
"Maafkan Pamanku, Nara. Dia tidak bermaksud melakukan itu," pinta Santika seraya mengedipkan matanya yang besar.
Melihat hal itu, hati Nara melunak.
"Lupakan saja. Aku memaafkanmu demi Santika."
Dari apa yang Santika katakan, Nara tahu apa yang barusan terjadi padanya. Nara mencintai gadis malang ini dari lubuk hatinya.
Dia juga mengerti kenapa Nawang begitu sensitif.
"Santika, karena pamanmu sudah kembali, aku akan pulang dulu," kata Nara sambil mengusap kepala Santika.
"Nara, jangan pergi," balas Santika yang enggan berpisah dengan Nara.
Nawang tidak bisa berkata-kata dan merasa geli saat melihat ini.
Santika ingin tinggal bersama wanita yang baru saja dikenalnya itu, bukan pamannya. Benarkah dia keponakan Nawang?
Namun, meski bercanda, hal itu juga membuat Nawang menyadari adanya masalah.
Yang Santika butuhkan bukanlah kehidupan mewah, tapi perhatian dan teman.
Dengan kepribadian Nawang yang dingin, dia tidak bisa bersikap peduli layaknya seorang wanita. Dia juga tidak bisa memiliki bahan pembicaraan dengan Santika. Satu-satunya hal
yang bisa dia lakukan adalah melindungi Santika secara diam-diam, yang mana hal tersebut tidaklah cukup.
Mendengar ini, Nara tertawa dan berkata; "Dasar bodoh. Aku perlu makan malam meskipun kamu tidak. Aku sudah lapar sepanjang hari."
Setelah mengatakan itu, Nara menatap Nawang; "Tuan Tirta, maukah kamu mengantarku pulang?"
"Baiklah."
Nawang mengangguk lalu membukakan pintu.
Nara merasa malu.
Alih-alih seorang pria yang peka, Nawang memang bukan pria yang sopan.
Nara mulai melangkah dan mengikuti Nawang keluar.
Keduanya tiba gerbang villa secara
beriring-iringan. Lalu Nara berhenti.
"Oke, sampai jumpa," kata Nawang dengan acuh tak acuh.
Nara sangat marah dengan sikap Nawang yang hampir membuatnya kehilangan napas.
Apakah Nara begitu buruk?
Di antara pria yang mengejar Nara, selalu ada pemuda berbakat, keturunan pejabat, dan orang kaya. Setiap pria menyanjung dan mencoba menarik perhatiannya dengan cara yang berbeda.
Namun, Nawang tidak mau repot-repot
menunjukkan keramahan pada wajah kakunya itu.
Seolah Nawang tidak bisa melihat Nara sama sekali. Tidak! Sepertinya Nawang sama sekali tidak memperlakukan Nara sebagai seorang wanita!
__ADS_1
Nawang terlihat sangat berbeda saat meminta Menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, Nara menunjuk Villa No. 1 dan bertanya;
"Apakah kamu tahu situasi Villa No. 1 yang kamu tinggali?"
"Aku tidak tahu." Nawang menggeleng.
"Aku tahu kamu tidak tahu, jadi kamu berani tinggal di sana. Villa No. 1 ini milik pemerintah. Bahkan Keluarga Kencana, salah satu dari empat keluarga besar, telah berjuang selama
bertahun-tahun tetapi gagal mendapatkannya," kata Nara terburu-buru.
"Aku tidak tahu, tapi ... aku tidak mau tahu."
Nawang kembali menggelengkan kepala. Dia mengatakan yang sebenarnya. Dengan kekuasaannya, selama dia memberi perintah, tak
hanya Kota Habuan, kekuatan militer, politik, dan bahkan urusan komersial seluruh provinsi pun dapat dikendalikan.
Namun, kata-kata Nawang membuat Nara merasa tidak nyaman. Dia merasa Nawang bukan hanya pria yang tidak sopan, tetapi juga suka menyombongkan diri.
"Mari kita langsung pada intinya. Aku tidak tahu apakah kamu diizinkan oleh pemerintah atau tidak, tetapi kamu telah menyinggung Keluarga Kencana dengan tinggal di villa ini. Aku harap
kamu memikirkan hal ini."
Meski Nara sedikit marah, dia mengingatkan Nawang dengan ramah.
"Menyinggung keluarga Kencana? Baguslah!"
Nawang tertegun. Sesama musuh segera bertemu. Dia lalu tersenyum tipis.
