
Keluarga Juanda merupakan salah satu dari empat keluarga berpengaruh di Kota Habuan, tetapi mereka tidak sekuat Keluarga Kencana.
Sejujurnya, Keluarga Kencana merupakan keluarga yang terkuat di empat keluarga itu.
Bahkan jika Keluarga Juanda dan Keluarga Wiryawan disatukan pun, mereka tidak akan bisa menyaingi Keluarga Kencana.
Namun, saat Cakra memikirkan pria mengerikan yang berdiri di depannya itu, kekhawatiran yang semula ada di hatinya seketika menghilang.
Jika Nawang menggunakan seluruh kekuatannya, Keluarga Kencana pasti tidak akan ada apa-apanya!
Cakra berpikir sejenak. Dia berkata seraya mengertakkan giginya, "Tuan, aku sebenarnya punya informasi mengenai Keluarga Kencana! Kemarin, Keluarga Evano mendapat perintah dari Keluarga Kencana untuk melelang Taman Negeri Dongeng besok. Mereka ingin menguji Tuan seraya menunjukkan kekejaman serta kekuasaan mereka kepada Tuan. Bagaimana menurut Tuan ..."
Berita itu sebenarnya merupakan konspirasi di antara empat keluarga berpengaruh itu. Namun, Keluarga Juanda saat ini berada di pihak Nawang. Jadi, mereka harus memberi tahu hal ini kepada Nawang.
Nawang mengerutkan keningnya saat mendengar Taman Negeri Dongeng disebut dan tatapan matanya seketika berubah dingin.
Taman Negeri Dongeng merupakan salah satu aset milik Keluarga Tirta. Leo menghabiskan seluruh hidupnya untuk membangun tempat itu.
Setelah Nawang merusak pesta pernikahan Jimmy pada hari itu, Keluarga Kencana sengaja ingin memprovokasi Nawang dengan memerintahkan Keluarga Evano untuk melelang Taman Negeri Dongeng.
Keluarga Kencana berpikir, angkuh sekali dirimu itu?
Memangnya apa yang akan kamu lakukan jika aku melelang aset kakakmu di depan matamu?
Pasti akan ada banyak keluarga-keluarga kelas atas yang ikut berpartisipasi di pelelangan itu. Jika mereka bekerja sama, Keluarga Juanda pun harus berhati-hati terhadap mereka.
Randy dan Nindi pasti akan menyewa seseorang untuk membunuh Nawang!
Selain itu, ada alasan lain kenapa Nawang marah.
Keluarga Evano!
Keluarga Evano ternyata juga terlibat dalam pembantaian Keluarga Tirta!
Putra sulung Keluarga Evano, Basuki, merupakan sahabat Leo, kakak Nawang.
Leo pasti tidak akan pernah menyangka kalau sahabatnya itu akan mengkhianatinya. Hanya demi mendapatkan kesuksesan di Kota Habuan, Basuki mau bekerja sama dengan Keluarga Kencana dan membunuh Leo.
Mata Nawang dipenuhi oleh niat membunuh yang sangat kuat dan suaranya terdengar sangat dingin; "Seluruh Keluarga Evano harus mati."
Tubuh Cakra gemetar saat merasakan niat membunuh yang mengerikan itu. Dia lalu mengangguk ketakutan dan segera berkata; "Aku akan meminta seseorang untuk menghancurkan pelelangan Keluarga Evano besok."
"Tidak perlu, karena Keluarga Kencana sudah menyiapkan jebakan untukku, bagaimana aku bisa menolaknya?" kata Nawang sambil tersenyum dingin.
Cakra sendiri agak takut jika harus berurusan dengan keluarga-keluarga yang kuat seperti mereka.
Namun, demi mendapatkan perlindungan dari Nawang, dia harus memaksakan dirinya untuk berkata; "Besok, aku akan mengumpulkan seluruh pasukan Keluarga Juanda untuk membantu Tuan!"
"Tidak perlu. Keluarga Evano hanyalah keluarga kecil. Targetmu adalah keluarga yang ada di belakang mereka, yaitu Keluarga Kencana dan Keluarga Cakrawala. Saat aku membutuhkan bantuanmu, aku pasti akan menghubungimu."
Setelah itu, Nawang bersama Endaru pergi meninggalkan tempat itu dengan mobil militer mereka.
Mobil itu melaju dengan cepat di bawah tatapan kagum Keluarga Juanda.
Di saat yang bersamaan, Intan dan kedua orang tuanya, yang baru saja sampai di rumah, tampak bertengkar.
Raut wajah Nyonya Teguh terlihat tidak senang, dia menunjuk kening Intan dan berkata; "Kenapa kamu tidak bilang kepada Nawang kalau kamu akan bertunangan? Menurutku, Nawang jauh lebih baik daripada Tuan Henry."
