TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU

TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU
Bab 14 Saatnya Untuk Membunuh


__ADS_3

"Pak tua, tidakkah kamu mengerti aku? Nah, karena kamu ingin sekali berlutut, aku akan membiarkanmu berlutut!"


"Penjaga, patahkan kakinya, lalu bawa dia keluar dari sini! Aku ingin semua orang tahu apa yang akan Habuan mohon mereka berani membantu Keluarga Tirta!" titah Hartana kepada penjaganya.


Beberapa penjaga segera memegang tubuh Albert, lalu mengangkat batang besi yang ada di tangan mereka.


"Lepaskan ayahku!" ucap Intan tiba-tiba.


Dia menerobos masuk ke kediaman Wiryawan bersama ibunya.


Intan berlari dan memeluk Albert dengan erat, air matanya tampak mengalir di wajahnya.


"Kenapa Ayah melakukan ini?"


"Kenapa kamu ada di sini? Bukankah aku menyuruhmu untuk membawa Nawang keluar dari Kota Habuan?" ucap Albert setengah berteriak, dia benar-benar tercengang melihat Intan berada di tempat itu.


Dia tahu bahwa Keluarga Wiryawan tidak akan melepaskan Nawang sehingga dia sengaja datang ke sini untuk mengulur waktu. Lalu dia meminta anak dan istrinya untuk membawa Nawang pergi dari Kota Habuan.


Namun, rencananya untuk mempertaruhkan nyawanya demi Nawang rusak karena kedatangan mereka di sini.


"Lagi-lagi Nawang! Apakah Ayah pernah sedikit saja memikirkan aku dan Ibu?"


Intan sama sekali tidak bersemangat saat mengetahui bahwa Nawanglah yang telah membunuh Jimmy. Hatinya kini dipenuhi oleh kebencian yang luar biasa.


Intan pikir setelah Nawang bertugas selama sepuluh tahun di ketentaraan, pria itu akan tampak sedikit pintar karena dia bisa bertahan sampai sekarang, meskipun pria itu tidak mendapatkan apa-apa selama sepuluh tahun ini. Intan juga tidak menyangka bahwa Nawang tidak hanya seorang pecundang, tetapi juga pria yang bodoh. Keluarga Nawang telah tiada dan Nawang tidak punya prestasi apa pun di ketentaraan. Dia tidak punya uang atau kekuasaan, tetapi berani membunuh Jimmy, putra Keluarga Wiryawan.


Dia benar-benar cari mati! Jika saat ini Intan melihat Nawang, dia pasti akan menampar wajah pria itu dan memukulinya sampai mati.


"Diam!" teriak Albert.


Amarah lntan tersulut, wajah cantiknya dipenuhi oleh rasa benci.


"Tidak, aku harus mengatakannya! Nawanglah yang membuat Ayah berlutut di hadapan Tuan Wiryawan,begitu juga dengan rasa sakit yang aku dan Ibu rasakan. Nawanglah yang membuat kita seperti ini. Ayah tidak pantas mempertaruhkan nyawa Ayah untuk pecundang sepertinya!"


Plak!


Suara tamparan terdengar.


"Bajingan! Tanpa Keluarga Tirta, kita pasti sudah mati dua puluh tahun yang lalu. Apakah kamu paham sekarang?"


Menutupi wajahnya dengan tangan, Intan tertegun. Ini adalah pertama kalinya Albert menamparnya sejak dia masih kecil, dan itu juga karena si pecundang Nawang itu.


"Yah, benar-benar sebuah tragedi!" cibir Hartana sembari bertepuk tangan dan


melangkah. Dia menatap Intan dari atas ke bawah dan matanya berbinar.


"Aku tidak menyangka kamu memiliki putri yang begitu cantik. Yah, anakku terbunuh sebelum menikah. Dia bahkan tidak punya istri. Kuburkan saja putrimu bersamanya."


Kemudian, dengan aba-aba Hartana, sekelompok pengawal Keluarga Wiryawan mengepung ketiga anggota Keluarga Teguh tersebut.


"Dasar bodoh! Sudah kubilang untuk tidak datang, tapi kamu bersikeras mengajakku ke sini!"


"Baiklah, sekarang mari kita mati bersama!"

__ADS_1


Kaki Nyonya Teguh lemas dan dia pun terduduk di tanah sambil menangis.


Albert gemetar karena putus asa dan memohon; "Tuan Wiryawan, tolong lampiaskan amarahmu padaku saja. Jangan sakiti istri dan putriku. Aku mohon ..."


Duak!


Albert ditendang ke tanah sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya.


Hartana mencibir; "Meluapkan kemarahanku padamu? Memangnya kamu ini siapa? Kamu tidak pantas menerimanya!"


"Lakukan!"


Belasan pengawal Keluarga Wiryawan merangsek maju.


