
Suasananya mendadak hening. Suara ledakan tiba-tiba terdengar. Aura membunuh yang sangat kuat tampak memenuhi langit perbatasan itu layaknya ombak yang bergulung-gulung.
Wajah Endaru yang tengah berdiri di sebelah Nawang tampak memucat karena takut dan tubuhnya terlihat gemetaran. Dia seketika berlutut di atas tanah.
Ratusan ribu prajurit itu pun ketakutan melihat Nawang. Mereka tanpa sadar berlutut seraya menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Raja Perang mereka sedang marah!
Saat ini, perbatasan Kerinci terlihat sangat kacau.
Kecuali para prajurit yang ada di perbatasan, tidak ada yang tahu apa yang sebenanya sedang terjadi. Mereka juga tidak tahu ada sebuah pesawat perang yang terbang ke arah Kota
Habuan dengan kecepatan penuh.
"Dasar bajingan, teruslah berteriak!
Pemberontakanmu akan berakhir sampai di sini!" ucap seorang wanita yang usianya tampak lebih dari dua puluh tahun sembari menggerakkan
sebuah batang besi yang ada di tangannya.
Senyum mengerikan terkembang di wajahnya yang berbintik-bintik.
Seorang gadis kecil yang berusia sekitar enam tahun terlihat terbaring di atas lantai, tubuhnya bergetar. Wajahnya kotor karena darah dan air mata dan tampak kesakitan. Matanya yang besar
dipenuhi oleh ketakutan yang sangat luar biasa.
Sulit dipercaya bahwa seorang anak kecil harus menderita seperti ini.
Yang lebih sulit untuk dipercaya adalah gadis kecil yang malang itu ternyata adalah Santika Tirta, Putri Leo Tirta dari Kota Habuan!
Setiap kali tongkat itu dipukulkan, sebuah memar akan muncul di kulit lembut Santika.
Pemukulan itu terus terjadi selama seharian penuh.
"Dasar bajingan, sebaiknya kamu berdoa agar Nawang kembali membawa uang tebusan itu atau aku akan membunuhmu!"
Marta Raharja tampak kelelahan setelah memukuli Santika seharian. Dia lalu membuang tongkat itu ke sampingnya dan menendang Santika dengan keras.
Saat ini, mereka sedang berada di sebuah pabrik. Selain Marta dan Santika, di sana, ada dua orang pria yang tampak kuat.
Seorang pria terlihat mendekati Marta setelah melihat Marta berhenti memukuli Santika dan berkata; "Nona Raharja, apakah menurut Anda
Nawang akan takut dan memutuskan untuk tidak kembali lagi ke sini? Ini adalah tugas yang diberikan oleh Tuan Wiryawan. Jika Nawang tidak ke sini, apa yang harus kita lakukan?"
Saat ini, di antara empat keluarga berpengaruh yang ada di Kota Habuan, tiga di antaranya terlibat dalam hancurnya Keluarga Tirta. Mereka
adalah Keluarga Kencana, Keluarga Cakrawala, dan Keluarga Wiryawan. Tuan Wiryawan yang dibahas pria itu adalah putra tertua dari Keluarga Wiryawan yang bernama Jimmy Wiryawan.
Marta dan yang lainnya juga merupakan anggota Keluarga Wiryawan. Keluarga Tirta sudah lenyap.
Alasan mengapa mereka membiarkan Santika tetap hidup adalah untuk memancing Nawang dan kemudian menghabisinya!
Tentu saja, selain tiga keluarga itu, banyak orang yang diam-diam ikut dalam pembantaian Keluarga Tirta dan kemudian membagi keuntungan yang mereka dapatkan.
"Mana aku tahu? Ini semua karena si bajingan kecil ini!"
Semakin lama Marta memikirkannya, dia semakin tampak marah. Dia lalu menampar wajah Santika dengan keras.
Mereka memaksa Santika untuk menelepon Nawang, tetapi mereka tidak menyangka kalau gadis kecil itu akan meminta Nawang untuk tidak
kembali.
Santika memegang pipinya yang bengkak dan terisak.
Dia merasa bahwa pamannya mungkin tidak akan kembali.
Dia tidak tahu apakah dia harus senang atau putus asa karena hal itu.
