TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU

TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU
Bab 5 Wanita Jahat


__ADS_3

Seluruh pengawal Keluarga Wiryawan yang angkuh serta mengintimidasi itu tampak tergeletak tak berdaya di atas lantai.


Jimmy mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka kalau bawahan Nawang sangat kuat.


Namun, Nawang hanya sendirian. Di zaman sekarang. kekuatan bukanlah penentu segalanya.


"Tampaknya kamu benar-benar ingin mencari masalah dengan Keluarga Wiryawan?"


"Keluarga Wiryawan tidak pantas menjadi musuhku!" ucap Nawang dengan tegas.


Mereka semua terkejut dengan perkataan Nawang Memang benar mereka terkejut dengan kekuatan Endaru, tetapi mereka tidak berpikir bahwa Nawang mampu melawan Keluarga Wiryawan.


Mereka merasa bahwa perkataan Nawang sangat berlebihan atau bahkan terlalu percaya diri.


Bahkan saat Keluarga Tirta berada di puncaknya pun, mereka tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti itu.


"Benar-benar pria yang sombong!"


"Nawang, apakah kamu bodoh? Zaman sekarang, tidak semuanya bisa didapatkan dengan kekerasan. Jika kamu tidak punya uang dan kekuasaan, kamu pasti tidak akan bisa bertahan!"


"Bukankah kamu ingin membunuhku? Aku masih berdiri di sini. Memangnya kamu berani?" cibir Jimmy.


Dia memang telah melihat kekuatan


Endaru, tetapi dia tidak takut sama sekali. Mendengar hal tersebut, Nawang berjalan mendekati Jimmy, lalu berdiri seraya meletakkan tangannya di belakang punggungnya.


"Memangnya siapa yang dapat


menghentikanku?"


Aura bengis Nawang membuat semua orang tersentak.


"Siapa yang bisa menghentikanmu?Nawang Tirta, apa yang akan kamu lakukan jika Keluarga Juanda-lah yang akan menghentikanmu?"


Sebuah suara yang angkuh terdengar dan memecah keheningan.


Kartini yang sedari tadi diam tiba-tiba tertawa.


Dengan bangga dia mengangkat kepalanya dan melihat Nawang dengan tatapan menghina.


Keluarga Juanda merupakan geng terkuat di Kota Habuan. Bicara soal kekuatan, mereka tidak pernah takut kepada siapa pun.


"Kartini?" ucap Nawang sambil mengerutkan keningnya.


"Kamu terlalu berani!" teriak Kartini sembari meremehkan Nawang.


Nawang menggelengkan kepalanya dan tertawa sebelum berkata; "Semua ini tidak ada hubungannya dengan Keluarga Juanda. Aku tidak suka membunuh orang yang tidak bersalah.


Enyahlah dari sini."


Keluarga Juanda adalah satu-satunya keluarga yang tidak ikut serta dalam pembantaian Keluarga Tirta.


"Enyahlah? Memangnya kamu pikir kamu itu siapa?" Kartini mengerutkan keningnya, lalu mencibi; "Berlututlah! Aku akan memaafkanmu setelah mematahkan kakimu itu!"

__ADS_1


Ucapan Kartini terdengar sangat angkuh. Namun, mereka semua tidak terkejut karena mereka tahu bahwa Keluarga Juanda mampu melakukan hal seperti itu!


Jimmy menambahkan; "Karena istriku telah berkata seperti itu, aku akan mengampunimu jika kamu mau berlutut. Kenapa kamu tidak berlutut


dan bersujud saja di hadapanku sekarang?"


"Sialan!" umpat Endaru.


Bahkan raja pun tidak pernah meminta sang Raja Perang untuk berlutut di hadapannya. Namun, berani sekali Keluarga Wiryawan dan Keluarga Juanda mengatakan hal tersebut kepada Nawang?


Nawang mendekati Kartini dan Jimmy tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Aku ingin membunuh Jimmy. Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" kata Nawang dengan


nada acuh tak acuh.


"Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu kepadaku!"


Kartini secara tidak sadar melangkah mundur melihat sikap Nawang yang sangat berani. Wanita itu kemudian marah dan menampar wajah


Nawang.


Plak!


Suara tamparannya terdengar sangat jelas.


Para tamu itu melihat satu sosok yang terpental di udara. Namun, mereka terkejut saat mengetahui bahwa orang yang terpental itu adalah Kartini!


"Berani-beraninya kamu memukulku? Keluarga Juanda tidak akan pernah mengampuni perbuatanmu ini!" teriak Kartini histeris seraya memegang wajahnya yang merah dan bengkak.


