
Nawang bukanlah orang yang suka ikut campur.
Hanya saja, lelaki tua itu tampaknya adalah pria yang baik dan Tai Chi yang dia lakukan sedikit mirip dengan Tai Chi milik kakeknya. Oleh karena itu, Nawang memutuskan untuk mengingatkan lelaki tua itu.
"Pak, ada yang salah dengan Tai Chi-mu. Sebaiknya kamu memperbaikinya."
Suara itu langsung menarik perhatian si pria tua dan gadis muda yang sedang bersamanya itu.
Perempuan cantik itu mengangkat kepalanya untuk menatap Nawang dari kepala hingga ke ujung kaki, kemudian mengerutkan keningnya dan berkata; "Omong kosong! Memangnya kamu siapa? Beraninya kamu memberitahu kakekku apa yang harus dia lakukan di sini?!"
Gadis itu mengetahui dengan sangat jelas kalau kakeknya telah berlatih Tai Chi selama lima puluh tahun.
Bagaimana mungkin seorang pemuda
sepertinya bisa melihatnya?
"Laura, perhatikan kata-katamu. Aku sudah bilang berkali-kali untuk tidak memandang rendah siapa pun."
Pria tua itu memarahinya dengan suara yang rendah.
Meskipun pria tua itu berkata demikian, dia tidak menganggap serius perkataan Nawang.
Nawang masih terlalu muda.
Setelah mempertimbangkan sopan santunnya yang baik, pria tua itu pun berbalik dan tersenyum ramah pada Nawang.
"Anak muda, apakah kamu juga tahu Tai Chi?"
"Aku hanya sedikit mengetahuinya," jawab Nawang sambil mengangguk.
"Haha, kamu tahu sedikit tentang Tai Chi? Berhentilah membual!" balas Laura dengan penuh amarah.
Laura bukanlah orang yang suka mempermasalahkan hal keci, tapi apa yang telah dilakukan Nawang terlalu menjengkelkan. Nawang tidak jauh lebih tua darinya, tapi pria itu berlagak seolah jauh lebih dewasa darinya.
Orang tua itu melanjutkan gerakan Tai Chi-nya dan berkata sambil tersenyum; "Yah, tidak banyak anak muda yang suka berlatih Tai Chi sekarang. Anak muda, mainlah catur dengan cucu perempuanku dulu. Ayo kita bicara setelah aku selesai berlatih."
Nawang mengerutkan keningnya.
Dia berniat untuk pergi setelah dirinya mengingatkan lelaki tua itu. Dia tidak ingin berdiam di tempat ini lebih lama lagi, tetapi sekarang setelah lelaki tua itu mengatakan padanya untuk menunggu, Nawang berpikir, kalau dia menolaknya maka sama saja dengan dirinya bersikap tidak sopan.
Setelah berpikir selama beberapa saat, Nawang duduk di hadapan gadis cantik bernama Laura itu.
Laura melirik Nawang dengan tatapan mencemooh dan menyusun rencana di dalam benaknya.
Perempuan itu tidak bisa melakukan Tai Chi, tapi dia pandai bermain catur.
__ADS_1
Oleh karena itu, Laura memutuskan untuk mengalahkan Nawang agar bocah sombong ini tahu bahwa selalu ada orang yang lebih berpengetahuan darinya.
"Namaku Laura, dan nama keluarga kakekku adalah Ganendra. Haruskah kita mulai bermain catur?"
"Boleh."
Nawang mengangguk. Meskipun ada seorang gadis cantik yang duduk di hadapannya, dia sama sekali tidak tertarik.
Melihat Nawang yang sama sekali tidak mempedulikannya, Laura merasa sangat marah dan bahkan tidak berusaha bersikap sopan.
Brak!
Tangan Laura sangat ramping dan halus. Dia menggunakan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya untuk mengambil bidak berwarna putih, kemudian menaruhnya di tengah papan catur.
Yang membuat Laura merasa marah adalah Nawang malah melamun. Pria itu melihat ke arah kakeknya yang sedang berlatih Tai Chi sambil meletakkan bidaknya, mengabaikan Laura yang adalah seorang master catur yang terkenal dalam skala internasional!
Laura berpikir, huh! Sekarang aku akan
menjunjukkan betapa hebatnya aku, dan membuatmu tidak memiliki kesempatan untuk memohon ampun!
Laura mendengus dalam hatinya dan berkonsentrasi dalam permainan caturnya. Dia berusaha untuk mengalahkan Nawang dalam sekejap.
Hanya saja ...
Dia, dia kalah ...
Astaga!
Hanya lima menit berlalu, tapi dia telah dikalahkan oleh Nawang yang melamun. Hasil seperti itu tentu saja tidak bisa diterima Laura.