Nyonya Teguh benar-benar marah. Tampak sekali dia sangat mendukung Nawang, berbeda sekali dengan sikapnya beberapa hari yang lalu.
Dia memang tidak tahu siapa Raja Perang itu, tetapi dia merasa bahwa pria itu pasti sangatlah kuat.
Intan tersenyum pahit setelah mendengar ucapan ibunya itu dan berkata; "Memangnya kenapa kalau aku memberitahunya?"
"Kalian berdua sangat akrab sejak kalian masih kecil. Kamu tidak pernah berhenti mencintainya. Jika kamu mengatakannya, Nawang pasti akan bersedia menikahimu," ujar Nyonya Teguh bersemangat.
Apakah dia benar-benar mau menikah denganku? ucap Intan dalam hati.
Dia menggelengkan kepalanya, berharap pikiran-pikiran itu menghilang.
Sekalipun Nawang mau menikahinya, dia merasa tidak pantas untuk Nawang.
Apa lagi, dia merasa bahwa Nawang sudah lelah berada di bawah tekanan empat keluarga berpengaruh itu. Dia tidak ingin menambah beban pikiran Nawang.
__ADS_1
Aku benar-benar merindukannya.
Mungkin, inilah takdirku.
Intan menundukkan kepalanya, air matanya berlinang.
Dahulu, saat Keluarga Tirta dimusnahkan, Keluarga Teguh menerima banyak tekanan dari pihak-pihak lain dan kehidupan mereka pun semakin memburuk.
Bahkan keselamatan mereka pun terancam.
Pada saat itulah, Danny Henry mendatangi mereka.
Danny mengatakan bahwa selama Intan mau menikah dengannya, dia pasti akan melindungi Keluarga Teguh.
Nyonya Teguh sangat gembira mendengarnya dan langsung membujuk Intan.
Namun, Albert tidak setuju.
Albert tidak menyangka kalau ternyata Intan diam-diam menyetujui penawaran Danny agar kedua orang tuanya bisa selamat.
Sekarang, masih tersisa beberapa hari lagi sebelum hari pertunangan mereka.
Saat itu, Albert bersikeras meminta Intan untuk menikah dengan Nawang. Alasan pertamanya adalah karena dia ingin melindungi Nawang. Kemudian
alasan lainnya, dia ingin menggunakan kesempatan itu untuk membuat Intan mencampakkan Danny dan pergi dari kota ini dengan Nawang.
Nyonya Teguh menjadi sangat cemas saat melihat Intan yang terdiam. Dia lalu berteriak kepada Albert; "Danny adalah bajingan. Memangnya kamu tidak
tahu? Apakah kamu akan diam saja saat melihat putri kita jatuh ke dalam bahaya seperti ini?"
"Bukankah kamu yang memaksa Intan untuk menikah dengannya?" cibir Albert, dia tampak kecewa kepada istrinya.
Nyonya Teguh malu mendengarnya, dia lalu berteriak; "Aku tidak peduli. Pokoknya putriku harus menikah dengan Nawang!"
Albert menghela nafasnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun seolah-olah usianya bertambah tua.
Dia sebenarnya juga ingin putrinya menikah dengan Nawang. Namun .. setidaknya bukan sekarang.
Alasan kenapa dia meminta Nawang menikahi Intan adalah karena dia ingin keduanya pergi dari kota ini.
Menurut Albert, meskipun identitas Nawang sangatlah misterius dan juga kuat, empat keluarga berpengaruh itu tidaklah lemah. Sangat berbahaya jika dia melawan empat keluarga itu sendirian.
Albert tidak bisa membiarkan Nawang menghadapi satu musuh lagi.
Bagaimanapun juga, Intan adalah putrinya sendiri.
Albert mendongak, lalu menatap Intan. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu.
Intan segera mengangkat kepalanya saat dia merasakan keraguan Albert. Senyuman terpaksa mengembang di wajah Intan, matanya tampak merah
dan juga bengkak.
"Ayah, aku mengerti. Aku akan menikahi Danny ..."
Albert menghela napas saat mendengar ucapan putrinya itu. Intan benar-benar sudah dewasa dan bijaksana. Pada saat yang sama, Albert juga telah
mengambil keputusan.
Dia akan mencoba yang terbaik untuk membawa putrinya keluar dari kota ini!
Malam harinya, Nawang dan Endaru kembali ke Villa No. 1.
Setelah kejadian hari ini, Keluarga Juanda benar-benar berada di pihak Nawang.
Tentu saja, ini karena Keluarga Juanda adalah satu-satunya di antara empat keluarga besar yang tidak berpartisipasi dalam pemusnahan Keluarga Tirta. Jika tidak, nasib mereka akan jauh lebih buruk.
