dia tidak tahu bagaimana keadaan wanita itu sekarang.
Endaru tiba-tiba mendekati mereka dengan mobilnya.
Mata Albert seketika berbinar saat melihat mobil gunung militer yang besar itu. Dia tidak tahu harga mobil itu, tetapi dia selalu merasa bahwa mobil itu terlihat sangat keren.
"Seharusnya aku tidak perlu
mengkhawatirkanmu selama bertahun-tahun ini. Kamu benar-benar telah melakukan yang terbaik."
"Tidak terlalu buruk," ucap Nawang sambil menggaruk kepalanya yang
tidak gatal. Dia lalu masuk ke dalam mobil itu bersama Albert.
Setengah jam kemudian, melalui arahan Albert, mereka tiba di depan sebuah vila.
Keluarga Teguh memiliki sebuah perusahaan dan juga beberapa aset.
Saat mereka sampai di depan pintu masuk vila itu, Nawang meminta Endaru untuk menunggunya di luar.
"Intan, keluarlah! Lihat siapa yang telah kembali!" teriak Albert heboh begitu mereka memasuki vila itu.
"Kenapa Ayah tampak sangat bahagia hari ini?"
Suara itu terdengar sangat indah.
Seorang wanita cantik yang tampak berusia awal dua puluhan keluar dari sebuah ruangan, rambutnya diikat ke
belakang. Ketika dia melihat Nawang, yang saat ini tengah tersenyum di samping Albert, dia tercengang,
"Kamu ..."
__ADS_1
"Sudah lama tidak bertemu, Intan," sapa Nawang sambil tersenyum.
"Nawang..." Tubuh Intan bergetar dan matanya kabur karena air matanya yang menggenang. Dia tampak terhuyung ke depan dan ingin sekali
memeluk Nawang.
Namun, beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah dan dia berteriak
marah; "Nawang! Berani sekali kamu kembali?"
"Intan, aku ... "
"Diam! Jangan pernah sebut namaku!" bentak Intan. Air matanya tampak mengalir di pipinya,
"Aku tidak mendengar kabar darimu selama bertahun-tahun! Semua orang mengira kalau kamu sudah mati!"
"Kamu bahkan tidak kembali saat Keluarga Tirta dalam bahaya, tetapi sekarang kamu kembali setelah Keluarga Tirta dihancurkan!"
"Kamu benar-benar seorang pengecut! Kenapa kamu kembali? Kenapa!"
Nada bicara Intan sarat akan kebencian yang mendalam. Dia melampiaskan seluruh tekanan serta rasa sakit yang dia rasakan selama ini kepada Nawang.
"Maaf ... " ucap Nawang sembari menarik napasnya dalam-dalam.
"Kita tidaklah dekat sehingga kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku. Seharusnya, kamu meminta maaf kepada ayahmu, kakakmu, dan
seluruh anggota keluargamu yang mati secara mengenaskan!"
"Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu kepada Nawang? Diam!" ucap Albert, wajahnya tampak bergetar.
"Tidak apa-apa Tuan, " hibur Nawang dengan suara pelan. Dia tahu bahwa Intan juga merasa sedih.
Albert menarik napasnya dalam-dalam dan memelototi Intan; "Dia pasti punya alasan kenapa dia tidak kembali. Untungnya, dia tidak kembali waktu itu ..."
Albert tidak sanggup menyelesaikan
kata-katanya, tetapi maksud dari perkataannya sudah jelas. Menurutnya, jika saat itu Nawang kembali, Keluarga Tirta bisa dipastikan sudah punah sekarang.
"Apa alasannya? Mungkin karena dia takut mati. Aku tidak kenal dengan pria pengecut sepertinya," cibir Intan.
"Kamu... " ucap Albert. Dia benar-benar terlihat marah dan hendak menampar Intan.
"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar?" ucap seorang wanita dari arah dapur. Wanita itu tampak mengenakan celemek.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya saja, seorang pecundang datang ke rumah kita," sahut Intan dingin.
