
"Satu hal lagi, Komandan. Andre, komandan wilayah Kota Habuan, ingin bertemu denganmu," lanjut Endaru.
Setelah mendengar cerita yang beredar di dunia militer Kerinci, Raja Perang Tertinggi yang dikagumi oleh tampa oraka itu akhirnya datang ke Kota Habuan. Andre benar-benar sangat bersemangat sampai-sampai dia tidak bisa tidur selama beberapa hari. Sebenarnya, dia belum memenuhi syarat untuk bertemu dengan Nawang. Namun, saat dia merasa bahwa dia akan melewatkan kesempatan yang datang sekali seumur hidup itu begitu saja. Dia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk meminta Nawang, pria yang pangkatnya berada di atasnya, bertemu.
Nawang mengerutkan keningnya saat mendengar penjelasan Endaru dan berkata; "Tolak saja. Sebelum latar belakang keempat keluarga itu benar-benar jelas, identitasku yang sebenarnya tidak boleh diketahui oleh banyak orang."
Jika identitas Nawang terungkap, keempat keluarga berpengaruh itu pasti akan ketakutan setengah mati.
Namun, pihak-pihak yang berada di belakang mereka akan tetap bersembunyi. Menemukan mereka tentu saja akan menjadi tugas yang sangat sulit.
"Baik, Tuan," ucap Endaru. Dia lalu meninggalkan vila itu untuk membuat rencana.
Sebuah mobil BMW berwarna merah tiba-tiba berhenti di depan gerbang vila milik Nawang. Kaca jendela mobil itu tampak diturunkan, Nawang bisa melihat wajah Nara di sana.
"Ada sesuatu yang harus aku tangani hari ini dan mungkin aku akan pulang larut malam. Jangan lupa siapkan makan malam untukku juga," kata Nara.
Nara saat ini sudah terbiasa makan malam di rumah Nawang.
"Apa kamu akan menghadiri pemakaman Keluarga Wiryawan?" tanya Nawang sembari mengerutkan keningnya.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Aku harus pergi sekarang karena ada banyak hal yang harus aku tangani hari ini."
Nara tampak kebingungan, tetapi dia menghela nafas lega. Seluruh Kota Habuan tahu bahwa Keluarga Wiryawan sedang berduka, tak terkecuali Nawang.
Setelah mengatakan hal tersebut, dia melajukan mobilnya ke tempat pemakaman.
Saat Nawang tahu bahwa Nara akan menghadiri pemakaman Jimmy, dia tampak tidak terlalu peduli.
Endaru telah menyelidiki latar belakang Nara sebelumnya. Nara benar-benar tidak ada hubungannya dengan empat keluarga berpengaruh itu, dia bahkan mempunyai dendam pribadi kepada Jimmy.
Ponsel Endaru tiba-tiba berdering. Dia mengangkat panggilan itu dengan cepat dan berbicara secara singkat.
Dia lalu menutup panggilan itu dengan raut wajah yang muram dan segera melaporkan apa yang baru saja dia dengar kepada Nawang; "Komandan, Keluarga Wiryawan meminta Tuan untuk menghadiri pemakaman Jimmy. Tuan juga diminta untuk berlutut selama tujuh hari tujuh malam dan bunuh diri sebagai permintaan maaf. Jika tidak, seluruh kerabat serta teman Tuan akan dibunuh!"
"Terus, apa lagi?" tanya Nawang sembari mengerutkan keningnya.
Perkataan seperti ini tidak cukup membuat Elvis tak gembira.
Setelah terdiam beberapa saat, Endaru kembali berkata; "Tuan Teguh tahu bahwa Tuanlah yang telah membunuh Jimmy. Hari ini, keluarga mereka pergi ke pemakaman Keluarga Wiryawan untuk meminta maaf. Mereka bersedia menukar seluruh harta mereka dengan nyawa Tuan!"
Debam!
Raut wajah Nawang seketika berubah serius setelah mendengarnya.
__ADS_1
Endaru melangkah mundur saat melihat ekspresi wajah Nawang, wajahnya memucat.
Beberapa detik kemudian, niat membunuh Nawang berhasil dikendalikan. Namun, tatapan matanya masih tampak dingin.
"Siapkan mobilnya! Kita akan pergi ke pemakaman Keluarga Wiryawan dan beri mereka kejutan besar!"
"Baik, Tuan!"
Siang hari, kediaman Wiryawan tampak penuh sesak dengan pelayat.
Semua toko yang ada di kota ditutup dan selebritas dari berbagai bidang datang untuk berduka.
Peti mati Jimmy diletakkan di tengah-tengah halaman. Para pelayat tampak memadati Kediaman Wiryawan. Mereka semua adalah tokoh penting.
Namun, mereka semua sekarang berkumpul di tempat ini, menjadikan tempat itu berisik layaknya pasar.
Setelah beberapa waktu, suasana di halaman itu berubah menjadi suram dan suara isak tangis pun terdengar. Tangisan itu ditujukan bukan untuk Jimmy, melainkan ditujukan untuk Keluarga Wiryawan.