Marta menatap arloji yang ada di pergelangan tangannya sembari mendengus dan berkata; "Bodoh sekali Nawang itu! Kenapa dia malah bersikeras untuk bergabung dengan tentara alih-alih menjadi kepala Keluarga Tirta? Apakah dia sudah gila?"
Kalau bukan karena Nawang, dia tidak akan mau berada di tempat kumuh seperti ini untuk menjaga Santika.
Semakin Marta memikirkannya, dia semakin kesal.
Pria kuat itu terlihat menyalakan sebatang rokok dengan kesal. Saat dia melirik Santika, matanya tiba-tiba berbinar.
"Baiklah, kenapa kita tidak potong saja tangan gadis kecil ini, lalu kita kirimkan kepada Nawang? Aku yakin dia pasti akan kembali ke sini!"
"Ide bagus. Sepertinya ini akan berhasil," kata Marta sembari mengangguk setuju.
Bagi mereka, manusia yang hidup di dunia ini tidak ada bedanya dengan seonggok daging tak berharga.
"Jangan ... jangan!" raung Santika sembari berusaha berdiri dan mencoba berlari keluar dari tempat itu. Wajahnya
__ADS_1
benar-benar pucat.
Buk!
Sebelum bisa melarikan diri, pria kuat itu tiba-tiba menendang Santika hingga tubuhnya terjerembap ke atas tanah.
"Jangan macam-macam atau aku akan
mencungkil matamu itu."
Pria kuat itu tertawa mengerikan sebelum mengambil sebuah parang yang tergantung di pinggangnya.
Marta mendekati Santika, lalu menekan tubuh gadis kecil itu ke tanah.
Santika ingin meronta, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Marta. Yang bisa dia
lakukan hanyalah berteriak.
"Anak kecil, jangan pernah salahkan aku. Salahkan saja keluargamu itu."
Pria kuat itu menyeringai sembari mengangkat parangnya tinggi-tinggi. Parang yang berwarna putih itu tampak bersinar di bawah pantulan sinar matahari.
Debam!
Suara benturan yang keras tiba-tiba terdengar. Semua orang tampak ketakutan.
"Ada apa?"
Mereka saling menatap satu sama lainnya dengan perasaan terkejut.
"Apa yang sedang terjadi di luar sana?"
teriak salah satu pria itu. Dia kemudian berjalan keluar untuk mengecek.
Namun, begitu dia tiba di depan pintu masuk, sosok hitam tampak melesat di atas kepalanya.
Buk!
Sosok hitam itu kemudian jatuh ke atas tanah disertai oleh suara debam yang sangat keras.
Marta dan pria kuat itu tanpa sadar menoleh.
Tubuh mereka seketika menggigil saat melihat apa yang ada di hadapan mereka.
Sosok itu ternyata adalah pria yang berusaha mengecek keadaan di luar pabrik tadi. Di dadanya terlihat sebuah lubang yang sangat besar dan
mengenaskan.
Kemudian, suara langkah kaki yang berat terdengar. Tampak dua sosok pria masuk ke pabrik itu. Salah satunya berjalan di depan dan yang lain berjalan di belakang. Pria yang berjalan paling depan adalah seorang pemuda. Raut
wajahnya tampak dingin dan kedua matanya dipenuhi oleh aura membunuh yang sangat menakutkan.
Tubuh pria kuat itu gemetar ketakutan setelah melihat pemuda tersebut. Dia memegang parang yang ada di tangannya itu dengan erat dan seketika rasa percaya dirinya kembali muncul.
Dia dan temannya yang telah mati itu merupakan petarung terbaik Jimmy dan keahlian mereka berdua sangatlah luar biasa. Namun, pria yang ada di depannya itu bisa membunuh rekannya
tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Hal ini membuatnya benar-benar takut.
Dia lalu bertanya; "Siapa kamu? Berani-beraninya kamu membunuh rekanku?"
"Bukankah kamu yang memintaku untuk
membawa uang tebusan? Aku sudah membawa uangnya! Dua miliar dua ratus tiga puluh juta rupiah," kata Nawang dengan suara dinginnya.
Bersamaan dengan itu, sebuah kotak yang berisi uang jatuh di hadapannya. Uang kertas arwah beterbangan di udara dan terlihat mengerikan.
"Apakah ... apakah kamu Nawang Tirta?"
Pria itu dan Marta akhirnya tersadar.