"Pecundang? Siapa maksudmu?"
tanya Nyonya Teguh, dia tiba-tiba tertegun saat melihat kehadiran Nawang.
Beberapa saat kemudian, Nyonya Teguh akhirnya mengenali Nawang. Ekspresinya seketika berubah; "Nawang!'"
"Halo, Nyonya Teguh," sapa Nawang.
__ADS_1
Mendengar sapaan Nawang itu, Nyonya Teguh seketika tersadar, wajahnya tampak memucat.
Dia kemudian berkacak pinggangnya dan berkata dengan kasar; "Kamu pikir kamu itu siapa? Kedatanganmu tidak diterima di sini. Keluar!"
Albert benar-benar marah saat mendengar ucapan istrinya itu; "Apa-apaan kamu ini? Dia adalah anak temanku!"
"Aku tidak peduli! Keluarga Tirta sudah tiada. Kita akan terlibat jika kita mengizinkannya untuk tinggal di sini," kata Nyonya Teguh dengan jijik.
"Omong kosong! Diam!" teriak Albert kepada Nyonya Teguh dan Intan.
Nyonya Teguh tidak berani mengatakan apa pun saat melihat Albert marah. Dia hanya menatap Nawang dengan tatapan sengit. Kemudian dia berbalik dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Jangan marah, Nawang. Kamu kan tahu dia orangnya seperti apa."
"Ayo masuk. Makan malamnya sudah siap. Ayo kita lanjutkan pembicaraan kita sambil makan," ucap Tuan Teguh hangat.
"Baiklah!" ucap Nawang setelah ragu beberapa saat. Dia menghela napasnya dalam hati dan duduk di ruang makan dengan tenang.
Nyonya Teguh dan Intan terus saja memandang Nawang dengan tatapan merendahkan, tetapi mereka tidak berani mengatakan apa pun karena Albert.
Tak lama kemudian, lebih dari sepuluh hidangan lezat disajikan di atas meja makan.
"Nawang, apakah kamu ingin minum?"
tanya Albert seraya menuangkan segelas anggur untuk Nawang, lalu menyodorkan gelasnya ke arah nawang.
Nawang kemudian mengambil gelas itu dengan kedua tangannya dan meminumnya sampai habis tanpa mengubah ekspresinya.
"Kamu bisa minum rupanya," puji Albert.
Intan memutar bola matanya diam-diam.
Memangnya apa yang patut dibanggakan?
Setelah mereka minum-minum sebentar, Nawang tiba-tiba menatap ke sekelilingnya dan akhirnya mengarahkan pandangannya kepada Albert. Dia lalu berkata, suaranya terdengar berat; "Saat keluargaku dalam kesulitan, aku sedang bertempur di medan perang. Aku tidak mendapatkan beritanya tepat waktu, hal itulah yang menyebabkan kematian kakak dan ayahku. Aku ... aku bersalah!"
Kata-kata terakhir Nawang terasa berat!
Nawang meneguk habis anggurnya setelah mengatakan hal tersebut, matanya tampak sedikit memerah.
Hal yang paling berharga di dalam hidupnya adalah keluarganya. Kematian mereka yang menyedihkan itu merupakan pukulan yang tak terbayangkan baginya.
Dia bisa menekan kesedihannya karena
kemauannya yang sangat kuat. Sekarang, dia menumpahkan seluruh perasaannya itu di depan teman lama ayahnya.
Air mata tanpa sadar mengalir di pipi Albert. Dia menepuk bahu Nawang dan berkata; "Kamu telah berjuang demi negara kita. Tidak ada yang menyalahkanmu. Kamu berada di dalam situasi yang sangat sulit. Anakku, semua ini bukanlah salahmu!"
Mereka berdua tampak sedih.
"Bertarung di medan perang? Kamu berbicara seolah-olah kamu benar-benar berperang di medang perang saja. Kamu hanyalah seorang
pengecut yang bahkan tidak berani menembak!" ucap Intan. Saat ini, dia terlihat melengkungkan bibirnya dan tampak jelas bahwa dia sedang mencemooh Nawang.
__ADS_1