TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU

TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU
Bab 7 Pertemuan!


__ADS_3

"Pembunuhan! Pembunuhan!" teriak Kartini dengan histeris!


Akhirnya, ekspresi Randy dan Nindi berubah drastis. Mereka menatap Nawang ngeri.


"Bagaimana .. beraninya kamu membunuh Jimmy?" tanya mereka.


"Ini baru permulaan. Hantu keluarga Tirta harus dikenang dengan darah. Jimmy hanyalah pancingan," kata Nawang yang berdiri dengan tangan di belakang punggung dan melihat


orang-orang yang tercengang.


"Peringatan kematian keluarga Tirta sudah dekat. Aku tidak peduli senjata macam apa yang kalian sembunyikan dan siapa pendukung kalian. Saat


itu, aku akan membuat semua orang yang terlibat dalam pemusnahan keluarga Tirta berlutut dan bersujud kepada keluargaku dengan kematian


mereka!" kata Nawang sembari menghampiri Nindi yangtatapannya muram.


Nawang menepuk pipinya


dua kali.


Nawang berkata; "Apa kalian takut? Kalau begitu cobalah menghadapiku atau membunuhku dengan cara-cara yang kalian gunakan untuk menghabisi keluarga Tirta ... lawan mati-matian.


Jangan kecewakan aku ..."


Setelah mengatakan itu, Nawang berbalik dan berjalan menuju gerbang. Dia pergi tanpa menggubris reaksi semua orang.


Setelah mengambil beberapa langkah, Endaru tiba-tiba berbalik dan menyeringai, menunjukkan gigi putihnya.


"Aku menyarankan kalian supaya tidak mengirim penjilat untuk mengganggu Tuan Tirta. Rasanya membosankan jika kalian berbuat seperti itu," kata Endaru.


Melihat Nawang dan Endaru pergi, Randy dan yang lainnya tidak kuasa menahan amarah di hati mereka. Mereka meraung histeris; "Beraninya dia


berbuat sembarangan? Aku harus mengulitinya hidup-hidup!"


"Randy, tidakkah menurutmu itu sedikit aneh? Dulu Serigala merupakan bagian dari Resimen Serigala Darah. Kenapa dia begitu menghormati Nawang?" tanya Nindi yang tampak keheranan


setelah berpikir sejenak.


Mendengar ini, Randy berhenti sejenak, lalu mencibir; "Jangan takut. Bahkan pemimpin Resimen Serigala Darah hanya berada di peringkat menengah. Keluarga Kencana juga kuat di militer. Sangat mudah untuk membunuh


seorang pemimpin!"


Satu jam kemudian, sebuah mobil jip militer melaju ke distrik villa paling megah Kota Habuan.


Akhirnya, mobil itu berhenti di depan Villa No. 1.


Sebelum pergi ke pesta pernikahan, Nawang memerintahkan Endaru mencari tempat beristirahat untuk Santika.


Dalam sepuluh tahun terakhir, Nawang


menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkemah. Jadi, dia tidak terlalu memikirkan tempat tinggalnya.

__ADS_1


Namun, dia tidak ingin membiarkan Santika menderita lagi.


"Komandan Tirta, Nona Tirta seharusnya masih tidur di dalam," kata Endaru.


Nawang mengangguk dan masuk ke distrik villa terlebih dahulu.


"Wah ... lucu sekali ... "


Dari dalam villa terdengar suara tawa Santika.


Ekspresi wajah Nawang menjadi lembut dan senyum kecil terlukis di wajahnya.


Sepertinya Santika sudah bangun.


Setelah melalui banyak hal, Santika masih bisa tertawa terbahak-bahak. Bahkan Nawang yang selalu tenang pun menjadi sedikit bersemangat.


Namun, ketika dia membuka pintu dan melihat apa yang terjadi di dalam, ekspresi Nawang tiba-tiba berubah.


"Siapa kamu? Lepaskan dia!"


Di ruang tamu mewah, Santika telah berganti pakaian baru dan terlihat manis.


Saat ini, seorang wanita asing sedang memegang pinggang Santika.


Tepatnya, wanita itu adalah wanita yang sangat cantik dengan sosok ramping dan paras yang memesona. Dari gaun wanita tersebut, bisa terlihat bahwa dia kaya atau berkuasa.


Akan tetapi, bagi Nawang, dia tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Santika dengan mudah.


Ketika Santika berbalik, senyum di wajahnya tiba-tiba menghilang. Dia cemberut dan berlari ke arah Nawang dengan linangan air mata.