Pria kuat itu berusaha untuk mengangkat parangnya, tetapi ketika dia mendongak dan menatap mata Nawang, tubuhnya tiba-tiba gemetar.
Padahal dia hanya menatap mata Nawang secara sekilas, tetapi dia seperti melihat tumpukan mayat serta darah di mata Nawang.
Siapa sebenarnya pria itu?
"Paman, apakah itu benar-benar Paman?"
Suara lemah Santika tiba-tiba terdengar. Sekujur tubuh Santika tertutup tanah dan darah. Dia mengucek matanya yang merah dan bengkak. Dia khawatir apa yang dilihatnya hanyalah sebuah
ilusi sebelum dia mati.
"Santika maafkan paman karena datang
__ADS_1
terlambat."
Raut wajah Nawang yang dingin itu seketika menjadi lembut dan dengan cepat dia memeluk Santika.
"Paman ... " kata Santika sambil menangis.
Setelah memastikan bahwa itu bukanlah sekedar ilusinya, Santika menangis sejadi-jadinya. Dia mendekap Nawang dengan erat dan air matanya
jatuh membasahi dada Nawang.
"Paman, semua keluarga kita sudah mati ... Kepala, lengan, dan kaki Kakek, Nenek, Ayah, ibu, begitu juga para pelayan ... dipotong menjadi beberapa bagian. Aku melihat darah mereka yang
bercucuran .. Paman, aku sangat takut ..."
Saat ini, semua emosi Santika seketika pecah.
Orang tuanya meninggal dengan cara yang mengenaskan dan keluarganya musnah.
Semuanya terjadi tepat di depan matanya.
Dia hanyalah seorang anak berusia enam tahun!
Tubuh kuat Nawang tampak sedikit bergetar saat membayangkannya. Dia mengepalkan tinjunya dengan erat hingga kukunya menusuk telapak
tangannya. Sulit untuk membayangkan bahwa Santika yang lemah harus merasakan ketakutan dan rasa sakit yang sangat luar biasa!
"Jangan khawatir. Masih ada Paman di sini. Paman pasti akan melindungimu. Tidak akan ada seorang pun yang bisa mengganggumu lagi," kata
Nawang.
Santika terus saja menangis.
Dia menangis sembari mencengkeram erat kerah Nawang dengan tangannya yang terluka.
Dia takut kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa.
Lambat laun, tangisannya pun berhenti. Gadis kecil yang malang itu pun tertidur dengan wajah yang dipenuhi oleh air mata.
Santika sama sekali tidak tidur akhir-akhir ini.
Dia benar-benar lelah.
Nawang menundukkan kepalanya sambil mengelus kepala Santika dengan lembut dan berbisik di telinganya; "Jangan takut. Paman
pasti akan membawamu pergi dari sini."
Setelah mengatakan hal tersebut, Nawang kemudian menggendong tubuh Santika dan berbalik untuk menatap pria kuat dan Marta yang saat ini terlihat kebingungan.
"Kalian berdua harus mati!"
Kata-kata itu terdengar kasar dan sangat menakutkan.
Tubuh pria itu dan Marta bergetar dengan hebat.
Bukankah dia hanya seorang prajurit?
Kenapa dia bisa memancarkan aura yang sangat menakutkan
seperti ini?
Keberanian Marta kembali muncul saat
mengingat bahwa keluarga Nawang telah dihancurkan dan berkata dengan nada yang kasar; "Nawang, aku tidak menyangka kalau kamu akan kembali ke sini dan cari mati ..."
Plak!
Tubuh Nawang tidak bergerak sama sekali.
Namun, pria yang sedari tadi berdiri di
belakangnya melesat dengan cepat ke arah Marta dan menampar wanita itu.
"Berani-beraninya kamu mempermalukan Raja Perang seperti ini? Sialan!"
Pria itu mengibaskan tangannya dan tatapan matanya tampak dingin.
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Endaru, pengawal pribadi Nawang.
"Huwek!"
Marta tampak memuntahkan darah dan giginya yang patah. Dia kemudian menatap kedua orang itu dengan terkejut sekaligus marah.
"Berani ... beraninya kamu menamparku! Keluarga Wiryawan tidak akan pernah memaafkan perbuatanmu!"
__ADS_1
"Keluarga Wiryawan?" Tatapan mata Nawang berubah menjadi dingin.
"Jangan khawatir. Keluarga Wiryawan akan dimakamkan bersamamu."