"Bagus! Apa kamu tahu siapa keluarga Kencana?" tanya Nara dengan kesal.
"Ini sudah larut. Aku harus memasak untuk Santika. Terima kasih sudah merawatnya. Kamu bisa datang padaku jika kamu membutuhkan Sesuatu,"
Ada apa dengan orang ini?
Nara kebingungan.
Apakah Nara begitu tidak menarik?
Ada banyak pria yang menangis dan memohon untuk mengantarnya pulang, tapi Nawang tidak mau tinggal bersamanya lebih lama.
Semua orang berusaha mendapatkan nomor telepon Nara, tetapi pria ini bahkan tidak menyinggung soal nomor telepon.
Untuk sesaat, Nara memiliki rasa ingin tahu yang kuat tentang pria misterius dan aneh ini.
Setelah melirik Villa No. 1, dia menggumamkan kata "bodoh" lalu memasuki gerbang villanya.
Dari awal sampai akhir, Nara tidak menyadari bahwa dia telah mendapatkan sesuatu yang sangat penting.
Meskipun Nawang hanya berkata "Kamu bisa datang padaku jika kamu membutuhkan sesuatu," itu adalah janji dari Raja Perang Tertinggi!
Setelah kembali ke villa, Nawang segera masuk ke dapur untuk memasak.
Sebagai seorang prajurit, dia harus
mengandalkan dirinya sendiri dalam segala situasi, jadi masakannya tidaklah buruk.
Meskipun dengan kekayaannya dia bisa
__ADS_1
mempekerjakan banyak orang untuk merawat Santika, Nawang ingin memberikan lebih banyak kasih sayang pada Santika.
Untuk sementara, Nawang akan menitipkan Santika pada Endaru.
Namun, dalam hal membujuk anak-anak, Endaru tidak jauh lebih baik. Dia hanya bisa meminta Santika untuk menggambar di lengannya di ruang tamu.
Sebagai pemimpin Resimen Serigala Darah saat ini, Endaru tidak pernah menyangka bahwa dia akan mengalami hari seperti itu.
Selang beberapa saat, Nawang membawa makanan yang masih panas dan beraroma harum ke meja.
"Santika, berhentilah bermain. Ayo kita makan malam."
Sudah lama Santika tidak melihat begitu banyak hidangan lezat. Dalam waktu singkat, Santika melahap makanan tersebut.
"Paman, masakanmu sangat enak."
"Jika kamu suka, makan saja lebih banyak. Aku akan memasak untukmu setiap hari," ucap Nawang sembari dengan lembut menyeka mulut
Santika.
"Omong-omong, Paman, mari kita minta
Nara untuk datang dan makan malam bersama. Dia tidak bisa memasak dan memesan makanan setiap hari. Kasihan dia!"
Gadis kecil ini terlalu baik. Dia bahkan bersimpati pada orang lain setelah segala penderitaan yang dia alami.
Nawang menggeleng dan berkata; "Lupakan saja. Ayo malkan."
"Paman, bukankah seharusnya kamu
mengundang Nara makan malam dan meminta maaf padanya?" pinta Santika sambil mengedipkan matanya yang besar.
Nawang tidak punya pilihan selain setuju. Dia sangat menyayangi Santika.
Ketika Nara, yang tinggal di sebelah, sedang berpikir apa yang hendak dia makan, Nawang mendatanginya.
Nara tertegun lebih dari sepuluh detik sebelum menyadari bahwa si bodoh Nawang ini ingin mengundangnya makan malam.
Setelah memastikan bahwa dia tidak salah dengar, Nara kembali ke Villa No. 1 bersama Nawang. Dia merasa gembira, tetapi berpura-pura biasa-biasa saja.
Ketika kedua gadis cantik itu bertemu, villa itu langsung dipenuhi tawa.
Nawang dan Endaru, memegang piring mereka dengan canggung.
Setelah makan malam, Nara menyentuh
perutnya dan bersendawa dengan perasaan malu.
"Kemampuan masakanmu lumayan juga.
Bagaimana kamu membuatnya?"
Nawang tidak menjawab.
"Nara, bagaimana kalau kamu datang untuk makan malam setiap hari, agar aku bisa melihatmu setiap hari?" kata Santika.
"Emm ..."
__ADS_1
Nara tergoda. Mungkin karena makanannya.sangat lezat, atau mungkin karena tidak bisa menahan keinginannya untuk mencari tahu soal Nawang.