"Paman, ke mana saja kamu? Apa kamu ingin meninggalkanku?" ucap Santika yang mendekap Nawang dengan erat dan menangis sedih.


Mendengar itu, wajah Nawang melembut. Dia berkata dengan nada lembut; "Bagaimana mungkin? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku baru saja pergi untuk melakukan sesuatu."


Setelah menyerahkan Santika pada Endaru di belakangnya, wajah Nawang berubah muram. Dia menatap dingin wanita cantik di depannya itu.


Wanita itu baru saja ditakuti oleh Nawang. Dia baru saja menenangkan diri, tetapi ketika melihat tatapan mata Nawang, tubuhnya gemetar dan


wajahnya menjadi pucat. Dia hendak


menjelaskan, tetapi sesaat kemudian, angin dingin bertiup, dan tangan besar yang dingin memegang lehernya yang seputih salju itu.


"Siapa kamu? Kenapa kamu mendekati Santika?"


Dengan segenap kekuatannya, Nawang tidak menunjukkan belas kasihan kepada wanita itu.


Wajah cantik wanita itu langsung memerah.


"Aku ... "Wanita itu yang ingin menjelaskan, tapi dia terlalu takut untuk mengucapkan apa pun di bawah pengaruh hawa membunuh Nawang yang mengerikan.


"Paman, lepaskan Nara. Dia orang yang baik," kata Santika dengan cemas sembari berlari dan menarik pakaian Nawang.

__ADS_1


Nawang sedikit mengernyit. Lagi pula, Santika masih terlalu muda untuk bisa membedakan hal yang baik dan buruk.


Tiba-tiba ada orang asing yang datang ke rumah. Jadi, Nawang merasa wanita itu mencurigakan.


Nawang tidak ingin membuat Santika cemas, jadi dia melonggarkan genggaman tangannya, tapi tatapannya masih dingin.


Saat ini, Endaru datang dengan tergesa-gesa dan berbisik; "Komandan Tirta, nama wanita ini Nara Lavanya. Dia tinggal di sebelah Villa No. 1. Dia


adalah tetanggamu ..."


Dengan cepat Endaru memberitahu identitas Nara pada Nawang.


Tempat ini adalah kediaman Raja Perang Tertinggi. Sebelum masuk, bawahannya akan menyelidiki informasi terkait orang-orang di sekitar tempat itu.


Wanita cantik itu bernama Nara Lavanya. Dia memiliki perusahaan periklanan, yang merupakan perusahaan terkemuka dalam industri periklanan di Kota Habuan. Dia juga


seorang CEO cantik yang terkenal yang dikagumi banyak pria.


Mungkin ini adalah pertama kalinya leher Nara dicengkeram.


"Ahem ..."


Nara menutupi bagian lehernya yang terdapat bekas sidik jari Nawang dan terbatuk keras sebelum berkata; "Bagaimana bisa kamu berbuat


seperti itu?"


"Sebagai orang tua, kamu tidak peduli dengan anakmu, tetapi malah menganggap kebaikanku sebagai niat jahat!"


Ternyata saat Santika bangun, dia tidak melihat Nawang. Dia pikir pamannya telah meninggalkannya dan dia pun menangis.


Secara kebetulan, ketika Nara pulang dari kantor, dia mendengar tangisan seorang anak di sebelah tempat tinggalnya. Jadi, dia pikir pasti telah


terjadi sesuatu. Dia kemudian menghampiri Santika untuk memeriksa lalu menghiburnya untuk waktu yang lama.


Mendengar apa yang Nara katakan, Nawang yang selalu bersikap dingin merasa sedikit malu.


Endaru berusaha keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak.


Raja Perang telah bertempur selama sepuluh tahun dan sudah terbiasa membunuh, jadi dia tidak terbiasa dengan urusan duniawi ini.


Nawang berbalik dan memelototi Endaru.


Kemudian dia menoleh ke Nara dan berkata; "Nona Lavanya, maafkan aku. Aku hanya mengkhawatirkan Santika, jadi ..."


Namun, Nara masih belum sepenuhnya pulih.


Dia mengerutkan kening dan terlihat kesal kemudian dengan sengaja memalingkan pandangannya dari Nawang.


Nara membatin, orang ini meminta maaf dengan wajah dingin seolah ada yang berutang padanya!


Nara tidak tahu adalah bahwa dialah orang pertama yang bisa membuat Raja Perang Tertinggi meminta maaf.

__ADS_1


__ADS_2