Mereka yang berasal dari keluarga kelas menengah hanya bisa berdiri di depan gerbang Keluarga Wiryawan, mereka semua tampak sedih. Orang lain yang tidak mengenal mereka pasti akan mengira kalau kerabat mereka telah meninggal.
Hartana, Cakra, dan Kartini berdiri di aula seraya memandang acuh orang-orang penting yang saling memamerkan kemampuan akting mereka.
Apa sebenarnya kekuasaan itu? Inilah yang disebut kekuasaan! Keluarga Wiryawan benar-benar sangat berkuasa!
Bagaimana caranya Nawang bisa melawan Keluarga Wiryawan? Nawang Tirta! Seorang Kolonel, dia hanyalah pria udik!
Tatapan mata Hartana tiba-tiba berubah kejam dan penuh penghinaan saat memikirkan Nawang.
"Tuan Wiryawan, jangan khawatir. Aku sudah menghubungi Tuan Hartawan. Nawang harus mati hari ini!" ucap Cakra dengan yakin.
Dia berdiri dengan tangan di belakang punggungnya.
"Terima kasih, Tuan Juanda. Namun, kenapa kita harus berbaik hati dengan membiarkan si bajingan kecil itu mati begitu saja? Aku pasti akan membuatnya berlutut seraya memikul peti mati Jimmy di punggungnya dan menjaga arwahnya dengan penuh hormat selama tujuh hari. Lalu akuakan memenggal kepalanya di depan umum untuk meratapi arwah anakku di surga!" kata Hartana sambil mengertakkan giginya.
Membunuh orang setelah menyiksa mereka adalah cara terbaik untuk membalas dendam. Semua orang tahu akan hal itu.
Seorang pelayan Keluarga Wiryawan tiba-tiba mendekati Hartana dan berbisik; "Tuan Wiryawan, Albert Teguh telah datang."
Hartana berkata dengan dingin; "Biarkan bajingan tua itu masuk!"
Semua tamu sontak melemparkan pandangan mereka ke arah pintu masuk.
Albert tampak berjalan memasuki gerbang Keluarga Wiryawan dengan langkah berat.
__ADS_1
Dua hari setelah pertemuannya dengan Nawang, Albert kini terlihat jauh lebih tua. Keriput di sudut matanya pun tampak semakin banyak dan tubuhnya
membungkuk layaknya pria yang sudah sepuh.
Mereka semua mengenali Albert. Mereka tahu bahwa Albert telah mempertaruhkan nyawanya demi bisa mengumpulkan mayat serta menjaga kediaman milik Keluarga Tirta.
Mereka nampaknya penasaran dengan alasan Albert datang ke sini.
Kebenaran tentang hancurnya Keluarga Tirta masih belum diketahui, tetapi Keluarga Wiryawan merupakan salah satu keluarga yang dicurigai.
Albert berjalan menuju aula selangkah demi selangkah, semua tatapan mata para pelayat itu tertuju kepadanya. Akhirnya, dia sampai juga di depan peti mati Jimmy.
Mata Albert tampak memerah dan tangannya terkepal di balik lengan bajunya yang panjang. Sulit rasanya untuk membayangkan seberapa besar tekanan yang dia rasakan saat ini.
"Albert, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Hartana dengan dingin.
Dia kemudian berjalan mendekati Albert.
Debam!
Albert berlutut di hadapan Hartana diiringi oleh suara yang teredam.
"Tolong ampuni Nawang!"
Mereka semua terkejut saat melihat Albert yang tiba-tiba berlutut.
Apakah benar dia Albert? Pria yang dikenal berani dan juga tangguh itu?
Hartana mencibir saat melihat Albert berlutut; "Aku tidak menyangka kalau aku akan melihatmu berlutut kepada orang lain. Namun, tidakkah kamu merasa bahwa sikapmu itu terlalu angkuh? Apa kamu berpikir aku akan mengampuni pembunuh yang telah membunuh anakku hanya karena kamu memohon kepadaku?"
Albert hanya terdiam. Dia mengepalkan tinjunya, lalu melepaskannya lagi. Setelah itu, dia menundukkan kepalanya.
Bang! Bang! Bang!
Tiga sujud yang berturut-turut itu benar-benar menghancurkan martabat pria paruh baya itu.
"Aku akan memberikan semua aset milik Keluarga Teguh, jika kamu mengampuni Nawang!"
Hartana mencibir; "Apa menurutmu keluarga kami kekurangan uang? Harta keluargamu itu tidak ada apa-apanya bagiku! Sudah kubilang, aku ingin Nawang berlutut dan menjaga arwah anakku selama tujuh hari, kemudian membuatnya bunuh diri di depan umum sebagai permintaan maaf!"
"Akulah yang akan menggantikan Nawang menjaga arwah Jimmy selama tujuh hari dan bunuh diri di depan umum sebagai permintaan maaf. Aku hanya berharap kamu mau mengampuninya," ucap Albert seraya mengangkat kepalanya tiba-tiba, sorot
matanya benar-benar memelas.
__ADS_1