Wanita itu menatap Nawang dengan tatapan penuh amarah.


"Sama-sama," ucap Nawang datar.


Dia lalu mengeluarkan sebuah tisu dan mengelap Dia bersikap seakan-akan telah memegang sesuatu yang kotor.


Wajah Jimmy berubah jadi merah padam.


"Nawang, habislah kamu! Keluarga Juanda tidak akan melepaskanmu begitu saja, begitu pula Keluarga Wiryawan!"


"Jangan khawatir. Orang-orang yang terlibat dalam kematian Keluarga Tirta setengah tahun yang lalu tidak akan bisa melarikan diri. Mereka akan mati secara mengenaskan. Namun,


sayangnya kamu tidak bisa melihat hari itu tiba," kata Nawang dengan tenang dan terus berjalan mendekati Jimmy.


"Apa ... apa maksudmu?" Jimmy menelan ludah.


"Aku tadi bilang kalau aku akan membunuhmu hari ini!" ulang Nawang dengan santai.


Tubuh Jimmy tersentak. Dia ingin meminta bantuan, tetapi para pengawal itu telah dikalahkan oleh Endaru.


Suasana di aula itu tiba-tiba hening.


Mata mereka tertuju kepada Nawang yang saat ini sedang berjalan mendekati Jimmy. Di sisi lain, Jimmy terus-menerus melangkah mundur karena kepercayaan dirinya telah hilang.

__ADS_1


"Tuan Wiryawan, Nawang hanyalah seekor anjing liar. Kenapa kamu sangat takut terhadapnya?"


Sebuah cibiran tiba-tiba memecah keheningan aula itu.


Kata-kata pria itu sarat akan penghinaan.


Mereka semua berbalik dan melihat sekelompok orang tengah memasuki aula. Seorang pria dan seorang wanita tampak berjalan di depan pria-pria itu.


Pria yang berjalan di depan itu terlihat tampan sekaligus elegan. Dia adalah orang yang baru saja mengatakan.


Wanita yang berjalan di sampingnya sama cantiknya dengan Kartini.


Randy dan Nindi telah datang.


Nawang menatap keduanya dengan tatapan datar.


"Aku pikir kalian tidak akan datang. Untung saja waktuku tidak terbuang sia-sia," kata Nawang.


"Keluarga Tirta telah tiada. Apakah kamu berpikir kalau kamu masihlah Tuan Tirta seperti dahulu?" kata Randy dengan nada menghina.


Di sisi lain, Nindi menatap Nawang dengan tatapan yang aneh.


"Kamu telah bertugas di ketentaraan selama sepuluh tahun. Aku tidak menyangka kalau kamu akan kembali hidup-hidup ..."


"Jika aku tidak kembali hidup-hidup, mana mungkin aku bisa tahu bahwa tunanganku adalah wanita yang sangat 'luar biasa'?" sindir Nawang.


Nindi mengerutkan keningnya saat mendengar Nawang menyebutnya sebagai "tunangan."


"Kamu seharusnya sadar dengan posisimu. Sekarang, kamu sudah tidak punya apa-apa lagi dan kamu sama sekali tidak pantas untukku. Selain itu, aku telah bertunangan dengan Tuan Kencana. Aku sarankan agar kamu segera melupakan diriku."


Nawang tertegun mendengarnya, lalu tersenyum; "Apakah kamu berpikir kalau aku kembali kali ini karenamu?"


"Bukan?" Nindi mengerutkan keningnya dan bertanya; "Lalu, untuk apa kamu kembali?"


"Kamu benar-benar tidak tahu?" tanya Nawang sambil tersenyum tipis.


Nindi seketika tersentak dan tanpa sadar mundur selangkah.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kamu bicarakan."


"Baiklah, karena kalian suka berpura-pura polos, aku akan mengatakannya."


Setelah itu, Nawang menatap para tamu sembari mengacungkan telunjuknya ke arah Nindi.


"Keluarga Cakrawala! Sepuluh tahun yang lalu, Tuan Cakrawala berlutut dan memohon kepada Keluarga Tirta untuk mempertunangkan anak perempuannya denganku."


"Setahun yang lalu, Nindi masuk ke dalam Keluarga Tirta sebagai menantu dari Keluarga Tirta. Dia lalu bekerja sama dengan Keluarga Kencana untuk mencuri rahasia Keluarga Tirta,


mengambil alih semua bisnis milik Keluarga Tirta, dan bahkan membantai seluruh Keluarga Tirta!"


Debam!


Ucapan Nawang terdengar seperti bom yang dijatuhkan di hadapan mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2