
Setelah itu, Nawang pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sedikit pun.
"Dimakamkan bersamaku? Apa maksudmu?" tanya Marta dengan suara gemetar dan mata terbelalak.
"Raja Perang bilang kalau kamu akan mati!" ulang Endaru dengan dingin.
Marta benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan mengutuk; "Yang benar saja? Kamu baru saja jadi tentara. Memangnya kamu pikir kamu siapa?"
Pria kuat yang berdiri di sebelah Marta terlihat panik saat melihat Nawang hendak pergi.
Jika Nawang pergi, Keluarga Wiryawan pasti tidak akan mengampuninya.
"Berhenti!"
Dor!
Suara tembakan tiba-tiba terdengar saat pria itu menyelesaikan perkataannya.
Pria kuat itu tampak berdiri mematung di tempatnya, di antara kedua alisnya ada sebuah lubang yang mengeluarkan darah. Dia hanya bisa melihat kepergian Nawang dengan tatapan kosong.
"Oh! Pembunuhan! Pembunuhan!"
Saat Marta melihat pria kuat itu terbaring di atas tanah dan Endaru tengah memainkan dengan pistol, Marta tampak ketakutan.
"Jangan berteriak. Sekarang giliranmu!" seru Endaru seraya tersenyum sinis.
"Tidak ... tidak!"
Beberapa menit kemudian, Endaru kembali ke mobil militer yang terparkir di luar pabrik.
Nawang yang tengah duduk di kursi belakang tampak menggendong Santika. Tatapan matanya tampak sangat lembut.
Setelah terdiam sejenak, Endaru berkata dengan suara yang pelan, "Komandan Tirta, semuanya telah diurus."
"Baiklah, bagaimana dengan penyelidikan tiga keluarga itu?"
"Aku sudah mengetahui semuanya.
Tunanganmu, Nindi dan putra Keluarga Kencana, Randy Kencana, merupakan orang yang bertanggung jawab atas hancurnya Keluarga Tirta. Mereka juga bekerja sama dengan Keluarga Wiryawan. Rumah Keluarga Tirta terbakar selama tiga hari tiga malam."
Nindi, Randy, dan Jimmy Bagi Nawang, mereka semua sudah mati.
"Komandan Tirta, pihak yang bertanggung jawab atas terbakarnya rumah Keluarga Tirta adalah Keluarga Wiryawan dan orang yang sengaja
menggunakan Nona Tirta untuk memancingmu keluar adalah Nindi. Wanita itu berbohong dan mengatakan bahwa yang memancingmu adalah
Jimmy!"
Nawang benar-benar marah saat mendengarnya.
Niat membunuh yang sangat kuat seketika memancar keluar dari tubuhnya.
"Di mana Jimmy sekarang?"
__ADS_1
"Hari ini adalah hari pernikahan Jimmy dan Kartini Juanda. Mereka saat ini sedang berada di Hotel Imperial!" jawab Endaru.
"Pernikahan? Baiklah, haruskah aku
membawakan mereka sebuah hadiah yang luar biasa?"
Nawang menatap keluar jendela seraya tersenyum dingin.
Hotel Imperial merupakan hotel terbaik yang ada di Kota Habuan.
Tamu hotel tersebut kebanyakan orang-orang kaya atau orang-orang yang berkuasa.
Hari ini, pintu masuk hotel itu terlihat sangat ramai dari biasanya.
Ada sebuah pesta pernikahan yang sangat besar di sini.
Seluruh masyarakat tahu tentang empat keluarga berpengaruh yang ada di Kota Habuan dan mereka sangatlah kuat.
Setelah Keluarga Tirta dimusnahkan, Keluarga Cakrawala, Kencana, Wiryawan, dan Juanda menjadi keluarga yang mengusai Kota Habuan. Para pejabat dan militer bahkan harus tunduk kepada mereka.
Keluarga Juanda merupakan keluarga yang memimpin dunia kriminal, sedangkan Keluarga Wiryawan merupakan keluarga yang berkecimpung dalam dunia bisnis. Jika kedua keluarga tersebut bersatu, kekuasaan mereka akan meningkat dengan pesat.
Tidak akan ada satu pun orang yang berani melawan kedua keluarga itu. Keluarga Kencana dan Cakrawala yang notabenenya adalah keluarga paling berkuasa saja mengirim perwakilan
mereka untuk menghadiri pesta pernikahan tersebut.
Pestanya masih belum dimulai, tetapi para tamu sudah memadati hotel tersebut. Ratusan kursi yang disediakan juga telah terisi penuh.
