TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU

TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU
Bab 4 Siapa Yang Dapat Menghentikanku?


__ADS_3

Wajahnya terlihat pucat. Dia nampaknya ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia memilih untuk mengurungkan niatnya.


"Jangan panik!" Wajah Jimmy memucat.


Jika pengawal itu panik, Keluarga Wiryawan pasti akan malu.


"Seseorang mengirimkan sebuah hadiah kepada Anda ..."


"Oh, hadiah. Jangan buat keributan seperti ini!" ucap Jimmy sembari mengerutkan keningnya.


Debam!


Saat dia hendak melanjutkan perkataanya, pintu kaca hotel itu tiba-tiba pecah diringi dengan suara debam yang sangat keras.


Sebuah benda hitam tampak melesat masuk ke dalam aula itu lalu menabrak tubuh Jimmy dengan keras.


"Apa itu?"


Jimmy panik.


Para tamu itu kemudian menoleh dan melihat sebuah bayangan hitam besar sedang melayang di udara.


Apa itu ... peti mati?


Seluruh tamu undangan tercengang saat melihat peti mati itu.


Hadiah itu merupakan pembalasan dari Nawang untuk pesta pernikahan Jimmy!


Seikat bunga merah besar yang indah tampak diikat di bagian ujung peti mati itu.


Sebelum orang-orang tersadar dari keterkejutan mereka, sesosok manusia tiba-tiba melompat dari atas peti itu dan mendarat di atas lantai.


Debam!


Meja-meja yang ada di ruangan itu seketika hancur dan peti mati itu jatuh tepat di tengah-tengah aula.


"Ini adalah hadiah dari Keluarga Tirta. Selamat, Tuan Wiryawan!"


"Jimmy, apakah kamu menyukai hadiahku?"


Pria itu adalah Nawang. Suaranya menggema di aula itu layaknya guntur.


Mereka semua terkejut!


Ketika Keluarga Wiryawan menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi, wajah mereka jadi merah padam karena marah.


Nawang membawa peti mati itu tepat di hari berbahagia Jimmy. Hal ini jelas mempermalukan seluruh Keluarga Wiryawan. Setelah kehancuran


Keluarga Tirta, mereka tidak pernah


dipermalukan seperti ini.


"Berengsek, berani-beraninya kamu membuat masalah di sini? Kamu sedang cari mati ya!"


Sekelompok pengawal dengan cepat mendekati Nawang dan bersiap untuk menyerangnya.


Namun, Jimmy melambaikan tangannya untuk menghentikan mereka.


Jimmy sebenarnya juga sangat marah, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. Dia menatap Nawang dengan dingin, membungkukkan badannya, dan berkata; "Tuan, jika Anda ke sini


untuk merayakan pernikahanku, kami akan menyambut Anda dengan hangat. Namun, jika Anda ke sini hanya untuk membuat masalah .. kami tidak akan segan-segan! Aku berharap Anda

__ADS_1


telah memikirkan konsekuensinya jika Anda menyinggung Keluarga Wiryawan!"


Kata-kata Jimmy tidak terdengar angkuh ataupun merendahkan sehingga para tamu merasa kagum.


"Aku ke sini bukan untuk mencari masalah, tetapi ... untuk membunuh seseorang!"


Setelah mengatakan hal tersebut, tatapan mata Nawang berubah dingin dan niat membunuh berkobar dalam dirinya.


Para tamu tiba-tiba terdiam.


Berani sekali dia mengatakan bahwa dia ingin membunuh seseorang di pesta pernikahan Keluarga Wiryawan dan Juanda? Apa dia sudah gila?


Jimmy mengerutkan keningnya.


Nawang terlihat sangat kuat sekaligus


menakutkan. Mereka yang berani menantang dua keluarga berpengaruh di Kota Habuan bisa jadi sudah gila atau ada seseorang yang mendukung


di belakang mereka.


"Apakah ada perseteruan di antara Keluarga Wiryawan dan dirimu?" tanya Jimmy dengan ragu-ragu.


"Perseteruan?" Nawang berdiri, dia meletakkan tangan ke belakang punggung, dan melemparkan pandangan ke arah para tamu.


"Apakah perseteruan yang kamu maksud itu cukup untuk membunuh serta menghina seluruh keluargaku?"


Debam!


Suasana di aula menjadi sangat mencekam.


Jimmy mundur selangkah dan menyipitkan matanya; "Siapa, siapa kamu sebenarnya?"


Nawang Tirta dari Keluarga Tirta memang bergabung dengan tentara sepuluh tahun yang lalu, tetapi berita mengenainya tidak terdengar


sama sekali! Banyak yang mengira bahwa Nawang telah mati.