Laura terdiam selama beberapa menit.
Ketika dia menyadari bahwa bidak caturnya tak bisa berkutik dengan strategi apapun, perempuan itu dengan cepat menatap Nawang dan berkata; "Sekali lagi!"
"Sekarang kamu sangat tergesa-gesa. Bagaimana kamu bisa menang? Selain itu, dengan kemampuan permainan caturmu saat ini, kamu tidak bisa mengalahkanku. Berlatihlah selama beberapa tahun!" kata Nawang dengan acuh tak acuh sembari meletakkan bidak catur berwarna hitam di tangan kanannya.
"Kamu ..."
Laura sangat marah hingga mengertakkan giginya dan menatap Nawang seolah penuh perasaan.
Saat ini, Tuan Ganendra telah menyelesaikan latihan Tai Chi-nya. Dia berjalan ke arah meja batu dan melemparkan tatapannya ke arah papan catur.
Tuan Ganendra terkejut dan berkata; "Laura, kamu tidak dicurangi sama sekali. Lihatlah baik-baik .."
Laura pun tercengang. Dia mengikuti arah pandangan kakeknya untuk melihat papan catur itu lagi, kemudian terkejut begitu dirinya mendapati Nawang bukan hanya memenangkan permainannya, tetapi juga telah mengepung bidak putihnya dengan bidak hitam!
__ADS_1
Untuk beberapa saat, Laura menatap Nawang seolah dirinya telah tersambar petir. Tidak ada lagi kesombongan atau penghinaan dalam sorot matanya yang indah. Sebaliknya, matanya yang indah penuh dengan keterkejutan dan rasa ingin tahu, bahkan sedikit rasa kagum.
Tidak pernah terpikirkan oleh Laura bahwa Nawang tidak hanya mengalahkannya dengan cara yang santai, tapi juga menggunakan bidak miliknya untuk mengepung bidak milik perempuan itu.
Laura benar-benar telah dikalahkan!
"Siapa namamu?"
"Nawang Tirta," kata Nawang dengan tenang.
"Nawang... Apa kamu atlet catur di dunia catur?"
Laura terus berpikir di dalam benaknya, dan menemukan bahwa dia belum pernah mendengar nama seperti itu di dunia percaturan di dalam maupun luar negeri. Jadi, perempuan itu tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
"Bukan, aku hanya tahu caranya bermain catur. Aku tidak memainkannya selama sepuluh tahun. Hari ini adalah pertama kalinya aku memainkannya setelah sepuluh tahun!" kata Nawang dengan santai, dia mengingat hari-hari bahagianya bermain catur dengan kakeknya.
Laura bangkit berdiri dari bangku batu yang didudukinya. Dia mengertakan giginya yang seputih salju, kemudian melotot ke arah Nawang dan berkata; "Tidak mungkin! Itu tidak mungkin!"
"Kamu pasti adalah seorang pemain catur profesional dan telah belajar dari pemain terkenal. Kalau tidak, kamu tidak mungkin bisa mengalahkanku dengan mudah!"
"Huh! Jangan berpikir bahwa kamu bisa bersikap sombong dan puas hanya karena kamu mengalahkanku dengan mengandalkan keberuntunganmu. Kalahkan kakekku kalau kamu mampu!"
Setelah mengatakan hal itu, Laura menatap Tuan Ganendra untuk meminta bantuan.
Hanya saja, Tuan Ganendra hanya menghela napas dan menggeleng kecil.
Laura pun tercengang. Saat ini, Nawang
menangkupkan tangannya dan berkata; "Tuan, kamu menggunakan terlalu banyak kekuatan saat berlatih Tai Chi barusan. Tai Chi membutuhkan kombinasi ketangguhan dan kelembutan. Hal ini akan dengan
mudah melukai tubuhmu kalau kamu menggunakan terlalu banyak kekuatan. Aku harap kamu dapat mempertimbangkannya dengan hati-hati."
"Aku harus pergi sekarang."
Setelah mengatakannya, Nawang membalikkan tubuhnya dan pergi tanpa menunggu respon mereka.
Tuan Ganendra tertegun dan mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Nawang dengan hati-hati.
Lelaki tua itu berpikir, apa aku benar-benar salah?
"Kakek, kenapa kamu tidak memberinya pelajaran?" tanya Laura yang tidak rela kalau Nawang pergi begitu saja.
Kakeknya jauh lebih mahir dalam bermain catur daripadanya. Laura percaya bahwa kakeknya pasti akan mengalahkan pria itu.
"Tidak, aku itu tidak sebaik dia," kata Tuan Ganendra sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas.
__ADS_1