Pasangan yang menikah hari ini, Jimmy
Jimmy, yang mengenakan setelan jas mahal, sesekali menyapa para tamu yang datang dengan ramah. Dia terlihat seperti pria yang sangat menyenangkan, tetapi tatapan matanya sarat dengan penghinaan.
Di sisi lain, Kartini, yang berdiri di samping Jimmy, tampak mengenakan sebuah gaun pengantin yang cantik. Tubuh rampingnya, kulitnya yang halus, serta sepasang mata sipitnya itu sangat menggoda pria-pria yang hadir di sana.
Bagi orang lain, Jimmy dan Kartini tampak sangat serasi.
"Tuan Wiryawan, sudah saatnya untuk bersulang. Keluarga Kencana dan Keluarga Cakrawala nanti juga akan datang," ucap seorang pelayan
Keluarga Wiryawan.
"Baiklah," ucap Jimmy singkat sembari menganggukkan
kepalanya.
Dia lalu mengajak Kartini untuk
bersulang.
Setelah itu, mereka membalas pujian-pujian para tamu itu dengan sopan.
Beberapa tamu tanpa sadar menghela napas mereka saat melihat pasangan yang sangat sempurna itu, baik dalam cara berbicara maupun berperilaku.
"Yah, mereka adalah orang-orang
__ADS_1
muda yang sangat berbakat, benar-benar layak untuk mendapatkan posisi teratas di dalam empat keluarga berpengaruh."
"Tidak banyak pemuda seperti mereka di Kota Habuan ini."
Semua tamu itu terdengar memuji pasangan itu.
Pembicaraan mereka menjadi semakin riuh saat seorang pengusaha kaya yang tampak mabuk berkata; "Benar. Generasi muda merupakan penerus dari sebuah keluarga. Keluarga Tirta dahulu merupakan keluarga terkuat, tetapi
keluarga itu berhasil dihancurkan oleh Tuan Wiryawan ..."
Wuss!
Orang-orang di sekitar pria itu menatap ke arahnya dengan tatapan terkejut.
Wajah pria itu tiba-tiba memucat saat dia menyadari bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Dia mengangkat kepalanya secara refleks dan melemparkan pandangannya ke arah Jimmy yang berdiri tidak jauh darinya.
Senyuman lembut masih terpampang di wajah Jimmy, tetapi tatapan matanya terlihat dingin.
"Kamu serius?" Beberapa orang tampaknya tertarik dengan perkataan pria itu.
"Tidak, tidak ... aku hanya bercanda. Semuanya tidak benar. Ya, tidak benar ..."
Tubuh pengusaha itu tampak menggigil
ketakutan dan dia terus-menerus menggelengkan kepalanya. Kemudian dia berbalik dan berjalan di antara kerumunan tamu-tamu itu menuju pintu
keluar hotel.
Begitu Jimmy melihat pengusaha itu berjalan semakin menjauh, dia memberi isyarat kepada pengawal yang berdiri di belakangnya.
Dia kemudian menyapa para tamu itu kembali dengan senyuman.
Bagi Jimmy, pria tadi hanyalah orang yang tidak berguna. Jimmy bisa membunuhnya dengan sangat mudah.
Waktu sudah hampir sore dan pesta pernikahan.akan segera dimulai.
Sampai saat ini, baik Keluarga Kencana maupun Keluarga Cakrawala masih belum juga datang, bahkan para tetua dari Keluarga Wiryawan dan Keluarga Juanda pun masih belum menampakkan diri mereka.
Orang-orang tidak terkejut dengan situasi ini. Pesta itu digelar untuk orang-orang luar. Jadi, ini hanyalah sekedar formalitas. Empat keluarga
berpengaruh itu hanya akan meminta anak-anak muda dari keluarga mereka untuk datang.
"Hadirin sekalian, mohon perhatiannya."
Jimmy berjalan ke tengah-tengah panggung. Aula.itu seketika berubah sunyi.
"Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima.kasih yang tulus kepada kalian atas kedatangan kalian ke pesta pernikahanku dengan Kartini."
Ucapan Jimmy itu pun disambut dengan suara tepuk tangan yang meriah.
Jimmy tampak sangat puas. Dia kemudian memberikan isyarat kepada penonton dan suasana di aula itu kembali hening.
Namun, saat dia hendak melanjutkan ucapannya, seorang pengawal tiba-tiba mendekatinya.
__ADS_1
"Tuan Wiryawan, ada ... sebuah masalah," ucap pengawal terlatih itu dengan tergagap.