Lagi pula, ada begitu banyak peperangan yang terjadi di perbatasan. Pasti sangat sulit untuk keluar dari sana hidup-hidup.


Kemungkinan lainnya adalah Nawang hanya seorang pecundang sehingga dia tidak berani pulang selama sepuluh tahun ini.


Namun, arena Nawang saat ini masih hidup, apa statusnya sekarang?


Kapten? Petugas lapangan?


Tatapan mata semua orang berubah.


Jimmy tampak mengepalkan tinjunya.


Dia tentu saja tahu kalau Nawang masih hidup, tetapi dia tidak pernah menyangka kalau Nawang akan datang ke pesta pernikahannya dengan cara


yang kasar. Ini juga berarti bawahannya telah gagal menjalankan tugasnya.


Apa yang bisa dilakukan oleh seorang prajurit?


"Aku tidak menyangka kalau kamu masih hidup. Namun, kenapa kamu membuat keributan di pesta pernikahanku seperti ini?"


"Lebih dari setengah tahun yang lalu, rumah Keluarga Tirta terbakar selama tiga hari tiga malam. Menurutmu, apa alasanku datang ke sini hari ini?" kata Nawang sambil tersenyum tipis.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kamu bicarakan." Mata Jimmy


tampak nanar.

__ADS_1


"Aku tidak peduli apakah kamu mau


mengakuinya atau tidak. Namun, kebenaran tidak berubah dan hal itu juga tidak dapat mengubah takdir kematianmu yang mengerikan!"


Nawang menyentuh peti mati yang ada di bawah


kakinya itu sambil menggelengkan kepala dan berkata dengan acuh tak acuh; "Tujuanku datang


ke sini adalah untuk membalaskan dendam Keluarga Tirta. Peti mati ini sengaja kusiapkan untukmu."


"Apakah kamu datang untuk membunuhku?"


Jimmy mencibir. "Cuma kamu?"


"Hah, Nawang, kenapa kamu bodoh sekali? Keluarga Tirta sudah musnah di dunia ini. Bagaimana caranya kamu melawanku?"


Jimmy melambaikan tangannya.


"Berani sekali kamu membuat keributan di pernikahanku! Kamu benar-benar telah melakukan kesalahan besar!"


"Penjaga, bunuh pria sombong ini!"


Puluhan pengawal Jimmy dengan seringai mengerikan bergegas mendekati Nawang.


Mereka yang melihat semua ini tanpa sadar menggelengkan kepala mereka dan merasa iba pada Nawang.


Mereka merasa bahwa Nawang adalah pria yang berani, tetapi ceroboh. Sekalipun dia terkenal di luar sana, dia tidak bisa membalaskan dendamnya begitu saja. Dia benar-benar cari


mati!


Nawang hanya berdiri tak bergerak di atas peti mati itu sembari mengabaikan para pengawal yang bergegas ke arahnya.


Salah satu pengawal yang marah saat melihat Nawang yang tampak meremehkan mereka, kemudian meraih pergelangan kaki Nawang.


Namun, satu sosok tiba-tiba muncul entah dari mana. Dia menendang pengawal itu dan pengawal itu seketika terpental layaknya bola meriam.


Buk!


Tubuh pengawal itu menghantam lantai dengan keras dan pingsan sebelum dia bisa berteriak.


"Orang yang menyinggung Tuan Tirta harus mati!" seru Endaru dingin.


Dia kini berdiri di depan Nawang.


Saat para pengawal melihat keadaan rekannya yang menyedihkan itu, mata mereka terbelalak dan ingin sekali mundur.


"Tidak peduli seberapa kuatnya dia, dia hanya sendirian. Apa yang kalian takutkan? Ayo!"


Setelah mendapatkan aba-aba dari Jimmy, para pengawal yang tersisa itu mengumpulkan keberanian mereka dan merangsek maju ke arah Endaru.


Endaru mengepalkan tinjunya seraya


menyeringai. Dia benar-benar bersemangat karena dia adalah seorang yang mencintai pertempuran.


"Selesaikan dengan cepat!" titah Nawang dengan tenang.


Endaru menganggukkan kepalanya, lalu melesat ke arah kerumunan itu layaknya seekor harimau yang sedang mengejar mangsanya.


Jeritan serta dentuman tinju yang teredam terdengar bergantian. Pertempurannya pun berakhir dalam waktu kurang dari sepuluh detik.


Raut wajah Endaru yang saat ini berdiri di antara para tamu tampak sedikit kecewa.

__ADS_1


__ADS_2