Namun, ketika Intan merasa sangat takut hingga air mata mengalir di wajahnya, tiba-tiba dia mendengar suara ledakan.


Gerbang masuk kediaman Keluarga Wiryawan rusak, dan lebih dari selusin pengawal terlempar dan terkapar di depan Hartana.


"Beraninya kamu melukai orang-orang Tuan Tirta?! Apakah kamu ingin keluargamu dihancurkan?"


Suara Endaru yang kasar dan bermartabat bergema di halaman, lalu dia dengan hormat berdiri menyamping, kemudian Nawang melangkah masuk.


Melihat Albert berlutut di tanah, Nawang menyipitkan matanya dengan tatapan membunuh.


Semua orang akhirnya menyadari apa yang telah terjadi dan terkejut.


Nawang Tirta?


Dia membunuh Jimmy dan bahkan berani menghadiri pemakamannya. Betapa gilanya pria itu!


Melihat raut wajah Albert yang putus asa, Nawang berbah linglung. Dia seperti mendengar tangisan menyedihkan anggota keluarganya sebelum mereka meninggal, memintanya untuk tidak kembali ... untuk tidak membalas dendam ...


Duar!


Nawang melangkah maju dengan aura yang kuat.


"Tuan Teguh, saya di sini. Saya akan menangani sisanya."


"Sepertinya ini adalah saatnya untuk membunuh!"


Suara Nawang sangat dingin, mengandung niat membunuh yang tidak berujung.


Merasakan niat membunuh Nawang, entah kenapa Albert menjadi bungkam dan tenang.


Namun, tawa Hartana memecah suasana menyedihkan itu.


"Nah, Nawang, akhirnya kamu datang. Kamu tidak mengecewakanku!"


"Apa menurutmu Keluarga Wiryawan takut padamu?"


Saat berbicara, wajah Hartana tiba-tiba menjadi dingin. Dengan lambaian tangannya, seratus pria berbaju hitam dengan golok datang dari segala arah, membuat situasinya menjadi tegang.


Keluarga Teguh tampak putus asa saat melihat mereka terkepung.

__ADS_1


Air mata mengalir di mata Intan, dan kebencian melonjak di hatinya. Dia hendak menampar wajah Nawang.


Dak!


Endaru mencekal tangan Intan.


Raja Perang tidak boleh dipermalukan!


Namun, Endaru tidak bisa menghentikan kebencian Intan.


"Nawang! Ini semua salahmu!"


"Jika bukan karenamu, nasib kami tidak akan jadi seperti ini. Apa kamu sudah puas sekarang?"


"Kamu telah mengabdi sebagai tentara selama sepuluh tahun. Mengapa kamu tidak mati di medan perang?"


"Tidak, jika saja kamu pergi ke medan perang, kamu tidak akan menjadi pecundang selama sepuluh tahun ini!"


"Kamu sudah keterlaluan. Kenapa kamu melibatkan kami? Kenapa?" raung Intan dengan histeris.


Nawang mengerutkan kening dan berkata; "Pernahkah kamu berpikir bahwa aku tidak pernah berbohong padamu? Kamu hanya tidak percaya padaku."


"Mempercayaimu? Apakah kamu ingin kami percaya bahwa kamu adalah Sang Raja Perang Tertinggi?"


"Nawang, aku benci kamu!"


Kata-kata Intan menjadi semakin tajam.


Dia tiba-tiba berbalik dan bergegas menghampiri pria berbaju hitam dengan membawa golok.


"Jangan, Intan!" teriak Albert putus asa.


Pria berbaju hitam itu tertawa seram dan menghunus goloknya, dengan niat membunuh di matanya.


Intan memejamkan matanya, air mata mengalir di wajahnya. Dia sudah siap tertusuk parang.


Lebih baik mati daripada dipermalukan terus menerus.


"Intan ..." teriak Nyonya Teguh dengan ngeri.


Wuss!


Tiba-tiba, ada sosok yang melintas.


Intan tiba-tiba merasa berada dalam pelukan hangat.


Ketika membuka matanya, dia melihat pria berbaju hitam yang tersenyum tadi dicekik dan diangkat seperti anak ayam.


"Nawang, kamu ..." kata Intan tertegun.


Dia tidak menyangka kalau Nawang akan menyelamatkannya.


Menempatkan Intan di belakangnya, Nawang berkata dengan nada acuh tak acuh; "Buka matamu lebar-lebar. Dengar, aku tidak pernah berbohong padamu."

__ADS_1


Dengan itu, Nawang meraih tangan pria itu dan melambaikannya dengan santai. Seperti membuang sampah, dia melempar pria yang beratnya 90 kilogram itu kemudian pria itu menimpa beberapa master Keluarga Wiryawan lainnya.


Lalu Nawang berbalik dan menendang beberapa master yang menyerbu ke arahnya satu per satu.


__ADS_2