Sama seperti Keluarga Wiryawan, yang sedang menunggu ajal menjemput mereka.
Tujuan Nawang yang sebenarnya adalah membuat mereka hidup sengsara setiap hari.
Selain Keluarga Wiryawan, hanya tersisa keluarga Kencana dan keluarga Cakrawala. Kedua keluarga itu punya peran yang penting.
Keluarga Kencana adalah peran utama dalam tragedi pemusnahan, dan Randy bahkan memiliki hubungan dengan dengan tunangan Nawang.
__ADS_1
Keluarga Cakrawala juga tidak akan luput. Orang yang tidak tahu diuntung dan kejam seperti Nindi harus dihukum.
Jika tidak ada neraka di dunia ini, maka Nawang akan menciptakan neraka untuk musuh-musuhnya!
Nawang menarik napas dalam-dalam. Dia menghilangkan raut mukanya yang suram dan membuka pintu Villa No. 1.
Begitu dia memasuki ruang tamu, dia melihat Nara duduk sendirian dengan linglung.
Selang beberapa waktu berlalu, Nara benar-benar menganggap tempat ini sebagai setengah dari rumahnya.
Namun, selama Santika bahagia, Nawang tidak akan menolak Nara.
"Kamu sudah kembali."
Melihat Nawang, Nara senang. Sebelum Nawang duduk, dia berkata dengan kaget; "Apakah kamu sudah mendengar bahwa pemakaman Keluarga Wiryawan telah dibatalkan?"
"Benarkah?" jawab Nawang sembari mengangkat bahu kemudian duduk dengan santai.
Nara tidak puas dengan jawaban Nawang.
Dia diberitahu bahwa pemakaman Keluarga Wiryawan dibatalkan di saat dia sedang menyiapkan hadiah hari ini. Ketika Nara tahu alasan pembatalan
pemakaman itu, dia terkejut untuk waktu yang cukup lama.
"Katanya seseorang berbuat onar di pemakaman Keluarga Wiryawan. Katanya orang yang membunuh
Jimmylah yang melakukan hal ini!" seru Nara.
Nawang mengangguk dengan tenang.
Nara marah dengan respon acuh Nawang. Nara hanya bisa menghela napas.
"Jimmy bukan orang baik. Dia pantas menerima apa yang dideritanya hari ini!"
"Namun orang yang berani membunuh Jimmy dan membuat onar di pemakaman benar-benar mengagumkan. Siapakah dia?"
Saat berbicara, Nara mengerutkan kening dan berpikir dengan ekspresi yang menarik.
"Apakah Jimmy pernah menyinggung perasaanmu?" tanya Nawang.
"Baiklah, mari kita berhenti membicarakannya. Apakah ada yang bisa dimakan di rumah? Aku sangat
lapar!" pungkas Nara sembari mengusap perutnya.
"Di mana Santika?" tanya Nawang.
"Dia sedang tidur. Ada apa? Jika Santika lapar, dia bisa makan. Kenapa aku tidak bisa?" jawab Nara yang cemberut dan terlihat sangat manis. Wajahnya
yang menawan terlihat kesal.
Nawang menggeleng tak berdaya dan berjalan menuju dapur.
"Aku akan memasak untukmu. Kamu bangunkan Santika nanti."
"Haha, begitu seharusnya," pungkas Nara seraya tersenyum.
Mungkin karena perempuan cantik itu terlahir untuk menjadi populer, hubungan antara Nara dan Santika semakin memanas akhir-akhir ini.
Nawang benar-benar diabaikan.
Hanya saja, di saat yang sama, Nawang dengan senang hati meninggalkan Santika pada Nara.
Di pagi hari berikutnya, Nawang pergi berjalan-jalan di sekitar distrik vila.
Ketika dia sedang berjalan ke sebuah paviliun kecil, langkah kakinya melambat.
Di dalam paviliun itu ada seorang lelaki tua yang terlihat ramah, sedang berlatih Tai Chi dan lelaki tua itu sepertinya telah berlatih setidaknya selama beberapa dekade.
Seorang gadis cantik dengan tubuh yang cantik dan memiliki kulit yang putih, sedang duduk di samping meja batu. Dia sedang memegang buku panduan catur dan melamun, memperhatikan papan catur yang ada di atas meja.
Nawang ingin terus berjalan melewatinya, tapi matanya tertuju pada pria tua itu tanpa dirinya sadari.
Nawang merasa tidak asing dengan Tai Chi. Terlebih lagi, dia bahkan menemukan ada yang salah dengan
__ADS_1
Tai Chi lelaki tua itu. Kalau lelaki tua itu terus mempraktikkannya untuk waktu yang lama, hal itu akan dengan mudah menyakiti tubuhnya.